Tanaman Kacang Hijau (Vigna Radiata L.)

Gambar 1. Tanaman Kacang Hijau (Vigna Radiata L.) (Sumber: https://www.teorieno.com/2016/10/klasifikasi-dan-morfologi-kacang-hijau.html, 2016)

Asal Usul dan Klasifikasi Kacang Hijau (Vigna Radiata L.), Indonesia adalah negeri yang diberkahi tanah dengan tingkat kesuburan yang baik dan kondisi iklim yang sangat bersahabat untuk berbagai jenis tanaman yang kaya akan nutrisi. Oleh karena itu wajar jika kemudian banyak komoditi tanaman yang bermanfaat dan tumbuh subur di Indonesia. Salah satu komoditi tersebut ialah tanaman kacang hijau. Asal usul kacang hijau berasal dari Negara India, kemudian menyebar ke Negara Asia tropis hingga akhirnya masuk ke Indonesia. Pernyataan mengenain asal usul tanaman kacang hijau ini didukung oleh sebuah pendapat dari seorang ahli botani asal Uni Soviet yang bernama Nikolai Ivanovich Vavilov. Dia mengatakan bahwa India merupakan salah satu daerah asal tanaman suku leguminosae dan dia telah menemukan plasma nuftah kacang hijau jenis Phaseolus Mango di India atau yang kemudian disebut kacang hijau India (Rukmana, 1997). Kacang hijau diperkirakan masuk ke Indonesia pada awal abad ke 17. Masuknya tanaman ini ke Indonesia dibawa oleh pedagang China dan Portugis, awal mula penyebarannya hanya berada di pulau Jawa dan Bali. Kemudian seiring berjalannya waktu sekitar tahun 1920an mulai menyebar masuk ke wilayah Indonesia bagian tengah dan Indonesia bagian timur.

Kacang hijau digolongkan sebagai tanaman leguminosae yang mempunyai peringkat ketiga konsumsi tertinggi setelah kacang kedelai dan kacang tanah. Jika melihat terhadap sejarahnya, tanaman kacang hijau ini mampu tumbuh di seluruh wilayah Indonesia, baik Indonesia bagian barat, tengah dan timur. Bagian dari kacang hijau yang memiliki nilai ekonomis paling tinggi yaitu bagian bijinya. Pemanfaatan bagian biji kacang hijau ini sangat beragam, contohnya biji kacang hijau dapat diolah dengan cara direbus sampai lunak lalu dimakan sebagai bubur. Selain itu biji yang sudah dihaluskan dapat dijadikan sebagai isi dari kue seperti onde-onde, bakpau dan gandas turi. Selain bagian biji kecambah kacang hijau juga dapat dijadikan sayuran yang biasa dimakan di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara dan dikenal dengan sebutan tauge. Tanaman kacang hijau dapat diklasifikasikan sebagai berikut (Plantamor, 2008):

Kingdom         : Plantae (Tumbuhan)

Sub Kingdom  : Tracheobionta (Tumbuhan Berpembuluh)

Super Divisi    : Spermatopyta (Menghasilkan Biji)

Divisi               : Magnoliophyta (Tumbuhan Berbunga)

Sub Divisi       : Angiospermae (Tumbuhan Berbiji Tertutup)

Kelas               : Dicotyledoneae (Tumbuhan Berkeping dua)

Sub Kelas        : Rosidae

Ordo                : Rosales

Famili              : Fabaceae (Suku Polong-polongan)

Genus              : Vigna

Spesies            : Vigna Radiata L.

Gambar 2. Proses Pertumbuhan Kacang Hijau (Vigna Radiata L.) (Sumber: https://arproductionsblog.blogspot.com/2019/09/gambar-proses-pertumbuhan-kacang-hijau.html, 2019)

Morfologi Tanaman Kacang Hijau (Vigna Radiata L.)

Secara morfologi tanaman kacang hijau merupakan tanaman yang memiliki pertumbuhan determinate. Tipe tanaman ini memiliki ujung batang yang tidak melilit, pertumbuhan vegetatifnya akan berhenti setelah tanaman berbunga pembungaannya berlangsung singkat dan serempak. Susunan morfologi dari tanaman kacang hijau terdiri atas akar, batang, daun, bunga, buah dan biji (Purwono, 2008).

  1. Akar

Akar tanaman kacang hijau memiliki banyak cabang dan membentuk bintil-bintil (nodula) akar. Terdapat dua tipe sistem perakaran pada tanaman kacang hijau yaitu mesophytes dan xerophytes. Tipe perakaran mesophytes ialah pertumbuhannya menyebar dan mempunyai akar yang bercabang banyak pada permukaan tanah. Untuk tipe xerophytes memiliki cabang akar lebih sedikit dan memanjang ke arah bawah serta akar tunggangnya lebih panjang. Warna dari akar tanaman kacang hijau ini yaitu cokelat dengan panjang akar kurang lebih 15 sampai 20 cm.

  1. Batang

Tanaman kacang hijau memiliki bentuk batang yang berbuku-buku dan bulat. Ukuran batang tanaman ini relatif kecil, berbulu dan berwarna hijau kecokelatan-cokelatan atau kemerah-merahan. Setiap buku pada batang dapat menghasilkan satu tangkai daun, terkecuali pada daun pertama yang menghasilkan sepasang daun yang berupa daun tunggal dan saling berhadapan. Batang kacang hijau mampu tumbuh tegak dengan mencapai ketinggian 30 sampai 110 cm dan ukuran diameter batangnya berkisar 2 sampai 5 mm.

  1. Daun

Daun kacang hijau tumbuh majemuk dan memiliki daun yang berbentuk trifoliate atau dalam satu tangkai terdiri dari 3 helai daun. Letak daunnya berseling dan tangkai daunnya lebih panjang dari daunnya. Sedangkan untuk daunnya berbentuk oval dengan warna daun yaitu hijau muda dan jika sudah tua akan berwarna kuning sampai akhirnya berubah menjadi warna cokelat.

  1. Bunga

Bunga kacang berbentuk seperti kupu-kupu dan berwarna kuning. Kacang hijau ini berkelamin sempurna (hermaphrodite) yaitu putik dan benang sari yang sudah tersedia pada bagian inti bunga. Penyerbukan dari kacang hijau ini terjadi saat malam hari sehingga pada pagi harinya bunga akan mekar dan pada sore hari akan menjadi layu.

  1. Buah

Kacang hijau memiliki buah yang berbentuk memanjang, dengan panjang rata-rata kurang lebih 10-15 cm dan pada bagian dalamnya terdapat polong. Bentuk setiap polongya bulat silindris atau pipih dengan ujung agak runcing. Dalam setiap polong biasanya berisi 10-15 butir. Buah kacang hijau mempunyai ciri-ciri berwarna hijau saat berusia muda, sedangkan ketika memasuki masa panen warna dari buahnya berubah menjadi hitam yang disertai dengan warna polong berubah menjadi warna hijau.

  1. Biji

Biji kacang hijau berbentuk bulat kecil dengan bobot tiap butir 0,5-0,8 mg, oleh karena itu biji kacang hijau dapat dikatakan lebih kecil dibandingkan dengan biji kacang tanah dan kacang kedelai. Bijinya kebanyakan berwarna hijau kusam, tetapi ada juga yang berwarna cokelat, kuning dan hitam. Biji kacang hijau ini termasuk kedalam biji dikotil atau biji berkeping dua. Pemanfaatan biji dari kacang hijau ini sering dibuat kecambah atau tauge untuk dikonsumsi serta tipe perkecambahannya adalah epigeal.

Gambar 3. Biji Tanaman Kacang Hijau (Vigna Radiata L.) (Sumber: https://www.greeners.co/flora-fauna/kacang-hijau-kaya-protein-nabati/, 2019)

Kacang hijau merupakan tanaman yang mampu tumbuh di iklim tropis dan lebih menyukai kondisi cuaca panas. Tanaman ini dapat tumbuh dengan baik di daerah dataran rendah hingga ketinggian 500 m diatas permukaan laut. Tanaman kacang hijau menghendaki iklim yang ideal pada daerah dengan suhu 25°C-27°C dan kelembaban udara sekitar 50%-80%. Adapun untuk kondisi pH yang dikehendaki berkisar antara 5,8-6,5 (Irwan, 2005). Masa panen dari tanaman kacang hijau adalah ketika sudah berusia 60 sampai 80 hari setelah masa tanam. Ciri-ciri dari kacang hijau yang telah memasuki masa panen adalah terjadinya perubahan warna polong dari hijau menjadi berwarna cokelat kering atau bahkan berwarna hitam. Kacang hijau ini dapat dipanen dengan cara dipetik. Untuk jarak panen selanjutnya berkisar 3-5 hari. Jika masa panen ditunda terlalu lama, maka akan mengakibatkan polongnya pecah dan terkelupas.

Gambar 4. Kondisi Tanaman Kacang Hijau (Vigna Radiata L.) Siap Panen (Sumber: https://sentrabudidaya.com/budidaya-cara-menanam-kacang-hijau/, 2018)

Sistem Hidropnik untuk Tanaman Kacang Hijau (Vigna Radiata L.)

Berdasarkan morfologi dari tanaman kacang hijau, sistem hidroponik yang sesuai untuk diterapkan yaitu sistem pasang surut (EBB & Flow). Sistem hidroponik jenis ini biasanya dilakukan oleh petani organik yang mempunyai keterbatasan lahan. Sistem pasang surut (EBB & Flow) dapat dikembangkan di daerah yang memiliki cuaca tropis dan sistem hidroponik jenis ini tidak terpengaruh oleh musim, jadi dapat dilakukan kapan saja baik sedang musim hujan maupun musim kemarau. Disebut sistem hidroponik pasang surut karena dalam cara kerja sistem ini memiliki 2 fase yaitu fase saat tanaman diberikan larutan nutrisi melalui pemompaan dari bak penampung yang dipompakan ke media yang nantinya akan dapat membasahi akar (fase pasang) dan selang beberapa waktu air bersama dengan nutrisi akan turun kembali menuju bak penampungan (fase surut) (Fahrurroji, 2016). Fase pasang dan surut dapat diatur sesuai kebutuhan tanaman yang disesuaikan dengan suhu, kelembaban, ukuran dan tipe tanaman dan tipe media pertumbuhan dengan menggunakan timer, hal ini bertujuan agar tanaman tidak tergenang ataupun kekurangan air dan kebutuhan nutrisinya tercukupi. Sistem pasang surut (EBB & Flow) merupakan salah satu sistem yang menggunakan media tanam. Sistem ini dipilih karena tanaman kacang hijau memiliki morfologi bagian atas lebih berat yang terdiri batang, daun, bunga, biji dan buah dibanding morfologi bagian bawahnya yang terdiri dari akar. Hal tersebut membuat morfologi bagian bawah membutuhkan media tanam pada proses pertumbuhannya untuk menopang morfologi bagian atas.

Selain itu kacang hijau mempunyai sifat relatif tahan terhadap kekeringan jika dibandingkan dengan kacang kedelai dan kacang tanah, hal tersebut membuat kacang hijau tidak membutuhkan air tergenang secara terus-menerus selama 24 jam. Berdasarkan hal itu pemilihan sistem pasang surut ini sesuai dengan kebutuhan air tanaman kacang hijau, karena pada sistem ini waktu pemberian air dapat diatur menggunakan timer sesuai kebutuhan tanaman. Adapun untuk pemilihan media tanam yang tepat untuk tanaman kacang hijau ini yaitu rockwool.  Media ini mampu menyerap dan menyimpan air dengan baik serta mempunyai porositas yang tinggi. Hal tersebut mampu mencegah akar dari tanaman kacang hijau agar tidak terlalu lama terendam, karena perendaman yang terlalu lama akan meningkatkan resiko pembusukan. Kunci utama agar sistem ini dapat berjalan dengan baik yaitu memasang pompa air dalam larutan nutrisi kemudian menghubungkannya dengan timer (pengatur waktu). Ketika kondisi timer dihidupkan, maka larutan nutrisi otomatis akan dipompa ke pot tanaman. Sedangkan ketika kondisi timer dimatikan, maka larutan nutrisi akan mengalir kembali ke bak penampungan.

Gambar 5. Susunan Skema Sistem Hidroponik EBB & Flow (Sumber: https://www.google.com/url?sa=i&url=http%3A%2F%2Fpertaniankeren93.blogspot.com%2F2016%2F06%2Fhidroponik-sistem-ebb-flow-system.html&psig=AOvVaw11rhn78lHKIFLrv6fi93X6&ust=1608953606020000&source=images&cd=vfe&ved=0CAIQjRxqFwoTCPiR0OWZ6O0CFQAAAAAdAAAAABAQ, 2016)
Gambar 6. Ilustrasi Prinsip Kerja Sistem Hidroponik EBB & Flow (Sumber: https://hidroponiklampung.blogspot.com/2017/05/ebb-and-flow-system-flood-and-drain.html, 2017)

 

REFERENSI

Fahrurroji, Ahmad. 2016. Sistem EBB dan Flow (Pasang Surut) Hidroponik. https://www.google.com/amp/s/afahrurroji.net/sistem-ebb-dan-flow-pasang-dan-surut-hidroponik/amp/. (Diakses pada Kamis 24 Desember 2020, pukul 20.58 WIB).

Irwan, Aep Wawan. 2005. Kebutuhan Air, Waktu Tanam dan Iklim untuk Kedelai, Kacang Tanah dan Kacang Hijau. Fakultas Pertanian. Universitas Padjadjaran: Jatinangor.

Plantamor. 2008. Plantamor Situs Dunia Tumbuhan. Terdapat pada: http://www.plantamor.com. (Diakses pada Kamis 24 Desember 2020, pukul 18.48 WIB).

Purwono. 2008. Kacang Hijau. Depok: Penebar Swadya.

Rukmana, R. 1997. Kacang Hijau: Budidaya dan Pasca Panen. Kanisius. Yogyakarta. Hal 68.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *