Tren Urban Farming Selama Pandemi dan Prospeknya Pasca Pandemi

Akhir tahun 2019, tepatnya tanggal 29 Desember 2019, dunia dikejutkan dengan penemuan penyakit baru Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Dalam tiga bulan, penyakit ini ditetapkan WHO sebagai pandemi dunia karena penyebarannya yang masif hingga ke seluruh negara di dunia. Dampak dari adanya pandemi ini tidak hanya memengaruhi kesehatan masyarakat, akan tetapi lebih dari itu turut memengaruhi pola kehidupan masyarakat dunia secara luas. Pola hidup masyarakat memasuki tren baru yaitu tren konsumsi pangan sehat. Sebagai konsumen, masyarakat menjadi lebih selektif dalam keputusan pembelian suatu produk yang dijual di pasaran dengan alasan kesehatan dan minimalisasi  resiko penularan virus. Berdasarkan survey McKinsey menunjukkan bahwa adanya pandemi COVID-19 menyebabkan sebanyak 42% responden menjadikan faktor terpenting dalam keputusan pembelian produk adalah kebersihan dan higienitas produk.

Akan tetapi, masyarakat sebagai konsumen dihadapkan dengan satu tantangan lain. Sebagai upaya penurunan resiko penularan, WHO mengimbau setiap negara untuk menerapkan peraturan bagi warga negaranya agar membatasi kegiatan di tempat atau fasilitas umum dan lebih memusatkan kegiatan di rumah.  Konsep physical distancing, PSBB hingga lockdown ini membawa dampak bagi jalannya industri sebagai roda perekonomian nasional. Pembatasan sosial menyebabkan terhambatnya proses produksi hingga distribusi produk pangan hingga ke tangan konsumen. Oleh karena itu dibutuhkan jalan lain dalam rantai pasok pangan untuk memenuhi permintaan tersebut.

Kini, kebutuhan konsumsi masyarakat selain dipenuhi dari pembelian bahan pangan, memproduksi sendiri bahan pangan mulai menjadi tren di masyarakat dunia. Pertanian erat kaitannya dengan penggunaan lahan luas di daerah pedesaan yang kegiatannya dilakukan oleh petani. Akan tetapi, mulai dikenal istilah urban farming yang mengubah konsep pertanian di mata masyarakat. Urban farming dikenal sebagai upaya penanaman komoditas pertanian di wilayah perkotaan dengan memanfaatkan keterbatasan lahan. Metode ini menjadi alternatif pemenuhan kebutuhan masyarakat terhadap pangan sehat karena masyarakat dapat mengawasi secara langsung proses budidaya mulai dari penanaman hingga pemanenan sehingga dapat menjamin kebersihan produksinya. Secara umum,  metode ini turut membawa dampak positif bagi tatanan lingkungan perkotaan dengan meningkatkan keberadaan ruang hijau. Lebih lanjut, dalam pelaksanaannya, urban farming menggunakan konsep zero waste dengan menggunakan pupuk organik yang berasal dari limbah rumah tangga yang secara langsung dapat mengurangi kuantitas sampah. Lebih jauh penerapan konsep urban farming berkelanjutan dapat menjadi langkah awal terciptanya kedaulatan pangan dimana negara mampu memproduksi sendiri kebutuhan pangannya.

Berdasarkan data yang didapatkan dari google trends, keingintahuan masyarakat mengenai urban farming terus meningkat selama lima tahun terakhir. Singapura menjadi negara dengan minat urban farming tertinggi di dunia sementara Indonesia berada di posisi keempat. Tren urban farming di Indonesia didominasi wilayah perkotaan padat penduduk di Pulau Jawa, yaitu Jawa Barat, D.I.Yogyakarta dan D.K.I Jakarta. Tren urban farming mulai mengalami peningkatan yang signifikan pada bulan Desember 2019. Selama bulan Januari hingga November tahun 2020, urban farming terus menjadi kata kunci yang sering dicari di google.  Google trend meramalkan tren urban farming akan terus meningkat hingga akhir tahun sejalan dengan belum meredanya pandemi.

Hal ini tentu dapat dijadikan kesempatan bagi para pengusaha di bidang pertanian maupun masyarakat umum yang ingin berbisnis di masa pandemi berbasis produk hasil urban farming melihat terbukanya pasar dan daya saing unggulan dari produk urban farming. Lalu pertanyaan muncul, “Apakah pasca pandemi tren urban farming masih akan digandrungi masyarakat?” “Apakah usaha di bidang ini akan prospektif kedepannya?”.

Penulis menilai bahwa urban farming masih terus akan menjadi tren yang diminati pasar bahkan setelah pandemi COVID-19 berakhir. Tren konsumsi pangan sehat tidak akan berhenti pasca pandemi berakhir. Tren ini akan menjadi bagian dari “the new me” dalam “the new normal”. Pernyataan ini didukung hasil survey MarkPlus dalam Government Roundtable menyebutkan bahwa 92,7% masyarakat yang telah melakukan kegiatan urban farming akan terus melanjutkan kegiatannya setelah pandemi berakhir. Hingga kini, penduduk dunia didominasi oleh penduduk wilayah perkotaan. Jumlah penduduk perkotaan pun diperkirakan akan semakin meningkat kedepannya. Selain itu proses produksi di wilayah perkotaan yang dekat dengan konsumen menjadi sebuah keuntungan karena dapat menghemat biaya transportasi. Usaha ini dinilai memiliki biaya produksi dan perawatan minim tapi dapat menghasilkan omzet lebih dari 80 juta.

Oleh karena itu memulai bisnis urban farming memiliki prospek yang cerah. Hal ini tentu perlu dibarengi dengan perancangan strategi. Strategi yang ditawarkan penulis adalah pertama, perancangan produk berdaya saing yang dapat memenuhi permintaan pasar. Selain mampu mendesain produk yang dapat menjawab kebutuhan konsumen, selanjutnya perlu dirancang proses produksi yang efektif dan efisien serta perancangan sistem pemasaran yang tepat sasaran.

Pertama adalah mengetahui tren permintaan pasar. Mengetahui tren pasar menjadi landasan yang penting untuk dapat menerjemahkan keinginan konsumen sehingga produk dapat diterima pasar. Permintaan produk hasil pertanian urban farming paling besar berasal dari permintaan tanaman pangan berupa sayur dan buah, diikuti permintaan tanaman obat, tanaman umbi-umbian dan tanaman hias. Selain permintaan produk hasil, permintaan  penyedia teknologi atau perlengkapan penunjang urban farming juga sangat prospektif. Selanjutnya pengembangan produk dan jasa baru dapat dilakukan seperti menjual benih tanaman, pupuk organik, produk turunan seperti jus sayur buah dan lain-lain hingga membuka kelas edukasi urban farming.

Selanjutnya adalah mengetahui jenis produk dan teknologi tepat guna yang diperlukan. Produk hasil pertanian memiliki karakteristik khas yang membedakan satu dengan lainnya sehingga memiliki metode penangangan yang berbeda pula setiap komoditasnya. Contohnya, tanaman sayuran daun seperti bayam dan sawi cocok ditanam dengan metode Vertikultur atau penanaman secara bertingkat di botol atau pipa. Sementara tanaman rempah-rempah serta timun dan melon menjadi komoditas yang cocok ditanam dengan metode Hidroponik atau penanaman tanpa tanah, hanya menggunakan air dan unsur hara. Metode Wall Gardening atau penanaman bertingkat di dinding cocok menjadi metode tanam komoditas tomat, cabai, umbi-umbian dan tanaman hias. Metode terakhir, akuaponik cocok menjadi metode tanam selada, kangkung dan pakcoy dengan sistemnya yang diintegrasikan dengan budidaya hewan air.

Sistem pemasaran secara daring menjadi pendekatan pemasaran paling prospektif menurut penulis. Pembatasan sosial selama pandemi menyebabkan pembelian produk secara daring meningkat hingga 400% dengan membuka pasar lebih luas sebesar 51% konsumen baru. Tren online-shopping ini diprediksi akan terus belanjut hingga era new normal. Terbuka lebarnya pasar membuat semakin menjamurnya  platform e-commerce penjualan komoditas pertanian seperti TaniHub, Sayurbox, dan Chillibeli yang juga dapat membantu memudahkan penjualan produk sesuai target pasar. Kerjasama dengan retail, restaurant maupun catering sehat juga dapat dilakukan. Berdasarkan uraian penulis, urban farming dapat menjadi bisnis yang prospektif dan membawa banyak manfaat jika dibarengi dengan penerapan strategi yang tepat.

 

Daftar Pustaka

Bonafitria, Dini. (2020). The 2nd MarkPlus Government Roundtable: Pemulihan Ekonomi Di Sektor Pertanian. Webinar daring

Grehenson, Gusti (2020). Transaksi Penjualan Online Naik 400 Persen di Masa Pandemi Covid-19. dalam https://www.ugm.ac.id/id/berita/ (Akses 14 Novmber 2020)

Jayani, Dwi (2019). Jumlah Penduduk Indonesia, Kota dan Persentase Penduduk Kota terhadap Jumlah Penduduk Indonesia 2015-2025 dalam https://databoks.katadata.co.id/datapublish/ (Akses 14 November 2020)

WHO. (2020). Coronavirus disease (COVID-19) Situation Report– 111.

Yuswohady, Fatahillah Farid, Rachmaniar Amanda, H. I. (2020). CONSUMER BEHAVIOR NEW NORMAL AFTER COVID-19.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *