Tower Garden, Metode Bertanam Dengan Air dan Tanah Lebih Sedikit

Di era milenial sekarang, orang-orang pasti menginginkan segala hal dengan lebih mudah, praktis, dan cepat. Aktivitas-aktivitas yang sudah terbilang ketinggalan zaman seperti naik angkot untuk bepergian, menggunakan telepon genggam model lama, kedua hal itu sudah ditinggalkan karena ada pengganti kedua hal tersebut yang lebih praktis. Daripada menaiki angkot yang sempit, lamban, dan panas, orang-orang memilih untuk memesan ojek online yang langsung ada di depan rumah, tidak panas, dan cepat sampai ke tujuan. Orang-orang juga lebih memilih menggunakan smartphone dibandingkan dengan telepon genggam model lama yang hanya bisa mengirim SMS karena banyak fitur-fitur baru yang dapat memudahkan pekerjaan sehari-hari orang-orang, mulai dari mahasiswa, pekerja, siswa, bahkan pensiunan yang hanya berdiam diri di rumah.

Begitu pula dengan pertanian. Di masa sekarang, pertanian dan bercocok tanam secara konvensional sudah mulai ditinggalkan. Alasan orang-orang meninggalkan metode pertanian ini karena berbagai hal. Mulai dari memakan biaya yang besar, menggunakan lahan yang luas, bahkan masalah hama dan gulma yang menyebabkan para petani harus menggunakan pestisida untuk membasmi hama dan gulma.

Oleh karena itu, seiring berkembangnya teknologi dan zaman, orang-orang mulai mencari solusi untuk masalah pertanian ini. Jika ingin menanam dengan lahan yang tidak luas, biayanya murah serta penanganan hama dan gulmanya mudah, metode urban farming-lah yang paling cocok untuk menangani masalah tersebut. Urban farming menawarkan banyak manfaat, yaitu dapat menghasilkan uang, memenuhi kebutuhan pangan, menghias rumah atau lahan yang ditanami, dan yang pasti murah, mudah, praktis dan cepat.

Salah satu metode urban farming yang termasuk dalam next-gen farming adalah vertical farming. Sesuai namanya, vertical farming adalah metode bercocok tanam secara vertikal. Media tanam yang digunakan untuk metode ini adalah sebuah pot tinggi yang menyerupai menara yang dinamakan tower garden. Media tanam ini memiliki lubang-lubang berdiameter sekitar 3 cm di sekelilingnya. Tower garden menumbuhkan tanaman dengan cara yang berbeda dan sustainable serta terbilang mudah, murah, dan cepat.

Metode vertical farming ditemukan gagasannya pada tahun 1999. Seiring berjalannya waktu, masalah-masalah mengenai vertical farming mulai muncul. Salah satunya yaitu pada saat metode vertical farming masih baru digunakan, banyak yang mengeluh akibat dari biaya yang harus dikeluarkan itu sangat besar. Contohnya di Australia, metode vertical farming akan mengeluarkan biaya 850 kali lebih besar dibandingkan dengan cara tradisional. Metode ini juga akan berdampak pada lingkungan juga karena jika sampai menggunakan energi tak terbarukan terlalu banyak, maka polusi lingkungan tidak dapat dihindarkan.

Namun setiap ada masalah, pasti ada solusinya. Kini, metode vertical farming sudah terbilang mudah, murah, dan ramah lingkungan. Metode bercocok tanam seperti hidroponik, aquaponik, dan wall gardening sudah menjawab berbagai keluhan orang-orang tentang biaya dan keramahan terhadap lingkungan. Tower garden adalah salah satu metode yang sering digunakan oleh orang-orang yang melakukan urban farming. Keuntungan dari metode ini adalah kita dapat mengontrol lingkungan, air, dan nutrisi serta semua aspek dari bercocok tanam untun menumbuhkan bahan pangan kita sendiri dengan tower garden.

Metode tower garden bisa dilakukan di daerah manapun yang suhunya cukup panas. Saya menonton video wawancara dari seorang mantan apoteker, Mr. Troy Albright. Ia menggunakan metode ini untuk bercocok tanam di daerah Arizona, Amerika Serikat dengan tanah yang terbilang tidak bagus untuk ditanami. Jika metode tower garden dilakukan di Indonesia, hasil dari tanaman yang ditanam akan lebih bagus karena tidak seperti di Amerika,
Indonesia mendapat sinar matahari sepanjang tahun dan suhunya juga relatif panas. Tanahnya juga sangat cocok untuk bercocok tanam. Jadi metode ini akan menjadi lebih efektif di Indonesia.

Bagaimana cara bercocok tanam dengan tower garden? Pertama-tama, siapkan sabut kelapa seukuran gelas air mineral dan dicetak membentuk gelas tersebut. Lalu benamkan benih yang diinginkan di dalam sabut kelapa tersebut. Mengapa sabut kelapa? Karena jika menggunakan tanah, maka hama dan gulma akan bermunculan dan harus menggunakan pestisida untuk membasminya. Pestisida akan mengurangi 50-100% nutrisi dari bahan pangan yang sudah kita tanam. Hasil dari tidak memakai pestisida dari segi rasa bahan pangannya itu lebih segar dan lebih kuat dibandingkan memakai pestisida.

Untuk menumbuhkan benihnya hingga berkecambah, dibutuhkan waktu sekitar 20-30 hari. Dalam jangka waktu tersebut, simpanlah benih-benih di tempat panas yang tidak terkena sinar matahari dan siramlah setiap hari, tetapi jangan menyiram dengan air terlalu banyak. Taruh di tempat panas seperti di atas kulkas. Setelah berkecambah, barulah dipindahkan ke tempat yang terkena sinar matahari. Tetap lakukan penyiraman sampai tumbuh sekitar 1-2 inci.

Setelah itu, benih-benih yang sudah tumbuh dipindahkan ke tower, tepatnya di lubang-lubang di sekeliling tower. Untuk pengairannya, tepat di bawah tower, ada sebuah penampung air dan timernya. Air dan nutrisi yang dibutuhkan tanaman akan dipompa setiap 15 menit menggunakan pipa ke atas dan akan turun sendirinya seperti air mancur. Tanaman akan tumbuh sekitar 21-30 hari.

Metode tower garden memiliki banyak keuntungan dibandingkan metode bercocok tanam secara konvensional. Pertama, irit ruangan. Menurut Mr. Troy, ia dapat memakai 90% lebih sedikit ruangan tetapi dapat menumbuhkan 90% lebih banyak makanan. Bahkan dengan lahan 1 hektar, ia dapat memberi makan sekitar 100 keluarga per minggunya. Kedua, menghemat air. Hanya 3% air di bumi adalah air tawar yang dipakai oleh semua orang di seluruh dunia. Dengan tower garden, kita dapat mengurangi pemakaian air dari 90% sampai 98% lebih sedikit. Jadi kita dapat menghemat air bersih untuk bersiap-siap menghadapi bencana yang mungkin akan datang. Ketiga, lebih ramah lingkungan. Mr. Troy tidak menggunakan pestisida sama sekali. Jadi ia dapat mencegah polusi lingkungan serta menghindari terekspos bahan kimia dari pestisida tersebut. Alhasil, orang-orang yang memakai bahan pangan dari Mr. Troy, semuanya akan mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan tubuh yang tidak akan didapatkan jika menggunakan pestisida.

Mungkin banyak yang berpikir jika metode ini terlalu sulit dilakukan karena media tanamnya yang mahal dan sulit dicari. Namun kenyataannya, metode tower garden bisa dilakukan oleh semua orang. Jika Anda sudah mempelajari atau menonton video tentang tower ini, maka Anda bisa membuat tower ini sendiri dengan bahan-bahan yang cukup mudah dicari. Biaya untuk air dan lahan pun cukup murah karena menghabiskan lebih sedikit ruangan dan menggunakan lebih sedikit air.

Jika Anda ingin memulai bercocok tanam menggunakan tower garden atau metode urban farming lainnya, ada beberapa tips untuk memudahkan atau memberi semangat untuk bercocok tanam, yaitu tumbuhkan tanaman yang suka kita makan atau kita anggap indah. Lalu jangan mempersulit segala lah, keep it simple. Terakhir pakai air dan benih yang berkualitas.

DAFTAR PUSTAKA

id.wikipedia.org. (2019, 31 Desember). Pertanian Vertikal. Diakses pada 12 November 2020, dari https://id.wikipedia.org/wiki/Pertanian_vertikal

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *