Tanaman Padi (Oryza Sativa L.)

Gambar 1. Morfologi Tanaman Padi (Sumber: http://hirupbagja.blogspot.com/2009/09/morfologi-tanaman-padi.html , 2009)

Tanaman padi (Oryza Sativa L.) termasuk dalam suku poaceae atau padi-padian, dan spesies O. sativa. Terlihat seperti gambar di atas, padi memiliki akar serabut dengan batang pendek yang terdiri dari rangkaian pelepah daun yang saling menopang satu sama lain dengan tegak. Urat daun padi sejajar dan bagian bunga tersusun secara majemuk. Buah pagi berbentuk lonjong dengan rata- rata ukuran sekitar 15 mm. Padi (Oryza Sativa L.)  merupakan komoditas utama di Indonesia, secara umum masyarakat Indonesia mengkonsumsi beras dari tanaman padi setiap harinya. Hal tersebut membuat para petani dituntut untuk terus memproduksi padi dalam jumlah besar tiap tahunnya. Badan Pusat Statistik menyatakan jumlah produksi padi pada tahun 2020 diperkirakan mencapai 55,16 juta ton GKG, jumlah tersebut meningkat sebanyak 1,02% dari tahun sebelumnya. Kondisi tersebut perlu dipertimbangkan mengingat kebutuhan beras yang berbanding lurus dengan jumlah penduduk di Indonesia yang terus meningkat dan jumlah lahan produktif yang semakin sempit karena banyaknya pembangunan tempat tinggal, penanaman padi memerlukan metode lain agar tetap bisa mengimbangi kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia. Salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan menanam padi dengan sistem hidroponik agar tetap bisa menanam padi dengan keterbatasan lahan pertanian.

Gambar 2. Padi (Sumber: https://www.kampustani.com/cara-menanam-padi-agar-hasil-maksimal/ , 2018)

Padi memiliki tiga fase pertumbuhan, yang pertama yaitu vegetatif (awal pertumbuhan sampai pembentukan bakal malai) merupakan fase pertumbuhan organ-organ vegetatif dimana jumlah anakan, tinggi tanaman, luas daun, dan bobot mulai tumbuh. Fase kedua yaitu reproduktif (primordia sampai pembungaan) tanda tanaman padi sudah memasuki fase ini adalah berkurangnya jumlah anakan, memanjangnya ruas bagian atas batang padi, munculnya daun bendera, bunting dan pembungan. Fase terakhir atau yang ketiga adalah pematangan (pembungaan sampai gabah matang). Rata-rata kebanyakan varietas padi pada daerah tropik di fase reproduktif adalah 35 hari dan fase pematangan 30 hari. Perbedaan umur masa pertumbuhan padi ditentukan oleh lamanya fase vegetatif yang bisa mencapai 45-65 hari.

Gambar 3. Struktur Gabah Tanaman Padi (Sumber : https://www.materipertanian.com/klasifikasi-dan-ciri-ciri-morfologi-padi-oryza-sativa/ , 2018)

Gabah terdiri dari beberapa struktur di atas, beras (karyopsis) merupakan biji dari gabah itu sendiri yang dibungkus oleh Lemma yang berasal dari pelepah daun menutupi hampir 2/3 permukaan beras, Palea menutupi bagian lainnya dan sisinya bertemu dengan sisi Lemma. Bobot gabah diperkirakan dari 12 mg hingga 44 mg pada kadar air 0% bergantung pada kondisi lingkungan dan kondisi tanaman di daerah tersebut. Sedangkan bobot sekam atau pembungkus beras rata-rata hanya 20% dari bobot gabah.

Gambar 4. Akar Tanaman Padi (Sumber : https://pertanian-mesuji.id/klasifikasi-dan-morfologi-tanaman-padi-oryza-sativa/ , 2018)

Akar merupakan bagian pada tanaman yang berfungsi sebagai penunjang tanaman untuk dapat tumbuh tegak, menyerap unsur hara pada tanah dan juga sebagai penyerap air yang selanjutnya didistribusikan ke organ lain dari tanaman itu sendiri. Berdasarkan fungsinya, akar pada setiap tanaman tentunya berbeda-beda bergantung pada kebutuhan tanaman itu sendiri.

Tanaman padi memiliki jenis akar serabut, agar dapat menopang tanaman padi yang memiliki bobot besar di bagian atas dan batang yang cenderung berukuran kecil. Perkembangan akar pada tanaman dipengaruhi oleh ketersediaan N. Pada tanaman berakar serabut akan terjadi pertumbuhan akar bila kadar N sudah melebihi 1% pada batang, selain itu pertumbuhan daun pada tanaman berakar serabut juga berbanding lurus dengan pertumbuhan akarnya. Apabila daun ke-n pada batang utama telah tumbuh memanjang, maka akar sekunder pada buku ke-(n-3) akan muncul.

Akar tanaman padi juga berperan dalam proses kimia, biokimia dan biologi di lingkungan tanaman sama seperti akar-akar pada tanaman lainnya. Akar pada varietas tertentu menyerap kation (muatan listrik +) lebih banyak dari pada anion (muatan listrik -) dan melepaskan ion H+ ke tanah untuk mempertahankan keseimbangan muatan listrik di tanaman dan tanah. Jenis kation utama yang diserap akar adalah NH4+, K+, MG+, Ca+, sedangkan anion utamanya adalah NO3-, H2PO4-, Cl-, dan SO4 2-.

Gambar 5. Struktur Daun Padi (Sumber : https://pertanian-mesuji.id/klasifikasi-dan-morfologi-tanaman-padi-oryza-sativa/ , 2018)

Susunan daun pada tanaman padi berselang-seling tiap buku satu daun. Satu daun pada tanaman padi terdiri dari helai daun, pelepah daun, telinga daun, dan lidah daun. Telinga dan Lidah daun pada padi digunakan untuk membedakannya dengan rerumputan pada stadia bibit karena daun rerumputan hanya memiliki salah satunya atau bahkan tidak keduanya.

Bagian paling atas daun padi disebut daun bendera yang posisi dan ukurannya berbeda dari daun lainnya. Setiap satu daun pada pertama fase tumbuh memerlukan waktu 4-5 hari hingga tumbuh seluruhnya. Pada fase selanjutnya memerlukan waktu 8-9 hari. Waktu tersebut juga bergantung pada varietas tanaman itu sendiri.

Gambar 6. Struktur Batang Padi (Sumber: https://pertanian-mesuji.id/klasifikasi-dan-morfologi-tanaman-padi-oryza-sativa/ , 2018)

Batang pada tanaman padi terdiri dari beberapa ruas dan dibatasi oleh buku. Batang yang tumbuh di tanaman padi terdiri dari pelepah dan ruas-ruas daun yang tertumpuk padat pada permukaan stadia. Kekuatan batang sangat menjadi kunnci tumbuhnya tanaman padi, semakin tinggi padi yang tumbuh maka batang harus semakin kokoh agar tanaman tidak roboh terutama pada daerah angin kencang. Selain, sebagai penopang batang juga berfungsi untuk menyalurkan senyawa kimia dan air dari akar ke bagian tanaman lainnya agar nutrisi terus terpenuhi.

Gambar 7. Struktur Bunga padi (Sumber: https://www.materipertanian.com/klasifikasi-dan-ciri-ciri-morfologi-padi-oryza-sativa/ , 2018)

Bunga padi  terdiri dari tangkai, bakal buah, lemma, palea, putik, dan benang sari, susunan ini atau bunga pada padi disebut juga malai. Tiap bunga dinamakan spikelet yang terletak pada cabang-cabang bulir, cabang-cabang bulir ini terdiri dari cabang primer dan sekunder.

Gambar 8. Sistem Hidroponik pada Tanaman Padi (Sumber: https://pilarpertanian.com/bertanam-padi-hidroponik-alternatif-pemenuhan-pangan-keluarga/ , 2020)

Sistem hidroponik merupakan salah satu metode vertikultur yang mudah diterapkan oleh diri sendiri. Keuntungan penanaman menggunakan sistem hidroponik diantaranya adalah mudah dari segi perawatan, dan tidak memerlukan lahan yang luas dalam penerapannya sehingga bisa dilakukan dilingkungan rumah sendiri.

Beberapa jenis tanaman sayuran, buah-buahan atau bahkan padi sendiri sangat memungkinkan untuk dikembangkan penanamannya dalam sistem hidroponik pada lahan yang sempit. banyak penelitian yang sudah membahas tentang tata cara menanam padi secara hidroponik. Sistem hidroponik yang digunakan untuk menanam padi cukup beragam dan berbeda-beda Nutrient Film Technique, Wick System, Deep Flow Technique ataupun sistem lainnya. Belum ada perbandingan antar sistem hidroponik yang satu dengan yang lainnya karena cukup sulit mengingat varietas padi yang beragam dan kebutuhan nutrisi yang berbeda-beda juga setiap daerahnya.

Selain sitstem hidroponiknya, respon padi terhadap media tanam dan sumber nutrisi juga menjadi pertimbangan masyarakat untuk bisa mulai menanam padi secara hidroponik. Perbandingan perbedaan nutrisi seperti AB mix, POC, dan NPK telah dilakukan bersamaan dengan perbandingan media tanam yang digunakan antara Arang Sekam, Batu bata,  dan Serbuk Gergaji. Hasil analisis menyatakan pemberian nutrisi berupa AB mix memberikan respon yang terbaik karena bobot gabah memberikan nilai yang tertinggi, berbeda 0,33 gram (per 1000gram gabar) dibandingkan dengan POC dan NPK lebih rendah lagi. Berat gabah perumpunnya juga memiliiki hasil terbesar dibandingkan nutrisi lainnya. Selain itu, umur panen padi memiliki umur terpendek dibandingkan dengan nutrisi NPK dan POC. Media tanam yang memberikan respon terbaik adalah batu bata karena memberikan bobot gabah yang lebih berat, jumlah gabah yang lebih banyak, anakan produktif yang lebih besar, dan umur berbunga yang lebih cepat.

Namun, pada perbandingan budidaya tanaman padi pada sistem hidroponik dan secara konvensial masih lebih produktif pada sistem tanam konvensional dengan perbedaan yang cukup jauh. Sistem tanam konvensional menghasilkan tanaman padi yang lebih tinggi dibandingkan sistem hidroponik. Diameter pot juga mempengaruhi pertumbuhan tanaman padi, lebih besar pot yang digunakan malai yang tumbuh lebih banyak, pada sistem tanam konvensional diameter tanam tidak terbatasi. Penggunaan pupuk AB mix,, super V3 Hartani, dan Hyponex tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap perbandingan pertumbuhan tanaman padi. Walaupun begitu sistem hidroponik memiliki keunggulan dari segi lahan yang terbatas, hal tersebut menjadi salah satu alasan perlu dikembangkannya sitem penenaman hidroponik pada tanaman padi.

DAFTAR PUSTAKA

Ahimsya, Mirza Bintang., Basunanda, Panjisakti., Supriyanta. 2018. Karakterisasi Morfologi dan Fotoperiodisme Padi Lokal (Oryza Sativa L.) Indonesia. Program Studi Pemuliaan Tanaman. Fakultas Pertanian. Universitas Gadjah Mada.

Humaerah, Armaeni Dwi. 2013. Budidaya Padi (Oryza Sativa L.) dalam Wadah dengan Berbagai Jenis Pupuk pada Sistem Tanam Berbeda. Jurnal Agribisnis. Vol. 7, No. 2, 199-210.

Suhartatik, E., Makarim, A. K., 2015. Morfologi dan Fisiologi Tanaman Padi. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi.

Umarie, Iskandar., Hazmi, M., Muhaimin, M. 2019. Respons Tanaman Padi (Oryza Sativa L.) Terhadap Berbagai Media Tanam dan Sumber Nutrisi pada Sistem Tanamn Hidroponik Vertikultur Bokas. Fakultas Pertanian. UM Jember. volume 17.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *