Teknik Pengelolaan Limbah Organik Sayur Sawi Menjadi Kompos Dengan Metode Komposter

Sumber sampah organik terbanyak berasal dari cluster pemukiman dan pasar tradisional. Sampah pada cluster pasar yang berasal dari pasar sayur mayur, pasar buah, atau pasar ikan, memiliki jenis yang relatif seragam. Sebanyak 95% berupa sampah organik. Jenis sampah yang berasal dari cluster pemukiman umumnya lebih beragam, rata-rata 75% terdiri dari sampah organik dan sisanya merupakan sampah anorganik. Kandungan dalam sampah sayuran yaitu senyawa dan berbagai bakteri pengurai. Senyawa dan bakteri yang terdapat pada sampah tersebut dapat meningkatkan kesuburan tanah dengan cara menyediakan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanah. Kandungan  pada sampah tersebut dapat dijadikan sebagai kompos organik dengan mencampurkan berbagai komponen bahan-bahan tertentu. Unsur-unsur yang terdapat pada sampah organik dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan Kompos dengan berbagai metode pengolahan sampah organik, salah satunya dengan metode Komposter (Latifah et al., 2012).

Komposter

Komposter merupakan sebuah metode pengelolaan limbah sampah organik menjadi kompos yang kemudian kompos tersebut bisa digunakan sebagai pupuk untuk tanaman. Secara garis besar Proses kerja Komposter memanfaatkan kerja dekomposer atau bakteri pengurai untuk menguraikan bahan organik pada sampah menjadi pupuk kompos yang berbentu cair maupun padat dengan cepat. Pupuk yang dihasilkan dengan menggunakan metode Komposter ini bisa digunakan untuk menggemburkan tanah serta menyuburkan tanah. Pengomposan menggunakan metode Komposter memerlukan 4 bahan utama dalam proses penguraian sampah tersebut yaitu : Sampah Coklat, yang berfungsi untuk menyediakan karbon (C) sebagai penyumbang energi dalam proses dekomposisi; Sampah Hijau, Sumber Nitrogen (N) yang berfungsi untuk membentuk struktur sel bakteri pengurai; Air, yang berfungsi untuk menyediakan kelembaban serta untuk mengurai materi organik dan ; Oksigen (O2), digunakan mikroba-mikroba didalam kompos yang berfungsi untuk menguraikan bahan organik (Supini, 2020).

  • Berikut merupakan cara untuk membuat Alat Komposter secara sederhana :

Alat dan bahan untuk membuat Komposter yaitu : (Azzamy, 2017)

  1. Limbah Organik, Sebagai Bahan utama yang akan diurai oleh dekomposter ;
  2. Ember, Sebagai Wadah untuk pembuatan Kompos ;
  3. Paralon, Sebagai penahan dasar Kompos ;
  4. Spidol, Sebagai pemberi tanda bolongan ;
  5. Gergaji, Sebagai alat potong untuk memotong paralon agar sesuai dengan ukuran ember ;
  6. Bor, Sebagai alat untuk membuat lubang pada paralon sesuai ketentuan ;
  7. Meteran, Sebagai alat ukur untuk mengukur paralon yang digunakan agar sesuai dengan ukuran ember ;
  8. Gunting, Sebagai Alat potong untuk memotong Fiber agar ukurannya sesuai ; dan
  9. Fiber, Sebagai wadah tempat paralon dan tempat menyaring Kompos yang dihasilkan dari proses penguraian.
  • Prosedur Pembuatan Alat Komposter

Prosedur pembuatan alat komposter yaitu : (Azzamy, 2017)

  1. Siapkan ember yang akan digunakan sebagai tempat pembuatan komposter lalu lubangi sekeliling bawah ember menggunakan Bor yang sudah disiapkan. Buatlah 4 lubang yang berada di sisi belakang, depan, kanan, serta kiri ember Pada ketinggian 9 cm dari bawah ember ;
  2. Buatlah 2 lubang di atas ember sejajar dengan lubang yang berada di bawah ember yang akan digunakan sebagai tempat untuk memasukkan paralon 1/2 inc ;
  3. Buatlah 1 lubang yang sejajar dengan dasar ember sebagai tempat untuk menempelkan keran air ;
  4. Potong paralon ukuran 2 inch menggunakan gergaji dengan ukuran panjang sekitar 38 cm (tergantung pada tinggi ember). Paralon tersebut dipasang di tengah ember dan berfungsi sebagai tempat masuk keluarnya oksigen ;
  5. Pada setiap bagian sisi paralon di bagian bawah buatlah 4 buah lubang, lubang tersebut digunakan sebagai tempat untuk paralon setengah inch. Buat pula lubang kecil pada paralon secara memanjang. Buat kembali 2 lubang untuk tempat paralon setengah inch yang akan diletakkan di bagian atas paralon besar ;
  6. Potong paralon ukuran 1/2 inch menjadi 2 buah dengan panjang 46 cm (Tergantung tinggi ember), paralon tersebut akan diletakkan di atas ember dan untuk di bawah ember. Buatlah dua potongan paralon sepanjang 25 cm, yang akan diletakkan di bagian bawah ember. Dua buah paralon tersebut digunakan untuk menyangga saringan ;
  7. Siapkan fiber dan potong menjadi lingkaran ukuran fiber disesuaikan dengan besar ember yang tersedia. Buat lubang sebesar 2 inch pada tengah fiber yang akan digunakan sebagai tempat untuk masuk paralon. Serta buatlah lubang kecil yang akan digunakan untuk menyaring kompos ;
  8. Masukkan dua paralon berukuran 25 cm yang sudah dibuat sebelumnya berdasarkan dengan lubang di paralon serta ember. Satu paralon dimasukkan dari bagian ember sebelah kiri, sedangkan satunya lagi dimasukkan dari bagian ember sebelah kanan ;
  9. Pasangkan saringan telah dibuat sebelumnya ke dalam ember ;
  10. Pasangkan kembali paralon yang berukuran 46 cm, paralon tersebut diletakkan tepat di atas ember dan melewati lubang paralon 2 inch yang berada di atas ember ;
  11. Pasangkan keran di lubang yang sudah disiapkan sebelumnya ; dan
  12. Komposter pun sudah bisa digunakan untuk mengurai bahan organik.

 

Masalah C/N Ratio Pada Pengolahan Sayur Sawi Menjadi Kompos

Bahan organik seperti Sayur Sawi tidak dapat langsung digunakan atau dimanfaatkan oleh tanaman, hal tersebut dikarenakan perbandingan C/N dalam bahan organik (sayur sawi) tersebut relative tinggi atau tidak sama dengan kandungan C/N pada tanah. Nilai C/N tanah sekitar 10-12. Apabila hasil pengolahan bahan organik menghasilkan nilai C/N yang mendekati atau sama dengan nilai C/N yang terkandung pada tanah maka hasil olahan bahan organik tersebut sudah dapat digunakan atau diserap oleh tanaman. Prinsip kerja dari pengomposan yaitu menurunkan C/N rasio bahan organik sehingga nilai C/N dari bahan organik bisa sama dengan nilai C/N tanah (<20). Semakin tingginya nilai C/N dari bahan organik maka proses pengomposan bahan organik tersebut akan semakin lama karena nilai C/N harus diturunkan sampai mendekati nilai C/N tanah (Erickson et al., 2013). Pengomposan menggunakan metode Komposter merupakan salah satu cara alternatif untuk menurunkan nilai C/N rasio bahan organik agar mendekati nilai C/N rasio tanah sehingga aman untuk digunakan sebagai pupuk serta menambah nilai ekonomis dari Limbah organik yang bernilai ekonomis rendah. Nilai rasio C/N memiliki standar persyaratan Kualitas Kompos yang sudah diatur oleh pemerintah, seperti yang terdapat pada SNI 19-7030-200424 dan Peraturan Menteri Pertanian no 28/Permentan/SR.130/5/2009.

 

Proses Nitrifikasi

Kandungan senyawa amoniak yang terdapat pada limbah dapat disederhanakan menjadi senyawa yang tidak bersifat toksik dengan menggunakan bantuan bakteri pada proses nitrifikasi. Bakteri Nitrosomonas sp. memiliki enzim urease yang mengkatalis konversi molekul urea ke dua amoniak molekul dan satu molekul karbon dioksida. Nitrobacter akan tumbuh optimal pada suhu 28˚C dan memiliki pH optimum antara 7,3 dan 7,5 serta akan mati pada suhu 120˚F (49˚C) atau di bawah 32˚F (0˚C). Nitrobacter sp. disebut bakteri nitrifikasi karena dapat mengubah amonium menjadi nitrit dan selanjutnya mengubah nitrit menjadi nitrat. Amoniak hasil penguraian tadi akan diubah menjadi nitrat oleh bakteri nitrifikasi. Kemudian proses berulang dua kali membentuk nitrit. Nitrit tidak dapat diserap tamanan sehingga nitrit oleh Nitrobacter sp. diubah menjadi menjadi nitrat dan nitrat tersebut dapat diserap oleh tanaman untuk pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan. Pada proses nitrifikasi semakin banyak bakteri terdapat suatu reaktor maka nutrien yang digunakan untuk mengubah menjadi karbon kalori untuk bakteri tetap hidup semakin banyak dan unsur NH3-N merupakan salah satu nutrisi bagi Nitrosomonas sp (Metcalf and Eddy, 2003).

 

DAFTAR PUSTAKA

 Azzamy. 2017. Cara Mudah Membuat Komposter (Alat Pembuat Kompos Sederhana). Terdapat pada : www.mitalom.com (Diakses pada : Rabu, 14 Oktober 2020 Pukul 10.15 WIB)

Erickson Sarjono Siboro, Edu Surya, Netti Herlina. 2013. Pembuatan Pupuk Cair Dan Biogas Dari Campuran Limbah Sayuran. Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara, Jl. Almamater Kampus USU Medan 20155, Indonesia

Latifah RN, Winarsih, Rahayu YS. 2012. Pemanfaatan Sampah Organik sebagai Bahan Pupuk Cair untuk Pertumbuhan Tanaman Bayam Merah.JurnalLenteraBio 1:139- 144.

Metcalf and Eddy. (2003). Wastewater Engineering Treatment Disposal Reuse. 4 th edition. McGraw-Hill Inc. New York, St Fransisco, Auckland.

Supini, Epin. 2020. Membuat Komposter Sederhana. Terdapat pada : www.paktanidigital.com (Diakses pada : Rabu, 14 Oktober 2020 Pukul 09.55 WIB)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *