Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonicum)

Gambar 1. Bawang Merah (Allium ascalonicum) (Sumber: Red Cipollini Onions Information, Recipes and Facts (specialtyproduce.com), 2019)

Tanaman bawang merah (Allium ascalonicum) termasuk kedalam kelompok tanaman umbi – umbian yang juga merupakan jenis tanaman holtikultura serta masuk kedalam kategori komoditas sayuran (Irfan,2020). Penentuan karakteristik morfologi tanaman bawang merah dimulai dari proses pembibitan hingga bawang merah siap untuk dipanen. Untuk menghasilkan produk pasca panen yang baik, proses penanaman harus dilakukan dengan teknik dan metode yang sesuai. Tanaman bawang merah dapat ditanam dengan metode konfensional maupun secara hidroponik. Budidaya tanaman bawang merah secara konfensional umumnya diperbanyak secara vegetatif sehingga karakteristik morfologi nya akan sama dengan induknya, namun apabila bawang merah akan dibudidaya dengan teknik penanaman hidroponik bibit yang digunakan dapat berupa umbi yang sudah tua, maupun bibit tunggal.  Proses identifikasi morfologi tanaman bawang merah dilakukan untuk mengetahui metode penanaman yang baik bagi tanaman tersebut, maka morfologi tanaman bawang merah dapat diuraikan menjadi:

a. Biji tanaman bawang merah

Biji yang dimiliki oleh tanaman bawang merah didapatkan dari umbi bawang merah yang sudah berumur cukup tua namun masih memiliki kualitas yang baik. Umbi yang sudah dibuang kulitnya kemudian akan diberi perlakuan khusus yaitu dengan menyimpannya pada cold storage dengan suhu 10oC, proses ini disebut dengan vernalisasi. Setelah dilakukan proses vernalisasi, benih umbi tersebut direndam dengan larutan BAP. Setelah tumbuh kuntum bunga pada benih biji, kuntum tersebut tidak boleh langsung dikeringkan namun harus dilayukan selama 3 hari, baru kemudian disimpan pada gudang pengering selama 4 hari. Biji yang telah kering akan dirontokan dan dipilah sesuai dengan kualitasnya (Deliana, 2019).

b.  Akar tanaman bawang merah

Gambar 2. Akar, Batang, dan Umbi Bawang Merah

(Sumber: Red Burgundy Onion Plants for Sale | Free Shipping (growjoy.com) , 2020)

Akar dari tanaman bawang merah berukuran pendek dan termasuk kedalam jenis akar serabut yang digunakan untuk menopang bagian tubuh bawang merah lainnya. Bentuk dari akar bawang merah cenderung tipis dengan kenampakan yang menyerupai cakram dan semu. Akar semu tersebut akan mengalami perubahan fungsi menjadi umbi lapis, sehingga akar pada tanaman bawang merah merupakan tempat melekatnya tunas. Selain akar semu, bawang merah juga memiliki akar yang tumbuh tidak pada tempatnya atau disebut dengan akar adventif. Akar adfentif ini akan terus tumbuh pada saat bawang merah berada pada masa pertumbuhan, namun akan mati sedikit demi sedikit ketika bawang merah telah berumur dewasa (Fajjriyah, 2017).

c. Batang tanaman bawang merah

Batang tanaman bawang merah terlapisi oleh sekelompok daun yang saling berlilitan serta bersifat semu. Kelopak daun bagian luar akan mengering dan membungkus bagian dalamnya yang cenderung membengkak. Bagian yang membengkang tersebut akan mengembang dan membentuk umbi lapis. Cadangan makanan akan terbentuk pada bagian yang membengkak, dimana cadangan makanan tersebut akan digunakan oleh bawang merah dari mulai tumbuh tunas hingga keluar akar. Sedangkan untuk bagian atas dari umbi yang membengkak akan tetap saling membungkus namun ukurannya akan mengecil dan terbentuk batang semu (Saputra, 2018).

d. Daun tanaman bawang merah

Gambar 3. Daun Bawang Merah

(Sumber: Manfaat dan Khasiat: Khasiat Bawang Merah (sumbersumbermanfaat.blogspot.com), 2011)

Daun pada tanaman bawang merah memiliki morfologi yang unik, jika umumnya bagian pada daun akan tersusun atas helaian daun serta tangkai daun, maka pada bawang merah hanya terbentuk helai daun yang bulat memanjang serta berukuran kecil dan menyerupai pipa. Ujung atas daun pada tanaman ini bersifat runcing, sedangkan pada ujung bawahnya cenderung lebih lebar serta menggunuk. Jika dinilai dari bentuk dan khasiatnya daun pada tanaman bawang merah akan terlihat sama dengan daun kucai, hal yang dapat membedakannya yaitu aroma dari ketiga jenis daun tersebut, dimana aroma dari daun kucai akan lebih menyengat serta menyerupai aroma dari bawang putih,  sedangkan pada daun bawang merah aroma yang dihasilkan tidak terlalu menyengat.

e. Bunga tanaman bawang merah

Gambar 4. Bunga Bawang Merah

(Sumber: Menguak Fakta Bunga Bawang untuk Mencegah Berbagai Kanker – CakapCakap, 2018)

Bunga pada tanaman bawang merah terbentuk dari hasil penyerbukan yang dilakukan oleh serangga maupun secara mandiri. Bunga berbentuk seperti payung dengan jumlah kuntum dapat lebih dari 100 kuntum. Warna dari helai mahkotanya yaitu berwarna hijau pada kelopak luarnya dan kuning pada kelopak dalamnya, ini merupakan serbuk sari dari bunga tanaman bawang merah. Ketika bunga pada tanaman bawang merah sedang mekar, akan muncul 4 – 7 helai mahkota bunga, akan tetapi bunga tersebut akan gugur dengan sendirinya ketika umbi mulai tumbuh dewasa.

f. Umbi tanaman bawang merah

Bagian umbi pada bawang merah memiliki bentuk berbeda – beda sesuai dengan jenis tanaman, ada yang berbentuk bulat, lonjong, maupun pipih dengan lapisan kulit tipis yang membingkai bagian daging dari umbi tersebut. setiap bentuk memiliki tingkat ketebalan kulit yang yang berbeda – beda, selain itu warna pada bagian umbinya pun akan berbeda. Pada bawang merah sumenep, warna dari umbi akan mengarah pada warna ungu, sedangkan pada bawang merah tahiland warna pada umbi cenderung lebih merah, perbedaan lain pun akan terlihat pada jenis bawang merah lainnya seperti bawang merah bima, moujung, mentes, kuning dan lain sebagainya. Selain warna, diameter pada setiap jenis umbi bawang merah pun akan berbeda, contohnya pada bawang merah jenis mentes, rata – rata tinggi yang dihasilkan berkiasar antara 1,5 – 2,5 cm serta diameternya berkisar antara 1 – 2,2 cm. Bagian bawah dari umbi ditumbuhi tunas yang dilapisi oleh akar, dimana pada tunas ini akan tumbuh tanaman baru.   (Saputra, 2018).

Tanaman bawang merah dapat tumbuh pada dataran rendah dengan ketinggian 0 – 400 mdpl, namun juga dapat tumbuh pada dataran tinggi dengan ketinggian tidak lebih dari 1200 mdpl. Budidaya tanaman bawang merah dapat dilakukan pada daerah yang memiliki iklim tropis dengan temperature udara yang cenderung panas serta tingkat kelembaban yang tinggi. Namun, ada permasalahan yang dihadapi ketika akan melakukan budidaya tanaman bawang merah, meskipun tanah yang digunakan tidak boleh kering dan harus gembur, akan tetapi bawang merah lebih cocok ditanam bukan pada musim penghujan karena bawang merah umumnya akan tumbuh dengan baik pada saat matahari bersinar sepanjang hari. Melihat dari permasalahan tersebut menjadikan harga jual bawang merah akan meningkat jika musim penghujan datang karena banyaknya produk yang gagal panen. Sehingga metode penanaman secara hidroponik dinilai cukup efektif dalam pembudidayaan tanaman bawang merah.

Metode penanaman hidroponik yang dilakukan untuk budidaya tanaman bawang merah dapat dilakukan dengan berbagai macam teknik. Teknik yang cukup umum ditemui adalah dengan menggunakan sistem pasang surut (ebb and flow) dan sistem hidroponik irigasi tetes. Melihat dari kondisi bawang merah yang membutuhkan suhu panas dan penyinaran yang panjang, tanaman bawang merah sangat cocok dibudidaya pada greenhouse. Kunci utama dari keberhasilan sistem hidroponik adalah dari nutrisi yang diberikannya, sehingga dengan media tanam dan teknik apapun budidaya dilakukan apabila nutrisi yang diberikan sudah baik maka hasil penanaman akan baik pula.

Penanaman dengan sistem pasang surut (ebb and flow), dapat menggunakan berbagai jenis media tanam seperti pasir, cocopeat, arang sekam dan lain sebagainya. Selain membutuhkan media tanam, penggunaan air juga dinilai paling membantu untuk proses pertumbuhan bawang merah. Larutan nutrisi akan disalurkan oleh pipa inlet dan outlet kepada akar tanaman, kemudian kelebihan air akan dialirkan menuju bak penampung. Larutan nutrisi tersebut diatur oleh sistem kendali, sehingga akan tersampaikan secara keseluruhan pada tanaman. Metode penanaman dengan sistem ini cukup sederhana, bak tanam mula – mula diberi media tanam, kemudian pada media tanam diberikan bibit bawang merah yang telah melalui tahap seleksi sehingga bibit yang digunakan merupakan bibit terbaik. Air serta larutan nutrisi akan dialirkan pada instalasi fertigasi kemudian kelebihan air akan tertampung pada bak penampung. Proses ini terus berlangsung hingga tanaman bawang merah siap dipanen pada usia 60 – 65 hari.

Gambar 5. Mekanisme Sistem Irigasi Tetes

(Sumber: Sistem Drip atau Irigasi Tetes Hidroponik | Bibit Online. 2020)

Untuk budidaya yang dilakukan pada greenhouse, umumnya media tanam yang digunakan dapat berupa pipa, ataupun bak tanam yang akan diisikan dengan pasir, cocopeat, arang sekam ataupun media lainnya yang mendukung. Umumnya, pada sistem ini teknik yang digunakan yaitu berupa hidroponik drip sistem atau irigasi tetes. Sistem irigasi ini memanfaatkan aliran nutrisi pada akar tanaman yang diatur dengan waktu. Media tanam yang digunakan harus dipastikan bersih dan terbebas dari segala jenis kontaminasi. Setelah media tanam dipastikan terbebas dari kotoran, kemudian akan diberi nutrisi hidroponik sesuai dengan dosis yang dianjurkan kemudian akan diinkubasi selama kurang lebih 14 hari. Selesai proses inkubasi, penanaman bibit akan dilakukan, penanaman dilakukan dengan menggunakan bibit terbaik yang telah melalui proses seleksi. Setelah ditanam, bibit akan dikontrol pertumbuhannya dengan tetap memperhatikan nutrisi dan kebutuhan air yang diperlukan.

Tidak semua bibit akan berkembang, jika terdapat bibit yang terlihat tidak akan tumbuh dikarenakan terserang hama atau penyakit, bibit tersebut akan melalui proses penyulaman. Proses penyulaman dilakukan setelah 1 minggu bibit ditanam, kemudian akan dikendalikan dengan penyemprotan secara intensif. Pemberian nutrisi terus dilakukan selama proses berlangsung. Pada sistem ini, tanaman bawang merah tidak akan kekurangan oksigen karena akar tidak sampai terendam dengan air, selain itu temperature pada greenhouse dapat diatur sehingga selalu dalam suhu hangat. Pemanenan dilakukan setelah bawang merah memiliki ciri morfologi seperti daun yang menguning, batang yang lunak ketika disentuh serta bagian umbi yang mulai layu. Teknik budidaya tanaman bawang merah secara hidroponik ini mudah dilakukan oleh semua kalangan, selain akan memperoleh hasil tanam yang cenderung lebih baik, bertanam dengan sistem hidroponik juga dapat dilakukan sepanjang tahun tanpa terganggu oleh musim.

 

DAFTAR PUSTAKA

Fajjriya, N. 2017. Kiat Sukses Budidaya Bawang Merah. Yogyakarta: Bio Genesis

Saputra, E. P. 2018. PENGARUH PUPUK ORGANIK LIMBAH KULIT KOPI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BAWANG MERAH (Doctoral dissertation, Universitas Mercu Buana Yogyakarta).

Deliana, S. 2019. Teknologi Budidaya Bawang Merah dengan Biji. Terdapat pada cybex.pertanian.go.id. Diakses pada 24 Desember 2020, Pukul 21.10 WIB.

Irfan, Sp. 2020. Budidaya Bawang Merah. Terdapat pada cybex.pertanian.go.id. Diakses pada 24 Desember 2020, Pukul 18.30 WIB.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *