Sistem Filtrasi Menjawab Persoalan Kualitas Air pada Daerah Aliran Sungai (DAS)

Kehidupan makhluk hidup sangat membutuhkan air, karena air merupakan faktor utama dalam metabolisme dan komponen utama dalam memenuhi berbagai kebutuhan. Air juga sangat dibutuhkan oleh tanaman yaitu sebagai pelarut unsur hara, media transportasi hara dalam tanah dan mempertahankan state dalam proses transportasi dan fotosintesa, sehingga ketersediaan air merupakan faktor utama dalam pertumbuhan tanaman. Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai kawasan tangkapan air berperan penting dalam menyediakan air bagi kehidupan dengan berbagai kebutuhan tersebut. Selain itu, DAS (Daerah Aliran Sungai) juga berperan perting dalam menjaga lingkungan termasuk kualitas air.

Air DAS (Daerah Aliran Sungai) merupakan aliran air yang mengalami siklus hidrologi alamiah dibatasi oleh punggung bukit yang terdiri dari beberapa komponen yaitu  hulu sungai yang merupakan tangkapan air utama dan pengatur aliran (daerah konservasi), tengah sungai merupakan distributor dan pengatur air (daerah pemanfaatan), dan hilir sungai yang merupakan pemakai air (daerah pemanfaatan). DAS (Daerah Aliran Sungai) dapat dimanfaatkan bagi berbagai kepentingan seperti untuk bidang pertanian, perhutanan,  perkebunan, pemukiman, pembangunan PLTA, dan lain sebagainya.

DAS (Daerah Aliran Sungai) yang baik memiliki ciri yaitu menyediakan unsur hara bagi tumbuh-tumbuhan, menyediakan sumber makanan bagi manusia maupun hewan, serta memiliki kuantitas dan kualitas air yang baik sebagai sumber daya air bagi makhluk hidup. Proses alami dalam DAS dapat memberikan dampak menguntungkan bagi sebagian kawasan  DAS tetapi pada saat itu juga bisa memberikan dampak negatif bagi sebagian kawasan DAS. Maka dari itu, Sumber daya air tersebut sering kali mengalami permasalahan baik itu secara disengaja ataupun tidak disengaja. Salah satu permasalahannya yaitu menyangkut kualitas air pada DAS yang dicirikan dengan pH air di sungai tersebut tinggi/rendah, air sungai menjadi keruh dan berbau, tingginya nilai BDO5, unsur hara rendah di dalam tanah, terjadinya erosi dan sedimentasi di sungai, dan lain sebagainya. PH air tinggi mengartikan bahwa tingkat oksigen yang terlarut dalam air tinggi, sebaliknya pH air rendah itu mengartikan bahwa tingkat oksigen yang terlarutnya rendah. Harga pH air  tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya yaitu sisa-sisa dari bahan organik yang terdekomposisi di dasar air serta gas karbondioksida. Tingginya nilai BDO5  diakibatkan adanya buangan limbah industri. Adapun kekeruhan suatu perairan tidak selalu menunjukkan bahwa nilai BDO5 nya tinggi akan tetapi bisa juga disebabkan oleh endapan atau partikel-partikel suspensi seperti tanah liat, lumpur, bakteri, bahan-bahan organik yang terlarut, dan lain sebaginnya. Sedimentasi merupakan bentuk atau ciri terjadinya erosi dibagian hulu sungai.

Berbagai permasalahan tersebut timbul karena belum optimalnya pengelolaan dampak permukiman dengan potensi sumber daya alam sekitar sehingga  melimpahnya berbagai limbah berbahaya di dasar sungai baik itu organik maupun anorganik dan juga bisa ditimbulkan karena terjadinya erosi dan sedimentasi di sungai. Aktivitas manusia sangat berpengaruh terhadap kualitas air DAS. Permasalahan kualitas air bagian hilir biasanya disebabkan  adanya limbah yang berasal industri sedangkan dibagian hulu dan tengah disebabkan oleh tingginya aktivitas pertanian dan pemukiman yang menimbulkan limbah dalam jumlah sangat banyak. pada saat itulah terjadinya penurunan kualitas air. Apabila masalah ini tidak segera ditangani maka akan berdampak buruk seperti ketersediaan air bersih yang akan semakin berkurang, kualitas air akan sangat buruk, konsentrasi BDO pada sungai pun akan semakin tinggi, dan bisa juga mengakibatkan timbulnya penyakit yang berbahaya.

Lalu bagaimana cara mengatasi permasalahan tersebut ?

Banyak cara yang bisa dilakukan supaya kualitas air pada DAS (Daerah Aliran Sungai) tetap baik. Caranya yaitu dengan memperbaiki fungsi filtasi dari DAS.

Peningkatan fungsi “filter” DAS dilakukan di sepanjang bantaran sungai dengan penanaman rumput-rumputan, belukar, pohon-pohonan dan tanaman lain yang dapat menutup rapat permukaan tanah. Manfaat menanam pohon atau tanaman yaitu dapat meningkatkan kualitas air, dan menurunkan suhu sehingga pH air sangatlah baik. Penempatan tanaman didalam suatu DAS sangatlah penting. Penanaman tanaman secara permanen pada luasan sekitar 10% dari luas DAS sudah sangatlah efektif dalam mengatasi pengurangan sedimentasi ke sungai, penempatan tersebut seperti zone riparian (zona penyangga di tiap sisi sungai). Pembangunan jebakan sedimen (sedimen trap) adalah salah satu solusi untuk menjaga kualitas air DAS. Jebakan sedimen ini dibuat agar sedimen yang tersangkut oleh air  limpasan akan ditangkap pada suatu wadah tertentu dengan kontruksi bahan yang bisa tumbuh dan bersifat lokal. Jebakan sedimen ini memiliki beberapa tipe yaitu jebakan sedimen pada alur horizontal, jebakan sedimen pada alur tegak lurus kontur, jebakan sedimen pada alur erosi, dan penangkap sedimen (Ceck Dam). Pemeliharaannya yaitu mengambil sedimen yang tersangkut pada wadah kemudian dikembalikkan lagi ke lahan pertanian dan jika sudah tumbuh rimbun, maka rimbun tersebut perlu untuk dipotong.

Air limbah domestik dapat didaur ulang dengan melalui pengaplikasian sistem biofilter hibrid, kemudian air olahan tersebut dapat dibuang ke sungai atau air olahan dapat diolah kembali. Pengolahan selanjutnya melalui lahan basah buatan tipe aliran vertikal dan horizintal, air hasil olahannya dapat didaur ulang untuk kebutuhan perikanan atau pertanian. Kemudian dapat diolah kembali melalui filtrasi pasir kuarsa, maka air olahan tersebut dapat digunakan untuk operasional di bank sampah tersebut.

Selain filtasi, pengelolaan limbah juga merupakan cara untuk meningkatkan kualitas air pada DAS (Daerah Aliran Sungai) yaitu pemisahan antara limbah organik dan anorganik. Limbah yang dihasilkan baik dari pemukiman, pertanian, maupun industri tidak boleh langsung dibuang ke sungai karena dapat mempengaruhi kualitas air pada DAS. Pengamanan tebing sungai yang rawan longsor harus dilakukan, misalnya dengan penanaman tanaman yang relatif ringan dan berakar dalam seperti bambu (apabila sedimen berasal dari erosi tebing sungai). Cara yang lainnya yaitu pengaturan penggunanaan pupuk sesuai dengan kebutuhan tanaman (tidak berlebihan), perkuatan penampang, pengerukan, penyediaan pompa untuk mengeluarkan air dari tanggul, dan lain sebagainnya.

Aktivitas manusia sangat berpengaruh terhadap tingginya kualitas air pada DAS. Kerusakan pada DAS sebagian besar timbul karena ulah manusia itu sendiri. Maka dari itu, manusia harus bisa mengelola serta menjaga DAS (sebagai sumber daya) dengan baik supaya air tersebut bisa termanfaatkan dan lingkungan pun akan tetap terjaga.

DAFTAR PUSTAKA

Hastuti, Elis, dkk. (2014). Penerapan Teknologi Pengolahan Air Secara Terpadu Di Kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) dengan Studi Kasus : Kawasan DAS Citarik, Sub DAS Hulu Citarum. Volume 9. Nomor 2.

Kurniasih A., Nia.(2002). Pengelolaan Berkelanjutan. Volume 3. Nomor 2. http://ejurnal.bppt.go.id/index.php/JTL/article/view/240. (Diakses pada tanggal 09 November 2020 pukul 15.54 WIB)

Mahmud, dkk.(2009). Penilaian Status pada Daerah Aliran Sungai (Studi Kasus Sub DAS Serang). Volume 29. Nomor 4.

Soewandita, Hasmana, Nana S. (2011). Aplikasi Teknologi Bioengineering Jebakan Sedimen Di Sub Das Citanduy Hulu.  http://ejurnal.bppt.go.id/index.php/JAI/article/download/2432/2043. (Diakses pada tanggal 10 November 2020 pukul 21.54 WIB)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *