Tanaman Kale (Brassica oleracea var. Acephala)

Gambar 1. Akar tanaman kale (Sumber: https://www.saturfarms.com/products/kale/produce-images?view=slider , 2018)

Tanaman kale (Brassica oleracea Var. Acephala) merupakan tanaman sayuran daun yang masuk ke dalam kelompok kubis (Brassica oleracea). Tanaman ini masuk ke dalam kelompok varietas Achepala yaitu tipe kubis yang tumbuh tanpa kepala. Tanaman kale berasal dari kawasan mediterania timur dan asia, dimana tanaman ini dijadikan sebagai makanan semenjak tahun 2000 sebelum masehi. Kale dibedakan oleh panjang dari akar dan tipe daun. Dua tipe utama yaitu kale Skotlandia yang memiliki daun berwarna hijau keabuan dan keriting, dan kale Siberia yang memiliki daun berwarna hijau kebiruan. Terdapat banyak varietas tanaman kale, salah satunya yang berasal dari Jepang yang memiliki warna daun merah, putih, ungu, dan hitam.

Tanaman kale adalah salah satu jenis sayuran yang termasuk dalam kelas dikotil atau tumbuhan berbiji belah. Sistem perakaran kale adalah jenis akar tunggang dengan cabang-cabang akar menjulur ke bawah tanah. Akar utama akan tumbuh menjadi cabang dan juga akan membentuk kembali percabangan yang berfungsi menyerap unsur hara dari dalam tanah. Sistem perakaran tanaman kale dapat dikatakan dangkal, yakni dapat menembus kedalaman tanah antara 20-30 cm. Pada umumnya, budidaya tanaman kale akan tumbuh semusim ataupun dwi musim yang berbentuk perdu.

Gambar 2. Batang tanaman kale

(Sumber: https://www.womenshealthmag.com/food/a19992664/kale-serving-size/ , 2018)

Batang dari tanaman kale bersifat lunak, tegak, beruas-ruas, berwarna hijau toska, bersifat individual dan bercabang pada bagian atas dengan diameter 3-4 cm. Warna batang mirip seperti kembang kol dan dilapisi oleh zat lilin, sehingga terlihat mengkilap. Pada umumnya, batang tanaman kalian pendek dan mengandung banyak air. Di sekeliling batang terdapat tangkai daun pendek.

http://www.stuartxchange.org/KalePD1.jpg

Gambar 3. Daun Tanaman Kale

(Sumber: http://www.stuartxchange.org/Kale , 2019)

Daun tanaman kale merupakan bagian yang dapat dikonsumsi. Daun kale dapat dipanen pada umur 45 – 60 hari setelah tanam. Daun dari tanaman kale memiliki karakteristik tebal, datar, mengkilap, keras, berwarna toska, dan berselang. Tanaman kale pun dikenal dengan sebutan daun roset yaitu susunan daun yang melingkar ke arah puncak cabang tak berbatang dan rapat berimpitan. Sebagian besar daun tanaman kale memiliki ukuran yang lebih lebar dan permukaan daun yang rata. Pada kasus tertentu, daun yang tersusun melingkar tersebut cenderung bertumpang tindih. Daun tanaman kale dapat mencapai tinggi 20 cm pada umur 24 HST, 23 cm pada umur 31 HST, 26 cm pada umur 38 HST, dan 29 cm pada umur 45 HST. Sedangkan jumlah daun tanaman kale dapat mencapai 6 helai pada umur 17 HST, 9 helai pada umur 31 HST, 10 heli pada umur 38 HST, dan 13 helai pada umur 45 HST.

Bunga tanaman kale berwarna putih dan terletak pada unjung batang. Bunga tanaman kale terletak di dalam tandan yang muncul dari ujung batang. Bunga tanaman kale yang sempurna memiliki enam benang sari yang terletak di dalam dua lingkaran. Empat benang sari terletak pada lingkaran dalam dan dua benang sari terletak pada lingkaran luar.

Tanaman kale terdapat buah yang berbentuk polong, panjang, ramping berisi biji, dan melekat pada kedua sekat pembatas yang membagi buah menjadi dua bagian. Biji tanaman kale berwarna cokelat kehitam-hitaman dan biji-biji tersebut yang dapat digunakan sebagai benih untuk memperbanyak tanaman kale.

Kale memiliki senyawa antioksidan yang baik bagi kesehatan tubuh berupa quersin, β-karoten, dan antosianin. Kandungan karbohidrat pada kale kaya akan prebiotik dan serat makanan yang dapat mengurangi risiko penyakit seperti kanker, jantung, obesitas, dan diabetes. Selain itu, kandungan vitamin C pada kale dapat dikatakan tinggi mencapai 109,43 mg/100 g dan juga setiap 100 gram kale mengandung air, protein kasar, lemak, karbohidrat, serat kasar, abu, dan energi yang berturut-turut sebesar 81,38%, 11,67%, 0,26%, 2,36%, 3%, 1,33%, dan 58,46 Kkal.

Kale merupakan salah satu jenis tanaman sayur daun yang banyak mengandung gizi dan vitamin. Permintaan kale akan meningkat karena memiliki kelebihan sehingga perlu ditingkatkan produksinya. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, lahan pertanian semakin terbatas, daerah-daerah perkotaan sudah mulai kekurangan lahan pertanian sehingga dibutuhkan solusi untuk mengatasi sempitnya lahan pertanian. Hidroponik merupakan suatu kegiatan bercocok tanam dengan merekayasa media tanam dan nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan tanaman. Dengan menerapkan sistem hidroponik dalam penanaman kale, diharapkan produksi kale akan meningkat seiring dengan permintaan masyarakat.

Berdasarkan morfologi, sistem hidroponik yang cocok untuk diterapkan pada tanaman kale yaitu sistem nutrient film technique. Mekanisme dari sistem ini yaitu mengalirkan air nutrisi pada akar tanaman secara tipis dengan menyirkulasikan air nutrisi tersebut selama 24 jam. Tujuan dari pengaliran air nutrisi secara tipis yaitu agar akar tanaman dapat memperoleh asupan air, oksigen, dan nutrisi yang cukup secara bersamaan sehingga pertumbuhan tanaman kale akan lebih cepat. Sebuah pompa akan mengalirkan air nutrisi dari penampung ke talang air dengan kemiringan satu sampai lima derajat agar air nutrisi tersebut mengalir kembali ke penampung. Namun, terdapat pula kekurangan dari sistem ini yaitu sangat bergantung pada listrik, penyebaran penyakit sangat cepat, dan instalasi modul tergolong mahal.

Pemupukan tanaman kale hidroponik dapat menggunakan pupuk AB mix yang dilarutkan dengan air ataupun pupuk organik cair yang dicampurkan dengan air. Pupuk AB mix mengandung unsur mikro dan makro yang dibutuhkan oleh sayur. Pada umumnya, sayur memerlukan unsur NO3, P, K, Ca, Mg, S, Fe, B, Mn, Zn, Cu, dan Mo dengan jumlah masing-masing 160 ppm, 30 ppm, 230 ppm, 100 ppm, 30 ppm, 60 ppm, 2 ppm, 0,5 ppm, 0,5 ppm, 0,1 ppm, 0,05 ppm, dan 0,05 ppm dengan jumlah total 613 ppm. Perhitungan kebutuhan pupuk dapat dihitung berdasarkan kebutuhan setiap unsur-unsur tersebut. Dosis pupuk setiap harinya dapat dikurangi karena akar dari tanaman akan mengakumulasi nutrisi yang didapatkan. Pupuk A dan B dapat disiapkan dalam bentuk stok larutan konsentrat, sehingga pada saat dibutuhkan larutan pupuk AB mix, dapat hanya dengan mencampurkan kedua larutan tersebut ke dalam air dengan jumlah yang dibutuhkan.

Perawatan dan pemeliharaan yang dapat dilakukan yaitu pengukuran pH pada air nutrisi, dosis pupuk, pengendalian hama dan penyakit, dan perawatan modul instalasi hidroponik. Hasil pengukuran dari pH dan dosis pupuk harus sesuai dengan kebutuhan tanaman kale. Pengukuran nutrisi pada larutan nutirisi dapat diukur dengan TDS meter yang menghasilkan satuan EC (Electrical Conductivity). Semakin tinggi tingkat EC pada larutan nutrisi maka kandungan unsur hara semakin meningkat dan dapat diserap secara optimal oleh tanaman untuk proses pertumbuhan. Hama yang biasa menyerang tanaman kale yaitu kutu daun, kumbang-kumbang, ulat, dan whiteflies, sedangkan penyakit yang biasa menyerang tanaman kale yaitu akar gada yang disebabkan oleh jamur Plasmodiophora brassicae Wor. Perawatan modul instalasi dapat dilakukan dengan membersihkan pompa air, penampung air, talang, dan mengatur kemiringan talang.

Daftar Pustaka

Agustin, Heny., Ichniarsyah, A. Nur. (2018). Efektivitas KNO3 terhadap Pertumbuhan dan Kandungan Vitamin C Kale. Agrin, 22, 46.

Wulansari, Atikah., Baskara, Medha. (2019). Pengaruh Tingkat EC dan Populasi terhadap Produksi Tanaman Kale (Brassica oleracea var. Acephala) pada Sistem Hidroponik Rakit Apung. Jurnal Produksi Tanaman, 7, 330-338.

Dewanti, S. K., Fuskhah, Eny., Sutarno. (2019). Pertumbuhan dan Produksi Kale (Brassica oleracea var. Acephala) pada Dosis Pupuk Kascing dan Jarak Tanam yang Berbeda. Jurnal Pertanian Tropik, 6, 393-402.

Fajri, L. Nur., Soelistyono, Roedy. (2018). Pengaruh Kerapatan Tanaman dan Pupuk Urea terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kale (Brassica oleracea var. Acephala). Journal of Agricultural Science, 3, 133-140.

Hidroponikpedia. (2019, 3 September). Tanaman Mangga; Klasifikasi, Ciri Morfologi, Manfaat, dan Cara Budidaya. Diakses pada 12 Desember 2020, dari https://dosenpertanian.com/tanaman-kale/

Kurniawan, Ekal. (2016). Budidaya Tanaman Kale (Brassica oleracea var. Acephala). Fakultas Pertanian. Universitas Djuanda: Bogor.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *