Permasalahan Sumber Daya Air

Air merupakan salah satu komponen dalam kehidupan yang sangat penting bagi kehidupan semua makhluk hidup, yaitu manusia, hewan, dan tumbuhan. Air di permukaan bumi ada sekitar 70%, yaitu berupa lautan, danau, sungai, dan lain-lain. Tetapi dari seluruh air yang tersedia hanya sekitar seperempat yang bisa diminum atau dimanfaatkan. Pengeolaan sumber daya air merupakan hal yang penting untuk tetap mencukupi kebutuhan masyarakat agar tetap terjaga kunatitas dan kualitasnya. Tetapi pada kenyataannya pengelolaan sumber daya air mengalami beberapa permasalahan seperti kekeringhukuman, permintaan (demand), konservasi sumber daya air, dan manajemen sumber daya air yang tidak benar.

Air adalah hal penting dan diperlukan untuk kehidupan makhluk hidup yaitu sebagai media transportasi zat-zat makanan, juga merupakan salah satu sumber energi serta berbagai keperluan lainnya (Arsyad, 1989). Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 14/PRT/M/2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang menyebutkan bahwa kebutuhan air rata-rata secara wajar adalah 60 liter/ orang/ hari untuk segala keperluannya. Kebutuhan air bersih dari dari waktu ke waktu diperkirakan terus meningkat. Jumlah penduduk di dunia sebesar pada tahun 2000 yaitu sebanyak 6,121 milyar, maka diperlukan air bersih sebanyak 367 km3 per hari, maka pada tahun 2025 diperlukan air bersih sebanyak 492 km3 per hari (Suripin, 2002). Masalah utama sumber daya air adalah kualitas air yang semakin menurun dari tahun ke tahun dan kuantitas air yang tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Kekeringan merupakan salah satu permasalahan pada sumber daya air. Kekeringan adalah ketersediaan air yang jauh di bawah kebutuhan air untuk kebutuhan di berbagai sector kehidupan. Kekeringan merupakan kondisi yang tidak dapat dihindari lagi khususnya bagi Indonesia dan dapat dikatakan sebagai bencana tahunan atau bencana yang rutin terjadi. Di Indonesia sangat sering terjadi bencana kekeringan, karena Indonesia berada di bagian equator atau khatulistiwa bumi yang notabene memiliki 2 musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Berikut adalah dampak-dampak yang diakibatkan oleh kekeringan yang terjadi di Indonesia:

  1. Terjadi karhutla (kebakaran hutan dan lahan) yang cukup parah;
  2. Berdampak pada sektor pertanian;
  3. Sumber air minum berkurang;
  4. Tanaman dan hewan mati;
  5. Kelaparan;
  6. Lingkungan kotor;
  7. Wabah penyakit;
  8. Serangan serangga; dan
  9. Krisis air yang dapat menimbulkan konflik.

Penanggulangan kekeringan dapat dilakukan dengan mitigasi masyarakat terhadap bahaya kekeringan yaitu dengan cara pembuatan sumur bor, pembuatan sumur resapan, pembangunan tampugan air, sosialisasi atau penyuluhan tentang mitigasi kekeringan, mempersiapkan program bantuan air bersih kepada masyarakat, reboisasi, pembuatan embung, perbaikan saluran irigasi, dan normalisasi waduh/ embung (Hastuti dkk, 2017).

Masalah lain yang dihadapi dalam pengelolaan sumber daya air adalah tingginya tingkat permintaan (demand). Jumlah penduduk dari tahun ke tahun kian meningkat. Indonesia pada 2015 memiliki jumlah penduduk 238.518.000 jiwa di Indonesia dan pada 2020 akan meningkat sebanyak 271.066.000 jiwa (BPS, 2020). Semakin banyak penduduk maka semakin tinggi pula permintaan atau kebutuhan air yang harus disediakan. Tetapi pada kenyataannya jumlah air tidak bertambah. Penduduk Indonesia belum mendapatkan akses air bersih dengan merata. Ada sekitar 33,4 juta penduduk yang masih kekurangan air bersih dan 99,7 juta penduduk yang masih kekurangan akses untuk fasilitas sanitasi yang baik. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) capaian air bersih yang layak saat ini Indonesia mencapai 77,55%. Capaian air bersih layak di Indonesia masih dibawah target Sustainable Development Goals (SDGs) yaitu sebesar 100%. Solusi untuk mencegah krisis air bersih di Indonesia adalah (PDAM Tirta Benteng, 2017) adalah penetapan hukum yang tegas terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh sektor swasta maupun masyarakat sekitar, diperlukan pengkajian terhadap PDAM, baik dari segi tugas, proses kerja, maupun tanggung jawab kelembagaan, sosialisasi intensif kepada masyarakat pun mengambil peran yang sangat penting, membiasakan diri dan orang di sekitar akan pentingnya air bersih sejak dini, teknologi air bersih dan penyediaan sanitasi harus dikembangkan, dan melakukan pertolongan alternatif dengan sedekah air bersih.

Masalah lain yang dihadapi dalam pengelolaan sumber daya air adalah konservasi sumber daya air. Konservasi adalah upaya pelindungan dan pelestarian lingkungan agar tetap berada di fungsi alamiahnya dan tetap berkesinmabungan. Upaya konservasi campur tangan banyak pemangku kebijakan (stakeholders), tidak hanya para ahli konservasi, akademisi, kaum professional, masyarakat, petani, serta pihak pemerintah. Upaya konservasi yang dapat dilakukan adalah memeliharaan daerah resapan air hujan dengan cara mematuhi peraturan Koefisien Bangunan Dasar (KBD) agar kemampuan tanah dalam menyerap air menjadi lebih baik, melakukan rehabilitasi hutan dengan cara menjaga kawasan pegunungan agar tertutup dengan vegetasi tetap sekurang- kurangnya 70%, melestarikan kawasan hutan lindung dan suaka alam, menanam pohon- pohon penyimpan air di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS), menghindari bercocok tanam di daerah lereng yang terjal dengan kelerengan lebih dari 40%, Membuat aturan dan sanksi tegas bagi orang yang membuang sampah di sungai, membuat sumur resapan dan biopori, menampung air hujan yang berlebihan dan memanfaatkannya pada saat diperlukan, menghemat penggunaan air, mengendalikan penggunaan air, dan masih banyak lagi.

Permasalahan terakhir dalam pengelolaan sumber daya air adalah manajemen sumber daya air. Manajemen sumber daya air adalah aktivitas merencanakan, mengembangkan, mendistribusikan, dan mengelola penggunaan sumber daya air secara optimal. Dalam kondisi yang ideal, perencanaan manajemen sumber daya air memperhatikan semua kebutuhan air dan mengalokasikan air berbasis kesetaraan yang memuaskan semua pengguna air. Secara praktik, hal in jarang terjadi. Fungsi manajemen sumber daya air adalah melakukan konservasi sumber daya air, mengedalikan daya rusak air, dan mendayagunakan air. Masalah yang dihadapi dalam manajemen sumber daya air adalah penanganan yang terfragmentasi, Kelemahan koordinasi di tingkat nasional, daerah dan wilayah sungai, Belum memadainya UU-Peraturan yg dijiwai desentralisasi dan prinsip reformasi, konsep dan perangkat desentralisasi pengelolaan SDA belum mantap, instrumen dan mekanisme pengguna dan pencemar membayar belum mantap, instrumen dan mekanisme perijinan belum memadai, organisasi petani pemakai air belum mandiri, keterbatasan investasi pemerintah dan swasta, penerapan prinsip Good Governance belum diaplikasikan, akuntabilitas publik Pengelolaan SDA, masih lemahnya institusi pengelola wilayah sungai, tidak efektifnya pemeliharaan jaringan irigasi, dan lemahnya manajemen sistem informasi SDA.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arsyad, S. 1989. Konservasi Tanah dan Air. IPB Press. Bogor.

 

Badan Nasional Penanggulangan Bencana. 2008. Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 4 Tahun 2008 Tentang Pedoman Umum Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana. Jakarta: BNPB.

 

Badan Nasional Penaggulangan Bencana. 2013. Info Bencana Edisi September 2013. Jakarta: BNPB.

 

Badan Pusat Statistik. 2020. Jumlah Penduduk Indonesia. Jakarta: BPS

 

Hastuti dkk. 2017. Mitigasi Kesiapsiagaan, dan Adaptasi Masyarakat Terhadap Bahaya Kekeringa, Kabupaten Grobogan. Terdapat di jurnal.uns.ac.id

 

Suripin. 2002. Pelestarian Sumberdaya Tanah dan Air. ANDI. Yogyakarta.

 

PDAM Tirta Benteng. 2017. Solusi Mencegah Krisis Air Bersih Di Indonesia. Terdapat di pdamtirtabenteng.co.id (Diakses pada 11 November 2020 pukul 19.05 WIB)