Tanaman Selada (Lactuca sativa L.)

Gambar 1. Selada Kepala (Sumber: http://hidroponikpedia.com/inilah-10-daftar-nama-selada-hidroponik/ , 2018)

Tanaman selada dengan nama latin Lactuca sativa L. merupakan tanaman hortikultura yang mempunyai banyak bentuk khususnya dalam hal bentuk daunnya. Ada 4 jenis tanaman selada yang sering dibudidayakan dan dikembangkan antara lain selada kepala atau selada telur, selada rapuh, selada daun atau selada potong, dan selada batang. Ciri-ciri fisik seperti ukuran, bentuk hingga warna tanaman selada akan berbeda setiap varietasnya, namun tinggi rata-rata tanaman selada adalah 30-40 cm untuk tanaman selada daun dan 20-30 cm untuk tanaman selada kepala (Saparinto, 2013). Tanaman selada sangat populer di kalangan masyarakat karena memiliki gizi yang tinggi, warna, rasa, dan tekstur yang banyak diminati. Sebagian besar selada dikonsumsi oleh manusia dalam keadaan mentah. Tanaman selada termasuk tanaman semusim yang dapat dibudidayakan pada daerah dingin, lembab, dataran tinggi, maupun dataran rendah (Rubatzky dan Yamaguchi, 1998).

Jenis perakaran tanaman selada adalah akar tunggang dengan cabang-cabang akar. Akar tunggang tumbuh lurus ke pusat bumi, sedangkan cabang-cabang akar menempel pada batang dan tumbuh menyebar ke seluruh arah pada kedalaman sekitar 20-50 cm. Sebagian besar unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman diserap oleh cabang-cabang akar. Selain itu, akar juga berperan memperkokoh atau menopang berdirinya batang tanaman selada (Irawan, 2017). Struktur batang tanaman selada berbentuk pendek dan berbuku-buku sebagai tempat daun tumbuh. Batangnya bulat, kuat, serta kokoh. Warna batang selada berwarna hijau muda dengan permukaan halus (Pratama, 2020). Tanaman selada yang membentuk krop memiliki batang yang pendek dan hampir tidak terlihat serta terletak pada bagian pangkal akar. Selada yang tidak membentuk krop seperti selada daun dan selada batang memiliki batang yang lebih panjang sehingga mudah terlihat. Ukuran diameter batang berkisar antara 5,6-7 cm (Selada batang), 2-3 cm (selada daun), serta 2-3 cm (Selada kepala) (Irawan, 2017).

Daun selada berbentuk lonjong maupun bulat, memiliki daun berjumlah banyak dan biasanya berposisi duduk, daun tersusun spiral dalam roset padat. Daun mulus tidak berambut, kusut, berlipat, ukuran bermacam-macam sesuai dengan jenisnya (Rubatzky dan Yamaguchi, 1997). Daun tanaman selada memiliki bentuk, warna, dan ukuran yang beragam tergantung pada varietasnya. Jenis selada yang membentuk krop memiliki daun dengan ukuran besar atau lebar dan berbentuk bulat memanjang. Warna daun ada yang berwarna hijau tua, hijau terang, dan hijau agak gelap. Daun selada yang tidak membentuk krop berukuran besar, berbentuk bulat panjang, bagian tepi daun bergerigi atau bergelombang, dan daunnya ada yang berwarna hijau tua, hijau terang, dan merah. Daun selada memiliki tulang daun menyirip serta bersifat lunak, renyah, serta memiliki rasa agak manis apabila dikonsumsi. Tangkai daun pada tanaman selada memiliki ukuran yang lebar, bersifat kuat dan halus. Pada umumnya, daun selada memiliki ukuran panjang sekitar 20-25 cm dan lebar 15 cm atau lebih (Irawan, 2017). Daun merupakan bagian khas bagi tanaman selada yang berbentuk gelombang pada tepi daunnya. Bagian ini pula yang sering dikonsumsi sebagai salad. Daun selada terletak berselang-seling mengelilingi bagian batang dan dalam satu tanaman selada memiliki daun yang sangat rimbun (Pratama, 2020).

Gambar 2. Selada Rapuh (Selada Romaine (Sumber: http://hidroponikpedia.com/inilah-10-daftar-nama-selada-hidroponik/ , 2018)
Gambar 3. Selada Daun (Sumber: http://nimadesriandani.wordpress.com/2012/03/15/daun-selada-untuk-apa , 2012)
Gambar 4. Selada Batang (Sumber: http://hidroponikpedia.com/inilah-10-daftar-nama-selada-hidroponik/ , 2018)

Umumnya pada iklim sedang atau sub-tropis selada akan mudah berbunga, bunga dari tanaman selada berwarna kuning serta menghasilkan buah dalam bentuk polong yang berisi biji berukuran kecil, berbentuk pipih, serta memiliki bulu yang tajam (Rukmana, 2007). Bunga pada tanaman selada memiliki panjang sekitar 8 cm atau lebih. Biji taaman selada berukuran sangat kecil, panjangnya sekitar 4 mm dan lebarnya sekitar 1 mm  serta termasuk ke dalam biji dikotil atau biji berkeping dua dan termasuk biji tertutup sehingga dapat digunakan untuk budidaya atau memperbanyak tanaman (Irawan, 2017).

Tanaman selada dapat dibudidayakan secara konvensional maupun hidroponik. Budidaya tanaman selada menggunakan teknik hidroponik lebih dianjurkan karena teknik hidroponik tidak tergantung pada musim/waktu tanam dan waktu panen sehingga dapat diatur sesuai dengan kebutuhan pasar. Jenis hidroponik yang tepat untuk budidaya tanaman selada adalah hidroponik kultur air, dimana akar tanaman tumbuh dan berkembang dalam larutan nutrisi. Jika tanaman selada dibudidayakan dengan hidroponik substrat akan mengurangi tingkat kebersihan tanaman selada tersebut sehingga sistem hidropnik yang cocok bagi tanaman selada adalah hidroponik kultur air.

Hidroponik kultur air terdiri dari sistem Nutrient Film Technique (NFT) dan Deep Flow Technique (DFT). Sistem NFT umumnya menggunakan talang dan memiliki prinsip bahwa air dan nutrisi dialirkan pada lapisan yang tipis kurang dari 1/2 cm dengan konstruksi yang miring atau memiliki derajat kemiringan. Kelemahan dari sistem NFT yaitu selalu mengandalkan listrik. Jika listrik mati, maka air tidak akan mengalir dan akan berpengaruh terhadap sirkulasi. Sistem Deep Flow Technique (DFT) merupakan modifikasi dari sistem NFT, dimana aliran air dan nutrisi diberikan pada talang dengan ketinggian antara 3-4 cm. Larutan nutrisi akan kembali dikumpulkan  ke dalam bak nutrisi, kemudian dipompa melalui pipa distribusi ke kolam penanaman secara kontinyu. Saat listrik mati, tanaman masih dalam keadaan aman dan nutrisi akan tetap terpenuhi karena masih terdapat larutan nutrisi yang tersimpan dan menggenang di dalam talang (Chadirin, 2007). Berdasarkan penjelasan di atas, sistem hidroponik kultur air yang cocok digunakn untuk budidaya tanaman selada adalah sistem Deep Flow Technique (DFT).

Prinsip kerja dari sistem Deep Flow Technique (DFT) adalah mensirkulasikan larutan nutrisi serta aerasi secara berkelanjutan selama 24 jam pada rangkaian aliran tertutup, untuk mensirkulasikan larutan nutrisi tersebut biasanya digunakan pompa guna memudahkan proses pengaliran larutan tersebut. Perawatan yang dilakukan pada sistem DFT  cukup mudah jika dibandingkan dengan perawatan sistem hidroponik yang lain, perawatan yang dapat dilakukan adalah dengan menguras bak nutrisi dan melakukan kontrol terhadap instalasi irigasi yaitu pada pompa dan pipa-pipa distribusi (Siti, 2013).

Budidaya tanaman selada menggunakan hidroponik DFT dimulai dari penyemaian biji/benih. Penyemaian merupakan suatu kegiatan memproses benih menjadi bibit dan berfungsi untuk menjaga beih agar dapat tumbuh dengan maksimal. Penyemaian dilakukan untuk meminimalisir benih hanyut datau hilang terbawa oleh larutan nutrisi pada sistem DFT. Penyemaianan benih selada dilakukan selama 7 sampai 10 hari dengan media tanam rockwool. Rockwool mempunyai kemampuan menyerap dan menyimpan air dengan baik sehingga tanaman selada tidak akan mengalami kekurangan air dan nutrisi (Nina, 2016). Setelah bibit selada memiliki 2-4 daun, maka dilakukan pindah tanam ke instalasi hidroponik DFT. Proses pindah tanam dilakukan dengan memasukkan bibit beserta rockwool ke dalam netpot kemudian dipindahkan pada instalasi hidroponik DFT. Pemanenan tanaman selada dilakukan ketika sudah memasuki tahapan siap dipanen, umur tanaman selada yang siap panen kisaran 60-80 hari setelah masa semai. Selada yang baik dan layak dikonsumsi adalah selada yang memiliki daun segar, hijau, tidak pahit dan renyah  (Rubatzky dan Yamaguchi, 1998).

 

 

Sumber Referensi:

Chadirin, Y. 2007. Teknologi Greenhouse dan Hidroponik. Diktat Kuliah. Bogor. IPB

Irawan, L N. 2017. Pengaruh Ekstrak Alang-Alang (Imperata cylindrica L.) dan Teki (Cyperus rotundus L.) terhadap Pertumbuhan Gulma pada Pertanaman Selada (Lactuca sativa L.). Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

Nina. 2016. Kekurangan dan Kelebihan Rockwool. Terdapat pada : urbanina.com

Pratama. 2020. Tanaman Selada, Klasifikasi, Ciri Morfologi, Manfaat, dan Cara Budidaya. Terdapat pada: dosenpertanian.com

Rubatzky., Vincent, E., dan Mas, Y. 1998. Sayuran Dunia Edisi 2 Prinsip, Produksi, dan Gizi. Bandung. ITB Press.

Rukmana, R. 2007. Bertanam Selada dan Andewi. Yogyakarta. Kanisius.

Saparinto, C. 2013. Gown Your Own Vegetables-Paduan Praktis Menenam Sayuran Konsumsi Populer di Pekaranagan. Yogyakarta. Lily Publisher. 180 hal.

Siti. 2013. Kajian Penggunaan Macam Air dan Nutrisi Pada Hidroponik Sistem DFT (Deep Flow Technique) Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Baby Kailan. Surakarta. Fakultas Pertanian. Universitas Sebelas Maret.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *