Sabun Serai Solusi Atasi Limbah Deterjen

Dampak dari penyakit corona yang melanda masyrakat dunia ternyata berpengaruh besar pada perilaku dan kebiasaan hidup manusia pada umumnya. Dari sisi positif, dampak kebiasaan keseharian masyrakat adalah dengan lebih protektif menjaga diri dari penyakit khususunya dari penularan virus covid-19 itu sendiri. Kebiasaan mencuci tangan dan mandi sebelum atau setelah beraktifitas menjadi hal yang lumrah dilakukan. Kebiasaan ini menjadi suatu keharusan yang membuat semua orang mematuhi protokol anjuran pemerintah dalam rangka berusaha memutus mata rantai penyebaran virus covid-19, yang menurut penelitian akan mati jika terkontaminasi cairan deterjen. Begitu juga penggunaan masker dan hand sanitaizer kini menjadi kebutuhan keseharian.

Dengan meningkatnya penggunaan deterjen setiap hari, tentunya juga memberi dampak negatif pada lingkungan. Limbah deterjen terus memenuhi saluran pembuangan yang mengalir ke sungai, rawa, situ, danau, bahkan laut. Deterjen yang mengandung bahan kimia dapat membahayakan lingkungan hidup yang pastinya akan kembali menjadi masalah bagi manusia itu sendiri. Rata-rata penggunaan deterjen pada rumah tangga perhari berkisar antara 50gram dan kini semakin meningkat drastis. Dapat kita kalkulasi dengan jumlah penduduk Indonesia sekitar 220 juta jiwa, berapa ton limbah dalam setahun mencemari lingkungan hidup kita?

Dampak yang akan ditimbulkan dari penggunaan detergen ini sebetulnya sudah dirasakan penduduk yang langsung atau tidak langsung berhubungan dengan sumber-sumber air di sekitarnya. Beberapa hal berbahaya yang dapat merusak ekosistem perairan dari pengunaan detergen tersebut adalah :

  1. Dampak eutrofikasi yang sangat sering terjadi. Eutrofikasi adalah kondisi dimana pertumbuhan tanaman enceng gondok dan ganggang yang sangat cepat atau begitu pesat. Namun, permukaan sungai atau rawa akan dipenuhi, jika dibiarkan. Selainnya, biota laut juga akan dihambat sirkulasi oksigen dan cahaya matahari sebab eutrofikasi, dan mengakibatkan ganggang berkembang dengan cepat, dan jika dibiarkan terlalu lama dapat menyebabkan rusaknya bita, bahkan sampai kepunahan.
  2. Surfaktan yang bersal dari minyak bumi, akan sulit terurai di alam bebas. Senyawa seperti Alkyl Benzene Sulfonates (ABS) ini digunakan untuk pembuatan deterjen anti noda. Sebagai penggantinya yang sedikit lebih cepat terurai yaitu, senyawa Alkyl Phenoxy, Polyethoxy Ethanol, dan Diethanolamines bila dibandingkan dengan ABS.
  3. Berbagai senyawa buatan di deterjen dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti iritasi kulit, mata, bahkan memicu kanker.
  4. Kemasan detergen biasanya menggunakan bahan plastik yang sangat sulit terurai dan penggunaannya sudah di batasi bahkan pemerintah menerapkan larangan penyediaan plastik bagi para pedagang yang melayani kebutuhan masyarakat.

Akankah hal ini akan kita biarkan terjadi demi alasan untuk menjaga kesehatan dari penyakit corona ?

Tentunya sangat tidak bijak menangani permasalahan dengan memicu munculnya masalah baru baik sekarang mupaun yang akan muncul di masa yang akan datang.

Bagaimana menjawab tantangan tersebut? Tentunya ada solusi yang dapat kita usahakan dalam mengendalikan dampak negatif dari limbah deterjen. Kita tidak mungkin membatasi penggunaan deterjen yang memang menjadi kebutuhan masyarakat, tetapi kita meminimalisir kandungan kimia berbahaya yang ada pada detergen tersebut. Salah satu solusi yang dapat kita gunakan adalah bahan dasar deterjen tersebut harus ramah lingkungan dan bersumber dari alam.

Alternatif penggunaan sabun ramah lingkungan dapat kita gunakan pada tumbuhan serai. Selama ini kita tahu bahwa serai adalah bahan bumbu pengharum dan penambah cita rasa untuk masakan.Tetapi masih banyak orang yang tidak mengetahui bahwa tumbuhan serai sebenarnya terdiri dari dua jenis dengan fungsi yang berbeda. Dalam Bahasa keseharian biasanya orang membedakan nama serai tersebut dengan serai wangi dan serai dapur.

Beberapa perbedaan yang terdapat pada kedua jenis serai wangi dan serai dapur adalah sebagai berikut.

  1. Batang

Perbedaan pertama adalah dari bentuk batang. Serai wangi mempunyai batang lebih ramping, sedangkan serai dapur batangnya besar dan berisi. Serai wangi lebih merah keungguan, sementara serai dapur berbatang hijau dan pada ujungnya berwarna putih.

  1. Aroma

Pada serai wangi aromanya sangat kuat sampai sering digunakan untuk membuat minyak dan sabun, bahkan untuk mengusir nyamuk. Sedangkan, serai dapur sekedar untuk tambahan pada bahan masakan.

  1. Bentuk Daun

Untuk bentuk daun serai wangi, ia melenggkung sampai menyentuh tanah karena panjang dan lebarnya yang berbeda, untuk panjangnya bisa sampai 90-100cm dan lebarnya 2cm daripada serai dapur. Sedangkan, daun serai dapur hanya sekitar sampai 60cm, dan tegak lurus

  1. Kandungan

Menurut kandungan pada serai wangi terdapat citronella oil dengan konsentrasi oksidan dan fitokimia, yang bersifat antiseptik, antimikroba, dan antijamur. Sedangkan, pada serai dapur terdapat sitral yang  memberikan wangi harum pada makanan.

  1. Pemanfaatan

Dari pemanfaatannya, serai wangi dibudiayakan untuk menghasilkan minyak atsiri atau lebih dikenal dengan sebuan essential oil. Minyak atsiri kini diburu para pengusaha dibidang kecantikan dan kesehatan. Sementara, serai dapur digunakan sebagai rempah, untuk membuat makanan lebih harum.

Adapun pembuatannya kita hindari dari bahan- bahan kimia yang mempunyai resiko sebagai sumber polusi atau berbahaya bagi kesehatan manusia. Kita usahakan produk ini juga mampu dibuat untuk dapat memenuhi kebutuhan setiap keluarga yang terdampak pandemi covid-19, sehingga dapat mempunyai nilai jual jika akan dijadikan produk industri rumahan.

Untuk membuat sabun serai yang ramah lingkungan dapat kita coba dengan cara sebagai berikut :

Bahan:

250 gram soap base melt and pour

3 sdm Lemon essential oil

Bahan – bahan yang dibutuhkan

5 sdm Citronella (serai) essential oil

3 sdm Patchouli (nilam) essential oil

5 sdm Peppermint essential oil

Pewarna makanan secukupnya (opsional)

Cara membuatnya

  1. Menimbang soap base secukupnya, lalu dipotong dadu
  2. Menyiapkan panci lalu masukan soap base hingga panas dan meleleh
  3. Selepas meleleh, diamkan sejenak, lalu campurkan macam-macam essential oil
  4. Untuk lebih berwarna, bisa ditambahkan pewarna beberapa tetes ke dalam larutan, aduk sampai merata
  5. Masukkan ke dalam cetakan sabun, biarkan hingga mengeras, untuk lebih mempersingkat waktu dapat dimasukkan ke dalam lemari es sekitar 15 menit. Akhirnya sabun siap digunakan

Dengan produk sabun serai ini, diharapkan akan menjadi solusi mengenai efek buruk dari penggunaan detergen yang ada pada saat ini, karena larutan yang dihasilkan dari sabun serai ini tidak mencemari lingkungan dan aman untuk kulit. Namun alternatif sabun organik lain juga bisa dipilih sebagai alternatif dari variasi sabun ramah lingkungan. Mari kita jaga lingkungan kita agar tetap bersahabat bagi kita dan generasi yang akan datang.

 

Daftar Pustaka

Rosalina, Dian. 2020. Cara Buat Sabun Serai Sendiri di Rumah. Retrieved November 11, 2020, from https://kumparan.com/kumparanmom/cara-buat-sabun-serai-sendiri-di-rumah-1tW0oJMyhLF/full

Richard, Theofilus. 2020. 6 Perbedaan Serai Wangi dan Serai Dapur | Mulai Batang Sampai Manfaatnya Beda Banget! Retrieved November 11, 2020, from https://www.99.co/blog/indonesia/perbedaan-serai-wangi-dan-serai-dapur

Sasetyaningtyas, Dwi. 2018. Bahaya Deterjen terhadap Lingkungan dan Kesehatan. Retrieved November 11, 2020, from https://sustaination.id/bahaya-deterjen-terhadap-lingkungan-dan-kesehatan/

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *