Tanaman Cabai Keriting (Capcisum annum L)

Gambar 1. Buah Cabai Keriting (Sumber : https://www.agronet.co.id/detail/budi-daya/pertanian/3328-Budidaya-Cabe-Keriting, 2019)

Salah satu kebutuhan pokok jenis pangan berupa rempah-rempahan yang sangat banyak digunakan terutama untuk menambah cita rasa makanan agar lebih pedas adalah cabai keriting. Cabai keriting ini juga merupakan salah satu  jenis buah cabai yang banyak tumbuh di Indonesia yang dapat berkembang dengan sangat baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi dengan iklim yang tropis.  Cabai keriting atau dalam bahasa ilmiahnya biasa disebut dengan istilah Capcisum annum L juga merupakan  jenis tanaman semusim yang dapat dikagorikan dalam tumbuhan perdu berkayu. Adapun ciri-ciri dari cabai keriting ini diantaranya adalah sebagai berikut : Tinggi tanaman rata-rata setinggi 70-110 centimeter kemudian untuk panjang buah biasanya berkisar antara 9-15 centimeter serta memiliki  diameter buah sebesar 1-1,75 centimeter. Untuk warna buah nya sendiri jika cabai keriting yang muda itu akan berwarna hijau dan jika sudah matang maka akan berubah menjadi merah dengan permukaan buah yang ramping dan juga berlakuk dan memiliki rasa yang cukup pedas.

Dalam dunia tumbuh – tumbuhan, tanaman cabai keriting ini jenis tanaman yang dapat menghasilkan biji dimana bijinya ini tertutup oleh kulit buah sehingga dapat dikategorikan kedalam tumbuhan dengan biji tertutup.

Jika berbicara mengenai morfologi tanaman cabai keriting ini, maka akan dibahas dari mulai akar, batang, daun, bunga, buah sampai pada biji. Akar yang dimiliki oleh tanaman cabai keriting ini merupakan jenis akar tunggang dengan sistem perakaran tanaman yang sedikit menyebar dengan panjang akar berkisar 25 centimeter sampai dengan 35 centimeter yang berfungsi untuk menyerap air dan juga zat – zat makanan. Akar pada tanaman cabai keriting ini tumbuh dengan tegak lurus sampai pada dalam tanah sehingga dapat berfungsi untuk penegak pohon yang mempunyai kedalaman sekitar 200 centimeter. Dari akar yang tunggang ini kemudian tumbuh akar – akar cabang dimana akarnya ini akan tumbuh secara horizontal kemudian dari akar cabangnya ini akan muncul akar jenis serabut yang ukurannya kecil dan juga membentuk masa yang rapat.

Batang pada tanaman cabai keriting ini dapat dibedakan menjadi 2 bagian yaitu batang yang utama dan batang percabangan. Batang utama ini berwarna cokelat kehijauan dan berkayu dengan panjang sekitar 20 centimeter sampai dengan 28 centimeter dengan diameter 1,5 centimeter sampai dengan 2,5 centimeter. Adapun batang percabangannya biasanya berwarna hijau dimana memiliki panjang sekitar 5 centimeter sampai dengan 7 centimeter dengan diameter sekitar 0,5 sampai dengan 1 centimeter. Cabai keriting ini memiliki batang yang tegak dengan bentuk yang membulat dan beruas – ruas yang dibatasi dengan baku – baku yang panjang di setiap 5 – 10 centimeter pada ruasnya dan batangnya ini dapat tumbuh hingga 50 centimeter sampai dengan 160 centimeter.

Daun yang dimiliki oleh cabai keriting ini merupakan jenis daun yang tunggal dan berbentuk memanjang oval dimana ujung nya ini runcing. Tulang – tulang daun yang dimiliki berbentuk seperti sirip yang disertai dengan urat pada daun. Permukaan bagian atasnya berwarna hijau yang tua namun bagian bawahnya ini berwarna hijau lebih terang . adapun panjang daunnya antara 9 centimeter sampai dengan 15 centimeter dengan lebar daun sekitar 3,5 centimeter sampai dengan 5 centimeter. Daunnya ini akan tumbuh pada tunas-tunas samping yang berurutan di batang utama yang tersusun secara spiral. Bunga pada tanaman cabai keriting ini berbentuk terompet kecil yang berwarna putih yang memiliki kuping sebanyak 5 helai sampai dengan 6 helai dengan panjangnya sekitar 1 centimeter sampai dengan 1,5 centimeter dengan lebarnya sekitar 0,5 centimeter dan kepala putik yang berwarna kuning.

Buah pada tanaman cabai keriting ini berbentuk kerucut yang memanjang kemudian berlekuk – lekuk, ujungnya runcing, menggantung dan memiliki permukaan yang licin juga mengkilap. Tektur dagingnya renyah namun kadang lunak dengan rasa yang cukup pedas dengan panjang buah berkisar 9 – 15 centimeter dan diameter antara 0,6 – 0,8 centimeter. Jika masih muda, buahnya berwarna hijau gelap, kecoklatan dan akan merah jika sudah masak.

Adapun biji pada tanaman cabai keriting ni berbentuk bulat pipih yang tersusun secara berkelompok juga saling melekat antar empulurnya. Diameter biji sekitar 4 milimeter. Jika masih muda, warna bijinya ini berwarna putih kekuningan kemudian akan kecoklatan jika sudah cukup tua. Pada bagian paling luarnya ini terdapat lapisan yang keras yang kemudian akan berperan dalam menghasilkan bibit tanaman yang baru nantinya.

Budidaya Tanaman Cabai Keriting Dengan Metode Hidroponik

Gambar 2. Tanaman Cabai Keriting Menggunakan Sistem Wick (Sumber : https://mitalom.com/cara-menanam-cabe-hidroponik-sistem-wick/,2015)

Tanaman cabai keriting dapat dibudidayakan dengan hidroponik dengan menggunakan sistem Wick. Sistem wick ini sangat mudah diaplikasikan karena merupakan cara yang paling sederhana dalam metode Hidroponik ini sehingga semua anak – anak, remaja, dewasa bahkan orangtua dapat mengaplikasikan bertani dengan sistem wick ini tanpa susah payah. terkait dengan kemudahan-kemudahan tersebut, ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam menanam cabai dengan menggunakan metode ini diantarannya adalah sebagai berikut :

  • Penyemaian benih cabai keriting

Penyemaian usahakan menggunakan benih yang bagus yang biasanya tersedia di toko – toko pertanian atau toko benih tanaman dan dengan memakai media untuk semai dapat berupa campuran dari tanah, kemudian kompos dan juga arang sekam ( 1 : 1 : 1 ). Tutup sedikit dan basahi semaian cabai dengan air spray. 2 -7 hari benih dapat tumbuh.

  • Menyiapkan media tanam hidroponik

Media tanam dapat menggunakan campuran dari arang sekam dan cocopeat ( 1 : 1 ), siapkan juga sumbu dari kain flannel. Arang sekam merupakan arang yang berasal dari sisa pembakaran tidak sempurna dari kulit padi adapun cocopeat itu sendiri merupakan media tanam hidroponik yang berasal dari serbuk kulit kelapa.

  • Menyiapkan tandon nutrisi serta pot tanam

Tandon nutrisi serta juga pot dapat menggunakan barang – barang yang ada disekitar misal toples dan cup bekas. selain dapat menggunakan toples juga dapat menggunakan botol ukuran sedang atau besar. dimna ujung botol di potong dan dibalik sehingga sumbu plannel dapat mengalir dengan baik.

  • Menanam bibit cabai

Bibit cabai yang sudah di semai maka dipindahkan ke media tanam berupa pot hidroponik tadi  yang sudah disiapkan sebelumnya. Umur pindah tanam bibit adalah sekitar 25 sampai dengan 30 hari setelah semai. Siram dengan air secukupnya. Simpan di tempat yang teduh, jika media tanam kering maka siram dengan air. Setelah 5 – 7 hari di tempat teduh, maka cabai dapat diperkenalkan dengan matahari secara perlahan atau bertahap.

  • Pemberian nutrisi cabai

Nutrisi yang digunakan adalah AB Mix. Nutrisi dapat diberikan pada saat cabai berusia 5 atau 7 hari setelah pindah tanam. Masa – masa awal dapat diberikan dengan ppm 600 sampai dengan 700 atau sekitar 5 ml nutrisi A + dengan 5 ml nutrisi B dan + air sebanyak 1 liter.

  • Pemeliharaan sampai panen

Pemeliharaan dilakukan dengan menjaga ketersediaan nutrisi, menanggulangi adanya hama dan juga penyakit yang dapat merusak tanaman. Jika larutan nutrisi sudah sedikit maka segera untuk dipenuhi jangan sampai habis. Hama dan juga penyakit biasanya berupa tungau, kutu daun, ulat, busuk buah, bercak daun dll. Jika masih belum parah dapat dilakukan pengendalian dengan cara mekanis yakni membuang bagian yang terinfeks bisa dikendalikan dengan insektisida. Tanaman cabai hidroponik ini dapat dipanen pada usia 80 sampai dengan 90 Hari Setelah Tanam ( HST).

 

Daftar Pustaka

S.M, Alif. 2017. Kiat Sukses Budidaya Cabai Keriting, Yogyakarta : Bio Genesis Cetakan 1.

Diah, A.S. 2015. Hidroponik Wick System. Jakarta: Agromedia Pustaka.

https://mitalom.com/cara-menanam-cabe-hidroponik-sistem-wick

https://kutanam.com/cara-menanam-cabe-dengan-teknik-hidroponik/

http://cybex.pertanian.go.id/mobile/artikel/71851/Cara-Menanam-Cabe-Hidroponik-Menggunakan-Sistem-Wick—Sumbu-Menggunakan-Wadah-Bekas/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *