Teras : Metode Mekanik Pencegah Tanah Erosi

Memasuki musim penghujan di bulan November ini, tak jarang kawasan pelerengan yang memiliki tingkat kecuraman yang tinggi sering mengalami erosi. Erosi terjadi karena peristiwa pengikisan tanah yang disebabkan oleh banyak faktor. Walaupun pergerakannya sangat lambat, erosi merupakan bahaya yang sangat mengancam bagi kehidupan manusia. Akibat yang ditimbulkannya sangatlah besar, seperti sedimentasi yang lama-kelamaan akan berdampak berkurangnya kehidupan organisme dalam air (Ibnu Riyadhie Prayanda, 2018).

Selain itu, erosi di kawasan dataran tinggi juga tak jarang mengakibatkan bencana longsor. Selain erosi, longsor juga dapat terjadi karena meningkatnya jumlah penduduk di wilayah dataran tinggi, sehingga kegiatan pembukaan lahan yang semakin marak dilakukan itu menyebabkan berkurangnya lahan resapan air. Bencana longsor ini sering menelan banyak korban jiwa maupun kerugian operasional. Maka dari itu, pencegahan erosi perlu dilakukan sebaik mungkin untuk mencegah terjadinya hal-hal buruk.

Pencegahan erosi bisa mulai dilakukan dengan mendalami Ilmu Konsesersi Tanah. Dalam Ilmu Konservasi tanah terdapat 3 metode atau teknik yang dapat dilakukan dalam kegiatan konservasi yaitu Metode Vegetatif, Metode Mekanik dan Metode Kimia. Untuk mengatasi permasalahan tanah yang mudah mengalami erosi dapat diatasi dengan Metode Mekanik.

Konservasi tanah mekanik adalah semua perlakuan fisik terhadap tanah dan pembuatan bangunan yang dilakukan dengan sistem mekanis. Kegiatan ini ditujukan untuk mengurangi erosi dan aliran permukaan serta meningkatkan kelas kemampuan tanah.(Dariah et al., 2004). Ada pula beberapa Metode Mekanik yang dapat diterapkan dalam konservasi tanah, diantaranya yaitu :

  1. Teras
  2. Irigasi
  3. Drainase
  4. Biopori
  5. Rorak

Dari kelima konsevasi teknik sipil di atas, pembangunan teras dapat menjadi upaya yang cukup efisien untuk dilakukan. Teras sendiri merupakan metode konservasi yang dibuat guna untuk mengurangi panjang lereng, menahan aliran air sehingga mengurangi kecepatan dan jumlah aliran permukaan, serta memperbesar peluang menyerapnya air oleh tanah (Dariah et al., 2004). Ada beberapa tipe teras yang sering dikembangkan di Indonesia diantaranaya adalah teras tangga atau teras baku dan teras gulud.

Teras tangga yaitu teras yang dibuat dengan cara memotong panjang pelerengan, lalu bagian bawah tanah lahan tersebut diratakan sehingga dapat membentuk suatu deretan yang membentuk seperti tangga. Sedangkan, teras gulud adalah teras yang membentuk barisan guludan serta dilengkapi dengan saluran air pada bagian belakang guludan tersebut.

Untuk memperbaiki lahan kritis yang berada di daerah pelerengan, sebaiknya perancangan bangunan teknik sipil teras tangga perlu diutamakan. Pembangunan teras tangga pada lahan yang mudah mengalami erosi ini menjadi suatu upaya konvervasi tanah dengan metode mekanik yang cukup efisien dan relatif sering dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Ada pula beberapa bentuk teras tangga atau teras bangku yang dapat dirancang baik dengan biaya oprasional yang tinggi maupun rendah, diantaranya yaitu :

1. Teras Jerami

Pembangunan teras jerami ini sangat direkomendasikan untuk pencegahan erosi dan longsor pada lahan dengan kelerengan curam. Pemukaan tanah tersebut dapat ditutup dengan anyaman jerami yang telah dibentuk sedemikian rupa pada patok patok yang telah ditancapkan ke dalam tanah. Dengan ini, permukaan tanah dapat terhlindungi dari air hujan serta pemperlambat peresapan aliran air ke dalam tanah. Untuk memperkuat konstruksi serta memperlancar saluran drainase, perancang dapat membuat teras batu pada bagian bawah kelompok teras jerami.

2. Teras Karung

Selain teras jerami, teras karung juga sangat efektif dalam mengurangi peluang terjadinya erosi dan bencana longsor. Karung yang biasanya diisi oleh tanah dan campuran bahan organik ini ditata sedemikian rupa sehingga bentuknya menyerupai tangga. Pada awalnya, teras karung ini berfungsi sebagai konservasi teknik sipil. Namun, campuran bahan organik yang ada pada karung tersebut juga dapat membantu pertumbuhan vegetasi. Maka dari itu, hal tersebut merubah peranan teras karung sebagai konservasi teknik sipil menjadi konservasi vegetatif.

3. Teras Batu

Batu penahan atau teras batu memiliki prinsip kerja yang sama dengan tembok penahan atau teras tembok. Namun, ada beberapa hal yang membedakan keduanya, salah satunya adalah biaya serta kualitas. Biaya yang dikeluarkan untuk merancang teras batu relatif lebih murah, tetapi tingkat ketahan dan kekuatannya lebih rendah dari pada tembok penahan. Pada pembangunan teras ini ditambahkan penanaman rumput, bambu atau tanaman keras lainnya agar dapat membantu kestabilan permukaan tanah.

4. Teras Tembok

Sama sepeti teras teras lainnya, pembangunan teras tembok atau tembok penahan ini digunakan untuk mencegah erosi dan longsor. Namun, pembuatan teras tembok ini megeluarkan biaya yang cukup besar karena teras tembok sendiri dibuat dari konstruksi beton. Pada pembangunan teras beton juga dibangun saluran air yang mengkombinasikan antara kenservasi teknik dan konservasi vegetatif. Konservasi vegetatif dilakukan dengan penanaman rumput atau tumbuhan lainnya. Pembangunan teras tembok dapat menjadi pilihan yang tepat apabila terdapat tekanan yang cukup besar dari material tanah maupun volume air serta memerlukan tingkat kekokohan yang tinggi pada bagian atas bangunan.

5. Teras Kayu

Bangunan kayu penahan atau dapat disebut juga dengan teras kayu merupakan teras yang digunakan sebagai upaya menahan longsor dalam skala kecil atau tekanan yang tidak terlalu besar pada belakan dinding penahan. Tidak seperti teras-teras sebelumnya, teras kayu relatif berumur pendek dan mudah rapuh. Maka dari itu, konservasi vegetatif harus segera dilaksanakan agar dapat menggantikan fungsi konservasi teknik sipil dengan spisies tanaman yang cepat pertumbuhannya.

6. Teras Bambu dan Ranting

Ditinjau dari segi prinsipnya, teras bambu dan ranting mirip dengan teras kayu yang tidak tahan lama dan mudah rapuh. Pembeda dari kedua teras ini ada pada material yang digunakan serta cara pembuatannya. Umumnya, teras bambu dibuat dengan cara menganyam bambu pada kayu keras yang berfungsi sebagai patok. Sedangkan pembuatan teras ranting hanya memanfatkan sisa-sisa dari batang dan ranting pohon tebangan. Sama seperti teras kayu, pembuatan teras bambu da ranting ini perlu segera diikuti dengan konservasi vegetatif mengingat usia bambu dan ranting yang relatif pendek.

7. Teras Kotak

Pembangunan teras kotak ini dilakukan sebagai upaya pencegahan debit air hujan yang berlebihan serta menahan aliaran air pada permukaan tanah. Hal ini diharapkan dapat menekan bahaya erosi dan longsor seminimal mungkin.

Referensi

Auliyani, D. (2020). Upaya Konservasi Tanah dan Air pada Daerah Pertanian Dataran Tinggi di Sub-Daerah Aliran Sungai Gandul. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, 25(3), 382–387. https://doi.org/10.18343/jipi.25.3.382

Dariah, A., Haryati, U., & Budhyastoro, T. (2004). Teknologi Konservasi Tanah Mekanik. Badan Penelitian Dan Pengembangan Petanian, 103–126. http://balittanah.litbang.pertanian.go.id/ind/dokumentasi/buku/buku lahan kering/05tek_konservasi_mekanik.pdf

Ibnu Riyadhie Prayanda, M. & R. S. (2018). Jurnal Spasial. Jurnal Spasial, 5(3), 54–62.

Wahyudi, D. (2014). Teknik Konservasi Tanah serta Implementasinya pada Lahan Terdegradasi dalam Kawasan Hutan. Jurnal Sains &Teknologi Lingkungan, 6(2), 71–85. https://doi.org/10.20885/jstl.vol6.iss2.art1

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *