Tanaman Daun Peppermint (Mentha Piperita)

(sumber: http://hidroponikpedia.com/cara-mudah-stek-mint-hidroponik/ , 2018)

Tanaman peppermint memiliki nama latin yaitu Mentha piperita. Tanaman ini berasal dari hasil persilangan antara Mentha spicata (spearmint) dan Mentha aquatica (watermint). Tanaman ini memiliki asal muasal dari daratan Eropa dan Amerika Utara. Tanaman peppermint merupakkan tanaman yang masuk ke dalam klasifikasi Lamiaceace dan juga sebagai tanaman perdu tahunan (perennial). Tinggi tanaman ini tidak lebih dari 90 cm. Menurut Hadipoentyanti (2010), Tanaman menthe berkembang biak dengan cara vegetatif.

 

Mentha piperita L. bersifat absolute serta menghabiskan waktu 16 jam penyinaran agar dapat berbunga, ditanam didaerah beriklim sedang seperti Amerika serikat, Eropa, Australia, dapat tumbuh pada ketinggian 4000-7000 kaki (1200-2100 m) diatas permukaan laut. Menurut Hadipoentyanti (2010), Tanaman ini dapat dikembangkan di daerah pegunungan dengan ketinggian lebih dari 900 meter diatas permukaan laut. Hal ini disebabkan melihat suhu yang cukup besar pada wilayah di Indonesia.

Tanaman peppermint tentu bukan tanaman yang asing dan cukup dikenal oleh banyak orang jika hanya melihat dari bentuk luarnya, karena seringkali tanaman ini dijadikan makanan atau minuman. Pada dasarnya tanaman ini tidak memperlukan proses yang panjang serta memakan waktu yang lama dalam pertumbuhannya. Tanaman peppermint (Mentha piperita L.) ini berasal dari famili Labiaceae, tumbuh didaerah yang lembab pada dataran tinggi dan tanah yang mengandung bahan organic. Selain itu, tanaman ini merupakan tanaman yang termasuk kedalam tanaman tahunan atau bisa dikenal dengan istilah rizhomatosa, tanaman ini memiliki drainase yang baik dan pH sekitar 6-7, tanaman ini juga memerlukan pencahayaan yang cukup sehingga dapat menjaga kualitas kandungan minyak yang di produksi.

Read More …

Tanaman Jagung (Zea mays L)

Gambar 1. Tanaman Jagung (Sumber:  https://agrotek.id/klasifikasi-dan-morfologi-tanaman-jagung/, 2019)

Kingdom : Plantae

Divisio : Angiospermae

Kelas : Monocotyledoneae

Ordo : Poales

Famili : Poaceae

Genus : Zea

Spesies : Zea mays L. 

Jagung (Zea mays L) merupakan tanaman pangan yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia ataupun hewan. Jagung merupakan tanaman pangan terpenting didunia selain padi dan gandum. Pada sebagian negara jagung merupakan pangan pokok, seperti pada penduduk Afrika dan beberapa daerah di Indonesia. Beberapa teori mengatakan jagung didomestikasi pertama kali oleh peradaban lembah Tehucan, Meksiko.  Jagung berperan sebagai sumber karbohidrat dan protein, dimana tanaman ini memiliki banyak kegunaan dan hampir seluruh bagian pada tanaman jagung dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam keperluan. Contoh kegunaan dari tanaman jagung adalah sebagai pakan ternak, pupuk kompos, bahan pembuatan mulsa, bahan bakar briket, bahan bakar biofuel, bahan baku industri kerajinan, serta bahan baku industri pangan. Salah satu kegunaan tanaman jagung sebagai bahan baku industri pangan membuat tanaman jagung berperan penting dalam pengembangan industri. Selain itu, kegunaan lain dari tanaman jagung yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar biofuel dikarenakan tanaman jagung memiliki kadar pati yang tinggi, yaitu kurang lebih 70%.

Read More …

Tanaman Kangkung (Ipomea aquatica forsk l.)

Gambar 1. Kangkung (Sumber: https://batakindonesia.com/di-balik-seikat-sayur-kangkung/ )

Tanaman kangkung (Ipomea aquatica forsk l.) adalah tanaman hasil pertanian yang merupakan salah satu tanaman yang asli tropis.

Klasifikasi tanamaan kangkung adalah sebagai berikut:

Kingdom         : Plantae, Sub Kingdom : Viridiplantae, Infra Kingdom : Streptophyta, Super Divisi    : Embryophyta, Divisi: Tracheophyta, Sub Divisi       : Spermatophytina, Kelas               : Magnoliopsida, Ordo                : Solaneles, Famili: Convolvulaceae, Genus: Ipomea L, Spesies : Ipomea aquatic Foresk

 

Read More …

Tanaman Semangka “Citrullus Lanatus”

Gambar 1. Buah Semangka (Sumber: https://www.pertanianku.com/mengenal-asal-usul-semangka/ , 2016)

Semangka adalah suatu tanaman buah yang berasal dari Afrika dengan iklim sub tropis dan biasanya tumbuh di daerah kering. Semangka merupakan tumbuhan yang merambat dan buahnya memiliki kandungan air yang sangat banyak sehingga mudah tumbuh di beberapa wilaya Indonesia. Jenis/varietas yang sering dibudidayakan di Indonesia yakni Semangka Lokal Pasuruan, Batu Sengkaling, dan Bojonegoro, Semangka impor tidak terlalu banyak diminati karena adanya perbedaan harga dibanding semangka lokal. Beberapa jenis varietas tersebut yang hanya populer dikalangan petani untuk ditanam. Manfaat dari tanaman semangka yakni untuk mendapatkan buah segar, namun jika semangka muda dapat dimanfaatkan untuk sayur-mayur begitupun daun semangka yang dapat dimanfaatkan untuk sayur-mayur. Kulit semangka dimanfaatkan untuk membuat asinan atau acar layaknya buat mentimun. Tanaman semangka adalah tanaman satu musim dan mimiliki beragam jenis diantaranya semangka merah, semangka kuning, semangka biji, dan semangka non biji. Klasifikasi semangja termasuk dalam famili (Cucurbitaceae) yakni labu-labuan. Berikut klasifikasi Tanaman semangka secara rinci menurut R, Indriani, 2017.

Read More …

Tanaman Okra (Abelmoschus esculentus L.)

http://cybex.pertanian.go.id/xms/files/1/201912/0bfe7ba176cc6e9f13d4996c4073c7a1.jpg Gambar 1. Batang Tanaman Okra (Sumber: http://cybex.pertanian.go.id/mobile/artikel/86786/BUDIDAYA-OKRA—TANAMAN-INDEGENOUS-DARI-KECPALANGGA/, 2019)

Tanaman okra merupakan sayuran yang bernama latin Abelmoschus esculentus (L.). Saat ini tanaman okra telah banyak dikembangkan di berbagai negara tropis maupun subtropis. Okra bisa dijadikan sayur, bisa direbus, digoreng, diiris, atau dimakan langsung. Kadar air buah okra muda 85,70%. Protein 8,30%; lemak 2,05%; 1,4% karbohidrat dan setiap 100 gram mengandung dan 38% kalori (Nadira dkk., 2009). Klasifikasi tanaman okra adalah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae, Divisi : Magnoliophyta, Kelas : Magnoliopsida, Ordo : Malvales, Famili : Malvaceae, Genus : Abelmoschus, Spesies: Abelmoschus esculentus

Hidroponik adalah suatu cara bercocok tanam dengan menggunakan air atau larutan mineral yang dibutuhkan oleh tumbuhan tanpa menggunakan media tanah.  Ada berbagai macam jenis atau sistem hidroponik diantaranya NFT singkatan dari Nutrient Film Technic, DFT atau deep flow technique, sistem rakit apung, sistem wick, sistem tetes atau drip, DBS atau dutch bucket system, sistem autopot, sistem pasang surut, dan yang lainnya. Dalam memilih sistem hidroponnik yang cocok untuk suatu tanaman, maka perlu mengetahui karakteristik serta morfologi tanaman yang akan dibudidayakan  karena akan mempengaruhi produktivitas hasilnya khususnya dalam artikel ini yaitu tanaman okra.

Read More …

Tanaman Pakcoy (brassica rapa L.)

Gambar 1. Biji Tanaman Pakcoy (sumber: https://m.andrafarm.com, 2020)

Pakcoy merupakan tanaman dari famili Brassicaceae pada kingdom Plantae, divisi Spermatophyta, kelas dicotyledonae, ordo rhoeadales, genus brassica jenis brassica rapa L. Pada abad ke-5 tanaman pakcoy (Brassica rapa) yang merupakan tanaman sayuran daun ditemukan di China dan dibudidayakan secara luas di China selatan, China pusat dan Taiwan. Saat ini budidaya tanaman Pakcoy telah banyak dikembangkan di seluruh dunia terutama di Filipina, Malaysia, Indonesia dan Thailand (Adiwilaga 2010).

Berikut ini merupakan morfologi tanaman pakcoy berdasarkan bagian-bagian penyusunnya.

Buah dan biji

Tanaman pakcoy memiliki buah berjenis polong memiliki dua daun buah disebut siliqua atau buah yang berasal dari dua bakal benih, memecah pada dua alur, yang selanjutnya menyisakan sekat. Buah pakcoy berwarna keputihan hingga kehijauan, berbentuk bulat hingga lonjong, pada setiap polong terdapat 2-8 butir biji di dalamnya. Biji tanaman ini mengkilap, memiliki bentuk yang kecil bulat, permukaannya licin, keras dan teksturnya agak sedikit berlendir. Pakcoy yang termasuk kedalam kelas dicotyledonae memiliki biji berkeping dua dengan biji berbentuk bulat kecil berwarna coklat tua hingga kehitaman. Perkecambahan dari biji pakcoy bersifat epigeal yang artinya proses keluarnya epikotil dan kotiledon dari biji yang diakibatkan karena pemanjangan hipokotil (Rukmana, 1994).

Read More …

Tanaman Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.)

 

Gambar 1. Tanaman Cabai Rawit (Sumber: https://agrotek.id/klasifikasi-dan-morfologi-tanaman-cabai-rawit/ , 2019)

Tanaman cabai rawit banyak dibudidayakan oleh masyarakat di belahan dunia, salah satunya Indonesia, digunakan oleh berbagai kalangan untuk memenuhi kebutuhan hidup karena bernilai ekonomis dan menguntungkan, seperti kebutuhan rumah tangga yang dijadikan sebagai bumbu masakan untuk penambah rasa pedas pada makanan, bahan baku industri makanan seperti sambal atau saus dan dalam bidang farmasi sebagai obat-obatan. Tanaman cabai rawit memiliki nama di setiap daerah, dalam bahasa sunda disebut dengan cengek. Selain mempunyai nilai ekonomis yang tinggi, cabai rawit pun memiliki banyak kandungan seperti karbohidrat, lemak, dan protein (Arifin, 2010). Mayoritas orang mengetahui cabai rawit hanya sebagai sayuran, padahal tanaman ini tergolong ke dalam sayuran buah.

Meskipun stereotype kebanyakan orang yang menyatakan bahwa buah itu biasanya berbentuk bulat dan rasanya yang manis, namun pada kenyataannya tidak selalu begitu dan untuk cabai rawit ini disebut buah karena dilihat dari karakteristik bentuknya yang terdapat biji di dalamnya. Budidaya cabai rawit ini bisa dilakukan secara konvensional yaitu benih ditanam di ladang atau berisikan tanah yang disimpan di dalam media polybag atau pot dan bisa juga dilakukan secara hidroponik yaitu tanpa media tanah, hanya memanfaatkan air dan menekankan nutrisi agar tanaman dapat tumbuh. Budidaya sistem hidroponik tanaman cabai rawit saat ini marak dilakukan oleh masyarakat urban atau perkotaan, terlebih lagi di masa pandemi yang mengharuskan melakukan pekerjaan di rumah (work from home) dan salah satu bentuk pertanian masa depan. Berdasarkan uraian di atas, penting untuk mengetahui cara budidaya tanaman cabai rawit menggunakan sistem hidroponik dan karakter morfologi tanaman itu sendiri sehingga dapat menghasilkan tanaman cabai rawit dengan kualitas yang baik. Adapun morfologi cabai rawit dapat diidentifikasikan sebagai berikut (Arifin, 2010):

Read More …

Tanaman Padi (Oryza Sativa L.)

Gambar 1. Morfologi Tanaman Padi (Sumber: http://hirupbagja.blogspot.com/2009/09/morfologi-tanaman-padi.html , 2009)

Tanaman padi (Oryza Sativa L.) termasuk dalam suku poaceae atau padi-padian, dan spesies O. sativa. Terlihat seperti gambar di atas, padi memiliki akar serabut dengan batang pendek yang terdiri dari rangkaian pelepah daun yang saling menopang satu sama lain dengan tegak. Urat daun padi sejajar dan bagian bunga tersusun secara majemuk. Buah pagi berbentuk lonjong dengan rata- rata ukuran sekitar 15 mm. Padi (Oryza Sativa L.)  merupakan komoditas utama di Indonesia, secara umum masyarakat Indonesia mengkonsumsi beras dari tanaman padi setiap harinya. Hal tersebut membuat para petani dituntut untuk terus memproduksi padi dalam jumlah besar tiap tahunnya. Badan Pusat Statistik menyatakan jumlah produksi padi pada tahun 2020 diperkirakan mencapai 55,16 juta ton GKG, jumlah tersebut meningkat sebanyak 1,02% dari tahun sebelumnya. Kondisi tersebut perlu dipertimbangkan mengingat kebutuhan beras yang berbanding lurus dengan jumlah penduduk di Indonesia yang terus meningkat dan jumlah lahan produktif yang semakin sempit karena banyaknya pembangunan tempat tinggal, penanaman padi memerlukan metode lain agar tetap bisa mengimbangi kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia. Salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan menanam padi dengan sistem hidroponik agar tetap bisa menanam padi dengan keterbatasan lahan pertanian.

Read More …

Tanaman Labu Kuning (Curcubita Moschata)

Gambar 1. Labu Kuning (Sumber: https://cdn-asset.jawapos.com/wp-content/uploads/2019/05/labu-2-640×447.jpg, 2020)

Labu Kuning merupakan jenis tanaman suku labu-labuan (Cucurbitaceae) dan dapat dijadikan salah satu bahan pagan karena memiliki kandungan gizi yang tinggi, selain itu labu memiliki serat yang halus dan mudah untuk dicerna. Labu Kuning memiliki nilai adaptasi yang cukup baik, sehingga labu kuning dapat ditanaman didaerah manapun, baik untuk daerah dataran rendah atau daerah pada dataran tinggi, akan tetapi labu dapat tumbuh dan berkembang dengan baik pada daerah yang kering degan curah hujan yang sedang dan dapat tumbuh baik diketinggian 800-3000 meter diatas permukaan laut (Tarigan, Dkk. 2018).

 

 

 

 

Read More …