Urban Farming Upaya Menjaga Ketahanan Pangan di Masa Pandemi

Beberapa bulan ini,dunia dihadapkan pada pandemi covid-19 yang tak tau kapan akan berakhir. Dampaknya sudah terasa oleh hampir semua kalangan masyarakat. Tak terkecuali para pelaku ekonomi di semua tingkatan baik itu ekonomi tingkat tinggi hingga ekonomi tingkat rendah. Dari petani sampai pengusaha dari masyarakat biasa mulai merasakan kesulitan untuk menciptakan kehidupan yang layak. Namun demikian masyarakat tetap berupaya untuk mempertahanankan kehidupan yang layak dengan berbagai cara dengan inovasi yang mampu dilakukan. Salah satu fenomena masyarakat adalah kesadaran untuk menanam tanaman bermanfaat, seperti sayur mayur dan buah-buah-an dalam rangka mempertahankan kemampuan untuk mengelola tempat-tempat yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan urban farming.

Urban Farming adalah upaya masyarakat perkotaan dalam melakukan kegiatan pertanian  di lahan yang terbatas. Terjadinya urban farming karena lahan yang semakin lama semakin menyempit  yang tergantikan oleh perumahan dan industri serta kebutuhan pangan yang semakin meningkat dan dorongan untuk memetik dari tanaman sendiri. Alih fungsi lahan karena laju penduduk dan lahan industri terus menggerus lahan pertanian. Kondisi ini mendorong aktivitas bertani yang lazim jika hanya dilakukan di daerah yang memiliki lahan yang luas. Namun kini bertani bukan lagi mimpi bagi mereka yang tinggal di perkotaan,sebab metode urban farming memungkinkan masyarakat untuk bertani tanpa membutuhkan lahan yang luas. Konsep perkotaan yang hampir tidak memiliki lahan dengan yang konsep yang hampir memiliki rumah dengan bertingkat-tingkat bisa dimanfaatkan atap rumah atau rooftop untuk bertani urban farming.

Banyak contoh di lingkungan masyarakat yang akhir-akhir ini bercocok tanam di pekarangan rumahnya sendiri karena bertani urban farming dapat dikerjakan sendiri. Meski lahan terbatas namun mereka tetap berupaya untuk memaksimalkan lahan kosong yang dimiliki untuk bisa ditanami tanaman sayur mayur yang bisa dimanfaatkan sebagai upaya ketahanan pangan mereka. Di sisi lain, urban farming dibutuhkan karena jumlah penduduk terus meningkat dan kebutuhan masyarakat pada umumnya yang peduli akan pertanian seraya berbuat untuk memelihara kelestarian pertanian alam dan mempertahankan dalam membantu perekonomian keluarga.

Cara mengatasi urban farming yaitu dengan inovasi dari pemikiran dan pelaksanaannya menyikapi keterbatasan lahan dan mencukupi kebutuhan pangan. Inovasi dapat berupa cara memaksimalkannya lahan yang tersedia dan cara bertanam yang efektif untuk menghasilkan produk urban farming yang hemat lahan, hemat biaya, ringan pemeliharaan, dan bisa dikerjakan kebanyakan masyarakat meski dengan kesibukan masing – masing dan menghasilkan produk urban farming yang sehat,baik dan menunjang daya beli atau ketahanan pangan. Ada yang bercocok tanam melalui hidroponik ataupun bertanam menggunakan pot – pot bekas dari bekas minuman botol, bisa juga menggunakan barang bekas seperti dirigen, pot biasa dan lain-lain bisa menjadi untuk media tanamnya. Dalam bertanam melalui media pot dari bekas minuman,tetapi diperlukan tanah sebagai media tanam utama. Ditambah unsur pupuk alami dari kompos ataupun kotoran hewan, bisa ditambah sekam sedikit pasir agar media tanam dari tanah tersebut memenuhi syarat bertanam yang baik. Tanah dan kompos diperlukan untuk menjadikan media tanam tersebut menjadi subur dan tanaman bisa tumbuh dengan baik dan menghasilkan tanaman yang diharapkan. Untuk campuran pasir atau sekam dimaksudkan agar media tanah yang sudah subur karena  dicampur kompos ataupun pupuk bisa gembur.  Pasir atau sekam dapat melancarkan air bekas siraman agar tidak tertahan  di media tanamnya. Dengan begitu masih ada celah-celah yang terbuka  sehingga udara tetap tersedia untuk kebutuhan tanaman bisa berkembang dengan baik.

Ketika bertani ideal menggunakan tanah tidak ada, bertani dengan lahan terbatas tak menghalangi semangat bagi mereka yang ingin bertani dengan lahan terbatas dan memanfaatkan yang ada.  Bertani di rumah tidak melulu harus menggunakan teras rumah. Karena semakin banyak masyarakat yang kreatif memanfaatkan rooftop di rumah sebagai lahan bertani. Atap menjadi solusi bagi yang memiliki lahan terbatas sebagai lahan untuk bertani. Bertani di atap bisa dirancang atau di desain untuk lokasi vertikal dan vertikultur agar bisa dimanfaatkan bagi yang memiliki lahan terbatas. Tantangan dalam bertani urban farming dengan menggunakan atap yaitu harus dipersiapkan tempat atau desain agar mendapatkan matahari yang cukup dan media tanam yang cocok. Rooftop dapat dimanfaatkan sebagai lahan untuk bertani.langkah – langkah untuk bertani di atap antara lain; Pertama menentukan tanaman yang akan ditanam, bibit tanaman yang bisa cepat dipanen saat pandemi. Bertani tanaman sayur dan buah sangat disarankan sebagai sumber pangan keluarga di rumah. Kedua memilih pot gerabah sebagai media tanam,tanaman yang berada di rooftop rumah biasanaya terpapar matahari langsung. Pemilihan pot gerabah sebagai media tanam bertujuan menjaga kelembaban tanah. Pot gerabah membuat tanaman tidak mudah kering, karena pot gerabah membantu tanaman menyerap air. Ketiga membuat pelindung dari cahaya matahari langsung, karena tanaman sayur yang ada di rooftop mudah mati bila tidak diberi pelindung. Pelindung ini berfungsi menutupi atas tanaman agar tanaman tidak terpapar secara langsung sinar matahari. Dan yang utama adalah media tanamnya. Diusahakan untuk membuat sendiri yaitu tanah, pupuk kandang atau kompos dan sekam. Untuk sekam, bisa sekam bakar atau sekam setengah bakar. Dicampur jadi satu dalam satu minggu dengan tujuan bakteri yang ada dalam tanah berkembang biak memakan kompos yang sudah kita siapkan begitu bakteri dalam tanah siap dalam seminggu,tandanya sudah bisa ditanam. Setelah media tanam siap, campuran itu bisa diletakkan di wadah untuk ditanam bibit. Dengan cara hati – hati agar akar tidak rusak, dan tanaman bisa ditanam dengan baik. Jangan lupa untuk menyiram tanaman 2x sehari, dan jika musim penghujan bisa menyiramnya 1x sehari.

Banyak manfaat bertani urban farming di tengah pandemi ini antara lain; dapat mempercantik tampilan rumah atau penyalur hobi semata, untuk memenuhi pangan, membunuh kebosanan di tengah pandemi, mengisi waktu luang agar lebih produktif, menjadi sumber oksigen, dan pastinya kegiatan urban farming ini juga berkontribusi pada peningkatan kualitas lingkungan hidup sekaligus upaya mengurangi dampak pemanasan global.

Dengan banyaknya manfaat dari urban farming, tentunya dapat mendorong masyarakat melakukannya di rumah dengan lahan yang ada.

Referensi

https://pertanian.sariagri.id/57754/tren-urban-farming-meningkat-di-masa-pandemi-covid-19

https://www.dekoruma.com/artikel/82123/urban-farming-konsep-pertanian-kota

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *