Rehabilitasi Lahan di Sekitaran Daerah Aliran Sungai

Letak geografis yang strategis menunjukan bahwa Indonesia sangat kaya akan sumber daya alam. Salah satunya adalah daerah aliran sungai atau DAS. Daerah aliran sungai atau DAS merupakan suatu daerah yang berfungsi untuk mewadahi air hujan yang kemudian akan dialirkan melalui saluran air yang dibatasi oleh punggung bukit atau gunung . Kemudian air tersebut berkumpul menuju suatu muara sungai, laut, danau, atau waduk. Terdapat berbagai jenis pengguna lahan pada daerah aliran sungai , misalnya pedesaan, lahan pertanian, hutan, jalan, dan lain-lain. Dengan demikian, daerah aliran sungai memiliki berbagai macam fungsi sehingga perlu kita kelola.

Pengelolaan daerah aliran sungai merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat, petani, dan pemerintah. Tujuan pengelolaan daerah aliran sungaiĀ  adalah untuk memperbaiki keadaan lahan dan ketersediaan air secara terintegrasi didalam suatu daerah aliran sungai. Rusaknya hutan diwilayah hulu akibat pola usaha tani yang kurang bijak serta kurang optimalnya perencanaan ruang berbasis daerah aliran sungai dan ketidakpatuhan dalam implementasi regulasi merupakan beberapa contoh dari aktifitas yang lebih mementingkan keuntungan materi semata dengan mengabaikan lingkungan dimana kita tinggal.

Rehabilitasi lahan adalah suatu tindakan atau usaha untuk memperbaiki, memulihkan kembali, dan meningkatkan kondisi lahan kritis agar bisa di manfaatkan dan berfungsi secara optimal. Tujuan dari rehabilitasi lahan adalah agar lahan bisa berfungsi baik sebagai wadah untuk menampung air, lahan produksi, ataupun sebagai pelindung bagi alam sekitar dan lingkungannya.

Rehabilitasi hutan dan lahan atau RHL adalah salah satu dari bagian sistem untuk mengelola hutan dan lahan yang nantinya akan di alokasikan pada daerah aliran sungai atau DAS. Kegiatan rehabilitasi ini pun menjadi opsi demi mengisi kekosongan saat sistem perlindungan sudah tidak bisa menyeimbangi hasil dari sistem budidaya lahan dan hutan. Dengan demikian, hal tersebut akan memicu terjadinya defortasi juga degredasi fungsi hutan dan lahan. Rehabilitasi hutan dan lahan atau RHL di sosialisasikan sebagai program atau suatu tindakan guna memulihkan lingkungan hidu yang sudah rusak telah menjadi lahan kritis. Kegiatan rehabilitasi hutan ini ada beberapa macam. Di dalam kawasan hutan, rehabilitasi ini biasa disebut reboisasi. Namun, untuk pembangunan kayu di luar kawasan hutan (non hutan), rehabilitasi ini biasa disebut dengan penghijauan atau pembangunan hutan rakyat. Kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan dapat kita lakukan melalui kegiatan reboisasi, penghijauan, penanaman tanaman, pemeliharaan tanaman, pengayaan tanaman, atau bisa dengan menerapkan konservasi tanah secara vegetatif pada lahan kritis dan tidak produktif. Kegiatan penghijauan dan reboisasi biasanya dilakukan di tanah kritis dan lahan bekas penebangan liar atau biasa disebut dengan pembalakan. Agar kita bisa melakukan reboisasi dan penghijauan, kita membutuhkan benih dengan jumlah yang besar dan berkualitas baik.

Saat ini, Indonesia memiliki 17.000 daerah aliran sungai di seluruh daratan Indonesia. Terdapat pula 2.145 daerah aliran sungai yang kondisinya harus segera kita pulihkan. Pada tahun 2019, pemerintah dalam hal ini (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) berkolaborasi dengan pihak swasta dan masyarakat. Tujuan diadakannya kolaborasi ini yaitu untuk mengoptimalkan rehabilitasi hutan dan lahan dengan cara pendekatan corrective action. Dalam hal ini, pemerintah berkewajiban untuk menetapakan lokasi-lokasi RHL (Rehabilitasi Hutan dan Lahan) yang akan menjadi prioritas. Hal tersebut bertujuan untuk beberapa hal yang diantara lainnya adalah pemulihan danau, pemulihan daerah aliran sungai yang menjadi prioritas, pengendalian sedimentasi pada waduk atau bendungan, dan pencegahan dari terjadinya banjir dan longsor. Kewajiban tersebut harus bisa dilaksanakan sebaik mungkin agar output pelaksanaan rehabilitasi bisa dirasakan secara nyata. Ada tujuh point corrective action untuk menjamin keberhasilan pelaksanaan RHL atau Rehabilitasi Hutan dan Lahan yang di antaranya yaitu

  1. Area difokuskan kepada DTA danau (Daerah Tangkapan Air) dan waduk untuk mengendalikan laju sedimentasi pada daerah yang rawan banjir dan longsor serta pada daerah aliran sungai prioritas untuk mendukung ketahanan pangan dan air.
  2. Keterlibatan masyarakat sejak perencanaan setahun sebelum kegiatan dimulai sehingga program RHL (Rehabilitasi Hutan dan Lahan) dapat menciptakan lapangan kerja , yaitu pada bagian pembibitan, penanaman, dan pemilihan jenis bibit yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan lingkungan sekitar.
  3. Pendampingan oleh ahli yang kompeten dengan bidangnya pada saat pelaksanakan RHL (Rehabilitasi Hutan dan Lahan)
  4. Monitoring yang lebih efektif oleh pengawas independen atau profesional.
  5. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk memonitoring data pelaksanaan, data penanaman tanaman, data pemeliharaan tanaman tahap 1 dan 2, dan tanaman yang sudah berkembang pada setiap polygon atau petak menggunakan aplikasi di semua lokasi.
  6. Pemeliharaan lahan yang intensif dengan memperhatikan prinsip silfikultur untuk mengubah lahan yang sedang kritis untuk selanjutnya dijadikan hutan.
  7. Kawasan yang menjadi prioritas harus memiliki penanggung jawabnya.

Pada tahun 2019, terjadi rehabilitasi lahan yang dianggap kritis seluas 207.000 hektar atau sepuluh kali lipatnya dari tahun 2018. Selain akan meningkatkan kesuburan lahan, program RHL (Rehabilitasi Hutan dan Lahan) ini juga dapat merehabilitasi lahan, menurunkan laju erosi pada dam atau waduk, dan penurun frekuensi banjir dan longsor pada daerah aliran sungai yang di prioritaskan.

Sedangkan untuk pihak swasta, melakukan kewajiban rehabilitasi pada lokasi konsesi serta melakukan penanaman pada lahan kritis yang tidak produktif untuk meningkatkan nilai ekologi dan nilai ekonomi. Untuk penanamannya, dilakukan bersama masyarakat yang berada di sekitar lokasi. Masyarakat ikut terlibat secara aktif dalam pelaksanaan rehabilitasi yang berbasis perhutanan sosial. Dengan demikian, bukan hanya nilai ekologi tetapi juga akan menghasilkan nilai ekonomi yang akan meningkatkan taraf hidup dan mensejahterakan masyarakat.

Lingkungan adalah alam di sekitar kita yang perlu dan wajib untuk kita jaga bersama kelestariannya. Tidak terlepas dari itu, lahan juga termasuk salah satu aspek berada dalam lingkungan ini. Masih banyak terdapat lahan kritis di negeri tercinta ini yaitu Indonesia. Lahan kritis adalah lahan yang sudah tidak bisa berfungsi lagi untuk mengatur tata air dan lahannya sudah memiliki kerusakan fisik. Maka dari itu, perlu adanya rehabilitasi berupa reboisasi atau penghijauan kembali. Rehabilitasi lahan sangat bermanfaat bagi lingkungan sekitar dan mahluk hidup. Maka dari itu, diperlukan peran dan kerja sama dari masing-masing pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, hinga peran dari kita sebagai masyarakat.

Daftar Pustaka

Ardiman Tidore, H. D. (2019). EVALUASI PRESTASI KERJA PENANAMAN PADA PROYEK REHABILITASI. Retrieved November 13, 2020, from https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/cocos/article/view/22661/22358

Nining Wahyuningrum, T. M. (2019). ANALISIS KEKRITISAN LAHAN UNTUK PERENCANAAN REHABILITASI LAHAN DAS SOLO. Retrieved November 12, 2020, from http://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang./index.php/JPPDAS/article/view/5353/4802

Sarminingsih, A. (2007). Evaluasi Kekritisan Lahan Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Mendesaknya Langkah-langkah Konservasi Air. Retrieved November 12, 2020, from http://eprints.undip.ac.id/528/1/halaman_8-14__Anik_.pdf

Supangat, A. B., Purwanto, N. W., & S. D. (2020). MEMBANGUN PROSES PERENCANAAN PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI MIKRO SECARA PARTISIPATIF: SEBUAH PEMBELAJARAN. Retrieved November 12, 2020

hutantani.blogspot.com. (2014, 24 april). Artikel Rehabilitasi Hutan dan Lahan. Diakses pada 13 November 2020, dari https://hutantani.blogspot.com/2014/04/artikel-rehabilitasi-hutan-dan-lahan.html

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *