Tanaman Melon (Cucumis melo L.)

(Sumber: https://agrotek.id/klasifikasi-dan-morfologi-tanaman-melon)

Melon yang memiliki bahasa latin Cucumis melo L. adalah tanaman buah semusim yang berasal dari lembah Persia, Mediterania. Melon atau Cucumis melo L. pada dasarnya memiliki klasifikasi sebagai tanaman sayuran, namun pada klasifikasi botani melon tergolong dalam komoditi buah- buahan. Buah ini tergolong ke dalam famili Cucurbitaceae dan genus Cucumis (Ghebretinsae dkk., 2007). Melon dapat tumbuh dan berkembang dengan baik bila ditanam di tempat yang sesuai dengan syarat pertumbuhan tanaman melon itu sendiri. Tanaman melon membutuhkan tanah yang subur dan kaya akan unsur hara untuk mendukung pertumbuhan tanaman melon. Keadaan iklim, seperti suhu, curah hujan, sinar matahari, kelembaban, dan ketinggian tempat tanam juga sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman melon. Tanaman melon juga sangat peka terhadap air yang menggenang sehingga sistem drainase sangat perlu diperhatikan dalam budidaya tanaman melon (Tjahjadi, Nur, 1989)

Morfologi pada tanaman melon mencakup akar, batang, akar, daun, batang, bunga, dan buah. Biji tanaman melon memiliki warna coklat muda dengan ukuran panjang biji 0,9 mm dan memiliki ukuran diameter biji 0,4 mm, pada setiap satu buah melon dapat menghasilkan biji sebanyak 500 sampai dengan 600 biji.  Tanaman melon memiliki bentuk menjalar dan pada budidaya biasanya tanaman melon dirambatkan pada sebuah bambu, bambu ini berfungsi agar bentuk tanaman terjaga dan tetap memiliki nilai estetika atau agar tetap tumbuh dengan bentuk terjaga, jika tanaman melon dibiarkan tumbuh begitu saja atau tanpa penyangga, maka tanaman melon akan memiliki banyak cabang dari ketiak daunnya. Tanaman melon dapat tumbuh hingga ketinggian 2 meter, karena memiliki ketinggian yang cukup tinggi maka tanaman melon harus dilakukan pemangkasan secara berkala atau rutin agar tetap dapat menjaga bentuk dan agar tetap terlihat terawat atau terjaga nilai estetikanya.

Akar tanaman melon adalah akar tunggang dengan dua bagian yang menyebar atau memiliki sistem perakaran yang menyebar akan tetapi tidak dalam atau memiliki sistem perakaran yang dangkal. Semakin dalam akar pada tanaman melon, maka akar tanaman makin berkurang. Akar tanaman melon juga memiliki rambut akar yang banyak di sekitar permukaan tanah. Perkembangan akar tanaman melon yang horizontal di dalam tanah dapat memiliki ukuran atau menyebar dengan kedalaman 20-30 cm dan semakin dalam akar tanaman melon, maka akar-akar tanaman melon akan semakin berkurang atau semakin sedikit (Tjahjadi, 1987). Batang tanaman melon berbentuk segilima dengan sudut-sudut yang sedikit membulat atau tumpul, berbulu, lunak dan berwarna hijau muda. Selain itu batang tanaman melon memiliki ruas-ruas sebagai tempat munculnya tunas dan daun. Pada batang utama tanaman melon biasanya muncul cabang-cabang baru yang berkembang ke arah samping. Batang tanaman melon juga berlekuk-lekuk sebanyak 3 sampai dengan 7 lekukan. Selain itu batang tanaman melon berbentuk spiral atau pilin yang digunakan sebagai tempat merambatnya tanaman (Soedarya, 2010).

Daun melon memiliki bentuk agak atau hampir bulat, tersudut lima, tunggal dengan tepi daun bergerigi (tidak rata), memiliki 3 sampai dengan 7 lekukan, dan permukaan daun memiliki bulu-bulu halus. Daun tanaman melon memiliki diameter 10-16 cm dengan struktur daun menjari dan warna daun berwarna hijau. Susunan daun tanaman melon berselang-seling antara daun yang berada di bawah dengan daun yang berada di atasnya. Pada setiap ketiak daun tanaman melon tumbuh sulur yang berfungsi sebagai alat untuk menjalarnya tanaman. Panjang tangkai daun berkisar antara 10-17 cm (Rukmana, 1994). Bunga tanaman melon memiliki bentuk seperti lonceng dan bunganya memiliki warna kuning cerah. Memiliki kelopak daun sebanyak 5 buah dan bunga pada tanaman melon antara bunga jantan dan bunga betina tidak tumbuh daam satu bunga. Kebanyakan bunga tanaman melon bersifat uniseksual monoesius, hal ini menyebabkan penyerbukan bunga melon memerlukan bantuan dari luar. Lebah sangat berperan dalam proses penyerbukan tersebut atau disebut dengan penyerbukan zoidiogami, sehingga bantuan manusia sudah tidak diperlukan lagi dan serbuk sari tanaman melon terlalu berat untuk diterbangkan oleh angin. Bunga-bunga ini muncul hampir pada setiap ketiak tangkai daun dan bunga betina biasanya berada di ketiak daun pertama dan kedua pada cabang lateral, sedangkan untuk bung jantan berbentuk kelompok disetiap ketiak daun. Setelah terjadi penyerbukan dalam waktu beberapa hari, bunga tersebut akan layu dan gugur, kecuali bunga betina yang telah dibuahi dan bunga betina yang telah dibuahi akan bertahan dan berkembang hingga menjadi buah (Samadi, Budi 2007).

Buah melon memiliki sangat banyak variasi dalam segi bentuk, karena banyak pada zaman sekarang bentuk buah melon dapat dibentuk seusai dengan keinginan dan seragam, selain itu variasi warna kulit buah, warna daging buah maupun berat atau bobot buah juga sangat beragam. Ukuran buah melon memiliki ukuran yang sangat beragam dan bentuk buah melon juga memiliki ukuran yang sangat beragam diantaranya bulat, bulat oval, lonjong atau silindris. Warna kulit buah melon memiliki banyak sekali vairasi diantaranya memiliki warna putih susu, putih krem, hijau krem, hijau kekuning-kuningan, hijau muda, kuning, kuning muda, kuning jingga hingga kombinasi dari warna lainnya, bahkan pada buah melon ada yang memiliki sturktur bergaris-garis dan juga memiliki struktur kulit berjala (jaring), semi berjala hingga tipis dan dan memiliki kulit halus. Warna daging buah melon juga memilii warna yang sangat beragam yaitu berwarna jingga tua hingga jingga muda, kuning jingga, hijua, hijau muda, putih, putih susu sampai putih kehijau-hijauan dan orange dan untuk ketebalan daging buah melon memiliki ketebalan dari tipis hingga tebal tergantung dengan varietas dan faktor pertumbuhan dan perkembangan yang mendukung laju pertumbuhan tanaman melon (Rukmana, 1994).

Tanaman buah melon dapat dibudidaya menggunakan sistem hidroponik, pada saat ini sistem hidroponik sangat banyak diterapkan pada kehidupan sehari-hari karena dapat menghemat ruang dan dapat mengoptimalkan pertumbuhan tanaman. Sistem hidroponik dapat mendukung laju pertumbuhan dan perkembangan tanaman melon, karena pada sistem hidroponik kebutuhan nutrisi dapat diatur sesuai dengan keinginan dan sesuai dengan kebutuhan optimal tanaman yang ditanam. Sistem hdroponik yang cocok untuk tanaman melon adalah sistem hidroponik sistem autopot. Autopot merupakan sebuah pot otomatis yang dilengkapi dengan smart valve atau katup untuk memenuhi kebutuhan air dan nutrisi yang tepat. Autopot ditempatkan di dalam sebuah wadah yang berisi larutan nutrisi. Larutan nutrisi pada wadah tempat pot kemudian akan merembes naik ke dalam autopot melalui celah-celah yang terdapat di bagian bawah pot. Larutan nutrisi ini dapat merembes naik karena adanya pergerakan akar tanaman dan porositas media tanam yang digunakan (Suryani, 2015). Sistem yang digunakan pada autopot memungkinkan tanaman untuk mendapatkan air dan nutrisi sesuai dengan kebutuhan tanaman karena autopot dilengkapi dengan katup otomatis (smart valve) sebagai komponen utama yang menunjang sistem kerja autopot (Fah, 2011).

 

Sumber Referensi

Fah, J. 2011. Sub-Irrigation Technique (SIT) or Autopot Hydroponic Made Easy Chapter 2.

 

Ghebretinsae, A.G., M. Thulin, and J.C. Barber. 2007. Relationships of Cucumbers and Melons Unraveled: Molecular phylogenetics of cucumis and related genera (Benincaseae, Cucurbitaceae). American Journal of Botany 94 (7): 1256–1266.

 

Rukmana, R. 1994. Melon Hibrida.Kanisius. Jogjakarta. 71 hal.

 

Samadi, Budi. 2007. Melon Usaha Tani dan Penanganan Pasca Panen.

Buku Pustaka Utama.

 

Soedarya, Arif. 2010. Agribisnis Melon. Pustaka Grafika. Bandung.

 

Tjahjadi, Nur. 1989. Bertanam Melon. Kanisius. Yogyakarta.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *