Sistem Vertiminaponik yang Menguntungkan pada Lahan Sempit di Wilayah Perkotaan

Tidak bisa dipungkiri, seiring perkembangan zaman ke arah modern, lahan yang bisa digunakan untuk aktivitas pertanian juga semakin sempit. Apalagi di kota-kota besar, lahan banyak yang dialihfungsikan menjadi kawasan apartemen, kompleks perumahan, lapangan golf, kawasan perkantoran, dan lain-lain. Akan tetapi dengan minimnya lahan, bukan berarti dapat menghalangi kita untuk bercocok tanam. Apalagi ditengah pandemi yang terjadi sekarang, pola hidup sehat sudah menjadi suatu kewajiban. Dengan kondisi serba sulit saat ini, kita tetap harus menyediakan makanan yang sehat baik untuk diri sendiri dan keluarga. Jikapun makanan organik sudah banyak tersedia di supermarket besar, tapi tentu saja harganya juga tinggi.

Urban farming saat ini menjadi salah satu alternatif yang populer dikalangan masyarakat di kota-kota besar untuk pengadaan makanan yang organik dan sehat. Secara sederhana, urban farming adalah kegiatan bercocok tanam di wilayah perkotaan dengan memanfaat lahan terbuka yang tersedia. Urban farming ini cocok dilakukan di pekarangan rumah, sehingga dapat juga dijadikan hobi baru. Berbagai pihak banyak yang mendukung program urban farming, karena ketahanan pangan dapat diwujudkan melalui program ini. Selain itu, masyarakat di kota-kota besar dapat memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri.

Program urban farming ini dapat dilakukan dengan berbagai metode, salah satu nya adalah sistem vertiminaponik. Kata “verti” diambil dari kata vertikultur yaitu metode bercocok tanam yang ditanam secara vertikal, kata “mina” yang berarti ikan, dan kata “ponik” yang berarti budidaya. Pada vertiminaponik dapat dilakukan dua sistem sekaligus, pada bagian atasnya yaitu sistem vertikulturnya yang dapat ditanami dengan berbagai sayur atau buah seperti bayam, sawi, kangkung, selada, tomat, dan lain-lain. Sedangkan di bagian bawahnya yaitu sistem akuakulturnya dapat digunakan untuk memelihara ikan. Semua ikan air tawar dapat dibudidayakan pada sistem ini seperti bawal, lele, patin, dan nila, dimana ikan-ikan tersebut tidak membutuhkan pemasokan O2 yang tinggi di dalam air. Perbedaan sistem vertiminaponik ini dengan sistem akuaponik adalah terletak pada bentuk dan ukurannya, dimana vertiminaponik ini lebih kecil dari pada akuaponik, sehingga sangat cocok untuk dilakukan di lingkungan perkotaan dengan keterbatasan lahan (Sastro, 2013).

Proses pengadaan untuk konstruksi sistem vertiminaponik ini termasuk mudah untuk dilakukan oleh pemula. Komponen untuk membangun suatu sistem vertiminaponik bisa menggunakan tangki tandon air atau drum yang digunakan sebagai kolam ikan, talang yang digunakan sebagai tempat menanam sayuran atau buah, peralatan untuk memisahkan sisa pakan dan feses ikan agar tidak mencemari air, pompa air, pipa, dan media tanam atau filter. Rokhmah, et al. (2014) telah membuat sebuah vertiminaponik dengan ukuran panjang, lebar dan tinggi masing-masing 140 cm × 100 cm × 90 cm. Sedangkan untuk mengadaan air tanaman, dapat dengan memanfaatkan air dari kolam ikan yang dapat diatur dengan kran. Pipa dari pompa air yang diletakkan di dasar kolam dihubungkan pada ujung setiap talang.

Media tanam pada sistem vertiminaponik menjadi lapisan bagian bawah talang air. Media tanam juga berfungsi sebagai filter air ketika air akan kembali ke kolam. Kualitas air atau ketersediaan O2 untuk pertumbuhan ikan di kolam juga tergantung pada filtrasi ini. Jika filtrasinya bagus, maka tentu saja kualitas airnya akan semakin bagus pula. Media tanam yang dapat digunakan dalam sistem vertiminaponik dapat berupa zeolit, batu split dan sekam bakar. Penggunaan zeolit sebagai media tanam sangat direkomendasikan karena dapat menetralkan pH air dan mampu untuk menyerap racun-racun dari sisa makanan dan feces ikan. Zeolit juga dapat dicampur dengan bahan-bahan organik lainnya, sehingga dapat menunjang pertumbuhan mikroba pengurai. Dimana dari aktivitas penguraian tersebut dapat menghasilkan zat hara yang baik untuk tanaman. Sistem drainase juga sangat penting. Jika airnya berlebihan, maka ketersediaan O2 untuk tanaman akan rendah yang akan menyebabkan tanaman menjadi stress. Selain itu sistem drainase juga dapat membuat panen ikan menjadi meningkat karena ikan akan dapat bertahan hidup lebih lama.

Sistem penanaman pada vertiminaponik ini adalah jarak tanam benihnya dibuat sangat padat, sehingga dapat mempersingkat waktu panen dan dapat dilakukan secara berulang kali. Dalam suatu penelitian, produk akhir yang dihasilkan kurang lebih 17 kg. Pada sistem yang dibangun ini, di atas tangki air dibuat 8 talang air untuk tempat sayur-sayuran ditanam seperti sawi, selada, kangkung, dan bayam. Untuk satu talang air dengan panjang 1 meter, dapat dihasilkan sawi dan selada masing-masing sekitar 0,6 kg. Jika ditanami dengan kangkung dapat mengkasilkan sekitar 1 kg dan untuk bayam sekitar 0,8 kg. Dalam satu tangki air toren ukuran 500 L dapat dibudidayakan ikan nila atau ikan bawal hingga 150 – 200 ekor. Sedangkan untuk ikan lele bahkan sampai kurang lebih 300 ekor.

Selain untuk konsumsi pribadi, vertiminaponik ini bukan tidak mungkin bisa dijadikan sebagai ladang bisnis. Ditinjau dari segi kewirausahaannya, Sulistyarsi, et al. (2019) telah melakukan kegiatan kewirausahaan dengan memanfaatkan sistem vertiminaponik. Tanaman yang ditanam adalah sawi dan kangkung, kemudian untuk ikannya adalah ikan lele sebanyak 500 ekor. Sawi dan kangkung dalam waktu empat minggu sudah dapat dipanen. Hasil panen yang didapatkan untuk kangkung rata-rata antara 124 – 135 ikat, dan sawi sekitar 56 – 76 ikat. Dalam waktu tiga bulan, kegiatan ini dapat memperoleh laba sebesar hingga 2,2 juta rupiah.

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat dikatakan bahwa sistem vertiminaponik ini berpotensi besar untuk dapat dikembangkan di wilayah perkotaan. Sistem vertiminaponik ini memiliki beberapa keuntungan seperti penghematan pemakaian air, tenaga, dan waktu. Hasil yang dapat diperoleh pun dua sekaligus, yaitu sayur dan ikan, dimana sudah terjamin keorganikannya. Produksi sayur dan ikan yang didapatkan dari sistem ini memiliki daya guna yang lebih tinggi dari pada dengan bercocok tanam secara konvensional. Tanaman yang ditanam secara vertiminaponik juga bebas dari pestisida dan pupuk kimiawi karena pupuknya dapat berasal dari sisa makanan dan kotoran ikan. Karena bisa dibangun dipekarangan, dengan tampilannya yang bisa dibuat menarik, bangunan vertiminaponik dapat meningkatkan nilai keestetikaan pekarangan. Sistem vertiminaponik ini juga bisa diterapkan di restaurant dan dapat meningkatkan nilai jual dengan keunggulan dapat menyediakan sayuran dan ikan organik. Nilai tambah lainnya yaitu dapat memperindah tampilan restaurant sehingga membuat pengunjung lebih nyaman. Untuk biaya konstruksi sistem vertiminaponik sendiri, dalam bentuk yang sederhana biayanya sekitar 2 – 3 juta rupiah. Walaupun termasuk lumayan mahal, tapi tetap dapat disesuaikan dengan kemampuan ekonomi masing-masing masyarakat, seperti dengan memanfaatkan tangki atau drum bekas.

Referensi

Rokhmah, N.A, Ammatillah, C.S, dan Yudi, S. 2014. “Vertiminaponik, Mini Akuaponik untuk Lahan Sempit di Perkotaan”. Buletin Pertanian Perkotaan, Volume 4, Nomor 2, 2014. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. Jakarta.

Sastro, Yudi. 2013. Vertiminaponik: Cara Baru Berbudidaya Sayuran dan Ikan. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP). Jakarta.

Sulistyarsi, A. Yuhanna, W.L, dan Widiyanto, J. 2019. “Peningkatan Jiwa Kewirausahaan Mahasiswa Melalui Vetiminaponik”. JAMALU – Jurnal Abdimas Madani dan Lestari, Vol. 01, Issue 02, September 2019, Hal 1 – 20. Madiun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *