Rehabilitasi Lahan Kritis Pada Mangrove Dengan Teknik Guludan

Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki hutan mangrove atau hutan bakau terluas didunia. Lebih dari 3,2 juta hektar luas mangrove di Indonesia yang meliputi 26% total luas mangrove dunia (Valiela et al. 2001) dan kemudian 60% total mangrove Asia Tenggara (BAKOSURTANAL 2009). Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pada pantai tropis yang didalamnya terdapat beberapa jenis pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada kondisi air asin atau payau yang berada di wilayah estuaria.

Hutan mangrove adalah habitat untuk berbagai jenis organisme laut, avertebrata dan burung (Nybakken, 1992). Hutan mangrove memiliki potensi yang besar yaitu terkait dalam aspek potensi ekologis dan ekonomis Indonesia. Hal ini terjadi karena jika dilihat dari aspek ekologisnya, peranan hutan mangrove antara lain adalah dapat mengurangi laju dari gelombang tsunami, menyerap karbon yang ada di udara, sebagai habitat alami dari berbagai macam fauna, sebagai penghimpun sedimen dan pembentukan lahan, sebagai stabilisator dan benteng daerah pesisir dari hempasan gelombang, angin dan bahkan sebagai penahan banjir. Ekosistem hutan mangrove di wilayah pesisir memiliki keterikatan yang erat dengan ekosistem lainnya sehingga daya dukung terhadap lingkungan perairan di sekitarnya cukup besar. Hal tersebut terjadi karena hutan mangrove memiliki peran yang bersangkutan dengan masalah proses prinsip suplai rantai makanan (energy flow) yaitu yang berkaitan dengan daerah estuari (modifikasi dari LEAR & TURNER 1977).

Sedangkan dari aspek ekonomisnya, hampir secara keseluruhan bagian tumbuhan mangrove memiliki nilai ekonomis. Hal tersebut disebabkan karena banyak jenis tumbuhan mangrove yang menjadi bahan industri yang dapat digunakan untuk membuat berbagai produk yang memiliki nilai tambah. Kawasan hutan mangrove juga dapat dimanfaatkan sebagai hutan suaka alam, hutan produksi, hutan lindung, dan hutan wisata.

Pada tahun 1980 sampai tahun 2000, terjadi penurunan luas areal hutan mangrove secara signifikan yaitu mencapai lebih dari 1.25 juta hektar (35%) lahan (Giesen et al. 2006; Valiela et al. 2001). Dalam kehidupan manusia ataupun makhluk hidup lainnya lahan merupakan salah satu aspek yang dinilai cukup penting. Meskipun demikian, persoalan mengenai kerusakan hutan maupun lahan saat ini terus saja terjadi dan mengalami peningkatan yang mengakibatkan lahan menjadi kritis. Adanya penambahan jumlah penduduk serta adanya aktivitas pembangunan yang terus meningkat mengakibatkan adanya konversi lahan mangrove sebagai areal pertambakan, pemukiman dan areal pertanian, serta pengambilan kayu untuk keperluan komersial yang berlebihan sehingga menyebabkan degredasi lahan. Pemanfaatan hutan mangrove yang dilakukan secara berlebihan ini membawa dampak negatif karena menyebabkan lahan menjadi kritis.

Maksud dari lahan kritis yaitu lahan yang telah mengalami kerusakan sehingga lahan tersebut tidak dapat berfungsi dengan baik sesuai dengan peruntukannya, yakni sebagai media produksi maupun sebagai media tata air. Adanya perubahan penggunaan lahan di Indonesia seperti bagaimana kawasan lahan hutan  mangrove yang berubah menjadi lahan terbangun sehingga mengakibatkan kawasan yang berfungsi sebagai serapan air menjadi semakin berkurang yang dapat menyebabkan berbagai masalah diantaranya seperti adanya degradasi lahan, kekeringan atau kekurangan air bersih pada musim kemarau, bencana tanah longsor dan juga bencana banjir pada musim penghujan.

Jumlah lahan kritis di Indonesia khususnya dari tahun  2006 sampai tahun 2010 terus mengalami peningkatan, yaitu dari yang awalnya 77.806.880,78 Ha bertambah menjadi 82.176.443,64 Ha. Oleh karena itu upaya pemerintah untuk melakukan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) juga semakin meningkat. Hal ini terbukti setelah pada tahun 2010 pemerintah mampu melakukan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) yaitu sebesar 1.124.512 Ha (Statistik Kehutanan, 2011).

Bagaimana cara kita mengatasi persoalan mengenai lahan kritis yang ada pada hutan mangrove? Salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan melakukan kegiatan rehabilitasi hutan mangrove yang kondisinya telah kritis, yaitu dengan melakukan penghijauan yang memerlukan teknik yang spesifik. Selain memerlukan penguasaan teknik, kita juga perlu untuk mempelajari formasi jenis tumbuhan yang membentuk atau jenis penyususun hutan mangrove pada lokasi yang akan dilakukan penanaman. Tumbuhan penyusun utama pada hutan umumnya adalah Avicennia sp. Rhizophora sp. Sonneratia sp. Atau Bruguiera sp.

Upaya rehabilitasi lahan kritis pada mangrove ini dilakukan untuk memulihkan dan mengembalikan fungsi perlindungan, pelestarian dan fungsi produksinya. Langkah untuk melakukan penghijauan lahan mangrove yang telah kritis ataupun rusak kondisinya yaitu dengan pengadaan bibit, seleksi bibit, persemaian dan media semai, pengangkutan bibit, penanaman dan pemeliharan (SUGIARTO & EKARIYONO, 1996).

Rehabilitasi lahan kritis pada mangrove ini lebih banyak dilakukan di lokasi yang terdegradasi karena pemanenan kayu dengan sistem tebang habis, konversi menjadi tambak, dan tekanan penduduk (Field 1998). Rehabilitasi mangrove di bekas tambak khususnya mengakibatkan kesulitan tersendiri karena seringkali terdapat tanah yang mengandung asam sulfat yang dapat berbahaya ketika teroksidasi (Stevenson et al. 1999). Selain itu, air di bekas tambak biasanya tergenang cukup dalam sehingga menyebabkan sulitnya semai untuk tumbuh secara alami di lokasi seperti tersebut. Solusi yang dapat kita lakukan untuk mengatasi permaslahan rehabilitasi mangrove pada lahan-lahan yang tergenang air yang cukup dalam tersebut yang diperkirakan sekitar lebih dari 1 m yaitu dengan melakukan penanaman dengan teknik guludan. Penanaman dengan teknik guludan ini telah dilakukan pada kawasan hutan mangrove Angke Kapuk yang berada di daerah pesisir DKI Jakarta. Terhitung hingga saat ini ada sekitar 95 ha kawasan Angke Kapuk yang telah direhabilitasi yaitu dengan melakukan penanaman sebanyak 300 ribu bibit mangrove (Kusmana et al. 2014). Hal ini membuktikan bahwa penanaman mangrove dengan teknik guludan di daerah lahan dengan air yang dalam menjadi solusi yang efektif.

Penanaman mangrove dengan tehnik guludan pada dasarnya terdiri dari 3 tahapan, yaitu yang pertama adalah membuat konstruksi guludan dengan ukuran lebar 4 sampai 5 meter, panjang 6 sampai 10 meter, dan tinggi yang sesuai dengan kedalaman air, kemudian melakukan pengurugan guludan menggunakan karung tanah di bagian bawah yang ditutupi oleh tanah curah yaitu setebal 30 sampai 50 cm di bagian atasnya  sebagai media tumbuh, dan terakhir menanam bibit mangrove dengan jarak tanam yang cukup rapat yaitu di bawah 1 m x 1 m.

Rehabilitasi lahan kritis pada mangrove adalah bentuk upaya penanggulangan penambahan jumlah lahan kritis dan degredasi lahan lebih lanjut di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Eriyati, R. dan L. S., & Jurusan. (2015). ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENENTU KONVERSI LAHAN DI PROVINSI RIAU. Phys. Rev. E, 23(1993), 24.

Kusmana, C., Istomo, ., & Purwanegara, T. (2015). Teknik Guludan Sebagai Solusi Metode Penanaman Mangrove Pada Lahan Yang Tergenang Air Yang Dalam. RISALAH KEBIJAKAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN: Rumusan Kajian Strategis Bidang Pertanian Dan Lingkungan, 1(3), 165.

Ramayanti, L., Yuwono, B., & Awaluddin, M. (2015). Pemetaan Tingkat Lahan Kritis Dengan Menggunakan Penginderaan Jauh Dan Sistem Informasi Geografi (Studi Kasus : Kabupaten Blora). Jurnal Geodesi Undip, 4(2), 200–207.

Graha, Y. I., Hidayah, Z., & Nugraha, W. A. (2009). Penentuan Kawasan Lahan Kritis Hutan Mangrove di Pesisir Kecamatan Modung Memanfaatkan Teknologi SIG dan Penginderaan Jauh. Jurnal Kelautan Universitas Trunojoyo, 2(2), 106–116.

Pramudji. (2001). Upaya Pengelolaan Rehabilitasi dan Konservasi Pada Lahan Mangrove yang Kritis Kondisinya. Oseana, XXVI(2), 1–8.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *