“Urban Farming” Solusi Ketahanan Pangan?

Indonesia memiliki kecenderungan untuk menerima dan mengadopsi bermacam-macam konsep dari gerakan internasional, khususnya konsep gerakan dari lembaga resmi dunia seperti WHO, FAO, dll. Contoh gerakan dunia yang saat ini sedang diadopsi oleh Indonesia adalah konsep pertanian berkelanjutan, ketahanan pangan, kedaulatan pangan, dan pertanian ramah lingkungan. Seperti beberapa tahun terkahir pertanian dengan konsep urban farming mulai digemari masyarakat dan menjadi trend di perkotaan. Dalam kondisi pandemi urban farming menjadi semakin digemari masyarakat perkotaan, karena keterbatasan aktivitas dan harus melakukan segala aktivitas dari rumah.

Konsep urban farming sendiri adalah kegiatan pertanian yang mencangkup kultivasi, pemrosesan, dan distribusi hasil pertanian di perkotaan sebagai alternatif pertanian secara konvensional (Li, Li, Chong, Wang, & Wang, 2020). Beberapa cara dalam bertani dengan urban farming dianataranya dengan teknik hidroponik, vertikultur, aquaponik dan vertiminaponik. Konsep urban farming tidak hanya mencangkup pertanian saja melainkan juga peternakan, nilai utama dari konsep ini adalah pemanfaatan lahan yang sempit untuk melakukan kegiatan pertanian dan peternakan.

Teknik vertikultur merupakan teknis budidaya secara vertikal yang merupaka cara untuk mengatasi keterbatasan lahan khususnya rumah tangga di perkotaan. Teknik ini sangat sesuai umntuk sayuran seperti bayam, kangkung, kuncai, selada, seledri, dan sayuran lain yang memiliki  batang tumbuh yang kuat seperti tomat, cabai, dan terong.

Hidroponik merupakan teknik menanam tanpa menggunakan tanah sebagai medium tanam. Karena tidak menggunakan tanah sebagai medium tanam, maka digunakan larutan hara untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman. Maka dari itu perlu diperhatikan pH tanam, oksigen dan kualitas air untuk menanam menggunakan teknik hidroponik. Sayuran yang dapat ditanam dengan teknik sama seperti vertikultur dan masih terbatasnya jenis tanaman yang mampu dibudidayakan menggunakan teknik ini.

Aquaponik dan vertiminaponik merupakan teknik menanam tanaman dengan diintegrasikan dengan budidaya hewan air. Teknik ini dapat mengkombinasikan antara sayuran seperti pakcoy, selada, dan seledri dengan ikan seperti lele, ikan mas, dan mujair.

Konsep urban farming juga mengikuti Peraturan Pemerintah (PP) nomor 1 tahun 2007 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan, selain itu Kementerian Pertanian melalui Badan Ketahanan Pangan membuat program pada tahun 2018 yaitu Program Kawasan Mandiri pangan. Melalui konsep ini diharapkan mampu menjadi solusi Ketahanan Pangan dengan mempersingkat rantai distribusi bahan pangan yang sebelumnya berasal dari desa menuju kota. Sepeti teknik aquaponik dan vertiminaponik yang diintegrasikan dengan hewan air mampu memenuhi kebutuhan sayur dan protein (Rika Reviza Rachmawati, 2020).

Keunggulan dan hasil riset mengenai teknik-teknik menanam dengan lahan sempit memang menghasilkan fakta bahwa teknik-teknik tersebut bermanfaat dan efisien. Namun, bukan hanya produksi saja yang menjadi tolok ukur keberhasilan, ada tolok ukur lain seperti rantai distribusi (ekonomi), sehat dan aman (lingkungan) untuk mencapai kondisi “Ketahanan Pangan”. Maka, pertanyaan yang timbul “Apakah urban farming tidak bertabrakan dengan Pengembangan dan Pembangunan Desa melalui pertanian?” seperti diketahui Indonesia mengaut sistem pertanian yang menitik beratkan pada pembangunan dan pengembangan desa melalui komoditas unggul setiap daerah.

Pengembangan dan Pembangunan desa merupakan salah satu mandat Pancasila yaitu  “Keadilan sosial”. Lebih jauh di atur oleh UUD 1945 mengenai “Kesejahteraan sosial”, yang mana dapat diartikan bahwa terjadinya keadilan karena telah tercapainya kesejahteraan, “bagaimana kesejahteraan terwujud?” Kesejahteraan terwujud apabila telah tercapainya kemakmuran oleh setiap rakyat Indonesia. Dari sini dapat dilihat bahwa ketahanan pangan hanya bagian kecil untuk mencapai salah satu sila yang terkandung dalam Pancasila. Kemudian akan mucul pertanyaan lainnya “Apakah tidak akan terjadi persaingan antara desa dan kota mengenai pertanian?” hal ini perlu menjadi perhatian khusus oleh seluruh pemangku kepentingan. Karena apabila urban farming malah menimbulkan persaingan antara fungsi desa dan kota, maka akan semakin menambah kesenjangan sosial yang terjadi di Indonesia.

Indonesia bukan hanya memiliki keragaman hayati yang menakjubkan tetapi juga memiliki keragaman budaya dengan tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional yang merupakan warisan nenek moyang. Hal ini juga berlaku pada pertanian Indonesia yang masih menerapkan nilai-nilai budaya tradisional dalam pertanian. Urban farming di khawatirkan dapat menggerus para petani dan juga nilai-nilai tradisional yang dibawanya, karena pertanian perkotaan dimana pelakunya merupakan masyarakat perkotaan yang memiliki kecenderungan lebih mudah di edukasi dibandingkan dengan petani tradisional yang berasal dari pedesaan.

Sayuran yang ditanam diperkotaan dengan teknik-teknik yang telah diuraikan juga masih menjadi pertanyaan mengenai keamana dari produk pertanian yang dihasilkan. Seperti diketahui udara diperkotaan banyak diselimuti oleh polusi udara. SO2, CO, CO2, Pb (timbal), dan logam berat lainnya dalam ukuran mikron yang terkandung dalam debu dan berterbangan di udara dari asap kendaraan bermotor merupakan sumber polusi udara, sedangkan udara di pedesaan umumnya kondisi udara belum banyak tercemar oleh polusi udara. (Samsoedin, Susidharmawan, Pratiwi, & Wahyono, 2015). Dalam pertumbuhan tanaman kondisi udara juga akan mempengaruhi kandungan zat-zat yang terkandung didalamnya. Oleh karenanya partikel-partikel debu yang mengandung logam berat dapat terserap dan terakumulasi dalam batang tubuh tanaman, yang apabila dikonsumsi manusia dapat menimbulkan masalah-masalah kesehatan. Selain itu juga residu produksi pertanian merupakan produk samping dari setiap kegiatan pertanian. Residu produksi pertanian dapat berupa limbah padat pertanian hingga residu nutrisi yang terakumulasi pada air dan medium yang digunakan pada proses pertanian.

Pemanfaatan lahan untuk pertanian di perkotaan memang menjanjikan melalui kaca mata bisnis, namun pertanian di Indonesia untuk memenuhi ketahanan pangan bukan hanya berlandaskan pada pertumbuhan ekonomi saja melainkan juga harus memperhitungkan nilai-nilai sosial, budaya, dan lingkungan. Peran pemerintah serta akademisi dalam menyikapi fenomena urban farming sangat diperlukan untuk pengawasan dalam hal dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi yang terjadi.

Untuk mencapai ketahananan pangan masih banyak opsi yang dapat dipilih bukan hanya melalui pertanian perkotaan, transfer teknologi dan informasi dari kota ke desa juga dapat menjadi solusi dalam percepatan Indonesia menuju ketahan pangan. Intensifikasi kegiatan pertanian di pedesaan melalui peran serta sarjana pertanian yang kembali ke desa, karena perkembangan transfer informasi untuk perkembangan sumber daya manusia di desa akan lebih mudah apabila dilakukan oleh putra daerah, sehingga dapat membentuk sistem pertanian yang bukan hanya sadar teknologi, juga terjadi pertanian yang berkelanjutan yang tetap mempertahankan warisan tradisi dan tetap mengedepankan konsep pembangunan pertanian desa yang merupakan pondasi utama dalam pertanian Indonesia untuk mencapai ketahanan pangan nasional.

 

Referensi:

Li, L., Li, X., Chong, C., Wang, C.-H., & Wang, X. (2020). A decision support framework for the design and operation of sustainable urban farming systems. Journal of Cleaner Production, 268, 121928.

Rika Reviza Rachmawati. (2020). Urban Farming: Strategi Ketahanan Pangan Keluarga Perkotaan pada Masa Pandemi Covid-19. Retrieved November 15, 2020, from Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian website: http://pse.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/covid-19/opini/398-urban-farming-strategi-ketahanan-pangan-keluarga-perkotaan-pada-masa-pandemi-covid-19?start=1

Samsoedin, I., Susidharmawan, I. W., Pratiwi, & Wahyono, D. (2015). Peran Pohon dalam Menjaga Kualitas Udara di Perkotaan. 106.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *