Urban Farming Sebagai Solusi Menjaga Ketahanan Pangan Dan Keterbatasan Lahan Pertanian Dengan Menerapkan Sistem Hidroponik Smart Watering (Zero Energy Base Fertigation System)

Perkotaan adalah pusat segala kegiatan, pusat pemerintahan dan kegiatan ekonomi suatu daerah dengan segudang permasalahan yang terdapat di dalamnya. Kota – kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan dan kota lainnya memiliki permasalahan yang hampir sama yaitu pemmukiman padat penduduk dan keterbatasan lahan pertanian. Berdasarkan data dari kementrian pertanian luas lahan untuk sektor pertanian dari tahun 2012 sampai dengan 2016 mengalami penurunan 20% akibat dari adanya alih fungsi lahan pertanian menjadi non-pertanian (Kementrian Pertanian, 2017). Penurunan lahan pertanian disebabkan oleh alih fungsi lahan yang terjadi karena beragam faktor. Berkembangnya sistem perekonomian dan meningkatnya jumlah penduduk setiap tahun menjadi salah satu faktor terjadinya alih fungsi lahan petanian.

Dampak dari permasalah keterbatasan lahan pertanian tentu akan terasa secara langsung maupun tidak langsung ke berbagai bidang, menurunya produksi pangan dan meningkatnya jumlah penduduk akan berdampak langsung terhadap ketahanan pangan nasional. Menurut Kementerian Perdagangan (2014) jumlah penduduk di Indonesia 70% berada di daerah perkotaan dan 250 juta penduduk yang rawan kelaparan berada di perkotaan. Menurut FAO 2015 (Mudrieq, 2014) jumlah kebutuhan pangan diperkirakan akan terus mengalami peningkatan, diperkirakan pada tahun 2025 kebutuhan akan pangan sekitar 4 miliar ton dan harus meningkat 70 % pada tahun 2050 menjadi 4,6 miliar ton dengan asumsi kebutuhan pangan 0,5 kg/hari, maka dari itu perlu adanya solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Solusi yang dapat ditawarkan dan bisa menjadi peluang bisnis untuk permasalahan diatas yaitu dengan melakukan pertanian perkotaan atau urban farming.

FAO (2008) menyatakan, Pertanian perkotaan atau urban farming merupakan kegiatan pertumbuhan, pengolahan dan distribusi pangan serta produk lainnya melalui budidaya tanaman dan peternakan yang intensif di perkotaan dan daerah sekitarnya, dan menggunakan (kembali) sumber daya alam dan limbah perkotaan, untuk memperoleh keragaman hasil panen dan hewan ternak (Fauzi, Ichniarsyah, & Agustin, 2016). Metode yang dapat digun akan diantaranya yaitu raised bed atau garden box dengan memanfaatkan bak untuk berkebun, pot system, aquaponik dan hidroponik, metode tersebut dapat diaplikasikan untuk lahan yang terbatas seperti rooftop, teras rumah, halaman maupun di dalam ruangan. Metode hidroponik merupakan salah satu metode yang saat ini sedang naik daun, dalam masa pandemi Covid-19 ini banyak masyarakat perkotaan yang mulai mengaplikasikan metode tersebut. Hidroponik dapat diartikan sebagai pengelolaan air untuk media tumbuh tanam dan tempat mengambil unsur hara yang diperlukan pada budi daya tanaman atau sering disebut juga sebagai sistem budidaya tanpa tanah (soilless culture). Teknologi hidroponik diperkenalkan pertama kali oleh W.F Gericke dengan konsep soilles culture pada tahun 1930-1940, kemudian mengalami perkembangan melalui inovasi-inovasi yang lahir dari permasalahan dan kebutuhan yang berbeda tiap zaman. Hidroponik adalah salah satu teknologi yang diciptakan manusia di bidang ilmu pertanian yang memberikan banyak manfaat untuk peningkatan hasil produksi dan solusi bagi permasalahan ketersediaan lahan.

Kelebihan metode hidroponik dibandingkan dengan konvensional diantaranya yaitu bisa menghindari penyakit yang berasal dari tanah (soil borne diseases), suplai nutrisi langsung tersedia untuk tanaman, mengurangi tenaga kerja, memaksimalkan hasil panen, mudah dikontrol, lebih bersih dan praktis. Kekurangan metode hidroponik yaitu biaya investasi awal yang lebih mahal serta beberapa sistem pada metode hidroponik menggunakan energi listrik sebagai sumber tenanga untuk mengalirkan nutrisinya sehingga membuat penggunaan sistem tersebut menjadi tidak ramah lingkungan dan menambah biaya listrik. Kekurangan dari sistem hidroponik tersebut bisa dijadikan peluang untuk menghadirkan produk kit hidroponik yang tepat guna, seperti yang telah dilakukan oleh tim dr_hidroponik dengan menciptakan sistem hidroponik Smart Watering.

Gambar 1. Produk Smart Watering (Dokumen Pribadi, 2020) .

Smart Watering merupakan produk hidroponik kit yang menerapkan prinsip sistem kesuburan atau mempersembahkan udara dan nutrisi secara otomatis tanpa dibantu dengan energi listrik. memanfaatkan gaya gaya, prinsip archimides dan kapilaritas. Teknologi penyiraman diri sistem Yang diterapkan memeberikan keuntungan Berupa Hemat Konsumsi udara Dan nutrisi sehingga penggunaanya Menjadi pengerjaannya efisien. Sistem hidroponik smart watering mudah dirawat dan diaplikasikan serta dapat digunakan untuk berbagai model hidroponik kultur air seperti sistem rakit apung dan model hidroponik substrat seperti pot system . Sistem hidroponik yang menggunakan alat ini juga cocok untuk dijadikan sebagai hiasan atau dekorasi rumah.

Produk smart watering terdiri dari beberapa komponen, diantaranya yaitu tandon ukuran 45 liter, 5 (lima) buah bucket, 70 (tujuh puluh) buah netpot tanam, 5 (lima) buah valve dan Saluran irigasi. Mekanisme kerja dari produk Smart Watering yaitu larutan nutrisi dari tendon dialirkan melalui saruran irigasi memanfaatkan gaya gravitasi menuju valve yang berada pada setiap bucket, kemudian valve akan mengatur pemberian larutan nutrisi sesuai kebutuhan tanaman dengan menerapkan hukum Archimedes, kemudian larutan nutrisi selanjutnya diserap oleh kain flanel yang memanfaatkan proses kapilaritas untuk selanjutnya diberikan kepada tanaman pada setiap netpot. Keunggulan dari produk smart watering diantaranya zerro energy, tanpa adanya penggunaan listrik menjadikan sistem kami ramah lingkungan serta mengurangai biaya penggunaan listrik, kemudian hemat air dan nutrisi, dengan teknologi self watering system yang diaplikasikan pada produk kami menjadikan penggunaan air dan nutrisi menjadi efisien. Air dan nutrisi 100 % digunakan untuk kebutuhan tanaman, karna tidak ada limpasan dan penguapan dan bisa diaplikasikan untuk berbagai model sistem hidroponik, pada umumnya sistem hidroponik yang digunakan hanya dapat digunakan untuk satu model saja tapi produk kami dapat diaplikasikan untuk berbagai sistem hidroponik baik kultur air maupun substrat. Produksi smart watering dimulai dengan mempersiapkan alat dan bahan, kemudian membuat komponen – komponen produk, dilanjutkan dengan merakit komponen, setelah dirakit produk selanjutnya diwarnai, setelah itu produk diuji coba dan terkahir pengemasan produk.

Gambar 2. Mekanisme Kerja Smart Watering (Dokumen Pribadi, 2020)

Permasalahan yang terjadi di daerah perkotaan khususnya terhadap ketahanan pangan masyarakat diharapkan bisa diatasi dengan adanya inovasi produk smart watering. Selain dapat menjawab permasalah luas lahan pertanian, inovasi produk smart watering diharapkan bisa menjadi peluang bisnis yang bisa mensejahtarkan dan membuka lapangan pekerjaan untuk masyarakat.

Daftar Pustaka:

Fauzi, AR, Ichniarsyah, AN, & Agustin, H. (2016). PERTANIAN PERKOTAAN: URGENSI, PERANAN, DAN PRAKTIK TERBAIK Pertanian Perkotaan: Urgensi, Peran, dan Praktik Terbaik Ahmad Rifqi Fauzi1) *, Annisa Nur Ichniarsyah1), Heny Agustin1) 1) Program Studi Agroekoteknologi, Universitas Trilogi, Jakarta Jalan Kampus Tri, 10 ( 01).

Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO). (2008). Pertanian Perkotaan Untuk Pengentasan Kemiskinan Berkelanjutan dan Ketahanan Pangan. Pertanian Perkotaan Untuk Pengentasan Kemiskinan Berkelanjutan dan Ketahanan Pangan , 84.

Kementerian Perdagangan, RI (2014). Analisis Outlook pangan 2015-2016, 1–72. Diambil dari http://bppp.kemendag.go.id/media_content/2017/08/Analisis_Outlook_Pangan_2015-2019.pdf

Kementrian Pertanian. (2017). Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Sekretariat Jenderal-Kementerian Pertanian, Data dan Sistem Informasi Pertanian, Jenderal-Kementerian Pertanian 2019, 195.

Mudrieq, SH (2014). Problematika Krisis Pangan Dunia Dan Bahasa Bagi Indonesia. JURNAL ACADEMICA Fisip Untad , 06 (02), 1287–1302.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *