Tanaman Pakcoy (brassica rapa L.)

Gambar 1. Biji Tanaman Pakcoy (sumber: https://m.andrafarm.com, 2020)

Pakcoy merupakan tanaman dari famili Brassicaceae pada kingdom Plantae, divisi Spermatophyta, kelas dicotyledonae, ordo rhoeadales, genus brassica jenis brassica rapa L. Pada abad ke-5 tanaman pakcoy (Brassica rapa) yang merupakan tanaman sayuran daun ditemukan di China dan dibudidayakan secara luas di China selatan, China pusat dan Taiwan. Saat ini budidaya tanaman Pakcoy telah banyak dikembangkan di seluruh dunia terutama di Filipina, Malaysia, Indonesia dan Thailand (Adiwilaga 2010).

Berikut ini merupakan morfologi tanaman pakcoy berdasarkan bagian-bagian penyusunnya.

Buah dan biji

Tanaman pakcoy memiliki buah berjenis polong memiliki dua daun buah disebut siliqua atau buah yang berasal dari dua bakal benih, memecah pada dua alur, yang selanjutnya menyisakan sekat. Buah pakcoy berwarna keputihan hingga kehijauan, berbentuk bulat hingga lonjong, pada setiap polong terdapat 2-8 butir biji di dalamnya. Biji tanaman ini mengkilap, memiliki bentuk yang kecil bulat, permukaannya licin, keras dan teksturnya agak sedikit berlendir. Pakcoy yang termasuk kedalam kelas dicotyledonae memiliki biji berkeping dua dengan biji berbentuk bulat kecil berwarna coklat tua hingga kehitaman. Perkecambahan dari biji pakcoy bersifat epigeal yang artinya proses keluarnya epikotil dan kotiledon dari biji yang diakibatkan karena pemanjangan hipokotil (Rukmana, 1994).

Akar

Akar tanaman pakcoy berfungsi untuk menyerap air dan unsur hara untuk kebutuhan tanaman serta memperkuat tegakan batang tanaman. Pakcoy yang termasuk kedalam tanaman biji berkeping dua atau dikotil memiliki sistem perakaran yang termasuk kedalam perakaran tunggang, memiliki akar utama atau primer, dengan cabang akar berbentuk elips pada kedalaman berkisar 3-5 cm yang menyebar ke segala arah. (Setyaningrum et. al., 2011).

Gambar 2. Akar Tanaman Pakcoy (Sumber: http://celuks.blogspot.com/2018/04/pakcoy-hidroponik-dari.html, 2018)

Batang

Fungsi batang tanaman adalah sebagai sarana pembentuk dan penyangga daun tanaman. Batang tanaman pakcoy relatif pendek dan bersegmen, umumnya batang berwarna putih dan sebagian lainnya berwarna hijau muda, tangkai daunnya berukuran besar, tebal dan kokoh namun tidak berkayu. Batang pakcoy termasuk dalam jenis pseudostem karena pada tanaman pelepah saling berhimpit dan letaknya beraturan. Pertumbuhan batang pada tanaman yang masih muda lemah, namun setelah terbentuknya daun ketiga akan membentuk setengah roset (Rukmana, 1994).

Gambar 3. Batang Tanaman Pakcoy (Sumber: https://makassar.tribunnews.com/2020/07/08/cara-menanam-pakcoy-di-polybag-sayuran-sawi-yang-mirip-sendok, 2020)

Daun

Pakcoy memiliki daun dengan diameter yang lebar, bertekstur halus, tidak berbulu, relatif kuat dan kaku. Daun tanaman sawi pakcoy juga mengkilat dan tidak menggulung dengan bagian ujung yang tumpul. Diameter rata-rata daun tanaman pakcoy pada umur yang sama dapat berbeda-beda tergantung dari varietasnya. Tegakan daun tanaman ini semi horizontal yang diteruskan dari bagian batang tanaman (Rukmana, 1994).

Gambar 4. Daun Tanaman Pakcoy (Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Pakcoy, 2020)

 

Bunga

Struktur bunga tanaman pakcoy tersusun dalam inflorescentia yang memanjang dan memiliki banyak cabang. Bunga pada tanaman pakcoy relative kecil yang tersusun majemuk. Setiap bunga pakcoy umumnya memiliki 4 helai kelopak bunga yang merupakan ciri khas dari family Brassicaceae, 4 helai daun mahkota dengan warna kuning, 4 hingga 6 helai benang sari yang mengelilingi 1 helai putik yang memiliki rongga. (Sunarjono, 2013).

Gambar 5. Bunga Tanaman Pakcoy (Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Pakcoy, 2020)

Tanaman pakcoy memiliki kemampuan adaptasi yang cukup luas terutama pada kondisi suhu pada lokasi tumbuhnya. Tanaman pakcoy tidak terlalu peka terhadap suhu, sehingga tanaman pakcoy tetap dapat tumbuh pada dataran tinggi maupun dataran rendah. Meskipun pakcoy kurang peka terhadap suhu, namun pertumbuhan yang paling baik pada suhu udara yang berkisar antara 19o C – 21oC, suhu udara dimana tanaman pakcoy tumbuh mempengaruhi pertumbuhan pertumbuhan bunga, pada suhu dibawah 19o C tanaman pakcoy cepat berbunga, sedangkan pada suhu udara diatas 21o C tanaman cenderung tidak berbunga (Aak, 1992).

Pakcoy dapat dibudidayakan dengan cara konvensional maupun dengan cara hidroponik. Saat ini budidaya tanaman dengan penerapan sistem hidroponik sedang gencar dilakukan. Sistem hidroponik memiliki keunggulan dibandingkan dengan budidaya konvensional. Kelebihan yang dimiliki sistem hidroponik diantaranya hidroponik dapat memanfaatkan lahan sempit, dapat diterapkan dimana saja dan bersifat dinamis, tidak membutuhkan tanah sebagai media tanam, lebih higienis, dan masa panen yang relatif lebih singkat. Hidroponik terbagi menjadi dua model berdasarkan media tanamnya yaitu sistem hidroponik kultur air dan sistem hidroponik substrat. Pakcoy termasuk kedalam golongan sayuran daun, yaitu tanaman yang bagian konsumsi utamanya pada bagian daun Berdasarkan morfologinya, jenis sayuran daun tanaman pakcoy dapat dibudidayakan di hampir semua sistem hidroponik yaitu pada sistem kultur air maupun pada sistem substrat. Dengan masing-masing kelebihan dan kekurangan, pakcoy masih dapat tumbuh dengan baik.

Berikut merupakan sistem hidroponik yang dapat diterapkan untuk budidaya tanaman pakcoy secara hidroponik.

Kultur Air

Dalam memilih sistem hidroponik yang sesuai berdasarkan morfologinya, tanaman pakcoy yang termasuk kedalam jenis sayuran daun memang tidak berpengaruh nyata terhadap media tanam yang selanjutnya menentukan sistem hidroponik seperti apa yang harus digunakan, namun sebaiknya media yang memiliki pori-pori besar lebih baik digunakan, hal ini dilakukan agar akar mendapat ruang untuk bertumbuh. Sistem kultur air dalam sistem hidroponik merupakan alternatif untuk mengatasi permasalahan pori-pori media tanam, karena sistem ini tidak berpatokan pada media tanam sebagai bagian utama dari pembudidayaan hidroponiknya melainkan aliran nutrisi yang terus menutrisi tanaman. Selain dari alasan tersebut, morfologi tanaman sayuran daun yang tidak berkambium dan relatif ringan tidak membutuhkan cengkraman akar berupa media tanam substrat untuk menopang pertumbuhan seperti yang harus diterapkan pada tanaman sayuran buah, sehingga dengan kata lain untuk tanaman pakcoy sistem kultur air penggunaanya lebih efektif dibandingkan dengan sistem substrat (Purbajanti, et. al., 2017).

Ada beberapa macam sistem hidroponik kultur air diantaranya Nutrient Film Technique (NFT), Dynamic Root Floating (DRF), Deep Flow Technique (DFT) dan Aeroponic. Namun sistem kultur air yang dianggap paling baik saat ini adalah sistem NFT dan DFT, sistem ini banyak diadopsi untuk skala hobi dan skala industri. Prinsip kerja pemberian fertigasi dari kedua sistem yang tersirkulasi secara terus-menerus dengan bantuan pompa ini dapat memenuhi kebutuhan nutrisi dan oksigen tanaman dengan baik, perbedaan dari kedua sistem ini adalah pada fertigasinya, pada sistem NFT merujuk pada kata film yang artinya nutrisi dialirkan tipis pada zona perakaran, bagi pertumbuhan tanaman dengan menggunakan fertigasi jenis ini memungkinkan tanaman mendapatkan lebih banyak oksigen karena akar tidak terendam sepenuhnya, sedangkan pada fertigasi DFT genangan nutrisi dibuat lebih tinggi, sehingga instalasi DFT cocok diterapkan untuk daerah yang sering terjadi pemadaman listrik, karena genangan nutrisi masih mampu memenuhi kebutuhan tanaman selama sirkulasi oleh pompa tidak aktif (Purbajanti, et. al., 2017).

Gambar 6. Instalasi DFT dan NFT (Sumber: https://tipsbudidaya.com/cara-membuat-hidroponik-paralon, 2019)

 

Sistem Substrat

Hidroponik substrat merupakan model hidroponik yang tidak menggunakan air sebagai media utama layaknya sistem kultur air, melainkan menggunakan media tanam padat pengganti tanah yang dapat mengikat air dan nutrisi untuk memberikan hara, air, oksigen dan karbondiosida yang dibutuhkan oleh tanaman. Bahan media substrat pengganti tanah yang dipilih adalah berdasarkan pertimbangan kemampuanya memegang persediaan unsur yang dibutuhkan oleh tanaman dan ketersediaan bahan pada lokasi pembudidayaan. Bahan substrat yang dapat digunakan diataranya adalah batu apung, pasir, serbuk gergaji, cocopeat, kerikil dan lain sebagainya. Media tanam yang digunakan akan berpengaruh terhadap hasil dan kualitas tanaman (Lingga, 2006). Hidroponik substrat memiliki keunggulan dibandingkan sistem kultur air, terutama pada kemampuannya untuk menopang tanaman agar dapat berdiri tegak, namun untuk pembudidayaan pakcoy, berdasarkan morfologinya tanaman sayuran daun mampu tumbuh tanpa tumpuan media tanam, sehingga fungsi utama yang dimiliki oleh sistem substrat dapat digantikan pula oleh sistem kultur air (Yuwono, 2013). Gambar berikut merupakan model fertigasi dan media tanam yang dapat digunakan pada hidroponik substrat.

Gambar 7. Sistem Dutch Bucket (Sumber: https://hidrafarm.blogspot.com/2016/09/cara-kerja-hidroponik-sistem-dutch.htmlhttps://www.nosoilsolutions.com/dutch-bucket-hydroponic-system/, 2016)

 

Gambar 8. Macam-macam Media Tanam Substrat (Sumber: https://hidroponikdasar.blogspot.com/2015/12/macam-macam-media-hidroponik.html, 2015)

 

Daftar Pustaka

Aak, 1992. Petunjuk Praktis Bertanam Sayur. Jogjakarta: Kanisius.

Adiwilaga. 2010. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Sisi Permintaan dan Sisi Penawaran Sayuran Sawi. Bandung : Penerbit Alumni Bandung.

Lingga, P. 2006. Hidroponik Bercocok Tanam Tanpa Tanah. Jakarta: Penebar Swadaya.

Purbajanti, E., Slamet, W., Kusmiyati, F. Hiydroponic Bertanam Tanpa Tanah. Semarang: EF Press Digimedia

Rukmana, R. 1994. Bertani Petsai dan Sawi . Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Setyaningrum, Hesti Dwi dan Saparinto, Cahyo. 2011. Panen Sayur Secara Rutin di Lahan Sempit. Jakarta: Penebar Swadaya.

Sunarjono, Hendro. 2013. Bertanam 36 Jenis Sayur. Jakarta: Penebar Swadaya.

Yuwono, Teguh. 2013. Uji Hasil Tanaman Sawi Pada Berbagai Media Tanam Secara Hidroponik. Jurnal Innofarm 1 (2): 44-50.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *