Vertical Farming untuk Optimalisasi Microgreens

Microgreens hadir sebagai salah satu komoditas dengan demand dan daya saing pasar yang cukup tinggi selama beberapa dekade terakhir. Microgreens dianggap sebagai solusi dari isu global kemanan pangan dan lingkungan Hal ini menjadikan microgreens sebagai harapan pengembangan agroindustri ke depannya. Potensi ini dapat dioptimalkan melalui evaluasi lapangan dan analisis pengembangan. Beberapa parameter yang dijadikan acuan, yaitu kondisi lingkungan selama budidaya (media, tingkat pencahayaan, nutrien), metode budidaya, dan penanganan pascapanen. Analisis ini dilakukan dengan mengetahui terlebih dahulu karakteristik Microgreens. Microgreens adalah tanaman muda yang dipanen sebelum masa kematangannya (usia tanaman 14-21 hari atau 7-14 hari setelah benih disemai). Microgreens meliputi tanaman sayuran, herbs, dan biji-bijian, seperti lobak merah, bayam, basil, chia, timun, serai, wasabi, savoy, pak choi, wortel, bawang-bawangan, kol, kembang kol, ketumbar, fennel, arugula, bunga matahari, bit, kailan, brokoli, dan lain-lain. Microgreens memiliki karakteristiktik berupa cita rasa yang kuat, warna kontras, dan tekstur yang lembut. Oleh karena itu, microgreens umum digunakan untuk menonjolkan karakter suatu produk. Selain itu, microgreens tinggi akan fitonutrien dan mikronutrien (vitamin). Microgreens memiliki 30-40% nutrisi lebih tinggi daripada tanaman yang matang sempurna. Karakteristik microgreens dapat menjawab seruan pangan organik tinggi nutrisi, pola hidup sehat, dan non-GMO product yang cukup menarik perhatian masyarakat. Selain itu, kondisi saat ini juga menunjukkan adanya peningkatan kebutuhan pangan sehat global. Menanggapi isu ini, microgreens dapat menjadi salah satu solusi karena microgreens kaya akan nutrisi dan dapat dipanen dalam waktu yang singkat. Namun, microgreens umumnya baru diproduksi untuk kebutuhan domestik, padahal microgreens sangat prospektif untuk dikembangkan lebih lanjut.

Microgreens memiliki potensi yang baik dari segi ekonomi, politik, dan hukum (pemenuhan demand dan regulasi), bisnis (daya beli konsumen yang cukup tinggi dengan harga yang bersaing), sosial budaya (tren keamanan pangan dan gaya hidup sehat), teknologi (budidaya yang efisien dan fleksibel), dan lingkungan (pangan fungsional minim limbah). Maka dari itu, microgreens menjadi salah satu upaya global dalam mengatasi kebutuhan pangan aman secara efisien dan terkontrol dengan controlled environmental agriculture (CEA). Berbagai kelebihan microgreens dapat diperoleh jika proses berlangsung secara optimal. Budidaya Microgreens termasuk kategori CEA dimana proses budidaya dilakukan tanpa fertilizer (pupuk kimia tambahan) dengan menggunakan biji bebas paparan pestisida serta beberapa pilihan media tanam (media yang steril dari bakteri Escherichia coli, tanah steril, rockwool, perlite, dan vermiculite). Budidaya microgreens relatif fleksibel karena tidak seperti teknik konvensional yang umumnya dilakukan outdoor, microgreens dapat diaplikasikan dengan indoor farming. Indoor farming memiliki beberapa kelebihan, antara lain bersifat lebih tahan terhadap cuaca dan kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan serta penerapan sistem budidaya tanpa tanah yang bersifat lebih aman terhadap hama dan bakteria tanah. Indoor farming bersifat fleksibel dan dapat menjadi solusi bagi keterbatasan lahan pertanian, sehingga budidaya ini cocok diterapkan di daerah dengan lahan pertanian sempit seperti perkotaan dengan metode urban farming. Salah satu metode urban farming yang mudah diaplikasikan adalah penanaman vertical (vertical farming).

Vertical farming merupakan salah satu metode urban farming, di samping hidroponik, aeroponik, dan aquaponik. Vertical farming berlangsung di lingkungan terkontrol yang cenderung tertutup. Vertical farming melibatkan LED light sebagai pengganti sumber cahaya yang biasanya diperankan oleh sinar matahari. Vertical farming tergolong ekonomis dan praktis (berlangsung dengan teknologi terautomasi bersistem resirkulasi hidroponik yang mengasilkan proses yang efisien dan minim tenaga manusia). Vertical farming dapat diterapkan pada produksi skala kecil ataupun besar.

Vertical farming dalam budidaya microgreens dilakukan dengan memanfaatkan space horizontal dan vertikal sekaligus dengan suatu penyangga tinggi (dilengkapi slot horizontal sebagai growing beds). Kebutuhan nutrien, air, dan waktu proses dalam microgreens vertical farming tergolong efisien, sehingga kuantitas produk yang dihasilkan lebih banyak daripada metode konvensional, tetapi kesempurnaan proses dan hasilnya tidak terlepas dari karakteristik microgreens yang dibudidayakan. Microgreens sebagai tanaman muda dengan karakteristik mirip kecambah memiliki kemungkinan untuk menyimpan mikroorganisme dan terkontaminasi (pertumbuhan bukan pada lingkungan pertumbuhan optimum kecambah), terlebih regulasi terkait proses produksi dan penjualannya masih belum tersusun dengan baik. Oleh karena itu, sanitasi mulai dari sebelum budidaya hingga pascapanen dan penyimpanan cukup krusial. Kelemahan lainnya yaitu intensitas dan frekuensi pemanenan yang terbatas. Pemanenan microgreens hanya dapat dilakukan sekali. Oleh karena itu, pada produksi skala masal diperlukan budidaya dan perawatan yang lebih intensif, dan detail. Pengembangan dari segi proses budidaya dapat dilakukan dengan teknik kombinasi microgreens untuk memperoleh hasil yang lebih beragam. Selain itu, inovasi media tanam dan wadah juga dapat diterapkan untuk mempermudah proses budidaya. Inovasi tersebut antara lain berupa pemanfaatan media serat, media plant tissue culture, dan penerapan containerised vertical farming. Namun, ada beberapa tantangan yang dihadapi dalam budidaya microgreens.

Budidaya microgreens yang tidak optimal dapat memicu kontaminasi mikroorganisme seperti Salmonella dan Listeria. Microgreens yang dihasilkan saat ini juga belum dapat dikonsumsi oleh segala kalangan karena masih bersifat superior (kelas ekonomi tertentu). Selain itu, umur simpan microgreens relatif singkat karena tingginya laju respirasi, luas permukaan, tingkat kerusakan jaringan (senesens dini), serta tingkat kebocoran eksudat kaya nutrisi yang menyebabkan penurunan mutunya berlangsung sangat cepat. Penelitian menunjukkan bahwa umur simpan microgreens adalah tiga sampai lima hari di suhu ruang. Oleh karena itu, proses pemanenan microgreens harus berlangsung dalam kondisi yang disesuaikan dengan kultivar dan teknologi pendukung (umumnya kondisi dingin). Proses pemanenan dan penanganan pascapanen yang baik dapat menghasilkan microgreens dengan umur simpan yang lebih lama yaitu hingga 14 hari.

Informasi terkait budidaya microgreens yang tepat diperlukan untuk pengembangan microgreens ke depannya. Budidaya microgreens dengan vertical farming telah banyak dilakukan di luar negeri, seperti di Amerika dan Kanada, sedangkan budidaya microgreens di Indonesia saat ini masih dalam tahap perkembangan dengan tren yang postif. Hal ini dibuktikan oleh kehadiran startup, seperti IndoMicrogreens dan Tan-Euh yang memiliki misi edukasi terkait microgreens dengan konsep urban farming. Saat ini urban farming menjadi semakin dekat dan mudah untuk diaplikasikan oleh berbagai kalangan yang menunjukkan bahwa kegiatan bertani dan pengembangan agroindustri dapat dimulai secara sederhana di rumah (lingkungan terdekat). Penerapan urban farming dengan metode vertical farming terhadap microgreens dapat menjadi salah satu contoh upaya optimalisasi produksi makanan organik kaya nutrisi dari lahan sendiri. Produksi komersial juga sangat mungkin dilakukan mengingat kemudahan biaya dan prosesnya. Oleh karena itu, microgreens vertical farming dapat menjadi suatu solusi penyediaan pangan kaya nutrisi dan bahan baku agroindustri yang aman dan berkelanjutan.

 

Referensi:

Enssle, N. (2020). Microgreens: Market Analysis, Growing Methods and Models. Project. Master of Business Administration. California State University San Marcos.

Rajan, P., Lada, R.R. and MacDonald, M.T. (2019) Advancement in Indoor Vertical farming for Microgreen Production. American Journal of Plant Sciences, 10, 1397-1408.

Setyowati, A. (2018). Begini Cara Budidaya Microgreens, Sayuran Bayi yang Bisa Jadi Peluang Usaha. Artikel. (Terdapat daring pada: https://life.trubus.id/baca/21504/begini-cara-budidaya-imicrogreensi-sayuran-bayi-yang-bisa-jadi-peluang-usaha/, diakses 14 November 2020).

Setyowati, A. (2018). Melirik Potensi Microgreens, Si Sayuran Mini dengan Manfaat Maksi. Artikel. (Terdapat daring pada: https://life.trubus.id https://news.trubus.id/baca/21992/melirik-potensi-microgreens-si-sayuran-mini-dengan-manfaat-maksi/, diakses 14 November 2020).

Specht, K., T. Weith, K. Swoboda, R. Siebert. (2016). Socially acceptable urban agriculture businesses. Agron. Sustain. Dev. (2016) 36:17.

Turner, E. R., Y. Luo, dan R. L. Buchanan. (2020). Microgreen nutrition, food safety, and shelf life: A review. Journal of Food Science Vol. 85, Iss. 4, 2020.

USDA. (2013). Specialty Crop Block Grant. Final Report. (Terdapat daring pada: https://www.ams.usda.gov/, diakses 14 November 2020).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *