Sawi Hijau (Brassica juncea L)

(Sumber: https://taldebrooklyn.com/tanaman-hidroponik/, 2019)

Sawi hijau (Brassica juncea L ) adalah salah satu diantara kelompok tumbuhan dari genus Brassica. Tanaman sawi hijau adalah tanaman tahunan yang memiliki daun sekilas terlihat sama dengan daun brokoli. Terkadang masih sulit bagi orang awam untuk membandingkan.

Namun pembedaan ini tidak hanya pada daunnya saja, tetapi juga pada bagian lainnya, walaupun termasuk satu famili dapat dibedakan dengan sayuran lainnya, seperti di bawah ini:

 

 

  1. Akar

Tanaman sawi hijau memiliki sistem perakaran yaitu serabut akar yang tumbuh di sekitar tanah. Kedalaman penetrasi akar ke dalam tanah tidaklah terlalu dalam, melainkan hanya sekitar 5 cm. Struktur akar sawi sangat rapuh. Selain itu, akar tersebut dapat tumbuh maksimal di tanah yang subur, pada tanah gembur serta tanah yang banyak mengandung air. Akarnya berserabut dan berdiameter kecil. Akar sawi hijau berangsur-angsur menjadi lebih tipis dan memiliki kulit berwarna hijau muda hingga kuning muda. Bagian dalam akar memiliki warna putih yang cukup cerah.

  1. Batang

Tanaman sawi hijau memiliki batang yang lebar dan pendek, bahkan batang ini hampir tidak bisa dibedakan dengan tangkai daunnya. Batang sawi hijau juga berfungsi sebagai penyangga dan bentuk daun sawi. Batangnya berwarna hijau keputihan dengan tekstur air dan mudah patah. Permukaan batangnya halus tanpa banyak biji.

  1. Daun

Pertumbuhan batang memengaruhi bentuk daun sawi hijau sehingga memiliki bentuk lonjong dan memiliki tangkai daun yang panjang. Daun sawi memiliki batang yang besar dan berdaging serta kandungan air yang tinggi.. Permukaan daun bertekstur halus berkilau dan tidak akan ditumbuhi rambut. Biasanya daun sawi berserakan atau tumbuh seperti mawar, tersusun rapat dan rapi sehingga sulit untuk membentuk tanam.

Tekstur daun ini mudah sobek dan lembut. Daun ini memiliki tipe tulang daun menyirip. Daun sawi berbentuk bulat telur dengan ujung membulat. Daun yang muda memiliki warna hijau muda, sedangkan daun yang tua memiliki warna hijau tua. Namun dengan berbagai faktor seperti lingkungan hijau dan faktor genetik tanaman sawi hijau dapat menyebabkan perbedaan morfologi.

  1. Bunga

Sawi hijau memiliki bunga yang disusun dalam tangkai, biasa disebut perbungaan. Bunga ini memiliki banyak cabang dan memanjang. Bunga sawi tergolong bunga utuh karena setiap bunga mengandung putik dan benang sari. Masing-masing bunga memiliki enam benang sari yaitu 6 benang sari dengan tangkai yang panjang  dan 2 sisanya benang sari yang memiliki tangkai pendek. Tanaman Sawi hijau juga memiliki putik berlubang dan dua kelopak kuning. Permukaan daun mahkota sangat halus dan tidak berbulu.

Ovarium tanaman sawi hijau berkembang dengan baik, dan kepala putik memiliki dua lobus. Awalnya hanya terdapat satu rongga pada putik, namun dalam perkembangannya, lapisan tipis dinding tumbuh dan membagi rongga menjadi dua bagian. Pada dataran tinggi maupun rendah tanaman ini mudah mekar karena penyerbukan tanaman sawi biasanya dibantu oleh serangga kecil atau angin.

  1. Buah

Buah tanaman sawi hijau memiliki warna hijau keputihan dengan bentuk yang bermacam-macam, ada yang berbentuk lonjong maupun berbentuk bulat. Dapat juga dikatakan jika buah ini berbentuk kapsul dengan dua katup terbuka. Buahnya berbentuk polong. Ada 2 hingga 8 biji di setiap buah. Ada rongga pada buah dengan biji di dalamnya.

  1. Biji

Biji sawi berwarna coklat tua dan memiliki ukuran yang kecil. Namun benih ini berwarna kuning muda dan diameter 2,5 mm. Biji sawi berbentuk oval atau elips. Permukaan biji halus dan mengkilat. Bijinya juga memiliki tekstur yang keras. Di luar biji terdapat selaput, dan sawi tidak memiliki endosperma. Biji sesawi tidak memiliki bau yang khas bahkan saat dikunyah atau dihancurkan. Biji sesawi tergolong biji utuh atau biasa disebut monokotil.

Syarat Tumbuh Sawi Hijau

Untuk mendapatkan hasil terbaik, sawi hijau memerlukan kondisi tertentu untuk tumbuh. Meski sawi hijau merupakan tanaman yang hidup di daerah beriklim sedang, namun kini bisa tumbuh subur di daerah panas. Penanaman pada suhu 15 derajat celcius ketika malam hari dan 21 derajat celcius pada siang hari merupakan salah satu kebutuhan yang pas untuk mendapatkan hasil optimal pada pertumbuhan tanaman sawi hijau. Kisaran kelembaban udara yang cocok untuk pertumbuhan sawi terbaik adalah 80% hingga 90%. Kelembaban yang lebih tinggi dari 90% akan berpengaruh buruk pada pertumbuhan tanaman yaitu pertumbuhan daun yang tidak sempurna, mandul, dan kualitas daun jelek. Proses penyerapan unsur hara pada tanaman sawi juga dapat dipengaruhi oleh kelembaban udara. Tanaman sawi hijau bisa ditanam sepanjang tahun sehingga dengan air yang cukup, curah hujan tahunan memungkinkan tanaman sawi dapat bertahan hidup dengan baik.

Tanaman sawi memiliki nilai curah hujan yang dapat dikatakan optimal yaitu pada kisaran 1.000 hingga 1.500 mm per tahun. Perlu diperhatikan bahwa pada musim kemarau perlu dilakukan penyiraman secara teratur, termasuk juga tidak boleh ada genangan air di dekat tanaman sawi, karena sawi tidak bisa hidup di genangan air. Sinar matahari adalah energi yang dibutuhkan tumbuhan untuk fotosintesis. Kebutuhan energi kinetik untuk pertumbuhan tanaman sawi berkisar antara 350 kal / cm2 hingga 400 kal / cm2. Cahaya dengan intensitas tinggi dapat memaksimalkan fotosintesis, sedangkan sedikit sinar matahari akan menyebabkan pertumbuhan dan hasil sawi menurun. Meskipun sawi hijau tumbuh dengan baik di berbagai tempat, ketinggian tumbuh sawi terbaik adalah sekitar 5 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut.

Hidroponik Sawi Hijau

(Sumber: https://situsbunga.com/cara-budidaya-sawi-hijau-secara-hidroponik/, 2018)

Tanaman sawi hijau ini dapat digunakan untuk berbagai jenis kultur hidroponik, namun untuk mencapai hasil terbaik atau optimal yaitu Nutrient Film Technique. Karena sistem perakaran yang dikembangkan, efek pertumbuhan tanaman menggunakan sistem Nutrient Film Technique sangat baik. Menurut penelitian Morgan (2000), pada sistem Nutrient Film Technique, kebutuhan oksigen akar tanaman diperoleh dari beberapa akar yang tidak terendam dalam lapisan larutan nutrisi. Tanaman masih mendapatkan oksigen dari oksigen terlarut dalam larutan nutrisi, namun sebagian besar oksigen yang diserap tanaman diperoleh dari akar yang belum pernah direndam dalam larutan nutrisi. Pada saat yang sama, beberapa akar terendam di lapisan nutrisi, menyerap nutrisi dan air yang dibutuhkan tanaman. Oleh karena itu oksigen, air dan unsur hara yang dibutuhkan tanaman dapat memenuhi kebutuhan tanaman untuk pertumbuhan normal. Penutupan stomata akibat kekurangan air pada sawi akan menurunkan laju transpirasi, sehingga mengurangi suplai hara larutan hara hidroponik ke tanaman, karena transpirasi pada dasarnya mendorong laju aliran air, dan hara untuk pertumbuhan tanaman berkaitan dengan air dalam sistem hidroponik. percampuran. Larutan hara merupakan bagian penting dari pertumbuhan tanaman hidroponik. Dalam budidaya tanaman hidroponik, garam anorganik dilarutkan dalam komposisi air tertentu. Campuran garam mineral dan air ini disebut larutan nutrisi. Larutan unsur hara tersebut selanjutnya akan diserap tanaman ke dalam daun melalui wadah xilem, kemudian xilem akan menggunakannya untuk fotosintesis, kemudian floem akan mengangkut hasil fotosintesis tersebut ke seluruh bagian tumbuhan.

 

 

Daftar Pustaka

Cahyono, 2003. Tanaman Holtikultura. Penebar Swadaya, Jakarta.

Haryanto, E., T. Suhartini., E. Rahayu., dan H. Sunarjono., 2007. Sawi dan Selada. Penebar Swadaya: Jakarta.

Morgan, L., 2000. Are your plants suffocating? The importance of oxygen in hydroponics. The Growing Edge Vol. 12(6):50-54.

Rukmana, R., 2008. Bertanam Petsai dan Sawi. Kanisius: Yogyakarta.

Sunarjono, H., 2004. Bertanam 30 Jenis Sayur. Penebar Swadaya: Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *