Sawi Putih (Brassica pekinensis L.)

Gambar 1. Akar sawi putih (Sumber : https://www.manfaatmewah.com/2018/04/10-manfaat-mewah-akar-sawi-putih.html, 2018)

Sawi putih kerap sekali disebut juga sebagai sawi cina. Sawi putih termasuk dalam golongan Kelompok Pakinensis atau Brassicaceae ini juga dikenal sebagai sayuran olahan yang dapat dikreasikan dalam masakan Tionghoa. Disebut sebagai sawi putih dikarenakan warna daunnya yang cenderung kuning pucat dan tangkai daunnya yang berwarna putih. Tanaman sawi putih ini hanya tumbuh dengan baik pada tempat-tempat yang sejuk, sehingga bila di budidayakan di Indonesia ditanam di dataran yang tinggi. Sawi putih termasuk dalam jenis tanaman semusim (berumur pendek). Di Indonesia tanaman sawi putih dikenal dengan petsai, kubis cina dan sawi jantung.  Sawi putih sudah dapat dipanen saat memasuki tahap vegetative (belum berbunga). Bagian tanaman yang dipanen yakni keseluruhan bagian tubuh yang berada tepat di permukaan tanah (Rukmana, 1994).

Tanaman sawi putih dapat diklasifikasikan sesuai dengan ilmu tumbuhan yakni sebagai berikut (Ida, 2014):

Kingdom                       : Plantae (tumbuhan)

Subkingdom                  : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Division                         : Spermatophyta (tumbuhan berbiji)

Super division               : Angiospermae (biji berada didalam buah)

Class                              : Dicotyledonae (tumbuhan dikotil atau biji berkeping dua/belah)

Ordo                              : Papavorales

Family                           : Cruciferae (Brassicaceae)

Genus                            : Brassica

Spesies                           : Brassica pekinensia L. atau B. campestris var. chinensis

Sawi putih yang masuk dalam golongan spesies Brassica pekinensia L. memiliki banyak jenis, dua diantaranya yaitu ada yang berbulu dan tidak berbulu. Varietas yakohama, superking, eikun, deli-3, Okinawa, summer bright, early spring merupakan contoh dari varietas sawi putih yang berbulu dengan ciri-ciri yakni berkerut-kerut, daun kasar, berbulu halus sampai kasar, bentuk krop bulat memanjang dan umumnya padat. Sedangkan varietas LUI, SP8-IQ, jade crown, fine zone, whire sun adalah beberapa contoh varietas sawi putih yang tidak berbulu yang memiliki ciri-ciri yakni berkerut-kerut, daun mulus, tidak berbulu, bentuk krop bulat memanjang dan padat (Sunarjono, 2004).

Sawi putih tumbuh pendek dengan tinggi tanaman sekitar 26 cm – 33 cm atau lebih, tergantung dari verietasnya. Kumpulan daun-daun yang membentuk kepala pada tanaman sawi putih ini sering disebut dengan krop. Tanaman sawi putih memeiliki struktur akar tunggang (radix primaria) serta memiliki cabang akar yang silindris atau menyebar ke semua arah pada kedalaman 30-50 cm. akar tersebut berbentuk fili dan diameternya kecil. Akar tunggang yang dimiliki sawi putih tersebut pun mempengaruhi bentuk akarnya, dimana ujung akarnya meruncing dengan kulit yang berwarna hijau muda hingga kuning pucat. Jika dibelah, bagian dalam akar akan berwarna cerah. Bagian akar pada tanaman sawi berfungsi sebagai penyerapan unsur hara dan air yang ada didalam tanah. Akar juga berfungsi untuk memperkuat batang tanaman untuk berditi tegak. Struktur akar pada tanaman sawi putih sangat mudah putus. Akar dapat tunbuh dengan optimal jika dibudidayakan pada tanah yang subur, gembur dan mengandung banyak air (Sunarjono, 2004).

Batang pada tanaman sawi putih mempunyai ukuran pendek dan beruas-ruas yang berfungsi sebagai penopang dan pembentuk daun (Rukmana, 2002). Pada umumnya daun sawi putih mempunyai bentuk yang lonjong, tidak berbulu, halus, tidak berkrop serta pertumbuhan daun yang teratur sehingga mudah untuk membentuk krop. Ukuran panjang pada batang biasanya 1,5 cm dengan diameter 3,5 cm (Sunarjono, 2004).  Daun sawi putih tidak jauh berbeda dari tanaman kubis dimana daun yang muncul terlebih dahulu menutup daun yang tumbuh dari dalam sehingga membentuk krop bulat panjang.

Tak hanya daun, bunga sawi putih juga memiliki kemiripan dengan kubis, dimana tangkai bunga keluar dari ketiak daun dan tumbuh ke atas. Struktur bunga terdiri dari kelopak daun berwarna hijau, daun mahkota berwarna kuning muda dan benang sari bertangkai pendek. Daun pada tanaman sawi putih berbentuk panjang oval, memiliki banyak pelepah daun yang lebar serta berkerut-kerut dan membentuk ujung yang membulat. Pada umumnya daun sawi putih berwarna hijau muda sampai hijau tua namun untuk beberapa helai daun terluarnya memiliki tekstur yang cukup keras dan berwarna putih. Permukaan daun memiliki tekstur yang sedikit kasar (namun ada yang berdaun halus), mengkilat dan tidak ditumbuhi dengan bulu. Daun tersebut juga memiliki tekstur yang mudah sobek dan lunak serta tulang daun yang menyirip dan bercabang-cabang (Sunarjono,2004). Daun tanaman sawi putih merupakan bagian yang pada umumnya dikonsumsi dalam berbagai bentuk makanan, terutama pada bagian kropnya (kumpulan-kumpulan daun yang membentuk kepala).

Gambar . Daun sawi putih (Sumber : https://www.artisanalbistro.com/cara-menanam-sawi/, 2019)

 

Walaupun tanaman sawi putih lebih baik ditanam pada dataran yang tinggi, tidak menutup kemungkinan untuk melakukan budidaya sawi putih pada dataran rendah. Struktur bunga pada tanaman sawi putih yaitu tumbuh memanjang tinggi. Biji pada tanaman sawi putih memiliki ukuran yang sangat kecil dengan warna kuning muda dengan diameter 1-2,5 mm. Biji sawi putih tersebut berbentuk telur dan oval dengan permukaan bijinya yang licin, keras dan mengkilap. Biji sawi putih tidak memiliki aroma khusus bahkan saat ditumbuk atau dikunyah. Biji sawi putih tergolong dalam tumbuhan dengan biji berkeping dua atau biasa disebut dengan dikotil (Rukmana, 1994).

Gambar 3. Biji sawi putih (Sumber : https://ilmubudidaya.com/cara-menanam-sawi-putih, 2017)

 

Sawi putih banyak digemari di kalangan masyarakat, selain dikarenakan mudah didapat, cara pengolahannya yang mudah bahkan saat ditambah dengan kontimen lainnya pun masih gampang dibuat menjadi kreasi sayuran lain. Sayuran menjadi salah satu kebutuhan pokok manusia untuk hidup sehat. Hidup yang sehat pun tidak terlepas dengan gaya hidup yang sehat pula termasuk dalam cara memilih sayuran yang sehat. Untuk mendapatkan sayuran yang sehat, kita harus memilih dengan teliti mengingat kini telah banyak sayuran yang beredar di pasaran yang telah dicampur dengan pestisida yang tentunya berdampak buruk terhadap kesehatan tubuh kita terlebih jika dikonsumsi dalam waktu terus-menerus. Maka kini telah banyak diperjualbelikan beberapa jenis sayuran sehat, misalnya sayuran organik dan sayuran hasil hidroponik. Namun, jika harus membeli sayuran sehat yang terdapat di swalayan, maka biasanya sayuran tersebut dijual dengan harga yang cukup mahal. Untuk mengatasi hal tersebut, terdapat solusi yang dapat dilakukan yaitu budidaya hidroponik sawi putih di rumah dengan metode NFT (Nutrient Film Techniqu) hidroponik untuk memperoleh sayuran sehat sendiri tanpa harus membayar mahal (Wibowo, 2013). Metode NFT adalah metode yang sangat cocok dilakukan oleh pemula yang ingin membudidayakan sawi putih. Sistem hidroponik dengan metode DFT dan rakit apung pun dapat digunakan untuk budidaya hidroponik tanaman sawi putih (Untung, 2001).

Sistem hidroponik merupakan salah satu sistem tanam yang bisa dilakukan dengan mudah dan dapat menghasilkan jenis sayuran yang sehat dan bergizi (Said, 2009). Sistem hidroponik tersebut dapat dilakukan di sekitar pekarang rumah bahkan di lahan yang tidak terlalu luas sekalipun karena memang tidak terlalu membutuhkan lahan yang luas dan tidak terlalu membutuhkan media tanam. Tanaman sawi putih sangat cocok dibudidayakan dengan sistem hidroponik metode NFT.

Terdapat 3 tahap yang dilakukan dalam melakukan budidaya tanaman sawi putih dengan metode NFT yakni penyemaian benih, pindah tanam serta perawatan dan panen. Pada langkah pertama yakni penyemaian benih dilakukan dengan menggunakan media tanam berupa rockwool. Rockwool yang telah dicelupkan kedalam air ditiriskan dan tunggu hingga rockwool dalam keadaan yang lembab. Kemudian rockwool diberi lubang untuk meletakkan benih sawi putih dengan jumlah 1-2 benih per lubang tanam. Tutup semaian dengan menggunakan penutup yang berwarna hutam atau warna gelap untuk mempercepat proses pecahnya benih. Namun setelah benih pecah, segera buka penutup semaian dan langsung diletakkan pada tempat yang cukup sinar matahari agar tanaman tidak tumbuh kutilang (Wibowo, 2013).

Setelah dilakukan penyemaian benih, langkah selanjutnya yakni pindah tanam. Langkah pindah tanam ini dapat dimulai dengan merakit starterkit NFT hidroponik. Perlu diperhatikan bahwa kadar ppm pada larutan nutrisi harus di kisaran 1050-1400 ppm (Wibowo, 2013). Setelah sistem NFT siap, langsung pindahlan tanaman sawi putih yang terlah berhasil disemai tersebut sekalian dengan rockwool yang telah digunakan untuk menyemai. Pada tahap perawatan, hal yang perlu dilakukan adalah melakukan pengecekan larutan nutrisi dan penyesuaian pH. Agar tanaman dapat tumbuh dengan baik, maka larutan nutrisi tersebut harus selalu dicek dan ditambahkan apabila jumlah yang ada pada bak nutrisi tinggal sedikit. Hal lainnya yang harus diperhatikan agar tanaman dapat tumbuh sehat dan bisa segera dipanen adalah lokasi tempat penempatan sistem NFT tersebut yakni pada tempat yang bisa terkena sinar matahari minimal 5 jam dalam sehari. Pada tahap ini dibutuhkan kesabaran dan keuletan seseorang untuk menyelesaikan tantangan menanam sawi putih tersebut. Saat melakukan tahap pemanenan pada tanaman sawi putih yang perlu dilakukan yakni cukup mengangkat tanaman dari sistem NFT bersamaan dengan rockwoolnya, hal ini tergolong mudah untuk dilakukan.  Pemanenan sayuran sawi putih dapat dilakukan pada hari ke-45 sampai hari ke-60. Bahkan bisa lebih cepat apabila pemberian nutrisi dapat dilakukan dengan optiml ketika perawatan (Cahyono, 2003).

Gambar 4. Hidroponik metode NFT pada tanaman sawi putih (Sumber : http://www.setetes.info/cara-menanam-sawi-putih/, 2016)

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Cahyono B. 2003. Teknik dan Strategi Budidaya Sawi (Pai-tsai). Yogyakarta : Yayasan Pustaka Nusatama. Hal: 12-62.

Ida Syamsu Rodiah, 2014. Pemanfaatan Lahan dengan Menggunakan Sistem Hidroponik. Jurnal Universitas Tulungagung Bonorowo. Vol 1 No. 2 Tahun 2014.

Rukmana, R. 1994. Bertanam Petsai dan Sawi. Yogyakarta : Kanisius.

Said, A., 2009. Budidaya Tanaman Secara Hidroponik. Azka Press, Jakarta.

Sunarjono, H. 2004. Bertanam Sawi dan Selada. Penebar Swadaya. Jakarta.

Untung 0. 2001. Hidroponik Sayuran Sistem NFT. Jakarta : Penerbit Swadaya.

Wibowo, S., dan Arum Asriyanti S. 2013. Aplikasi Hidroponik NFT pada Budidaya Sawi (Brassica pakinensis L.). Jurnal Penelitian Pertanian Terapan Vol. 13 (3): 159-167.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *