Tanaman Pegagan (Centella Asiatica)

(sumber : https://doktersehat.com/manfaat-daun-pegagan/, 2020)

Tumbuhan pegagan atau disebut dalam nahasa latin yaitu Centella Asiatica merupakan tanaman yang biasa tumbuh di perkebunan, ladang, tepi jalan, dan juga didaerah persawahan. Pegagan ini merupakan tanaman yang dapat ditemukan di daerah Asia Tenggara dan sebagian kawasan subtropis. Pegagan ini biasa di sebut dengan nama lainnya yaitu daun kaki kuda atau antanan.

Secara umum tanaman pegagan ini merupakan tanaman herba yang digunakan sebagai bahan untuk obat-obatan tradisional dalam kehidupan masyarakat karena khasiatnya yang berlimpah. Menurut Ramadhan (2015) pegagan mengandung zat kimia diantaranya adalah asiaticoside (termasuk bagian dari saponin), yang memiliki manfaat untuk penyembuhan luka dan juga antilepra. Khasiat  dari tanaman pegagan ini juga yaitu untuk pengobatan diare, disentri, epilepsi dan bahkan untuk peningkatan daya ingat. Berdasarkan penelitian S Shakir Jamil et al, bahwa pegagan juga mempunyai manfaat untuk pengobatan usus lambung, memiliki efekneuroprotektif, kardioprotektif, radioprotektif dan hepatoprotektif, sebagai antioksidan, antiinflamasi, antiansietas, memperbaiki kerusakan vena dan arteri, serta sebagai antistres. Bahkan masyarakat di pulau jawa biasa mengkonsumsi daun pegagan sebagai sayur lalapan dan di percaya dapat meningkatkan kecerdasan otak, menguatkan syaraf otak, meningkatkan konsentrasi, dan meningkatkan daya ingat otak.

Morfologi Pegagan

Tanaman pegagan adalah tanaman tahunan yang tumbuh secara menjalar dan akan berbunga sepanjang tahun. Tanaman pegagan akan subur jika lingkungan dan tanahnya sesuai hingga menjadi penutup tanah. Jenis pegagan yang sering kita jumpai yaitu pegagan hijau dan pegagan merah. Selain perbedaan fisik, kedua jenis pegagan ini dibedakan karna memiliki lingkungan pertumbuhan yang berbeda. Pegagan merah memiliki beberapa nama seperti antanan batu atau antanan kebun, hal ini dikarnakan lingkungan pertumbuhan pegagan yang biasa di jumpai adalah lingkungan berbatu, kering dan terbuka. Kemudian pegagan hijau cenderung menyukai lingkungan yang lembap, terbuka, dan ternaungi  seperti pesawahan, disela-sela rumput, atau di tepi-tepi jalan.

 

Bagian-Bagian Tanaman Pegagan

  • Batang

Tumbuhan pegagan ini tidak memiliki batang namun pegagan mempunyai rimpang dan stolon yang melata. Panjang dari stolon tersebut bisa mencapai 10-80 cm.

 

  • Daun

Daun pada tumbuhan pegagan bersifat tunggal dan tersusun dalam satu roset yang terdiri dari 2 hingga 10 daun dan tangkainya memiliki panjang sekitar 5 cm, daun pegagan berbentuk seperti ginjal melebar dan bundar berdiameter 1 sampai 7 cm. Kemudian  sisi daun pegagan memiliki gerigi-gerigi kecil.

 

  • Bunga

Bunga pegagan berbentuk seperti payung tunggal yang keluar dari ketiak-ketiak daun pegagan, gagang bunga pegagan memiliki panjang sekitar 5-50 mm, panjang bunga pegagan ini biasanya lebih pendek dari tangkai daun pegagan. Warna dari bunga pegagan ini biasanya berwarna putih atau merah muda.

 

  • Buah Pegagan

Tanaman pegagan  memiliki buah yang pipih, lebarnya bisa mencapai 7mm dan tinggi buah pegagan sekitar 3 mm. Buah pegagan berlekuk dua, memiliki rusuk, dan mempunyai warna kuning kecoklat-coklatan dan berdinding tebal. Buah pegagan ini memiliki rasa yang pahit namun memiliki bau yang harum

 

  • Akar

Tumbuhan pegagan memiliki akar yang rimpang, pendek dan memiliki geragih. Akar pegagan keluar dari buku-buku pegagan berupa akar tunggang berwarna putih. Stolon-stolon yang menjalar panjang pada tumbuhan pegagan ini muncul dari daerah akar pegagan itu sendiri.

 

  • Biji

Tumbuhan pegagan bisa di budidayakan melalui biji. Namun, pertumbuhan pegagan melalui biji memakan waktu yang sangat lama, butuh sekitar 2 hingga 5 bulan untuk berkecambah. Kemudian pertumbuhan pegagan hingga dewasa membutuhkan waktu maksimal 3 bulan, di usia tersebut pegagan dapat di panen atau di biarkan utuk terus berkembang.

(Sumber : https://konten.smpn2ppu.sch.id/ipa/REPRODUKSI-2/MO_files/konten5.html, 2020)

 

Bagaimana cara budidaya tanaman pegagan?

Budidaya tanaman pegagan secara optimum yaitu pada ketinggian 200-800 mdpl, dan dapat di tanam hingga ketinggian 2500 mdpl. Budidaya pegagan ini biasanya dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan menggunakan sistem hidroponik dan ditanam pada tanah seperti pada umumnya. Cara budidaya pegagan ini secara umum diperbanyak secara vegetatif dengan menggunakan stolon atau tunas anakan, namun bisa juga dibudidayakan melalui biji atau secara generatif.

Budidaya secara vegetatif berdasarkan penelitian Januwati dan Yusron (2005) harus sudah berstolon dengan disertai minimal 2 calon tunas dan benih berasal dari induk yang berumur minimal 1 tahun.  Proses budidaya pegagan secara vegetatif atau dengan stolon pertama-tama stolon di semaikan terlebih dahulu pada polybag atau media tanam tanah lainnya. Proses persemaian dilakukan selama 2 sampai 3 minggu dan di letakkan di bawah naungan yang cukup cahaya dan di siram kurang lebih 1 kali sehari. Kemudian penyebaran atau pindah tanam bisa dilakukan, baik ke dalam media tanah, polybag, ataupun dengan sistem hidroponik.

Budidaya secara generatif atau bermula dari biji pegagan, hal pertama yang harus di perhatikan adalah kualitas benih itu sendiri. Kemudian pada proses penyemaian biji pegagan di tata sesuai kebutuhan, seperti untuk budidaya pegagan pada sistem hidroponik, penyemaian biji pegagan di lakukan pada rockwool. Budidaya pegagan secara generatif memang memakan waktu yang cukup lama, seperti yang di sebutkan sebelumnya, biji pegagan butuh sekitar 2-5 bulan agar dapat berkecambah. Setelah hal tersebut pegagan bisa dilakukan pindah tanam ke dalam media tanah, polybag, ataupun dengan sistem hidroponik. Pemanenan pegagan biasanya dilakukan setelah pegagan berumur 3 – 4 bulan. Cara panennya bisa dengan memangkas bagian daun dan tangkainya. Setelah pemanenan pertama, maka biasanya jarak waktu panen kedua bisa lebih singkat sekitar 2 bulan.

 

Budidaya Pegagan dengan Sistem Hidroponik

            Tanaman pegagan umumnya bisa di budidaya pada media tanam air, karna di lihat dari jenis pegagan yang ada yaitu pegagan air atau biasa di sebut dengan antanan air. Namun dengan menggunakan sistem hidroponik pertumbuhan pegagan akan lebih cepat dan subur  asalkan penekanan/pemberian nutrisi yang teratur dan sesuai kebutuhan tanaman pegagan itu sendiri. Budidaya pegagan dengan sistem hidroponik banyak di lakukan dengan metode NFT (Nutrient Film Technique), karena bercocok tanam hidroponik dengan metode NFT ini mudah dalam pengaplikasiannya, pemberian nutrisi relatif efektif dan efesien. Proses penanamanya sama seperti ada paragraf budidaya pegagan di atas, pertama yaitu proses persemaian baik itu dalam bentuk biji ataupun dalam bentuk stolon. Kemudian setelah pegagan layak untuk pindah tanam, pegagan dimasukkan ke dalam nettpot atau media wadah yang sesuai. Tanaman pegagan pada sistem hidroponik sangat perlu memperhatikan jarak tanam, karena dilihat dari sifat pegagan yang berkembang biak dengan cara menjalar, maka jarak tanam perlu di atur  berjauhan sekitar 20 – 30 cm. Lain halnya pada hidroponik dengan metode dutch bucket, tanaman pegagan dapat tumbuh secara bebas di area dutch bucket. Oleh sebab itu penulis pribadi lebih condong memilih budidaya pegagan dengan menggunakan sistem hidroponik dengan metode dutch bucket, selain praktis dengan metode dutch bucket bisa memperoleh hasil tanaman yang lebih banyak.

 

Referensi

Ramadhan, Nelvita Sari., dkk. 2015. Daya Hambat Ekstrak Daun Pegagan (Centella asiatica) yang Diambil di Batusangkar terhadap Pertumbuhan Kuman Vibrio cholerae secara In Vitro. Jurnal Kesehatan Andalas 2015: 4(1)

 

agrotek.id. 2019. Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Daun Pegagan. Diakses pada tanggal 25 Desember 2020 dari  https://agrotek.id/klasifikasi-dan-morfologi-tanaman-daun-pegagan/

 

cybex.pertanian.go.id. 2020. Budidaya Pegagan dengan Hidroponik. Diakses pada tanggal 25 Desember 2020 dari http://cybex.pertanian.go.id/artikel/93123/budidaya-pegagan-dengan-hidroponik/

 

pkht.ipb.ac.id. 2018. Pegagan (Cantella Asiatica (L.) Urban). Diakses pada tanggal 26 Desember 2020 dari https://pkht.ipb.ac.id/index.php/2018/03/23/pegagan-centella-asiatical-urban/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *