Tanaman Ercis (Pisum Sativum L.)

Gambar 1. Tanaman Ercis (Sumber: http://www.agroatlas.ru/content/cultural/Pisum_sativum_K/Pisum_sativum_K.jpg, 2009)

Kacang ercis (Pisum sativum L.) merupakan tanaman yang banyak dimanfaatkan sebagai sayuran didalam bahan makanan dikarenakan kandungan proteinnya yang tinggi. Tanaman ini termasuk kedalam suku polong-polongan atau Fabaceae (Ardhani dkk, 2019).

Peningkatan impot dari kacang ercis di Indonesia sendiri telah mengalami peningkatan dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, yang mengartikan bahwa tingkat produksi dalam negeri belum dapat memenuhi seutuhnya kebutuhan bagi masyarakat. Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan budidaya hidroponik, dimana budidaya hidroponik yang diterapkan harus dapat sesuai dengan karakteristik dan morfologi dari tanaman itu sendiri agar tanaman dapat tumbuh dan berproduksi secara optimal. Menurut (Gashkova, 2009) dan (Pavek, 2012), karakteristik morfologi tanaman ercis adalah sebagai berikut:

 

 

 

  • Biji
Gambar 2. Biji Tanaman Ercis (Sumber: https://plants.usda.gov/java/largeImage?imageID=pisa6_001_ahp.tif, 2012)

Benih tanaman ercis sendiri berbentuk bulat, dan bertekstur keriput (menyempit kedalam), dimana setiap benihnya terdiri dari embrio (calon akar, calon daun pertama, dan dua kotiledon) dan testa (kulit biji) (Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, 2013). Dua lobus benih yang terdapat di dalam embrio akan tertinggal di dalam tanah saat benih mulai berkecambah. Bergantung pada varietasnya, benih tanaman ercis dapat memiliki ukuran, warna, dan bentuk yang berbeda. Blastoderm (lapisan jaringan embrio yang terbentuk sebelum perkembangan sumbu embrio yang membentuk dinding blastula) pada tanaman ercis berwarna terang, coklat atau kehitam-hitaman, dan diantara varietas yang dibudidayakan ada beberapa jenis yang tidak memilki blastoderm dikarenakan batang serabutnya tumbuh menyatu dengan kulit biji mereka, sehingga benih mereka tidak dapat terlepas.

 

  • Akar

Tanaman ercis memiliki jenis akar tunggang yang dapat mencapai 1,5m menuju kedalaman tanah. Akar lateralnya terletak di dalam lapisan tanah subur. Bakteri pemecah nitrogen seperti bakteri rhizobium tumbuh subur di akarnya dalam simbiosis yang sempurna.

  • Batang

Tanaman ercis memiliki batang sederhana berbentuk tetrahedral dan berongga. Berdasarkan tinggi batangnya, tanaman ini dapat diklasifikan kedalam varietas kerdil (dapat mencapai 50 cm), varietas setengah kerdil (51 cm -8 0 cm), varietas tinggi sedang (80 cm-150 cm) dan varietas tinggi (150 cm – 300 cm),. Tangkai kacangnya memiliki sisi yang banyak, rapuh dan menggantung. Terdapat 2 jenis percabangan pada batang kacang ercis, dekat pangkal atau di axils (sudut yang terbentuk antara tangkai atau cabang daun dan batang atau batang tempat cabang tersebut tumbuh) di sepanjang batang. Batang tanaman biasanya ditutupin dengan lapisan lilin, meskipun ada beberapa varietas yang tidak memilikinya.

  • Daun

Daun kacang ercis sendiri memiliki bentuk yang cukup kompleks, biasa terdiri dari tangkai daun, 2 atau 3 pasang daun dengan sulur dalam jumlah ganjil (3, 5 atau 7). Daunnya berseling, majemuk, menyirip yang bergantung pada varietasnya. Terdiri dari dua besar stipula atau daun penumpu, beberapa pasang daun oval dan sulur terminal.

  • Bunga

Tanaman ercis termasuk kedalam tumbuhan angiospermae. Bunga tanaman ercis terlihat berbentuk seperti kupu-kupu, memiliki 5 kelopak bunga berwarna hijau yang menyatu dan lima kelopak bunga berwarna putih, ungu atau merah muda dengan ukuran yang berbeda, dimana jumlah benang sari yang dimiliki bunganya berjumlah sepuluh. Salah satunya bebas dan melekat pada ovarium, dan 9 lainnya tumbuh dan membentuk androfor (pendukung benang sari). Butir sarinya berbentuk bulat dan lonjong, dengan jumlah ovula pada bunga berjumlah 10 hingga 12. Berdasarkan varietasnya, bunga tanaman ercis dapat berkembang dengan ukuran yang berbeda-beda (1,3 cm hingga 3,5 cm). Terdapat dua daun mahkota yang terdapat diatas kelopak bunga dan menyatu ditengah-tengah dan disebut sebagai “keel” karena bentukannya yang mirip dengan perahu, dan dibagian bawah terdapat dua daun mahkota berbentuk lancip yang menuju kedasar batang, biasa disebut sebagai “wings” (Elzebroek dan Wind, 2008)

  • Buah

Buah tanaman ercis ini termasuk kedalam jenis buah yang berpolong-polongan.  Buahnya polong tertutup, dengan panjang 1 sampai 4 inci, Berbentuk agak sedikit pipih, memiliki biji-biji yang berjumlah empat di setiap buahnya. dan memiliki membran dalam yang kasar. Biji buah yang sudah matang berbentuk bulat, halus atau keriput, dan dapat berwarna hijau, kuning, krem, coklat, merah-oranye, biru kehitaman, ungu gelap hingga hampir hitam atau bitnik-bintik hitam.

Hidroponik Tanaman Ercis

Menurut (Morgan, 2017) kacang ercis merupakan jenis tanaman yang sangat serbaguna untuk diterapkan kedalam sistem hidroponik, dimana selain memiliki varietas yang polongnya dapat dikonsumsi, bagian dari bunga, pucuk, dan sulur semuanya dapat dibudidayakan sebagai sayuran segar atau bagian hiasan yang dapat ditambahkan kedalam makanan. Penerapan sistem hidroponik kedalam budidaya kacang ercis akan membutuhkan banyak ruang, meskipun begitu beberapa varietas kacang ercis memiliki harga pasar yang cukup tinggi apabila ditanam menggunakan sistem hidroponk karena dapat dibudidayakan sepanjang tahun.

 

Gambar 3. Sistem hidroponik pasang surut

(Sumber:https://luv2garden.com/wp-content/uploads/2020/08/ebbflow.jpg , 2020)

 

Sistem hidroponik yang cocok untuk diterapkan dalam budidaya tanaman ercis sendiri salah satunya adalah sistem hidroponik pasang surut (ebb and flow). Sistem hidroponik pasang surut (ebb and flow) merupakan salah satu sistem hidroponik yang diterapkan untuk mengalirkan larutan nutrisi pada media tumbuh tanaman, dimana larutan nutrisi yang tidak terserap akan kembali ke dalam bak penampung (Delya, 2014).  Sistem ini memiliki kelebihan dan kekurangan antara lain sebagai berikut:

Kelebihan

  • Tanaman akan mendapat suplai oksigen, air dan nutrisi secara baik karena dialirkan terus menerus selama pompa menyala
  • Pertukaran oksigen menjadi lebih baik dikarenakan terbawa pasang surutnya aliran air
  • Pemantauan terhadap perawatan tanaman menjadi lebih mudah karena tidak perlu disiram secara manual

Kekurangan

  • Pompa harus dapat berfungsi dengan baik sehingga membutuhkan aliran listrik yang baik, pemadaman aliran listrik akan menyebabkan perputaran nutrisi pada tanaman menjadi terhambat
  • Berkurangnya kualitas nutrisi setelah dipompa berkali-kali

Media tanam yang dapat digunakan dalam budidaya tanaman ini berupa rockwool, hal ini dikarenakan rockwool bersifat ideal sebagai media tumbuh dalam budidaya menggunakan sistem hidroponik. Media tanam rockwool cocok digunakan karena bersifat sedikit alkalin, inert dan tidak menyebabkan degradasi biologi. Ruang pori yang dimiliki oleh media ini sebesar 95% dengan daya pegang air sebesar 80%, hal ini dikarenakan media ini mudah menyerap air sehingga memungkinkan pertumbuhan tanaman relatif cepat sehingga semua peubah dalam tanaman dapat menunjukan hasil yang optimal (Susila, 2004).

 

Komponen-kompenen dasar yang diperlukan dalam penyusunan sistem hidroponik pasang surut adalah wadah tanaman, bak penampung, dan pompa submersible dengan pewaktu. Wadah hidroponik dapat menggunakan pipa PVC, dimana pipa tersebut dapat dilubangi sebesar kurang lebih 3 inci agar dapat meletakan netpot hidroponik didalamnya. Jarak antar lubang harus dapat diperhitungkan agar tanaman yang tumbuh dapat berkembang secara optimal, sebagaimana terlihat pada gambar dibawah.

ADS-tube

 

Gambar 4. Penyusunan lubang pada pipa PVC

(Sumber:http://www.homehydrosystems.com/system_plans/Flood%20and%20drain%20system%20plans/Twelve%20plant%20Hydroponic%20Flood%20and%20Drain%20System/Twelve-plant-System-images/ADS%20tube.jpg, 2014)

Pemasangan teralis atau jeruji diperlukan dikarenakan sifat batang tanaman ercis yang menjalar. Bak penampung berfungsi untuk dapat menampung larutan air dan nutrisi yang dialirkan oleh pompa submersible dengan pengatur waktu. Bak penampung terhubung ke wadah tanaman melalui saluran pengisi dan saluran pembuangan aliran, yang letaknya berada dibawah wadah tanaman aliran yang berasal dari wadah tanaman dapat mengalir kedalam bak penampung dengan memanfaatkan gravitasi.

 

reservoir

Gambar 5. Bak Penampung

(Sumber: http://www.homehydrosystems.com/system_plans/Flood%20and%20drain%20system%20plans/Twelve%20plant%20Hydroponic%20Flood%20and%20Drain%20System/Twelve-plant-System-images/reservoir.jpg, 2014)

Benih ercis sendiri memerlukan temperatur 18o C hingga 25o C agar dapat berkecambah secara optimal, serta untuk membentuk organ vegetatif dan generatif dengan baik. Kelembaban media tanam yang dibutuhkan agar tanaman dapat tumbuh secara optimal adalah sebesar 80%, dimana periode vegetasi tanaman akan berlansung dalam 45 sampai 120 hari (Gashkova, 2009). Budidaya tanaman ercis dalam rumah kaca akan memudahkan pengaturan kondisi lingkungan terkendalinya dibandingkan dengan diluar ruangan. Untuk memenuhi nutrisi pada larutan ercis, larutan nutrisi dicampur  dengan air hidroponik yang dialirkan kedalam wadah tanaman. Nutrisi yang digunakan dapat berupa pupuk KCL, NPK dan urea. Besarnya nutrisi yang dilewatkan pada aliran tanaman akan disesuaikan dengan fase pertumbuhan tanaman ercis. Terakhir, diperlukan pengaturan waktu yang tepat untuk menghidupkan dan mematikan pompa yang mengalirkan larutan hidroponik dan nutrisi, hal ini untuk menjaga akar tetap lembab, dan dapat mensirkulasi ulang agar tanaman dapat mendapatkan larutan nutrisi secara optimal.

 

plants-growing-in-a-hydroponic-system

Gambar 6. Pengaplikasian Sistem Hidroponik Pasang Surut

(Sumber:http://www.homehydrosystems.com/system_plans/Flood%20and%20drain%20system%20plans/Twelve%20plant%20Hydroponic%20Flood%20and%20Drain%20System/Twelve-plant-System-images/plants%20growing%20in%20a%20hydroponic%20system.jpg, 2014)

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ardhani, D. N., Waluyo, B., & Saptadi, D. 2019. Evaluasi Karakter 35 Genotipe Kacang Ercis (Pisum sativum L.) untuk Simulasi Pengujian Buss (Baru, Unik, Seragam, dan Stabil). Jurnal Produksi Tanaman, 7(6). Fakultas Pertanian. Universitas Brawijaya: Malang

 

Delya, B., Tusi, A., Lanya, B., & Zulkarnain, I. (2014). Rancang bangun sistem hidroponik pasang surut otomatis untuk budidaya tanaman cabai. Jurnal Teknik Pertanian Lampung, 3(3), 205-215.

 

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. 2013. Agribisnis Tanaman Perkebunan (Pembiakan Tanaman). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 163 Hal.

 

Elzebroek, T., and K. Wind. 2008. Guide to cultivated plants. CAB International, Oxfordshire, UK.

 

Gashkova, I.V. 2009. Pisum sativum L. – Garden pea. Interactive Agricultural Ecological Atlas of Russia and Neighboring Countries. Economic Plants and their Diseases, Pests and Weeds. Terdapat pada: http://www.agroatlas.ru/en/content/cultural/Pisum_sativum_K/. Diakses pada 25 Desember 2020.

 

Home Hydro Systems. 2014. Flood and Drain System Design Plans. Terdapat pada: http://www.homehydrosystems.com/system_plans/free_plans.html. Diakses pada 25 Desember 2020.

 

Morgan, L. 2017. Peas, Beans, and Peanuts: How to Grow Legumes Hydroponically. Maximum Yield Magazine. Terdapat pada: https://www.maximumyield.com/peas-beans-and-peanuts-how-to-grow-legumes-hydroponically/2/3615. Diakses pada 25 Desember 2020.

 

Pavek, P.L.S. 2012. Plant guide for pea (Pisum sativum L.). USDA-Natural Resources Conservation Service, Pullman, WA.

 

Susila, A. D., & Koerniawati, Y. (2004). Pengaruh volume dan jenis media tanam pada pertumbuhan dan hasil tanaman selada (Lactuca sativa) dalam teknologi hidroponik sistem terapung. Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy), 32(3).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *