Urban Farming dan Contoh Pengolahan Produk Tanaman Pegagan

Di masa pandemi Covid-19 yang tengah berlangsung di lingkungan masyarakat Indonesia, banyak orang lebih memilih berkegiatan di dalam rumah daripada di luar meskipun ada beberapa orang yang tetap melakukan aktivitas seperti biasanya. Akan tetapi, pergerakan aktivitas tersebut pun dibatasi dengan adanya aturan protokol kesehatan yang berlaku di masyarakat. Isi aturan tersebut, antara lain melakukan phyisical distancing dengan jarak 1,5-2 meter, lalu mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer, dan pastinya selalu menggunakan masker pada saat ingin berpergian keluar rumah. Dengan demikian, pola kehidupan masyarakat pun berubah.

Namun, di balik itu semua ada hikmah yang dapat kita ambil. Salah satunya adalah kita menjadi lebih sadar akan kesehatan makanan dan minuman yang baik dan juga berkhasiat bagi tubuh kita. Maka dari itu, kini sudah tidak asing lagi apabila kita mendengar berita atau bahkan melihat masyarakat yang mulai membiasakan diri dalam mengonsumsi sayur-sayuran, buah-buahan, ataupun tanaman obat yang tentunya berguna untuk meningkatkan sistem imunitas tubuh. Di samping itu, masyarakat juga lebih yakin terhadap pengolahan bahan pangan yang diproduksi sendiri di dalam rumah karena dapat dipelihara dan diawasi kapan saja, misalnya penggunaan pupuk tanpa bahan kimia.

Nah, berhubung diterapkannya PSBB di kota-kota besar tertentu di Indonesia, seperti Jakarta. Banyak masyarakat yang mulai mengisi waktu luangnya dengan melakukan hal-hal baru yang sebelumnya jarang atau belum pernah dilakukan sebelum adanya pandemi Covid-19 ini. Kegiatan tersebut adalah urban farming, yaitu sistem pertanian di wilayah perkotaan dengan lahan terbatas, seperti di atas rooftop atau di pekarangan rumah. Sementara itu, tanaman urban farming ini dapat ditanam di dalam pot, baik yang digantung di pagar ataupun dinding rumah, lalu menggunakan pipa paralon atau memanfaatkan polybag sehingga manfaat lain yang didapat selain dari segi kesehatan adalah dapat memperindah isi rumah dan menciptakan ruang terbuka hijau. Kemudian, metode apa yang paling sering digunakan? Jawabannya adalah metode hidroponik. Akan tetapi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan urban farming, diantaranya:

    1. Siapkan lahan dan media tanam yang baik
    2. Siapkan pupuk organik sebagai nutrisi alami tambahan
    3. Siapkan benih berkualitas yang ingin ditanam
    4. Tempatkan tanaman hidroponik pada sinar matahari  dan sirkulasi udara yang cukup

Sistem urban farming ini sangat disarankan oleh pemerintah Indonesia dan Organisasi Pangan Dunia (FAO) dalam memenuhi kebutuhan pangan berkualitas secara mandiri karena mengingat potensi kebutuhan pangan perkotaan di masa pandemi yang terus meningkat dan juga untuk mengantisipasi krisis pangan. Di samping itu, urban farming juga dapat dijadikan sebagai bisnis yang dapat menghasilkan penghasilan tambahan bagi masyarakat kota.

Tanaman yang dapat ditanam adalah jenis sayuran, buah-buahan, tanaman obat, jamur, bahkan umbi-umbian. Sehubungan dengan adanya pandemi Covid-19, masyarakat banyak yang memilih tanaman obat untuk dijadikan obat tradisional berupa jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka karena khasiat utamanya yang berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh, lalu mencegah penyakit darah tinggi dan diabetes. Akan tetapi, ramuan obat tradisional tersebut memiliki beberapa formularium ramuan obat tradisional Indonesia (FROTI) yang telah ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kesehatan nomor HK. 01. 07/Menkes/187/2017 yang mana fungsinya agar masyarakat bisa lebih terarah dalam meracik ramuan obat tradisional tersebut sesuai takarannya masing-masing. Sementara itu, penggunaan obat tradisional ini tidak boleh dikonsumsi pada saat keadaan tubuh seseorang sedang darurat. Beberapa contoh tanaman obat, diantaranya kunyit, jahe, jeruk nipis, jeruk lemon, kencur, pegagan, dan lain-lain.

Namun, penulis akan membahas produk olahan makanan selain obat tradisional dari tanaman Pegagan (Cantella asiantica) atau Gotu kola, yaitu tanaman liar di kawasan Asia yang memiliki banyak manfaat karena kandungan didalamnya yang penuh khasiat. Beberapa khasiat tanaman pegagan, diantaranya sebagai obat lemah syaraf, demam, bronkhitis, kencing manis, psikoneurosis, wasir, dan tekanan darah tinggi, penambah nafsu makan, dan untuk menjaga vitalitas (Soerahso et al. 1992). Selain itu, kandungan bahan aktif, seperti triterpenoid, steroid, saponin dan turunannya, serta garam mineral dapat meningkatkan sistem imun kita. Adapun langkah-langkah yang dapat diikuti dalam meracik pegagan menjadi ramuan obat tradisional:

    1. Cuci pegagan dengan air bersih (minimal 3 kali)
    2. Jemur atau keringkan dengan oven
    3. Ambil 1-2 sendok teh pegagan kering dan rendam ke dalam air panas selama 10-15 menit
    4. Konsumsi ramuan tradisional ini dalam 3 kali sehari (diperuntukkan bagi > 18 tahun)

Selain dijadikan obat tradisional, daun pegagan juga dapat diolah menjadi produk pangan lainnya, seperti kripik atau peyek, es krim hingga coklat pegagan. Awal mula inovasi produk pangan pegagan, terutama coklat pegagan ini sebenarnya berasal dari Kelompok Wanita Tani Pawon Gendis, Dusun Salakmalang Banjarhajo, Kulon Progo, Yogyakarta yang diketuai oleh Dewi Martuti Rahayu. Produk coklat pegagan ini merupakan produk unggulan dari KWT Pawon Gendis dan paling banyak diminati masyarakat, baik lokal maupun non-lokal. Menurut sumber yang didapat, awal pembentukan produk coklat pegagan ini dibuat ketika Dewi melihat anak-anak yang kurang atau tidak menyukai sayuran, tetapi lebih menyukai jajanan coklat. Dari situlah, ide untuk membuat coklat pegagan yang sehat tercipta. Kemudian, setelah ide tersebut muncul dan Dewi coba membuatnya, ternyata respon dari masyarakat cukup baik dan peminatnya pun juga cukup banyak. Oleh karena itu, di dalam pengembangan produknya, Dewi mulai mengajak ibu-ibu di lingkungan sekitar untuk ikut berpartisipasi dalam membuat produk olahannya tersebut. Sampai saat ini, bisnis coklat pegagan sudah cukup maju dan berkembang, hal tersebut bisa dilihat dari banyaknya wisatawan yang berkunjung ke gerai miliknya untuk membeli coklatnya sebagai oleh-oleh untuk keluarga ataupun temannya. Harga yang ditawarkan pun bervariasi mulai dari Rp 2.000-Rp 50.000. Namun sayangnya, pemasaran produk coklat pegagan belum menyebar luas ke seluruh wilayah Indonesia walaupun saat ini sudah tersedia secara online.

Adapun tahapan-tahapan yang dapat dilakukan dalam pembuatan coklat pegagan kurang lebih sebagai berikut:

    1. Sediakan biji kakao kering fermentasi, kemudian sangrai pada suhu dan durasi tertentu
    2. Kupas biji dengan alat desheller. Setelah itu pisahkan antara biji dengan kulit keringnya
    3. Olah biji menjadi pasta kakao
    4. Press pasta kakao menggunakan alat. Kemudian pisahkan minyak atau lemak dengan ampas dari pasta kakao
    5. Ampas kakao dipecahkan, dihaluskan, dan diayak. Lalu jadilah bubuk coklat
    6. Campurakan bubuk coklat dengan lemak kakao, susu, gula, dan lain-lain sampai menjadi adonan yang kental dan halus.
    7. Kombinasikan dengan olahan mocaf yang akan menjadi produk crispy. Kemudian, hancurkan kasar dan tambahkan bubuk pegagan
    8. Aduk rata, cetak, dan lakukan packaging

Demikian artikel ini dibuat, semoga bisa memberikan pengetahuan dan wawasan tambahan, baik dalam hal bertani maupun pengolahan hasil pertanian, terutama tanaman pegagan bagi para pembacanya.

Referensi:

https://m.sariagri.id/article/amp/57754/tren-urban-farming-meningkat-di-masa-pandemi-covid-19

https://www.neliti.com/publications/122679/kandungan-bahan-aktif-tanaman-pegagan-dan-khasiatnya-untuk-meningkatkan-sistem-i

https://regional.kompas.com/read/2017/05/24/19310551/kuliner.unik.dari.kulon.progo.cokelat.dicampur.daun.pegagan.liar?amp=1&page=2

OMAHJOWO LIMASAN Youtube channel

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *