Teknologi Konservasi Air Tanah untuk Mengatasi Musim Kemarau

Petani di beberapa daerah di Indonesia mengkhawatirkan datangnya musim kemarau. Kekurangan pasokan air membuat berbagai tanaman budidaya terancam gagal panen. Konsekuensi jangka panjang dari hal ini adalah kelangkaan berbagai bahan pangan yang berujung pada kenaikkan harga pasar.

Penanaman lahan gersang yang seluruhnya tergantung pada air hujan buat kelangsungan hidup tumbuhan di wilayah yang kekurangan air hendak memperparah kekurangan air ini. Salah satu pemecahan yang bisa digunakan buat menanggulangi permasalahan tersebut merupakan dengan konservasi air tanah.

Konservasi air adalah tindakan yang dilakukan untuk melestarikan sumber daya air yang tersedia. Pada kondisi lahan kering atau saat memasuki musim kemarau, sumber air yang terdapat di dalam tanah harus dijaga dengan baik.

Pada prinsipnya konservasi air mengacu pada penggunaan air yang jatuh ke tanah dan pengaturan waktu aliran yang seefisien dan seakurat mungkin, sehingga tidak akan terjadi banjir yang merusak di musim hujan, serta ada cukup air di musim kemarau. Konservasi air atau penghematan air dapat dicapai dengan (a.) meningkatkan pemanfaatan  dua komponen hidrologi, ialah air permukaan, serta air tanah, dan (b.) pertambahan penggunaan air irigasi yang efektif. (Arsyad, 2000)

Air tanah merupakan sumber air penting bagi makhluk hidup. Air tanah disimpan dalam lapisan yang disebut akuifer. Akuifer merupakan sumber air tanah yang penting. Akuifer ini dapat ditemukan di dataran pantai, kaki bukit, lembah pegunungan, dataran aluvial dan medan karst.

Teknologi konservasi air sangat berguna untuk lahan yang tidak mempunyai jaringan irigasi ataupun sumber air dasar permukaan tanah. Selain digunakan untuk irigasi, air yang ditampung juga bisa digunakan untuk pembudidayaan ikan, keperluan rumah tangga, serta  minum ternak paling utama pada MK.

Beberapa teknik konservasi air tanah yang dapat dipraktekkan oleh petani adalah pembuatan saluran resapan, rorak, mulsa vertikal, dan embung.

  1. Saluran Resapan

Saluran resapan ialah salah satu teknik konservasi air tanah yang fungsinya menampung air hujan dan meningkatkan daya serah air tanah. Metode pembuatan saluran permeable dilakukan dengan pembuatan bendengan dengan lebar 30-40 cm dan dengan kedalaman 40-50 cm.

Untuk menjaga kestabilan tanah, beberapa jenis gulma harus ditanam di pangkal, seperti tanaman merambat, rerumputan, legum atau tanaman yang di pangkas setelah panen. Tujuannya untuk menjaga air.

Keunggulan dari teknologi ini ialah dapat memberikan peluang air yang butuh waktu lebih lama untuk menembus ke dalam tanah dan bisa menggunakan sebagian di tanah dangkal. Produksi sedimen dapat dikembalikan ke pada bidang olah pada saat yang bersamaan pengolahan tanah pembajakan tanah dilakukan untuk periode pertanian musim tanam berikutnya. Permukaan air di saluran infiltrasi harus dijaga supaya tidak terjadi  gangguan akar tanaman, yang bisa dicapai dengan membangun pintu air sebuah sekat ketinggian tertentu di saluran pembuangan.

Kerugian dari teknologi ini adalah penerapannya membutuhkan Jumlah pekerja yang relatif banyak, terutama pekerja pemeliharaan. Lulus beberapa kali Saat hujan, saluran resapan biasanya penuh dengan pasir, sehingga perlu dilakukan Perawatan rutin

  1. Rorak

Rorak adalah lubang berukuran kecil hingga sedang yang dibuat di dalam lubang yang permeabel. Fungsi rorak adalah memperlambat aliran air ke permukaan, meningkatkan efisiensi saluran infiltrasi, dan menampung aliran air ke permukaan bawah tanah.

Pengolahan tanah serta persiapan tanam dilakukan bersamaan dengan pembuatan rorak. Setelah beberapa kali hujan, rorak ini akan tertutup oleh sedimen, oleh karena itu perawatan diperlukan untuk operasi yang lebih optimal. Jika tertutup oleh sedimen, maka diperlukan ukuran rorak harus disempurnakan dengan menggali atau meningkatkan tanah dari waktu ke waktu untuk kembali ke bidang pemrosesan di rorak. Perawatan semacam ini bisa dilakukan disaat yang bersamaan dengan penambahan tanah disekitar tanaman atau waktu penyiangan.

Guna memaksimalkan fungsinya, rorak biasanya dipadukan dengan proses pengolahan air untuk bercocok tanam. Saat hujan, otomatis air akan tertampung di dalam rorak dan tidak akan terbuang dengan percuma.

  1. Mulsa Vertikal

Sebenarnya mulsa vertical termasuk ke dalam jenis rorak. Perbedaannya adalah apabila model lubang resapan digunakan untuk membuat rorak murni, maka mulsa vertikal adalah kombinasi antara mulsa dan rorak. Fungsi penambahan mulsa atau serasah pada rorak ini adalah untuk meningkatkannya kemampuan dalam menyerap sedimen.

Untuk pembuatan mulsa vertikal bisa disesuaikan dengan luas lahan. Lebarnya sekitar 40 – 60 cm dan kedalamannya 30 – 50 cm. Jarak antara penutup vertikal adalah 300 – 500 cm. Menurut Noeralam, 2002, keunggulan pembuatan mulsa vertikal ini dapat mengurangi erosi tanah hingga 94 %.

  1. Embung

Embung adalah bangunan yang digunakan untuk menampung air hujan. Selain itu, embung juga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas air tanah. Dengan dibangunnya embung, petani tidak lagi mengkhawatirkan ketersediaan air di musim kemarau.

Untuk membuat embung, harus dilakukan di tempat yang cukup luas. Ini dilakukan untuk mengumpulkan lebih banyak air. Kedalaman embung yang direkomendasikan adalah 4-10 meter. Apabila ingin menggunakan lapisan plastic, terlebih dahulu harus menghaluskan permukaan embung terlebih dahulu.

Saat membuat embung, salah satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah membangun saluran drainase di sekitar embung. Fungsi dari saluran drainase ini ialah untuk membuang kelebihan air. Beberapa jenis bahan yang dibutuhkan untuk membuat sisipan antara lain ialah batu bata, plastic polietilen, semen, dan juga pasir.

Embung dibedakan menjadi dua jenis, yaitu a. Embung pertanian dan b. Embung tradisional.

a. Embung Pertanian

Embung pertanian dirancang untuk irigasi lahan pertanian skala besar ini cukup luas. Biasanya embung ini dibuat permanen atau semi permanen. Dibutuhkan semen dan plastic untuk membuat bagian bawah atau dasar dan dinding tahan air.

b. Embung Tradisional

Embung tradisional merupakan embung yang dibuat oleh inisiatif individu petani. Biasanya hanya ada dalam bentuk tanah galian, tidak terlalu luas. Embung ini biasanya dibuat di lapisan bawah tanah yang tahan air, juga bisa dibuat di palung sungai kering di MK.

Adanya musim kemarau terkadang merasa kesulitan, terutama dikarenakan minimnya ketersediaan air. Oleh sebab itu, sangat penting untuk menyiapkan solusi atas semua kondisi buruk yang terjadi selama musim kemarau.

Diharapkan dengan menggunakan berbagai teknologi konservasi air tanah di musim hujan, berbagai permasalahan akibat kekurangan air di musim kemarau dapat diatasi dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, S. 2000. Konservasi Tanah dan Air. Serial Pustaka IPB Press. IPB Press.
290 hlm

Rahmah, Novita Awali. 2019. 4 Teknologi Konservasi Air Tanah untuk Mengantisipasi Musim Kemarau. Dikutip pada 13 November 2020 dari https://paktanidigital.com/artikel/teknologi-konservasi-air-tanah/

K Subagyono, U Haryati dan SH Tala’ohu. 2004. Teknologi konservasi air pada pertanian lahan kering. Di kutip pada 13 November 2020 dari https://www.academia.edu/download/43463429/teknologi_konservasi_air_pada_pertanian_lahan_kering.pdf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *