Tanaman Jahe Merah (Zingiber Officinale Var Rubrum)

Gambar 1. Rimpang Jahe Merah (Sumber: https://samudrabibit.net/blog/budidaya-jahe-merah-sebagai-tanaman-kesehatan )

Tanaman Jahe atau Zingiber officinale merupakan  jenis tanaman rimpang dari suku Zingiberiacea yang banyak dibudidayakan hampir di seluruh wilayah Indonesia. Terdapat tiga jenis jahe yang ada di Indonesia berdasarkan ukuran dan warna kulit rimpangnya, ketiga jenis tersebut diantaranyaya yaitu jahe gajah, jahe emprit, dan jahe merah. Jahe merah (Zingiber Officinale Var Rubrum) merupakan tanaman herbal tahunan yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Tanaman jahe merah memiliki keistimewaan dari aroma dan rasa nya yang sangat tajam. Jahe merah banyak dibutuhkan dalam bidang industri obat tradisional karena memiliki kandungan gingerol tinggi serta metabolit sekundernya banyak dimanfaatkan sebaga bahan baku obat-obatan. Berikut adalah klasifikasi tanaman jahe:

 

 

Regnum           :           Plantae

Divisio             :           Spermatophyta

Kelas               :           Angiospermae

Sub Kelas        :           Monocotyledoneae

Ordo                :           Musales

Famili              :           Zingiberales

Genus              :           Zingiber

Spesies :           Zingiber officinale var rubrum

Permintaan yang saat ini semakin tinggi tidak seimbang dengan ketersediaan serta kestabilan pasokan jahe merah di pasaran. Penurunan produktivitas jahe merah disebabkan oleh beberapa faktor yakni diantaranya ialah kualitas bibit yang tidak baik, hama dan penyakit, perubahan iklim yang ekstrim, serta teknik budidaya yang tidak sesuai (Sukarman, 2007). Meninjau keadaan tersebut menjadikan hidroponik sebagai solusi untuk keberlanjutan budidaya bibit jahe merah (Zingiber officinale R.) di tengah minimnya ketersediaan lahan pertanian serta tingginya resiko hama tanah. Tanaman belum banyak dibudidayakan dengan sistem hidroponik padahal sistem hidroponik ini dapat meminimalisir penggunaan lahan dan memaksimalkan bibit dan hasil tanam jahe merah yang sehat.

Jahe merah mempunyai rimpang lebih kecil apabila dibandingkan dengan jahe gajah ataupun jahe kecil, jahe merah berwarna merah sampai jingga muda. Serat jahe merah bertekstur agak kasar, memiliki aroma tajam, dan rasanya sangat pedas. Jahe merupakan tanaman yang memiliki batang semu,degan tinggi 30 cm-1 m, tegak, tidak bercabang, warna pangkal batang kemerahan. Waktu panen jahe merah adalah ketika tanaman sudah tua karena akan semakin tua umur tanaman maka akan semakin banyak menghasilkan kandungan minyak atsiri. (Murniati, 2010). Morfologi jahe merah adalah sebagai berikut:

1.       Rimpang

Rimpang tanaman jahe merupakan modifikasi dari batang lalu menjadi umbi untuk menyimpan cadangan makanan. Rimpang digunakan untuk memperbanyak tanaman jahe. Dari rimpang, tunas dan akar akan tumbuh menjadi tanaman baru. Ukuran rimpang jahe merah pada umunnya memiliki panjang 12,33 – 12,60 cm, dengan tinggi rimpang 5,86 – 7,03 cm, serta berat rimpang sebesar 0,29 – 1,17 kg.

2.        Akar

Akar pada tanaman jahe termsuk kedalam akar serabut. Akar-akar ini keluar dari rimpang dan warnanya putih namun tidak putih bersih. Akar tanaman jahe merah dibagi kedalam tiga bagian yaitu lehar akar, batang akar serta tudung akar. Tudung akar jahe merah merupakan bagian paling ujung dari akar yang berfungsi untuk melindungi sel-sel diujung akar. Jahe merah memiliki akar dengan panjang rata-rata 17,03 – 24,06 cm, dengan diameter akar 5,36 – 5,46 mm.

Gambar 2. Akar Jahe Merah (Sumber: https://www.kebun.co.id/budidaya-jahe-merah/ )

3.         Batang

Jahe merah memiliki batang yang agak keras, berbentuk siinder kecil, berwarna hijau kemerahan, kemudian batangnya diselubungi oleh pelepah daun, dengan tinggi tanaman 14,05 – 48,23 cm. Jahe memiliki batang semu yang dapat tumbuh hingga berukuran sepanjag 1 meter. Batang tumbuh tegak dan tidak bercabang, berwarna hijau tua, bentuknya bulat serta dilapisi bulu-bulu halus. Jahe memiliki jaringan yang lunak dan berair pada batangnya. Batang ini merupakan pelepah-pelepah daun yang saling membungkus satu sama lain.

Gambar 3. Batang Jahe Merah (Sumber: https://mediel.wordpress.com/2014/12/29/rimpang-jahe-manfaat-dan-jenis-olahan/ )

4.          Daun

Jahe merah mempunyai daun berselang-seling teratur. Warna daun jahe merh lebih hijau (gelap) daripadajahe gajah ataupun jahe kecil. Permukaan daun atas jahe merah ini berwarna hijau muda lalu bagian bawahnya berwarna lebih tua. Luas daun jahe merah sebesar 32,55 – 51,18 mm dengan panjang  24,30 – 24,79 cm, dan lebar  2,79 – 7,97 cm. Daun ini tumbuh berselingan. Daun jahe merah memiliki tepi rata, ujung daun berbentuk meruncing namun tumpul pada pangkalnya, selain itu daun jahe memiliki tulang  yang sejajar serta seluruh permukaan daunnya licin.

Gambar 4. Daun Jahe Merah (Sumber: http://info-biologiku.blogspot.com/2015/11/ciri-ciri-dan-klasifikasi-tanaman-jahe.html)

5.           Bunga

Bunga jahe termasuk bunga hermaprodit, bunga terletak diatas permukaan tanah dengan bentuk bunga bulat seperti tongkat atau bulat dengan panjang tangkai berukuran sekitar 25 cm. Bunga jahe merah memiliki aroma khas yang sangat tajam dan berbau seperti jahe. Bunga jahe merah ini memiliki mahkota bunga dengan tabung berukuran sepanjang 2 – 2,5 cm dan memiliki jumlah kelopak 3 buah berwarna putih kekuningan, selain itu bunga jahe merah memiliki kepala sari yang berwarna ungu dengan dua tangkai putik.

Gambar 5. Bunga Jahe Merah (Sumber: https://ilmubudidaya.com/cara-menanam-bunga-jahe-merah/bunga-jahe-merah )

Tanaman jahe merah akan berproduksi secara optimal apabila ditanam pada tempat dan lingkungan yang tepat yakni memenuhi persyaratan tumbuhnya. Kondisi tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman jahe merah adalah tanah yang subur, gembur, dengan porositas yang tinggi dan banyak mengandung bahan organik dengan derajat keasaman atau pH tanah yang dibutuhkan tanaman jae merah adalah 6,8 – 7,4.

Solusi yang dapat dipilih untuk meningkatkan ketersediaan tanaman jahe merah adalah dengan menggunakan sistem tanam dengan kondisi lingkungan yang terkontrol menggunakan sistem hidroponik. Berdasarkan morfologi tanaman jahe merah, sistem hidroponik yang cocok untk digunakan adalah sistem tetes (Drip System) dengan media substrat.

Gambar 6. Drip System Hydroponic (Sumber: https://bibitonline.com/artikel/sistem-drip-atau-irigasi-tetes-hidroponik )

Budidaya jahe dengan sistem hidroponik tetes substrat dipilih karena sesuai dengan kebutuhan tanaman jahe merah berdasarkan morfologinya. Akar pada tanaman jahe merah membutuhkan media tanam dengan porositas yang tinggi dimana dapat dipenuhi dengan hidroponik substrat ini, selain itu lingkungan tumbuh dapat di kontrol, media tanam dapat disterilkan. Pemilihan media tanam harus sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan jahe merah. Menurut Ravindrun dan Babu (2005) bahwa rimpang jahe dapat tumbuh pada beragam jenis tanah. Rimpang jahe cocok tumbuh pada tanah yang bertekstur lempung dan mempunyai aerasi dan porositas yang baik. Media substrat yang digunakan yaitu cocopeat dengan aerasi yang baik serta mempunyai porositas yang baik. Sistem hidroponik substrat ini memiliki lebih banyak kelebihan dibandingkan dengan sistem hidroponik yang lainya. Kelebihan tersebut beberapa diantaranya yaitu tanaman yang tumbuh dapat berdiri lebih tegak dibandingkan tanpa sistem substrat, kebutuhan nutrisi mudah dipenuhi dan dikontrol, tidak mempengaruhi pH air, biaya operasional lebih terjangkau, tidak berubah warna serta tidak mudah lapuk. Teknik penaman hidroponik substrat ini harus tepat dalam pemilihan media substrat yang sesuai dengan tanaman yang akan dibudidayakan.

Penggunaan media tanam cocopeat dapat digunakan sebagai media tanam jahe merah karena media cocopeat ini memiliki kemampuan mengikat air yang baik dimana tanaman jahe merah sangat membutuhkan pengairan yang baik. Instalasi yang sesuai untuk hidroponik substrat pada tanaman jahe merah ini adalah fertigasi. Fertigasi adalah sebuah teknik aplikasi unsur hara melalui sistem irigasi tetes atau dikenal dengan nama irigasi mikro yang mana sangat cocok untuk diterapkan pada tanaman hidroponik termasuk tanaman jahe merah. Irigasi ini memiliki konsep yang berkelanjutan atau kontinu dan lamban sehingga dapat menghemat air serta tingkat kelembaban tanah optimum dapat dipertahankan. Irigasi tetes diklasifikasikan sebagai irigasi bertekanan rendah (Rosliana, 2005).  Sistemengairan pada sistem irigasi tetes ini dilakukan dengan menggunakan alat aplikasi yaitu applicator, emission device, alat ini dapat mengairi tanaman dengan debit yang rendah namun frekuensi yang tinggi secara terus-menerus disekitar area perakaran tanaman jahe merah. Tekanan air yang masuk ke applicator yaitu sekitar 1.0 bar, kemudian dikeluarkan dengan tekanan mendekati nol untuk mendapatkan tetesan yang tidak berhenti namun dengan debit yang rendah sehingga kesatuan sistem hidroponik ini cocok untuk tanaman jahe merah.

Sumber Referensi:

  • Sukarman. 2007. Viabilitas dua klon jahe besar (Zingiber officinale L.) pada cara penyimpanan yang berbeda. Jurnal Ilmiah Pertanian. Gakuryoku. XI (2): 181-185.
  • Murniati, Endyah. 2010. Jahe Manfaat Ganda. Surabaya: SIC.
  • Ravindran., P.N dan K. N. Babu. 2005. Ginger the genus zingiber. Medicinal And Aromatic Plants-Industrial Profiles. CRC pres. New York.
  • Rosliana, R dan N. Sumarni, 2005. Budidaya Tanaman Sayuran dengan Sistem Hidroponik. Jurnal Monografi No. 27. Balai Penelitian Tanaman Sayuran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *