Teknik Pemanenan Air Hujan Sebagai Alternatif Pengelolaan Sumber Daya Air

Masyarakat di negara tropis seringkali menghadapi 2 musim, yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Pada saat musim penghujan, ketersediaan air sangat banyak bahkan berlebih sehingga tak jarang menjadi banjir. Namun saat musim kemarau, ketersediaan air menurun. Padahal, ketersediaan air merupakan kebutuhan mendasar yang harus tercukupi. Untuk kebutuhan rumah tangga, air biasa dimanfaatkan untuk dikonsumsi, kebutuhan mandi, dan banyak lagi. Untuk kegiatan pertanian, air dapat digunakan untuk mengairi sawah. Tetapi saat musim hujan, tanah menjadi kering. Petani sulit mendapatkan pasokan air sehingga hanya sedikit air yang bisa dialiri ke lahan pertanian. Ketersediaan air menjadi tidak memadai karena memanfaatkan musim. Padahal jika kita bisa memanfaatkan pasokan air hujan, masalah ini akan bisa diatasi dengan baik. Sebab, air hujan merupakan sumber air yang sangat berpotensi sebagai sumber air bersih jika ditampung dan disimpan dengan baik. Oleh karena itu, pemanenan air hujan dianggap menjadi solusi terbaik untuk mengatasi masalah ketersediaan air.

Pemanenan Air Hujan

Pemanenan air hujan (PAH) merupakan metode atau teknologi yang digunakan untuk mengumpulkan air hujan yang berasal dari atap bangunan, permukaan tanah, jalan atau perbukitan batu dan dimanfaatkan sebagai salah satu sumber suplai air bersih (UNEP, 2001; Abdulla et al., 2009). Metode ini dilakukan agar saat musim kemarau, masalah kekurangan air bersih bisa dihindari. Pendayagunaan
sumber daya air di lahan kering harus dilakukan se-optimal mungkin untuk meningkatkan ketersediaan air, memperpanjang masa tanam, dan menekan risiko kehilangan hasil untuk menciptakan pertanian berkelanjutan. Upaya tersebut dapat diimplementasikan melalui sistem panen hujan dan aliran permukaan yang dapat dipergunakan untuk irigasi sektor pertanian, sektor peternakan dan perikanan, memenuhi kebutuhan rumah tangga, serta dampaknya untuk pengendalian banjir dan mengantisipasi
kekeringan.

Mengenai PAH

Dahulu, orang masih hanya memanfaatkan musim untuk melakukan kegiatan sehari-harinya. Mereka tidak bisa mengontrol ketersediaan air karena air hujan dibiarkan jatuh begitu saja. Sekarang pun masih banyak orang yang belum mengetahui sistem PAH. Padahal, penting untuk melakukan pemanenan air hujan karena sayang jika air hujan pada musim penghujan dibiarkan begitu saja. Karena, saat musim kemarau akan kesulitan mendapatkan air. Sebelum musim kemarau tiba, sebaiknya kita memanfaatkan air hujan sebaik mungkin untuk persiapan ketika air bersih sulit didapatkan. Cara yang paling efektif agar air hujan tidak terbuang sia-sia adalah dengan cara menampung air hujan yang menjadi potensi air bersih. Penampungan air hujan ini dilakukan dengan metode PAH atau Pemanenan Air Hujan. Manfaat yang didapat juga ada banyak, kita perlu mempelajari mengenai sistem ini lebih lanjut lagi agar pasokan air bersih kita terjamin. Oleh karena itu, berikut beberapa penjelasan terkait Pemanenan Air Hujan.

Kapan PAH sebaiknya dilakukan?

Seperti namanya, PAH adalah metode untuk menampung air hujan agar air hujan yang berlebih bisa dimanfaatkan kembali. Oleh karena itu, wadah untuk menampung PAH harus tersedia sebelum datang hujan. Metode PAH digunakan ketika datang hujan, alat untuk menanen air hujan harus sudah siap dan harus sudah dipastikan bekerja dengan baik sebelum hujan datang. Maka ketika terjadi hujan, air hujan sudah siap untuk ditampung di wadahnya. Kita hanya hanya perlu menyiapkan alatnya. Saat hujan tiba, biarkan alat PAH bekerja dengan sendirinya. Maka kesimpulannya:

  1. Alat untuk PAH harus disediakan sebelum datang hujan
  2. Pengerjaan alat PAH sebaiknya dilakukan sebelum musim penghujan karena pada musim tersebut, banjir akan datang secara berkala
  3. PAH terjadi ketika sedang hujan
  4. Pengambilan air di tangki hasil proses PAH bisa dilakukan kapan saja sesuai kebutuhan
Wilayah Pemanenan Air Hujan

Metode pemanenan air hujan dapat dilakukan dimanapun selama daerah itu diketahui akan mengalami hujan. Wilayah yang disarankan adalah pemukiman warga. Jika setiap warga memiliki alat untuk memanen air, maka masyarakat tidak akan kekurangan air bersih lagi. Kita bisa memanfaatkan atap rumah. Sediakan pipa di sepanjang bagian bawah atap. Ketika hujan, air akan turun karena atap yang miring. Kemudian, air pada atap akan menuju pipa. Pipa itu akan mengaliri air menuju tangki. Air dalam tangki dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan. Kita hanya perlu membuka keran pada tangki jika memerlukan air.

Siapa saja yang dapat melakukan PAH?

Karena PAH dapat dilakukan di pekarangan rumah, maka PAH dapat dilakukan oleh siapapun. Bahkan semua orang termasuk mahasiswa disarankan untuk menyediakan wadah untuk menampung air hujan. Hal ini bertujuan agar masyarakat tidak kesulitan untuk mengakses air bersih lagi. Semua orang diharapkan untuk menerapkan sistem ini, terutama para petani. Petani membutuhkan banyak pasokan air untuk memenuhi kebutuhan tanamannya. Hal ini diperlukan agar tidak terjadi gagal panen. Jika gagal panen dan ketersediaan pangan menurun, maka akan berdampak pada banyak orang. Oleh karena itu, sistem Pemanenan Air Hujan atau PAH ini sangat disarankan agar masyarakat dapat melakukan kegiatan sehari-hari tanpa terhambat.

Mengapa PAH penting?

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, PAH penting agar ketersediaan air bersih tetap memadai. Dengan begitu, kegiatan masyarakat tidak akan terganggu. Air bersih sendiri banyak dibutuhkan oleh masyarakat karena itu ketersediaan air menjadi kebutuhan dasar masyarakat. Kalau tidak dapat memanfaatkan air hujan yang dapat menjadi air bersih dengan proses penyaringan, maka kita akan terus mengalami krisis air bersih terutama di daerah pelosok. Jika untuk mendapatkan akses air bersih saja sulit, maka sulit juga untuk memajukan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, penting untuk memberlakukan PAH agar terciptanya pengelolaan air berkelanjutan.

Tata Cara PAH

Berikut adalah tata cara untuk memanen air hujan dengan memanfaatkan atap rumah.

  1. Sediakan pipa pengumpul, saluran pengumpul dan dop cap, penyaring, keran, serta tangki penampung
  2. Letakkan pipa di bawah atap rumah, pastikan saluran pipa pengumpul dapat mengaliri air dengan baik agar air hujan tidak keluar dari saluran
  3. Pasang dop cap pada ujung pipa
  4. Pasang saluran tambahan di bagian bawah pipa agar ada jalan untuk air menuju tangki
  5. Pasang penyaring pada saluran pipa agar sampah maupun kotoran yang terbawa air hujan tidak ikut masuk ke tangki
  6. Siapkan tangki yang sudah terpasang keran
  7. Hubungkan saluran di bawah pipa dengan tangki
  8. Tunggu sampai terjadi hujan
  9. Air hujan akan masuk ke dalam tangki dengan sendirinya
Referensi

Hamdani, A., Talaohu, S. H., & Heryani, N. (2016). Pengembangan Teknologi Panen Hujan Dan Aliran Permukaan: Analisis Usahatani Pemanfaatan Sumberdaya Air. Jurnal Pengkajian Dan Pengembangan Teknologi Pertanian, 19(2), 153. https://doi.org/10.21082/jpptp.v19n2.2016.p153-165

Yulistyorini, A. (2011). Pemanenan Air Hujan Sebagai Alternatif Pengelolaan Sumberdaya Air di Perkotaan. Teknologi Dan Kejuruan, 34(1), 105–114. http://journal.um.ac.id/index.php/teknologi-kejuruan/article/view/3024/408

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *