Takakura Komposter Murah

Sampah menjadi momok menakutkan untuk kehidupan masa depan. Hal ini karena sampah di bumi kian bertambah seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk sedangkan pengolahannya tidak secepat penambahanya, dari ketidakseimbangan tersebut bisa menghasilkan dampak buruk bagi manusia itu sendiri. Kini perlu ada resolusi pemikiran oleh manusia, sampah yang dulu dianggap sebelah mata kini perlu ada perhatian lebih.

Di Indonesia sendiri berdasarkan data Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2019, jumlah timbunan sampah di Indonesia secara nasional yaitu sebanyak 175.000 ton/hari atau bisa dikatakan sebesar 64 juta ton/tahun. Sampah tersebut sebagian besar adalah sampah organik yaitu sebesar 50%, sampah plastik sebesar 15%, sampah kertas 10% dan 25% lagi terdiri dari sampah logam, karet, kain, kaca, dan sebagainya. Sumbernya berasal dari limbah rumah tangga sebesar 36%, limbah perniagaan atau jual beli 38% dan 26% lagi dari perkantoran dan fasilitas publik.

Problem utama yang saat ini menyulitkan pengelola TPA yaitu sampah organik dari rumah tangga karena sampah tersebut tercampur dengan anorganik sehingga membuat kesulitan para pengurus TPA untuk mengolah sampah-sampah tersebut, namun disisi lain masyarakat sendiri masih banyak yang belum mengerti cara pengolahan sampah organik tersebut karena terlalu sulit, rumit dan mahal. Maka dari itu untuk menyelesaikan problem tersebut saya menyarankan untuk mensosialisasikan metode pengolahan sampah organik yang telah di buat oleh Prof.Koji Takakura, seorang koordinator dari Wakamatsu Environment Research Institute, Jepang. Metode tersebut diberi nama Takakura.

Sumber : www.caritaslk.org

Prof. Koji Takakura

 

Apa Itu Takakura ?

Takakura Home Method Composting adalah suatu metode pengomposan sampah organik dari limbah dapur rumah tangga dengan menggunakan ranjang atau wadah dari parabot rumah yang mudah di dapatkan. Metode ini hasil penemuan dari Koji Takakura dalam kerjasama riset antara Pusat Pemberdayaan Komunitas Perkotaan (Pusdakota) bersama Universitas Surabaya, Kitakyusu International Techno-cooperative Association (KITA) Jepang, Pemerintah Kota Surabaya dan Pemerintahan Kota Kitakyusu, Jepang. Penemuan Komposter Takakura ini berawal dari pencarian ide sederhana yang mudah dipahami namun bisa menyelesaikan masalah sampah yang konkret. Alhasil di temukan lah Komposter Takakura ini dari barang-barang yang mudah di dapatkan, caranya sangat sederhana tidak membutuhkan banyak tempat, prosesnya cepat, bisa dikerjakan oleh individu dan tidak berbbau. Metode Takakura ini diyakini bisa mengurangi timbunan sampah yang diangkut ke tempat pengolahan akhir (TPA). Penemuan Takakura ini telah dipatenkan sebagai Karya Cipta sehingga memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) No. P00200600206.

 

Gimana Cara Pembuatannya ?

Koji Takakura memberi cara untuk membuat komposter sederhana tersebut yaitu, sebagai berikut :

  1. Menyiapkan Keranjang berlubang yang biasanya di pakai untuk wadah pakaian atau bisa menggunakan container box. Keranjang tersebut lalu ditempatkan pada tempat yang teduh, tidak kena matahari langsung ataupun hujan serta memiliki sirkulasi udara yang baik;
  2. Didasar keranjang tersebut diletakkan bantal sekam (bantal berisi sekam) yang berfungsi sebagai menyerap air, mengurangi bau, dan mengontrol sirkulasi udara dengan tujuan mikroba pada ranjang nanti berkembang dengan baik;
  3. Setelah itu lapisi bagian dalam keranjang sekelilingnya dengan kardus dan ikat dengan tali;
  4. Isi keranjang dengan stater berupa kompos jadi sebanyak 8 kg atau setebal 5 cm. Kompos digunakan sebagai stater karena didalamnya terkandung mikroba pengurai yang sudah jadi;
  5. Masukan samapah organik kedalam keranjang Takakura. Sebaiknya sampah sebelum dimasukan ke keranjang dipotong kecil-kecil terlebih dahulu, semakin kecil ukuran maka akan cepat terurai. Lalu di campur secara perlahan agar tidak merusak kardus. Untuk mempercepat proses bisaditambahkan EM4 dengan takaran 1 gayung air + 1 tutup botol EM4, lalu semprotkan dengan sprayer. Proses pemasukan sampah organik ini bisa dilakukan setiap hari secara berulang;
  6. Masukan bantal sekam pentup, kemudian tutup keranjang dengan kain hitam berpori dan tutup keranjang dengan rapat agar serangga tidak masuk;
  7. Untuk memastikan proses pengomposan berjalan lancar bisa di uji dengan meletakkan tangan 2 cm dari kompos, apabila hangat dapat dipastikan pengomposan bekerja dengan baik, namun apabila tidak hangat maka lakukan percikan air ke wadah untuk memicu microorgnisme bekerja;
  8. Untuk perawatan jangka panjang keranjang tidak harus di isi langsung penuh, masukan seadanya secara rutin hingga penuh. Sampah yang baru difermentasi dalam 1 hingga 2 hari. Lakukan kegiatan tersebut hingga kompos terisi penuh biasanya selama 40-60 hari;
  9. Ciri -ciri sampah organik menjadi kompos yaitu bahan telah berwarna hitam berbentuk seperti tanah, tidak berbau, dan tidak becek.
Sumber : paktanidigital.com

Gimana Meningkatkan Kualitas Takakura ?

Untuk meningkatkan mutu kompos maka yang perlu diperhatikan adalah rasio C/N . Kompos yang baik dan matang memiliki rasio sebesar C/N <20, apabila labih tinggi atau belum <20 maka kompos perlu waktu dekomposisi lebih lama lagi (Isroi, 2008).

Dalam proses pengomposan C/N rasio bisa mengalami penurunan karena saat proses dekomposisi bahan-bahan organic yang terdiri dari unsur CHON pada C,H,O berubah menjadi CO2 dan H2O serta pada unsur N berubah menjadi nitrit (NO2) dan Nitrat (NO3), yang ditulis dalam reaksi sebaga berikut :

Gula (CH2O)  (selulosa) + O2     CO2 + H2O + E

N organik (protein) → NH4 → NO2 → NO3 + E

Dalam reaksi ini CO2 dan H2O akan menguap bersama udara yang diakarenakan berubahnya suhupada proses pengomposan, sedangkan Nitrat akan berada di dalam tubuh bakteri hingga bakteri tersebut mati. Dari reaksi itu pun diketahui  kandungan C menurun sedangkan N tetap maka nilai C/N rasio setelah pengomposan akan menurun (Diyan, 2010).

Dalam pengomposan Takakura untuk mempercepat dan memperbaiki C/N bisa dilakukan dengan menambahkan EM 4. Hal ini berdasarkan hasil uji coba pengaruh pemupukan organik Takakura dengan penambahan EM4 dan produksi tanaman kacang hijau menyimpulkan bahwa pupuk organic Takakura yang ditambakan EM4 menghasilkan warna hitam menyerupai tanah, teksturnya remah halus, baunya seperti tanah, dan memiliki rasio C/N sebesar 20,61 sedangkan tanpa menambahkan EM4 pupuk berwarna lebih coklat, memilki tekstur remah kasar, dan memiliki rasio C/N sebesar 37,18 (Zuhrufah.M.I dan Haryanti .S., 2015).

 

Berapa Biaya Pembuatan Takakura ?

Biaya pembuatan Komposter Takakura ini cukup murah, berikut hasil survey yang saya lakukan di beberapa pasar dan toko pertanian di daerah Bogor, Jawa Barat :

  • Keranjang wadah cucian  : Rp 15.000,-
  • Kardus Bekas                   : Rp 500,-
  • 1 karung sekam bakar      : Rp 20.000,-
  • Kompos 15 kg                   : Rp 20.000,-
  • Kain bekas                        : –
  • Sampah organik                : –
  • Total                                  :  Rp 55.500,-

Dari modal seharga Rp 55.500,- ini, anda bisa membantu pemerintah dalam pengolahan sampah, bisa membantu mengurangi pencemaran, dan bernilai ekonomi karena bisa membuat pupuk organik sendiri yang bisa dijual Rp 15.000 – Rp 20.000 /15 kg.

 

Sumber Refrensi :


KLHK. (2019). Gerakan Nasional Pilah Sampah Dari Rumah Resmi Diluncurkan. Diakses pada 15 Oktober 2020, dari http://ppid.menlhk.go.id/siaran_pers/browse/2100

Isroi. (2008). Kompos. Bogor : Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia.

Diyan, H. (2010). Mikrobiologi dan Teknik Pengomposan. www.wordpress.com. Diakses pada 15 Oktober 2020.

Zuhrufah, Munifatul Izzati, Sri Haryanti.(2015). Pengaruh Pemupukan Organik Takakura dengan Penambahan EM4 terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Kacang Hijau (Phaseolus radiatus L.). Jurnal Biologi, Volume 4 No 1, Januari 2015 Hal. 13-35

Sumber Gambar :

www.caritaslk.org

paktanidigital.com

Terimakasih Kepada :

Prof. KOJI TAKAKURA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *