Tanaman Pare (Momordica Charantia L)

Gambar 1. Tanaman Pare (Sumber : http://www.agrowindo.com/peluang-usaha-budidaya-pare-dan-analisa-usahanya.htm , 2020)

Tanaman pare merupakan tanaman sayuran buah yang tumbuh di dataran rendah. Tanaman ini dapat dijumpai dengan mudah di seluruh wilayah Asia yang Tropis, terutama di Indonesia, India bagian barat, Burma, dan wilayah Malaysia serta Vietnam. Tanaman ini dahulunya kurang diminati, mengingat kurangnya permintaan pare dari konsumen maka tanaman ini hanya ditanam sebagai usaha sambilan. Seiring dengan berjalannya waktu serta banyaknya hasil penelitian yang menunjukkan manfaat dari pare dengan itu pula pare mulai diminati di pasaran.

A. Morfologi Tanaman Pare
Berasal dari kata Morphologi (Morphe: bentuk, logos: ilmu). Secara Bahasa, merupakan ilmu yang mempelajari bagian luar tumbuhan, terkhusus lagi bagi tumbuhan berbiji. Secara istilah, morfologi adalah sebuah kajian yang membahas mengenai susunan dan bentuk dari tubuh tumbuhan yang terbagi menjadi dua morfologi, yaitu morfologi luar dan morfologi dalam.

1. Akar
Akar dari tanaman yang masuk dalam famili Cucurbitaceae ini berbentuk akar tunggang yang bercabang membentuk sebuah kerucut, dari cabang-cabang akar tersebut terbentuk akar serabut yang sangat lembut. Dari bentuk akar yang demikian, tanaman pare sangat cocok dibudidayakan di kondisi lahan yang strukturnya keras serta berpasir. Pare mempunyai akar yang berwarna putih kekuningan, karna berbentuk akarnya kerucut dan meruncing hal ini memudahkan akar untuk menembus tanah. Pada umumnya akar cabang dari tanaman pare memiliki panjang 16 cm dan diameter 0,5 cm yang jumlahnya dua dan tersusun berselang-seling (Gunawan, 2009).

2. Batang
Tanaman pare memiliki batang yang tumbuh merambat atau memanjat dengan sulur berbentuk spiral. Batang tanaman pare termasuk kedalam kategori batang basa atau batang yang lunak dan berair namun tidak berkayu. Batang dari tanaman pare bercabang banyak dan sulit dibedakan, dikenal dengan nama sistem percabangan simpodial. Batangnya berbau tidak sedap, berusuk, pada batang muda terdapat rerambutan yang rapat. Dapat mencapai panjang kurang lebih 5 meter, dan batangnya memanjat karena batangnya menggunakan sulur daun atau daun pembelit untuk memanjat pada benda (Syam, 2015).

3. Daun
Tanaman pare memiliki daun yang tidak lengkap karena memiliki satu tangkai dan helaian daun saja dan tidak memiliki pelepah, kondisi yang demikian dikenal sebagai dauntunggal. Penataan letak daun pare pada setiap buku hanya satu daun, bertangkai dan letaknya selang-seling, bentuknya bulat panjang dengan panjang sekitar 3,5 – 8,5 cm serta lebar 4 cm, helai daunnya berbagi menjari 5 – 7, pada pangkal daun muda berbentuk jantung serta warnanya hijau tua, warna daun bagian bawah hijau muda, permukaan daunnya berbulu halus serta terdapat bintik bintik tembus cahaya (Subahar, 2010).

4. Bunga
Tanaman pare memiliki bunga tunggal, berkelamin dua dalam satu pohon yaitu dimana bunga jantan dan bunga betina berada di ketiak daun dan termasuk kedalam kategori tumbuhan berumah dua, sehingga dapat dibuat banyak bidang simetri untuk membagi bunga menjadi dua bagian setangkup, tangkai bunganya panjang, serta mahkota bunga berwarna kuning, bersimetri banyak karena berbentuk bintang (Tarigan, 2014).

5. Buah
Buah tanaman pare termasuk kedalam kategori buah sejati, sebab terbentuk dari bakal buah. Buah pare termasuk kedalam buah sejati tunggal yang memiliki tipe daging buni, warnanya putih kehijauan, bentuknya bulat memanjang dengan 8 – 10 rusuk serta ujungnya yang runcing, pada permukaannya bergerigi dan berbintil-bintil tidak beraturan, daging buah bagian dalamnya agak tebal dan bagian luarnya tipis, dan rasanya pahit pahit (Riyadi, 2015).

6. Biji
Pare memiliki tipe biji yang tertutup yang terdiri dari  2 lapisan, yaitu lapisan kulit luar dan lapisan kulit dalam. Kulit luar pare agak kasar dan berwarna coklat kekuningan dan biji tua kulit luarnya diselimuti oleh selaput pembungkus berwarna merah, berbentuk pipih memanjang, bentuknya kotak agak lonjong dan keras, dalam satu buah pare terdapat 5 – 10 biji dalam setiap ruang. Bijinya digunakan alat perbanyakan tanaman secara generatif (Budiman, 2009).

B. Syarat Tumbuh Tanaman Pare
Untuk tumbuh dengan baik, tanaman pare memerlukan suhu yang tropis dimulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi dengan ketinggian sekitar 0 – 1500 m/dpl, tanaman pare memerlukan suhu tropis yang ideal berkisar 18 – 24 derajat celcius, serta penyinaran matahari penuh dan tidak ternaungi sesuatu. Kelembapan udara yang sesuai  untuk tumbuhan pare ialah sekitar 50% – 70% dengan curah hujan 800 – 1200 mm/tahun. Pare dapat tumbuh subur sepanjang tahun dan tidak bergantung pada musim. Untuk media tanam, pare paling cocok tumbuh di tanah lempung berpasir, yang subur dan gembur serta mengandung banyak bahan organik, dan juga aerasi dan drainase yang baik serta pH tanah sekitar 5 – 6.

C. Pembudidayaan Pare
Petani-petani di Indonesia kini juga menanam pare sebagai tanaman sampingan. Para petani menanam pare dikarenakan kini banyaknya penelitian yang mengungkapkan khasiat dari tanaman buah sayur yang memiliki rasa pahit ini. Buah pare selain dijual ke pasar banyak juga diolah menjadi produk lain, seperti kripik pare ataupun lainnya.

Buah pare baru dapat dipanen setelah sekitar umur 2,5 bulan setelah ditanam. Tanaman pare yang siap panen memiliki tanda buah yang sudah memiliki bintil dan keriput yang masih agak rapat serta alur yang belum melebar. Selain masa panen yang terbilang singkat, tanaman pare juga mudah dalam perawatannya. Tanaman ini tak memerlukan banyak perawatan sehingga memudahkan petani untuk membudidayakan tanaman ini.

D. Sistem Hidroponik Tanaman Pare
Perkembangan teknologi semakin berkembang pesat, khususnya dalam bidang pertanian. Teknologi hidroponik merupakan salah satu bentuk perkembangan teknologi dimana bertani tidak perlu menggunakan lahan yang luas, bahkan tak menggunakan tanah sebagai media tanam. Hidroponik memberikan banyak keuntungan, seperti keberhasilan tanaman untuk tumbuh dan berproduksi lebih terjamin, keadaan hidroponik yang cenderung bersih dapat memacu perkembangan tumbuhan, hasil produksi yang lebih berkelanjutan, beberapa tanaman dapat dibudidayakan diluar musim, tidak ada resiko kerusakan yang diakibatkan oleh alam seperti banjir, erosi, kekeringan dan  lainnya, serta yang paling penting ialah bahwa tanaman hidroponik tidak memerlukan lahan yang luas.

Metode hidroponik dibagi menjadi atas prinsip dasar hidroponik menjadi hidroponik substrat dan NFT (Nutrient Film Technique). Hidroponik substrat  menggunakan media padat bukan tanah yang dapat menyediakan dan menyerap zat-zat yang dibutuhkan oleh tanaman dan juga mendukung daya tumbuh akar. Sedangkan hidroponik NFT meletakkan akar tanaman pada lapisan air yang dangkal.

Gambar 2. Menanam Pare Secara Hidroponik

(Sumber : http://www.lemurmaju.my.id/2019/09/langkah-menanam-paria-atau-pare-secara.html , 2020)

Berdasarkan morfologinya, tanaman pare tidak cocok dibudidaya menggunakan metode hidroponik NFT (Nutrient Film Technique) sebab media yang dangkal tidak dapat menunjang tumbuhya akar pare yang berbentuk akar tunggang yang bercabang membentuk sebuah kerucut, dari cabang-cabang akar tersebut terbentuk akar serabut yang sangat lembut, akarnya kerucut dan meruncing hal ini memudahkan akar untuk menembus tanah. Selain daripada itu, metode hidroponik substrat yang menggunakan media padat bukan tanah namun tetap memiliki unsur-unsur yang terkandung dalam tanah sangat cocok dengan tanaman pare yang cenderung membutuhkan banyak unsur-unsur yang terkandung oleh tanah untuk menunjang pertumbuhan tanaman pare.

 

DAFTAR REFERENSI

Ariska, P. (2020). RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN PARE (Momordica charantia L.) DI PETAKAN AKIBAT PEMBERIAN TAKARAN PUPUK BOKASHI KOTORAN SAPI (Doctoral dissertation, 021008).

Lingga, P. (1984). Hidroponik: Bercocok tanam tanpa tanah.

Niaga Swadaya. Maghfoer, M. D., Yurlisa, K., Aini, N., Yamika, W. S. D. (2019). Sayuran Lokal Indonesia: Provinsi Jawa Timur. Universitas Brawijaya Press.

Roidah, I. S. (2015). Pemanfaatan lahan dengan menggunakan sistem hidroponik. Jurnal Bonorowo, 1(2), 43-49.

Rosliani, R., & Sumarni, N. (2005). Budidaya tanaman sayuran dengan sistem hidroponik.

Sunarjono, H., & Nurrohmah, F. A. (2008). Bertanam Sayuran Buah. Penebar Swadaya Grup.

Sutarmi, T.S, dkk. (1983). Botani Umum. Bandung: Angkasa. Hal. 1-2.

Tjitrosoepomo, G. (2005). Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: UGM Press, Cetakan 15. Hal. 1-2.

Wahidah Asni, N. (2019). Pengaruh Pemberian POC Batang Pisang dan Berbagai Jenis Pupuk Kandang Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Pare (Momordica charantia L.) (Doctoral dissertation).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *