Wall Gardening: Solusi bertani dengan memanfaatkan lahan yang sempit secara optimal

Tingginya proses urbanisasi dan pesatnya laju pertumbuhan populasi menyebabkan peningkatan kepadatan penduduk juga tingginya laju pembangunan lahan perkotaan. Hal ini pun berakibat terhadap keterbatasan lahan bagi sebagian orang yang hendak berbudidaya tanaman di wilayah perkotaan. Adapun, dengan perkembangan teknologi di bidang pertanian, keterbatasan lahan dapat disiasati dengan menerapkan pertanian perkotaan. Pertanian perkotaan adalah kegiatan pertumbuhan, pengolahan, dan distribusi pangan serta produk lainnya melalui budidaya tanaman yang intensif serta menggunakan (kembali) sumber daya alam dan limbah untuk memperoleh keragaman hasil panen.

Urgensi pertanian kota meningkat ketika krisis ekonomi terutama dalam keadaan pandemi saat ini. Penurunan kualitas hidup pada masyarakat perkotaan dapat ditingkatkan melalui aktivitas berkebun sayuran di rumah. Pertanian kota dapat menjadi media untuk memanfaatkan waktu luang, mengoptimalkan pemanfaatan lahan sehingga dapat mencukupi ketersediaan bahan makanan dan memperkuat ketahanan pangan. Hal ini dapat menjadi alternatif dalam mewujudkan pembangunan kota yang berkelanjutan.

Berdasarkan aspek ekonomi, pertanian perkotaan memiliki banyak keuntungan yaitu stimulus penguatan ekonomi lokal, peningkatan penghasilan masyarakat serta mengurangi kemiskinan. Usaha tani perkotaan dapat memberikan lapangan pekerjaan dan menjadi sumber penghasilan masyarakat serta menyangga kestabilan ekonomi dalam keadaan kritis juga berkaitan langsung dengan upaya penanggulangan kemiskinan dan penciptaan lingkungan yang baik.

Pengembangan pertanian perkotaan jika ditinjau dari aspek ekologi dapat memberikan berbagai macam manfaat yaitu 1) konservasi sumber daya tanah dan air, 2) memperbaiki kualitas udara, 3) menciptakan iklim mikro yang sehat, 4) memberikan keindahan dan 5) upaya mitigasi perubahan iklim. Selain itu, pertanian perkotaan memainkan peranan signifikan dalam penghijauan kota dan peningkatan kualitas iklim mikro kota, sekaligus merangsang produktivitas dengan pemanfaatan kembali sampah organik dan mengurangi penggunaan energi yang berlebih. Maka secara tidak langsung dapat menjadi solusi permasalahan sampah-sampah yang berasal dari rumah tangga maupun industri.

Kegiatan urban farming untuk mewujudkan pembangunan perkotaan haruslah diselaraskan dengan pengembangan sistem kegiatan pertanian kota secara mandiri seperti sistem pengairan irigasi mandiri. Penggiat urban farming haruslah merefleksikan kegiatannya untuk lebih kritis terhadap sistem pangan industrialis yang ada. Adapun hal ini muncul dikarenakan perbedaan latar belakang, karakter sosial dan politik yang berbeda. Namun, hal ini merupakan tanda dimulainya transisi gerakan pangan menuju area perkotaan sehingga dapat meningkatkan aktivitas pembangunan perkotaan secara mandiri.

Berdasarkan besarnya peranan dan potensi dari pertanian perkotaan, maka sudah selayaknya pertanian perkotaan mendapatkan perhatian dari berbagai unsur seperti pemerintahan, pendidikan dan sebagainya. Pertanian perkotaan dapat dilaksanakan mulai dari rumah sendiri dengan memanfaatkan sumber daya lokal dan teknologi sederhana. Salah satu bentuk dari pertanian perkotaan adalah dengan vertikultur dan penggunaan botol-botol bekas sebagai wadah penanaman.

Sistem pertanian vertikultur bertujuan untuk memanfaatkan lahan yang sempit secara optimal. Penerapan vertikultur dapat dilakukan dengan berbagai macam cara. Sederhananya menanam secara vertikal dengan tidak memakan banyak lahan. Kelebihan pada sistem ini adalah efisiensi dalam penggunaan lahan, penghematan pemakaian pupuk dan pestisida, dapat dipindahkan dengan mudah, penanaman dapat dilakukan di dalam ruangan maupun di luar ruangan. Sistem budaya pertanian ini sangatlah cocok untuk konsep penghijauan pada lahan perkotaan sehingga dapat menciptakan suasana alami dan menyenangkan. Bertanam secara vertikultur sekilas terlihat rumit, namun sebenarnya sangat mudah dilakukan, hal ini bergantung terhadap model dan sistem tambahan yang digunakan. Sistem tambahan yang memerlukan keterampilan khusus seperti hidroponik atau irigasi tetes.

Model teknologi vertikultur yang dapat diterapkan dalam lahan sempit perkotaan adalah Wall Gardening. Model ini merupakan sistem budidaya yang memanfaatkan tembok atau dinding yang kosong pada bangunan. Terdapat empat jenis model Wall Gardening, yaitu: 1) Wall Gardening model terpal dengan memanfaatkan terpal yang dibentuk seperti tempat sepatu secara bertingkat, 2) Wall Gardening model paralon dengan menggunakan paralon atau bambu yang dilubangi sebagai tempat tumbuhnya tanaman, 3) Wall Gardening model pot plant dengan menggunakan pot dengan rangka besi atau balok sebagai penyangga, 4) Wall Gardening model partisi dengan menggunakan agro pro dan besi sebagai penyangganya.

Media tanam dibuat sebagai pengganti tanah sehingga harus menggantikan fungsi tanah yaitu memberikan nutrisi dan menyediakan tempat bagi akar tanaman. Media tanam yang digunakan sebaiknya terdiri dari campuran tanah, pupuk kompos dan sekam. Adapun fungsi dari masing-masing unsur tersebut adalah 1) Tanah memiliki kemampuan untuk mengikat unsur hara, 2) sekam memiliki kemampuan untuk menampung air dalam tanah, dan 3) kompos memiliki kemampuan untuk menjamin tersedianya bahan penting yang akan diuraikan menjadi unsur hara yang diperlukan tanaman. Campuran ketiga bahan ini kemudian akan dimasukkan kedalam wadah hingga penuh, namun tidak terlalu padat supaya air mudah mengalir dan akar tanaman tidak kesulitan bernafas.

Jenis tanaman yang dibudidayakan disesuaikan degan wadah yang tersedia. Adapun dengan teknologi ini kita dapat menanam berbagai jenis tanaman misalnya seledri, cabai, terong, bawang kucai, mentimun dan berbagai jenis sayuran lainnya dengan jenis kecil dan perakaran kecil. Sayuran memiliki berbagai macam manfaat seperti kandungan vitamin dan mineral di dalamnya sehingga sangat berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai urban farming dalam pemenuhan kebutuhan pangan perkotaan.

Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam melakukan penanaman dan pemeliharaan dengan teknik Wall Gardening yaitu 1) Wadah  penanaman di siapkan, kemudian diisi dengan komposis media. Wadah dapat dibuat dari botol-botol bekas, 2) Bibit semai dikeluarkan dari wadah penyemaian, 3) Bibit semai di masukan ke dalam wadah penanaman yang baru sampai batas leher tanaman, 4) Padatkan media di sekitar permukaan lalu disusun sesuai dengan kebutuhan akan cahaya matahari, 5) Pembersihan tanaman terhadap hama harus dilakukan secara berkala, 6) Penambahan pupuk kandang atau kompos sehingga tanaman dapat berkebang lebih subur, 7) Melakukan penyiraman atau penyemprotan secara rutin.

Sayuran akan dipanen, lama masa tumbuh sesuai dengan jenis sayur. Sayur yang telah dipanen kemudian dapat diolah sesuai dengan kebutuhan seperti diolah menjadi tumisan, keripik atau olahan pangan lainnya.

Ada banyak sekali manfaat yang di dapatkan melalui Wall Gardening, adapun dampak negatif masih menjadi masalah jika tidak dimanfaatkan secara baik dan optimal. Salah satu dampak yang dihasilkan adalah kumuhnya lahan yang dipakai. Kurangnya keterampilan dalam pengolahan juga dapat menyebabkan berkembangnya nyamuk dan tikus sehingga harus dikelola dengan baik agar dampak negatif tidak terjadi.

 

Sumber:

Armar-Klemesu M. 1999. Urban agriculture and food security, nutrition and health. Paper presented at Growing Cities Growing Food Workshop, Havana, Cuba, October 1999.

BTPT Balitbangtan Sulawesi Barat (http://sulbar.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/info-teknologi/367-teknologi-vertikultur-sebagai-solusi-bertani-dilahan-sempit, diakses pada 16/11/2020)

Cahya, D.L. 2014. Kajian Peran Pertanian Perkotaan Dalam Pembangunan Perkotaan Berkelanjutan (Studi Kasus: Pertanian Tanaman Obat Keluarga di Kelurahan Slipi, Jakarta Barat). Forum Ilmiah Volume 11 Nomor 3. Hal 324- 333

Domene, E.; Sauri, D. 2007. Urbanization and class-produced natures: Vegetable gardens in the Barcelona Metropolitan Region. Geoforum, 38, 287–298.

Fauzi, R Achmad., Ichniarsyah, N Annisa., dan Agustin, Heny. 2016. Pertanian Perkotaan : Urgensi, Peranan dan Praktik Terbaik. Jurnal Agroteknologi Vol. 10 No. 01. Jakarta.

Food and Agriculture Organization (FAO). 2008. Urban Agriculture For Sustainable Poverty Alleviation and Food Security. 84p.

Kompasiana (https://www.kompasiana.com/rezasyachreza/5de20282097f366f4460c562/kreatif-inovatif-urban-farming-bertani-seru-di-lahan-sempit-perkotaan, diakses pada 16/11/2020)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *