Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L.)

Gambar 1. Morfologi Tanaman Kentang (Sumber: https://www.inspection.gc.ca/plant-varieties/potatoes/guidance-documents/pi-005/chapter-3/eng/1381190037846/1381190038643, 2013)

Kentang merupakan tanaman jenis umbi-umbian dan tergolong tanaman dikotil dengan usia tanam yang rendah, bervariatif sesuai dengan jenis varietasnya sekitar 90-180 hari. Sifat tumbuhnya itu menjadi bersemak dan menjalar serta mempunyai penampang batang berbentuk segi empat. Batang juga daun, umumnya berwarna hijau kemerahan atau cenderung ke warna ungu. Umbi kentang berawal dari cabang samping yang masuk ke dalam tanah, sebagai lokasi tersimpannya cadangan karbohidrat sehingga bentuk umbinya membengkak. Umbi dapat mengeluarkan tunas, sehingga nantinya akan membentuk cabang tanaman kentang yang baru. Umbi inilah yang kemudian dipanen untuk dapat dikonsumsi sebagai sumber karbohidrat selain beras (Aini, 2012)

Sesuai dengan taksonomi tanaman kentang secara umum dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom         : Plantae

Divisi               : Spermatophyta

Subdivisio       : Angiospermae

Kelas               : Dicotyledone

Ordo                : Tubiflorae

Famili              : Solanaceae

Genus              : Solanum

Spesies            : Solanum tuberosum L

Biji

Buah dan biji-biji kentang dihasilkan dari bunga kentang yang telah mengalami penyerbukan selama satu minggu sebelumnya, akan membesar dan berkembang menjadi bakal buah. Buah kentang ini berwarna hijau gelap hingga ke arah keungu-unguan, berbentuk bulat, bergaris tengah lebih kurang 2,5 cm serta memiliki dua rongga. Tiap buah kentang ini berisi 500 bakal biji. Buah yang dimaksud disini jelas berbeda dengan umbi, buah ini merupakan bakal biji hasil dari penyerbukan atau pembuahan antara serbuk sari dan putik dari bunga kentang. Dari 500 bakal biji, yang dapat berkembang menjadi biji hanya berkisar 10-300 butir. Biji kentang ini ukurannya kecil, bergaris tengah lebih kurang 0,5 mm, berwarna coklat muda dan memiliki waktu dormansi sekitar 6 bulan (Rukmana, 1997).

Akar

Tanaman kentang yang dibudidayakan dari umbi, tidak terdapat akar utama. Akar kentang ini hanya akar halus atau akar serabut dengan panjang dapat mencapai 60 cm. Akar serabut ini tumbuh menyebar atau menjalar ke samping dan menembus tanah dangkal hingga 20 cm. Akar berwarna terang keputih-putihan, halus, berukuran sangat kecil dan tipis. Akar inilah yang nantinya akan ada yang berubah bentuk dan fungsinya menjadi lokasi tersimpannya stolon atau bakal umbi kentang (Setiadi, 2009).

Batang

Penampang batang tanaman kentang berbentuk segi empat atau segi lima, bervariatif tergantung dengan varietas yang dibudidayakan. Batang tanaman tersusun berbuku-buku, berongga dan tidak ada kayu, namun kokoh dan agak keras saat ditekan. Diameter batang kentang ini tergolong kecil dengan tinggi dapat mencapai 50-120 cm, bersifat tumbuh menjalar. Warna batang ini dominan hijau, ada yang kemerah-merahan atau keungu-unguan. Fungsionalitas batang ini sebagai media transportasi zat hara yang diserap akar dari tanah ke daun serta untuk menyalurkan hasil fotosintesis daun ke bagian tanaman yang lain (Rukmana, 1997).

Daun

Tanaman kentang pada umumnya berdaun rimbun. Daun bertipe majemuk yang terdiri atas tangkai daun utama (rachis), anak daun primer (pinnae) dan anak daun sekunder (folioles) yang tumbuh pada tangkai daun primer dianatara anak daun primer. Tangkai daun majemuk ini pada dasarnya terdapat tunas yang dapat berkembang menjadi cabang sekunder dengan sistem percabangan simpodial. Warna daun hijau keputih-putihan. Tangkai primer terhadap batang membentuk sudut lebih kurang 45° (Rukmana, 1997).

Umbi

Umbi tanaman kentang ini tumbuh di bawah permukaan tanah. Stolon atau bakal umbi ini tumbuh pada akar yang berubah fungsinya menjadi tempat menimbun atau menyimpan produk fotosintesis seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air. Proses pembentukan umbi ini ditandai oleh berhentinya pertumbuhan memanjang dari akar, lalu pada bagian ujungnya membengkak menjadi sebuah stolon. Karbohidrat dari hasil fotosintesis dialihkan atau ditranslokasikan sebagai sukrosa ke dalam stolon, terjadi pembelahan dan perbesaran sel yang menyebabkan pertumbuhan umbi kian meningkat ukurannya. Selain mengandung gizi yang telah disebutkan sebelumnya, umbi kentang ternyata mengandung zat solanin, sesuai dengan genusnya yaitu solanum. Zat solanin ini beracun dan berbahaya bagi yang mengonsumsinya. Umbi yang telah tua atau matang secara panen, akan berkurang racunnya dan aman untuk dimakan. Umbi kentang yang mengandung racun solanin tinggi ialah umbi yang daging nya berwarna pucat kehijauan. Akan tetapi racun solanin ini tidak dapat hilang apabila umbi tersebut telah keluar dari tanah dan terpapar sinar matahari langsung, Oleh karena itu, perlu pengamatan dan perhitungan yang cermat dalam pelaksanaan pemanenan umbi kentang (Samadi, 1997)

Sistem Hidroponik yang Tepat untuk Budidaya Kentang

Budidaya kentang di Indonesia pada umumnya diaplikasikan pada lahan lereng yang miring di dataran tinggi sehingga cukup banyak memberikan kontribusi terjadinya erosi lahan. Budidaya dengan teknik hidroponik dinilai mampu menjadi salah satu metode yang efektif bagi petani untuk menekan terjadinya erosi serta dapat meningkatkan produktivitas tanaman kentang daripada secara konvensional dibudidayakan di lahan. Selain itu, peningkatan produktivitas dengan budidaya konvensional semakin sulit  dilakukan karena terbatasnya luas lahan di dataran tinggi, dan menurunnya kondisi kesuburan tanah. Oleh karena itu akademisi keteknikan pertanian merancang suatu sistem hidroponik yang mampu mengakomodir kebutuhan tanaman kentang untuk tumbuh seperti permasalahan suhu yang harus bisa direkayasa seperti berada di iklim dataran tinggi.

Suhu menjadi salah satu parameter penting yang perlu diperhatikan dalam perancangan sistem hidroponik tanaman kentang. Distribusi suhu pada area perakaran mempengaruhi proses fisiologi akar untuk mampu menyerap air, mineral dan nutrisi yang dibutuhkan tanaman. Suhu terlalu tinggi bisa menimbulkan stress pada tanaman sehingga menyebabkan penghambatan inisiasi umbi.

Konsep Desain Sistem Hidroponik Kentang

Gambar 2. Konsep Sistem Hidroponik NFT Tanaman Kentang (Sumber: https://www.semanticscholar.org/paper/Potato-growth-and-yield-using-nutrient-film-(NFT)-Wheeler-Hinkle/, 2008)

Sistem yang dirancang merupakan kombinasi dari tiga sistem dasar hidroponik, yaitu sistem NFT (Nutrient Film Technique), sistem sumbu dan irigasi tetes. Sistem ini terdiri dari komponen tandon nutrisi, pompa, pipa saluran nutrisi, bedeng tanaman dan wadah penampung nutrisi. Media tanam yang digunakan yaitu menggunakan rockwool yang diberi sumbu untuk membantu penyerapan nutrisi pada akar. Dalam bedeng tanaman diberikan wadah seperti keranjang yang dilubangi sebesar kawat loket dengan fungsi sebagai penopang umbi kentang yang terbentuk agar tidak terkena atau tergenang larutan nutrisi dibawahnya. Namun, akar tanaman masih mampu menembus keranjang untuk dapat menyerap nutrisi secara NFT. Selain itu, terdapat pipa drainase di dalam bedeng tanaman, untuk mengeluarkan larutan nutrisi berlebih sehingga tidak sampai membuat daerah perumbian kentang menjadi terendam (Suharto, 2016).

Gambar 3. Aplikasi Penanaman Kentang Sistem Hidroponik NFT (Sumber: https://tanahkaya.com/kentang-hidroponik/, 2020)

Teknik Budidaya dan Lingkungan Terkendali

Bibit kentang pada mulanya ditanam di polybag dengan media tanam arang sekam, setelah 8 hari, tanaman kentang dipindahkan ke rockwool dalam bedeng tanaman. pH larutan nutrisi diatur 5.5-6.5. Larutan nutrisi yang digunakan adalah AB mix 1:1. Nilai EC diatur sebesar 2.5 mS dan terus dimonitor dan diukur secara manual. Jika nilai EC menurun dari yang diatur, maka nutrisi ditambahkan larutan pekat hingga mencapai nilai yang tepat (Suharto, 2016).

Pemeliharaan tanaman dilakukan dengan cara menyemprotkan fungisida dan insektisida sesuai kebutuhan untuk menghindari adanya serangan patogen dan hama pada tanaman kentang.

Kondisi iklim mikro penanaman hidroponik kentang ini disesuaikan dalam sebuah green house. Penanaman secara sistem hidroponik kentang dibagi ke dalam dua fase, pertama fase vegetatif, yaitu tanaman berumur 14 hari, suhu udara diusahakan agar minimum 16,3°C dan maksimum 28,6°C dengan RH 69%. Sedangkan pada fase kedua yaitu tuberisasi, suhu minimum 14,8°C dan maksimum 30,1°C dengan RH 75%. Kondisi iklim mikro juga mempengaruhi suhu di daerah perakaran tanaman. Menurut literatur, tanaman kentang mampu tumbuh dengan baik pada suhu perakaran 10-20°C. Padahal suhu aktual pada green house masih relatif tinggi sehingga perlu penurunan suhu kembali agar umbi yang dihasilkan tidak akan berbentuk abnormal (Sumartono, 2013)

Gambar 4. Proses Budidaya Tanaman Kentang Secara Hidroponik

(Sumber: https://link.springer.com/article/10.1007/s11540-012-9208-7, 2012)

Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kentang dengan Sistem Hidroponik

Tanaman kentang yang ditanam dengan sistem hidroponik gabungan antara NFT, sumbu dan tetes ini dapat tumbuh dengan baik dan mampu menghasilkan umbi dengan jumlah rata-rata 4 umbi/tanaman dengan berat rata-rata 60 g/tanaman. Umbi kentang dipanen pada usia 76 hari setelah tanam. Hasil yang diperoleh ternyata belum maksimal dikarenakan suhu sekitar perakaran yang belum optimal menyerupai suhu aktual yang ada pada dataran tinggi. Sehingga untuk menghasilkan panen yang optimal, perlu ada nya rekayasa iklim mikro yang tepat (Suharto, 2016).

Sumber Referensi

Aini, K. H. (2012). Produksi tepung kentang. Skripsi. UPI-Jakarta.

Rukmana, R. (1997). Kentang budidaya dan pasca panen. Kanisius. Yogyakarta, 19-62.

Samadi, B. (1997). Usaha tani kentang. Kanisius. Yogyakarta.

Setiadi, B. (2009). Budidaya Kentang+ Pilihan Berbagai Varietas dan Pengadaan Benih. Penebar Swadaya. Jakarta.

Suharto, Y. B., Suhardiyanto, H., & Susila, A. D. (2016). Pengembangan Sistem Hidroponik untuk Budidaya Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L.). Jurnal Keteknikan Pertanian4(2).

Sumartono, G. H., & Sumarni, E. (2013). Pengaruh suhu mediatanam terhadap pertumbuhan vegetatif kentang hidroponik di dataran medium tropika basah. Jurnal Agronomika13(1).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *