Sistem Drainase yang Buruk Menjadi Salah Satu Penyebab Banjir

Dalam 20 tahun terakhir banyak kota-kota besar di Indonesia yang berkembang sangat pesat. Dengan berkembangnya suatu kota pasti akan berbanding lurus dengan laju pertumbuhan penduduk. Dampaknya permasalahan lingkungan semakin lama akan semakin parah sehingga akan mengakibatkan bencana bagi penduduk di wilayah perkotaan. Jumlah penduduk yang semakin meningkat dan semakin intensifnya aktivitas penduduk di suatu tempat, berdampak pada meningkatnya perubahan penggunaan lahan. Pada daerah perkotaan, pertumbuhan dan aktivitas penduduk tinggi, sehingga daerah perkotaan pada umumnya mengalami perubahan penggunaan lahan yang cepat. Bagaimanapun dalam perkembangan kota, akan membutuhkan cakupan area yang lebih luas karena diiringi dengan jumlah penduduk yang banyak. Hal tersebut akan menimbulkan permasalahan dengan alam. Padatnya bangunan pancang dan beton dapat menyebabkan pengaturan air terganggu karena saluran drainase dan badan sungai kurang mampu menampung aliran air, sehingga akan menimbulkan terjadinya genangan air (banjir). Apalagi ditambah  kurangnya  kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan. Masih banyak masyarakat yang membuang  sampah sembarangan. Hal itu juga dapat menyebabkan terganggunya saluran drainase.

Drainase pada dasarnya berasal dari kata bahasa Inggris, yaitu drainage. Drainage diartikan sebagai menguras, mengalirkan, membuang atau mengalihkan air. Secara umum drainase dapat didefinisikan sebagai suatu ilmu  yang mempelajari suatu usaha. Memiliki tujuan untuk mengalirkan air yang berlebihan dalam suatu konteks pemanfaatan tertentu. Ada pula yang mendefinisikan bahwa drainase adalah  suatu kegiatan dengan tujuan mengurangi kelebihan air, baik yang berasal dari air rembesan, air hujan, maupun air irigasi yang berlebih dari suatu kawasan. Dengan demikian, fungsi kawasan atau lahan tidak terganggu. Sistem jaringan drainase pada wilayah perkotaan, menurut Kodoatie (2003) dibagi menjadi dua bagian, yaitu :

  1. Sistem Drainase Minor.
  2. Sistem Drainase Mayor.

Sistem  drainase yang buruk menjadi pemicu terjadinya banjir. Banjir dapat didefinisikan sebagai aliran air yang relatif tinggi pada permukaan tanah (surface water)  dan tidak dapat ditampung oleh saluran drainase atau sungai. Dengan demikian, air akan melimpah ke jalan dan menimbulkan aliran atau genangan yang melebihi jumlah normal sehingga berdampak buruk bagi manusia. Bencana banjir dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Bahkan, banjir dapat mengakibatkan kerugian jiwa dan harta benda. Bukan hanya itu banjir juga menyebabkan kesehatan terganggu. Kejadian banjir tidak dapat dicegah, tetapi dapat dikurangi dan dikendalikan dampak kerugian yang ditimbulkannya.

Tingginya laju pertumbuhan penduduk menjadi salah satu penyebab  terjadinya banjir. Hal itu terjadi karena pertumbuhan penduduk berbanding lurus dengan  pemakaian lahan. Semakin tinggi laju pertumbuhan penduduk maka semakin banyak lahan yang dipakai, begitu pula sebaliknya. Pembangunan gedung dan perumahan masih banyak yang tidak berwawasan lingkungan. Selain itu, dalam pengembangan jalan tol, yang semulanya rawa-rawa, sekarang ini sudah diperkeras dan diurug untuk sarana jalan, sehingga sebagian besar daerah resapan air telah tertutupi. Meskipun di pinggir jalan tol dibangun kali-kali kecil sebagai saluran air atau drainase kota. Akan  tetapi, kapasitasnya sangat tidak memadai, sehingga bila terjadi curah hujan agak tinggi akan menyebabkan genangan air (banjir) sebagai akibat dari meluapnya air kali atau selokan tersebut. Banyaknya Gedung dan perumahan pasti membutuhkan air tanah yang cukup banyak. Hal tersebut dapat mengakibatkan penurunan permukaan  tanah, sehingga dapat merusak sistem drainase dan membuat air tidak mengalir. Kondisi lapisan yang semula banyak mengandung air tanah, diakibatkan pengambilan air tanah yang cepat sehingga menyebabkan rongga-rongga kosong di dalamnya. Apalagi ditambah dengan masih kurangnya kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan. Masih banyak dijumpai orang yang membuang sampah pada tempatnya, padahal tidak sulit untuk menyimpan sampahnya terlebih dahulu, hingga menemukan tempat sampah. Hal itu menjadi kebiasaan buruk bagi masyarakat Indonesia. Sampah yang dibuang ke sungai atau selokan jika dilakukan secara terus-menerus akan menyumbat saluran air, sehingga air akan meluap ke jalan. Bukan hanya itu, banyaknya sampah di saluran drainase menyebabkan bau yang tidak sedap karena air sudah tercemar. Selain itu, curah hujan yang tinggi dapat memperparah keadaan tersebut. Dengan semua yang terjadi, banjir di perkotaan seperti menjadi hal yang wajar. Dengan begitu, kesehatan masyarakat akan terganggu.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, perlu kerja sama dari berbagai pihak. Tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah saja, tetapi harus didukung dengan tindakan masyarakat agar terciptanya lingkungan yang asri. Langkah-langkah yang dapat dilakukan agar permasalahan tersebut bisa diatasi, yaitu

  1. Pembangunan gedung, perumahan, dan jalan harus sesuai dengan ketentuan, agar tidak merusak system drainase.
  2. Melakukan regulasi (peraturan) untuk penggunaan lahan. Bertujuan untuk meminimalisir dampak negatif dari perubahan yang terjadi. Dengan begitu, saluran tersier, saluran sekunder dan saluran primer aliran air akan berjalan sesuai dan teratur
  3. Melakukan Program Keluarga Berencana (KB) agar pertumbuhan penduduk tidak terlalu cepat. Hal tersebut bisa mengurangi pemakaian lahan untuk pembangunan perumahan.
  4. Memberikan penyuluhan dan memberikan pembatasan agar tidak terlalu banyak menggunakan air tanah karena akan mengakibatkan penurunan permukaan tanah.
  5. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat agar menyadari pentingnya membuang sampah pada tempatnya.
  6. Pemberian sanksi yang tegas terhadap mereka yang membuang sampah sembarangan, termasuk di sungai dan drainase.

 

Laju pertumbuhan penduduk yang tinggi mengakibatkan permasalahan lingkungan semakin lama akan semakin parah. Semakin meningkatnya jumlah penduduk maka semakin meningkatnya perubahan penggunaan lahan. Masalah itu terjadi karena masih banyaknya penggunaan lahan yang tidak berwawasan lingkungan. Ditambah lagi pemakaian air tanah yang berlebih akan mengakibatkan penurunan permukaan tanah. Selain itu, kurangnya kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya menjadi suatu hal yang memperburuk keadaan. Apalagi dengan adanya curah hujan yang tinggi. Saluran drainase akan tersumbat dan menyebabkan terjadinya genangan air atau banjir. Untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu adanya kerja sama dari berbagai pihak. Langkah-langkah dalam menanggulangi permasalahan tersebut, yaitu seperti melakukan regulasi untuk penggunaan lahan untuk meminimalisir dampak negatif dari perubahan yang terjadi, memberikan penyuluhan dan memberikan pembatasan agar tidak terlalu banyak menggunakan air tanah, melakukan Program KB agar pertumbuhan penduduk tidak terlalu cepat, pemberian sanksi yang tegas terhadap mereka yang membuang sampah sembarangan, termasuk di sungai dan drainase, dan masih banyak lagi.

 

Daftar Pustaka

 

Anggraini, T. A. (2018). Evaluasi Sistem Drainase Dalam Upaya Penanggulangan Banjir di Kelurahan Lumpue Kecamatan Bacukiki Barat Kota Parepare. 1–128. https://core.ac.uk/download/pdf/198227793.pdf

Fertrisinanda, F., & Wahyono, H. (2012). Pengaruh Saluran Drainase Terhadap Pencemaran Lingkungan Permukiman Di Sekitar Kawasan Industri Genuk Kota Semarang (The Influences of Drainage to Residential Pollution Surrounding of Industrial Area Genuk-Semarang City). Jurnal Teknik PWK, 1(1), 56–65.

Novrianti, N. (2017). Pengaruh Drainase Terhadap Lingkungan Jalan Mendawai dan sekitar Pasar Kahayan. Media Ilmiah Teknik Lingkungan, 2(1), 31–36. https://doi.org/10.33084/mitl.v2i1.130

Nurhapni, N., & Burhanudin, H. (2011). Kajian Pembangunan Sistem Drainase Berwawasan Lingkungan Di Kawasan Perumahan. Jurnal Perencanaan Wilayah Dan Kota, 11(1), 125255. https://doi.org/10.29313/jpwk.v11i1.1373

Rahardjo, P. N. (2018). 7 Penyebab Banjir Di Wilayah Perkotaan Yang Padat Penduduknya. Jurnal Air Indonesia, 7(2). https://doi.org/10.29122/jai.v7i2.2421

Waryono Tarsoen. (2008). FENOMENA BANJIR DI WILAYAH PERKOTAAN ( Studi kasus banjir DKI Jakarta 2002 ). BPLHD Jakarta, September 2002, 16–19.

Sakti, B. dkk. (2017). DAMPAK PERKEMBANGAN PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP SISTEM DRAINASE DI KECAMATAN PAAL DUA MANADO. 146–154.

Properti, M. (2019). Permasalahan Sistem Drainase Perkotaan dan Solusinya. https://mariaproperti.co.id/permasalahan-sistem-drainase-perkotaan-dan-solusinya/ (diakses tanggal 13 November 2020)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *