Tanaman Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.)

 

Gambar 1. Tanaman Cabai Rawit (Sumber: https://agrotek.id/klasifikasi-dan-morfologi-tanaman-cabai-rawit/ , 2019)

Tanaman cabai rawit banyak dibudidayakan oleh masyarakat di belahan dunia, salah satunya Indonesia, digunakan oleh berbagai kalangan untuk memenuhi kebutuhan hidup karena bernilai ekonomis dan menguntungkan, seperti kebutuhan rumah tangga yang dijadikan sebagai bumbu masakan untuk penambah rasa pedas pada makanan, bahan baku industri makanan seperti sambal atau saus dan dalam bidang farmasi sebagai obat-obatan. Tanaman cabai rawit memiliki nama di setiap daerah, dalam bahasa sunda disebut dengan cengek. Selain mempunyai nilai ekonomis yang tinggi, cabai rawit pun memiliki banyak kandungan seperti karbohidrat, lemak, dan protein (Arifin, 2010). Mayoritas orang mengetahui cabai rawit hanya sebagai sayuran, padahal tanaman ini tergolong ke dalam sayuran buah.

Meskipun stereotype kebanyakan orang yang menyatakan bahwa buah itu biasanya berbentuk bulat dan rasanya yang manis, namun pada kenyataannya tidak selalu begitu dan untuk cabai rawit ini disebut buah karena dilihat dari karakteristik bentuknya yang terdapat biji di dalamnya. Budidaya cabai rawit ini bisa dilakukan secara konvensional yaitu benih ditanam di ladang atau berisikan tanah yang disimpan di dalam media polybag atau pot dan bisa juga dilakukan secara hidroponik yaitu tanpa media tanah, hanya memanfaatkan air dan menekankan nutrisi agar tanaman dapat tumbuh. Budidaya sistem hidroponik tanaman cabai rawit saat ini marak dilakukan oleh masyarakat urban atau perkotaan, terlebih lagi di masa pandemi yang mengharuskan melakukan pekerjaan di rumah (work from home) dan salah satu bentuk pertanian masa depan. Berdasarkan uraian di atas, penting untuk mengetahui cara budidaya tanaman cabai rawit menggunakan sistem hidroponik dan karakter morfologi tanaman itu sendiri sehingga dapat menghasilkan tanaman cabai rawit dengan kualitas yang baik. Adapun morfologi cabai rawit dapat diidentifikasikan sebagai berikut (Arifin, 2010):

      1. Akar

Gambar 2. Akar Tanaman Cabai Rawit (Sumber: https://tanahkaya.com/cabe/, 2020)

Cabai rawit memiliki akar dengan jenis tunggang dan bercabang menyamping membentuk akar serabut yang dapat menembus atau masuk ke tanah hingga kedalaman sedalam 50 cm dan manyamping dengan lebar 45 cm.

      2. Batang

Cabai rawit, batang utamanya tegak, kuat, dengan warna coklat kehijauan, dan tinggi sebesar 30 sampai 31,75 centimeter dan diameter sebesar 1,5 sampai 3 centimeter. Umur 30 hari setelah panen (HST) kayu akan terbentuk pada batang utama dan umur 10 hari munculnya ketiak daun dengan tunas yang baru, tetapi akan dihilangkan hingga muncul bunga pertama pada batang utama. Cabang cabai rawit dapat bertambah karena kuncup daun yang tumbuh secara terus menerus. Percabangan tersier terbentuk dari cabang sekunder, sebanyak 7-15 cabang akan muncul jika dihitung pada awal percabangan dalam tahap pembungaan 1 dan akan muncul sebanyak 21-23 cabang sampai tahap pembunggaan 2 jika tanaman dalam keadaan baik dan sehat. Munculnya cabang ini bergantung pada setiap varietas cabai rawit

     3. Daun

Gambar 3. Daun Tanaman Cabai Rawit (Sumber: https://tanahkaya.com/cabe/, 2020)

Cabai rawit memiliki daun yang berbeda-beda karena bergantung jenis varietasnya dan biasanya warna daun hijau muda hingga hijau gelap. Menyirip adalah bentuk tulang daunnya, tetapi dapat berbentuk lonjong dengan ujung daun meruncing untuk bentuk daun secara keseluruhan.

     4. Bunga & Buah

Gambar 4. Bunga Tanaman Cabai Rawit (Sumber: https://tanahkaya.com/cabe/, 2020)
cabe rawit
Gambar 5. Buah Tanaman Cabai Rawit (Sumber: https://www.greeners.co/flora-fauna/cabai-rawit-meski-pedas-namun-kaya-khasiat/ , 2019)

Cabai rawit, bunganya memiliki bentuk seperti terompet dan bunga sempurna, antara lain kelamin bunga, kelopak bunga, dan mahkota bunga. Dalam satu bunga, terdapat kelamin bunga yang berjumlah dua. Putik memiliki tangkai yang dengan warna putih dan kepala putik dengan warna kuning kehijauan, sari memiliki tangkai dengan warna putih dan kepala sari dengan warna biru keunguan. Penyerbukan memiliki tujuan untuk pembentukan buah, ditandai dengan mahkota bunga yang mengalami kerontokan tetapi pada buah, bunga tetap menempel. Buah cabai rawit mempunyai bentuk bulat memanjang dan jika masak akan berwarna merah, memiliki rasa yang pedas karena terdapat zat kimia capsaicin pada cabai rawit.

Varietas cabai rawit terdiri dari cabai rawit putih, hijau, dan kecil. Cabai jenis kecil adalah jenis cabai rawit yang paling pedas diantara cabai rawit putih dan hijau, cabai rawit putih ukurannya sama dengan cabai rawit hijau yang sedikit besar dan rasanya tidak sepedas cabe rawit jenis kecil. Agar cabai rawit dapat tumbuh dengan baik, yang harus diperhatikan yaitu kondisi lingkungan agar berjalan secara optimal dengan memerhatikan iklim, seperti intensitas cahaya matahari dengan lama 10 – 12 jam dengan penyinaran secara penuh, suhu yang optimal berkisar 21°C – 28°C, dengan kelembaban relatif sebesar 80%, dan angin yang tepat untuk pertumbuhan cabai rawit hidroponik adalah angin yang berhembus perlahan karena berfungsi untuk menyediakan CO2 (Arifin, 2010).

Budidaya sistem hidroponik tanaman cabai rawit dilakukan di lahan yang terbatas atau sempit seperti di rooftop karena mengingat jika lahan yang digunakan untuk bercocok tanam saat ini semakin berkurang, cabai rawit termasuk sayuran buah yang fleksibel, dalam artian dapat tumbuh dimana saja, tidak mengenal musim, dan salah satu tanaman yang dapat menikmati iklim panas. Hidroponik cabai rawit memiliki kelebihan lainnya dibandingkan konvensional yaitu lingkungan yang  dapat diatur seperti suhu, kelembaban, dan ketersediaan air. Sistem sumbu (wick system) dan drip irigasi yang berskala usaha merupakan sistem yang tepat dalam budidaya hidroponik (Susilawati, 2019). Selain memiliki kelebihan yang sudah disebutkan sebelumnya, sistem hidroponik budidaya cabai rawit pun memiliki kekurangan yaitu jika menggunakan media substrat maka limbah dari susbtrat tersebut tidak dapat di daur ulang kembali sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan.

Gambar 6. Budidaya Cabai Rawit Menggunakan Sistem Hidroponik (Sumber: http://agronesia.net/5-cara-menanam-cabe-rawit-hidroponik-untuk-pemula-mudah-dicoba/, 2020)

Adapun teknik dalam budidaya hidroponik adalah sebagai berikut (Susilawati, 2019):

     1. Persiapan Benih Cabai Rawit

Faktor utama dalam keberhasilan budidaya cabai rawit baik menggunakan hidroponik ataupun konvensional adalah benih. Benih didapat dari cabai yang diambil bijinya yang sudah kering hasil dari dikeringkan dengan cara dianginkan dan dimasukkan ke dalam air hangat agar hama dan penyakit mati juga dapat mempercepat proses perkecambahannya, jika biji tenggelam maka biji tersebut dapat dijadikan sebagai benih dan jika mengambang maka kualitas biji tersebut kurang baik sehingga perlu dipisahkan.

     2. Penyemaian Benih Cabai Rawit

Penyemaian benih cabai rawit baik menggunakan sistem hidroponik atau konvensional, prosesnya sama yaitu menggunakan media tanah. Proses penyemaian biji antara lain biji dimasukkan ke dalam bungkusan menggunakan kain kasa dalam waktu sehari lamanya setelah biji direndam sebelumnya. Kecambah akan muncul, dimana benih dapat ditabur pada sekam bakar dan hasil dari penyemaian ini diletakkan di tempat yang kurang penyinaran sinar matahari atau redup

     3. Pemindahan Bibit Cabai Rawit

Pemindahan bibit dilakukan dengan cara pemindahan dari media penyemaian menuju media tanam budidaya hidroponik ketika daun yang bersifat semu berubah sebagai daun yang bersifat sejati dengan helai sebanyak 4–5 helai daun atau ketika bibit mencapai umur 21-24 hari lalu ditempatkan ke media tanam hidroponik agar akar cabai rawit dapat kuat dan tidak mudah layu di tempat yang teduh. Saat kurang lebih 5-7 hari bibit diletakkan di tempat yang penyinaran sinar mataharinya cukup agar tanaman mampu beradaptasi.

     4. Media Tanam Hidroponik Cabai Rawit

Media tanam disiapkan setelah bibit dipindah tanamkan yang berisikan di wadah seperti pot atau polybag. Media tanam contonya sekam bakar saja atau sekam bakar yang disatukan dengan pecahan kerikil, genting, zeloit, dan hidroton. Sistem yang digunakan untuk budidaya hidroponik cabai rawit ini dapat menggunakan deep water culture, system wick, dan sistem pot dimana setiap hari dilakukan penyiraman

     5. Perawatan dan Pemenuhan Nutrisi Hidroponik Cabai Rawit

Ajir yang dipasang, tunas yang dipangkas, pengecekan dan pemenuhan nutrisi merupakan salah satu cara dalam melakukan perawatan tanaman cabe rawit hidroponik. Faktor yang terpenting dalam budidaya hidroponik adalah nutrisi dan pupuk. Perpaduan NPK yang terdiri dari kalium, nitrogen, dan fosfor merupakan salah satu pemenuhan nutrisi hidroponik.

Pemberian nutrisi harus terkontrol seperti nutrisi tidak sampai habis atau mongering, menjaga ketersediaan nutrisi bertujuan agar tanaman terhindar hama dan penyakit. AB mix merupakan nutrisi yang diberikan untuk tanaman hidroponik cabai rawit yang diberikan setelah usia tanam lebih dari 5 sampai 7 hari dengan tujuan agar tanaman dapat menyesuaikan dengan nutrisi yang diberikan dan tanaman tidak rusak, Nutrisi yang digunakan pada awal pertumbuhan tanaman cabai rawit yaitu 600-700 ppm atau nutrisi A sebanyak 5 mililiter dicampur dengan nutrisi B sebanyak 5 milimeter pula dan 1 liter air.

Selain pemberian nutrisi AB mix, untuk mendukung pertumbuhan cabai rawit yaitu menggunakan air jernih dan bening yang tidak terkontaminasi zat kimia seperti air yang berasal dari air sungai atau nilai ppmnya sebesar kurang dari 200. Unsur hara mikro pun penting untuk diberikan pada cabai rawit misalnya pemberian pupuk daun dengan metode penyemprotan setiap satu minggu atau 10 hari sekali. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan memerhatikan atau mengecek kondisi tanaman, jika terdapat hama dan penyakit maka tanaman dapat disemprot menggunakan pestisida yang berbahan organik atau kimia sesuai hama dan penyakit jenisnya seperti apa

     6. Panen Hidroponik Cabai Rawit

Cabai rawit yang siap panen menggunakan sistem hidroponik memiliki ciri-ciri yaitu munculnya cabai yang berwarna merah dan memudarnya garis yang berwarna hijau. Cabai rawit memiliki masa panen dari 80 sampai 115 hari. Panen cabai rawit tergantung selera dan keperluan, dapat dipanen pada saat cabai berwarna hijau yaitu berumur 85 hari setelah tanam dan panen cabai berwarna merah yaitu berumur 110 sampai 115 hari setelah tanam

 

References

Susilawati. 2019. Dasar – Dasar Bertanam Secara Hidroponik. Palembang: Universitas Sriwijaya

Arifin, Hasan. 2010. Pengaruh Cara dan Lamanya Penyimpanan Terhadap Mutu Cabai Rawit (Capsium frutencens L). Jurusan Biologi. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim: Malang

Agronesia. 2020. Lima Cara Menanam Cabai Rawit Hidroponik Untuk Pemula, Mudah Dicoba. Terdapat pada: http://agronesia.net/5-cara-menanam-cabe-rawit-hidroponik-untuk-pemula-mudah-dicoba/ Diakses pada Kamis, 24 Desember 2020

Agrotek. 2019. Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Cabai Rawit. Terdapat pada: https://agrotek.id/klasifikasi-dan-morfologi-tanaman-cabai-rawit/ Diakses pada Sabtu, 26 Desember 2020

Megumi, Sarah. 2019. Cabe Rawit, Meski Pedas Namun Banyak Khasiat. Terdapat pada: https://www.greeners.co/flora-fauna/cabai-rawit-meski-pedas-namun-kaya-khasiat/ Diakses pada Sabtu, 26 Desember 2020

Ucihadiyanto. 2020. Cabe. Terdapat pada: https://tanahkaya.com/cabe/ Diakses pada Sabtu, 26 Desember 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *