Tanaman Bunga Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis)

Gambar 1. Morfologi Tanaman Bunga Sepatu (Sumber: https://kitchenuhmaykoosib.com/bagian-bagian-bunga/ )

Tanaman bunga sepatu atau Hibiscus rosa-sinensis adalah salah satu spesies dari Malvaceace yang berfungsi sebagai tanaman hias, bahan pewarna makanan dan sebagai obat. Tanaman ini lebih dikenal sebagai tanaman hias karena memiliki bentuk dan warna yang indah dan memiliki berbagai karakter mahkota yang beranekaragam. Selain sebagai tanaman hias biasanya masyarakat Indonesia memanfaatkan H. rosa-sinensis untuk penyubur rambut dan juga sebagai pagar hidup untuk mempercantik halaman rumah. Bagian yang biasa dimanfaatkan sebagai obat yaitu pada daunnya biasa digunakan sebagai pencahar, lalu daun dan kulit batang digunakan untuk salah satu obat penggugur kandungan, tangkai sari untuk diuretik dalam mengatasi gangguan ginjal. Bunganya digunakan sebagai obat luka bakar, diabetes dan gangguan mestruasi, lalu daun dan bunganya digunakan untuk ulcer dan juga salah satu obat yang dapat mengatasi penyakit kanker. Keragaman warna bunga sepatu ini memiliki 4 warna yaitu kuning, merah, pink dan jingga. Bunga sepatu ini hanya bisa bertahan segar dalam sehari mulai pagi hari hingga sore, meskipun bunga ini tidak bertahan lama tetapi tanaman ini sering berbunga (cepat) terutama dengan pencahayaan matahari yang cukup memadai dan penyiraman yang rutin dan dikatakan pula tanaman hias ini memiliki reproduksi paling sempurna karena memiliki serbuk sari dan putik pada mahkota tanaman tersebut. Bunga sepatu memiliki manfaat yang banyak, hal ini bisa dibudidayakan pada sistem hidroponik dan fertigasi dengan melihat peluang untuk dibudidayakan secara konvensioal rumah tangga.

Sistem fertigasi yang digunakan dapat dilihat dari morfologi tanaman yang akan dijadikan budidaya. Morfologi Bunga sepatu memiliki banyak sekali literaturnya tetapi data yang saya pergunakan yaitu dari buku Flora (van steeni 2006:281) mengenai Hibiscus rosa-sinensis. Karakter morfologi H. rosa-sinensis merupakan tanaman perdu dengan tinggi 1-4 m, dengan daun bertangkai yang memiliki beberapa bentuk yaitu bentuk bulat telur (ovatus), meruncing (acuminatus), kebanyakan tidak berlekuk, tepi daun bergrigi kasar, dengan ujung daun yang runcing. Pangkal bertulang dengan daun menjari dan daun penumpu bentuk garis. Tangkai bunga beruas dan bunga yang dapat berdiri sendiri, dengan topangan kayu atau sedikit menggantung. Selanjutnya terdapat epicalyx 6-9 buah dengan bentuk lanset garis dan biasanya lebih pendek dari pada calyx. Calyx dengan bentuk tabung setengah bercangap lima. Corolla dengan bentuk bulat telur berbalik seperti baji memiliki panjang 5.5-8.5 cm. Bunga sepatu merah dengan noda pada pangkal lalu bunga berwarna jingga atau kuning. Staminal column sama panjang dengan mahkota bunga. Batangnya berbentuk bulat, berkayu, keras dan berdiameter ±9 cm ketika masih muda batangnya berwarna ungu setelah tua menjadi putih kotor dengan panjang daun antara 5-10 cm dan lebar daun antara 3.5-7 cm. Bunganya mengeluarkan bau harum dan dapat berbunga sepanjang tahun. Ciri-ciri bunga H. rosa-sinensis yaitu tipe bunga single dan double. Bunga tunggal dengan bentuk terompet dan kelopak lonceng dengan mahkota yang terdiri dari 15-20 daun mahkota berwarna merah muda dengan benang sari yang banyak dan tangkai sari berwarna merah, lalu kepala sari berwarna kuning dan putik berbentuk tabung. Bunga ini memiliki corolla dengan lima petal (petal pentamerous) berlobus yang saling terpisah (corolla polypetalus) dan memiliki 60-70 buah stamen. Bunga double memiliki petal pentamerous berbentuk lingkaran dan strukturnya seperti petal. Jumlah stamen yang dimiliki oleh bunga double adalah 10-40 buah. Tipe bunga yang telah disebutkan mempunyai diameter bunga ketika mekar sebesar 7.5-15cm. Buahnya kecil lonjong dengan diameter ±4 mm ketika masih muda berwarna putih dan setelah tua berwarna coklat. Sedangkan bijinya pipih dan berwarna putih.

Gambar 2. Sistem Dutch Bucket (Sumber: https://hidrafarm.blogspot.com/2016/09/cara-kerja-hidroponik-sistem-dutch.html?m=1 )

 

Selanjutnya morfologi yang sudah diketahui maka dapat menentukan budidaya dengan sistem hidroponik yang cocok seperti Dutch Bucket menggunakan irigasi tetes. Sistem ini dipilih untuk budidaya bunga sepatu karena dapat menjamin pertumbungan akar yang secara lebih besar dan luas sehingg cocok untuk zona perakaran yang cukup lebar dan luas. Penggunaan sistem ini alasan lainnya karena tidak membutuhkan ruang yang begitu luas untuk instalasinya dan bisa menyesuaikan dengan lahan yang tersedia. Selain itu bahan dari pembuatan sistem ini instalasinya mudah didapatkan baik dalam kondisi baru maupun bekas pakai sehingga dapat berkontribusi untuk mengurangi timbulan sampah lingkungan. Dutch Bucket System metode ini pertama kali di kenalkan di negara Belanda biasa digunakan untuk pertanian komersial seperti menanam bunga mawar, tomat, dan timun. Sistem ini merupakan budidaya hidroponik yang memberikan nutrisi dalam bentuk tetesan yang menetes secara terus-menerus pada media tanaman dan pemberian nutrisi ini akan dialirkan melalui pipa pembuangan dan dikembalikan pada bak penampung nutrisi untuk dapat digunakan kembali. Nutrisi air yang mengalir ini akan masuk ke dalam ember melalui pipa inlet, kemudian embertersebut dilengkapi dengan pipa outlet yang bertujuan untuk mengembalikan larutan nutrisi kedalam tandon dan apabila tandon melampaui batas maka air tersebut tidak akan mengalir ke tanaman yang menjadikan sistem ini tidak akan mengalami kelebihan air dan nutrisi, karena bunga sepatu akan tumbuh optimal jika tidak digenangi banyak air. Teknik bercocok tanam hidroponik ini ditekankan pada sirkulasi dan efesiensi penggunaan air. Cara kerja sistem dutch bucket mirip dengan sistem NFT tetapi berbeda instalasinya saja. Hidroponik dengan menggunakan sistem dutch bucket membutuhkan beberapa peralatan pendukung diantara lain seperti ember atau wadah (bucket), inlet pipa, outlet pipa, tandon dan pompa. Kemudian menggunakan media tanam seperti hidroton, arang sekam, perlite, serbuk kelapa, cocopeat batu apung atau zeolit. Cocopeat dan arang sekam dicampurkan lalu diletakkan pada lapisan bawah sedangkan zeolit diletakan pada bagian atasnya. Bucket yang disusun tidak terisi penuh dengan media tanam, tetapi hanya seperempat bagian saja. Beberapa kelebihan dalam menggunakan sistem ini diantara lain dapat diaplikasikan baik skala kecil (hobi) maupun skala besar (skala budidaya), sistemnya sederhana dan relatif murah karena bisa dibuat dengan barang-barang bekas. Bunga sepatu akan subur apabila karena sirkulasi air dan nutrisi yang memungkinkan terdapat banyak oksigen dilarutan nutrisi tersebut. Hal lain yang harus diperhatikan dalam penerapan dutch bucket sistem adalah pemakaian listrik karena sistem memerlukan aliran listrik yang stabil dan apa bila berada pada wilayah dengan kondisi aliran listrik yang tidak stabil maka akan banyak menemui kesulitan dalam penerapan sistem ini. Hal ini dapat dicegah dengan solusi dalam hal pasokan listrik dengan pemanfaatan tenaga surya yang disimpan.

Setelah mengetahui morfologi tanaman bunga sepatu dan dapat dibudidayakan dengan sistem hidroponik dan fertigasi metode dutch bucket, sehingga akan lebih mudah diterapkan untuk budidaya rumahan ataupun budidaya berskala besar. Bunga sepatu ini merupakan bunga yang sempurna karena memiliki alat reproduksi dalam satu bagian bunga yaitu putik dan benang sari. Proses penyerbukan dan pembuaannya secara mandiri tidak bergantung pada faktor binatang tetapi bergantung pada faktor angin. Setelah melalui proses penyerbukan dan perawatan tanaman bunga sepatu maka bunga sepatu akan bermekaran dengan sendirinya dan perawatan bunga ini harus selalu dipantau agar terhindar dari hama. Pasca panen sebuah tanaman bunga sepatu bisa dijadikan tanaman hias dengan harga jual yang menjanjikan, pemanfaatan sebagai pewarna makanan, bahan kosmetik, dan bahan pendukung obat lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Aryanti B dan Osman F. 1988. Hibiscus. Penebar Swadaya, Jakarta.

Fitri, W dan Cordova H. 2015. Implementasi Kontrol Logika Fuzzy(KLF) dalam pengendalian kadar keasaman(pH) Hidroponik sistem Dutch Bucket pada Tomat Cherry. Jurnal Teknik ITS Vol.4. No.1 ISSN: 2337-3539. Institut Teknologi Sepuluh November: Surabaya.

Hajar, S. 2011. Studi Variasi morfologi dan anatomi daun serta jumlah kromosom Hibiscus ros-sinensis L. Departemen Biologi FMIPA, Universitas Indonesia: Jakarta.

Steenis, V. 2006. Flora. Cetakan Kelima. Jakarta: PT. Pradya Paramita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *