Rancangan Pemanenan Air Hujan untuk Cadangan Sumber Air Bersih

Air merupakan sumber kehidupan bagi makhluk hidup. Manusia, hewan, dan tumbuhan pasti memerlukan air. Air digunakan manusia untuk berbagai bidang kehidupan, misalnya, untuk kebutuhan sehari-hari, penyiraman tanaman, pembangkit listrik, irigasi pertanian, kebutuhan industri dan lain-lain. Kita tidak bisa hidup tanpa air karena hampir seluruh kehidupan membutuhkan air.

Di tengah populasi manusia yang makin meningkat, kebutuhan air bersih pun ikut meningkat. Maka dari itu, kita harus mengelola dan menggunakan air bersih dengan baik dan benar. Kualitas air di zaman sekarang menjadi masalah seiringan dengan populasi manusia yang makin bertambah. Kualitas air dipengaruhi dua faktor, yaitu faktor alami antara lain: kondisi batuan, topografi, curah, hujan, suhu udara, vegetasi dan waktu; dan faktor buatan antara lain adalah limbah domestik, limbah industri, pupuk dan pestisida (Sudarmadji, 1991). Kualitas air dapat dinyatakan dalam tiga parameter yaitu parameter fisika (suhu, bau, rasa, dan kekeruhan), parameter kimia (pH, oksigen terlarut, BOD, kadar logam), dan parameter biologi (keberadaan plangton, bakteri dan mikroorganisme lainnya).

Indonesia termasuk ke dalam negara tropis yang berarti memiliki dua musim, musim hujan dan musim kemarau musim kemarau di beberapa daerah tertentu terjadi musibah kekeringan dan ketika musim hujan di beberapa daerah tertentu terjadi musibah kebanjiran. Maka dari itu, hal ini diperlukan rancangan dan pengelolaan sumber daya air dengan tepat agar dapat terkelola dan tersedianya air bersih, baik di musim kemarau, maupun di musim hujan.

Salah satu mengantisipasi ketersediaan air bersih adalah dengan pemanenan air hujan. Pemanenan air hujan adalah metode yang menggunakan air hujan untuk kebutuhan sehari-hari. Metode ini bertujuan untuk mengumpulkan air hujan di suatu wadah penampungan. Prinsip dasar dari metode ini adalah adalah mengalirkan air hujan yang jatuh ke bumi melalui talang air yang kemudian dikumpulkan di bak penampungan air.

Hujan bagaikan pisau bermata dua, memiliki dampak positif dan dampak negatif. Dampak positif dari hujan adalah dapat dimanfaatkan oleh makhluk hidup untuk kebutuhannya, sedangkan dampak negatifnya adalah jika hujan yang turun berlebihan dan saluran drainase bermasalah dapat menyebabkan bencana, seperti genangan air hingga banjir. Oleh karena itu, untuk menghindari dampak negatif dari turunnya hujan, perancangan teknologi pemanenan air hujan diperlukan untuk mengantisipasi masalah perubahan iklim.

Penggunaan air hujan sebagai alternatif sumber air bersih memiliki beberapa keuntungan sebagai berikut:

  1. Mengurangi dampak dari lingkungan;
  2. Kualitas air hujan relatif bersih dengan atau tanpa pengolahan lebih lanjut;
  3. Air hujan bisa dijadikan sebagai cadangan darurat jika persediaan air yang lain;
  4. Pemakaian kumpulan air hujan dapat mengurangi ketergantungan dengan pada penyediaan air bersih
  5. Menjadi upaya pemeliharaan dan perlindungan lingkungan
  6. Mudah dilakukan dan dapat dibuat sesuai kebutuhan serta tidak membutuhkan tenaga kerja dengan keahlian khusus

Selain keuntungan yang didapat, ada juga beberapa kendala dalam merancang pemanenan air hujan. Beberapa faktor harus dipertimbangkan agar sistem pemanenan air hujan optimal. Faktor-faktor  yang harus dipertimbangkan dalam pemanenan air hujan adalah sebagai berikut:

  1. Luas daerah tangkapan air hujan dan kapasitas penyimpanan air hujan;
  2. Pemeliharaan sistem pemanenan air hujan harus dirawat dengan baik agar kualitas air hujan yang ditampung terjaga tetap baik;
  3. Pendapatan perusahaan air bisa mengalami penurunan karena perluasan sistem pemanenan air hujan sebagai salah satu alternatif air bersih
  4. Sistem pemanen air hujan belum ada pedoman yang jelas untuk diikuti pengembang atau penggunanya
  5. Tangka penyimpanan air hujan bisa menjadi tempat berkembang biak bibit penyakit jika tidak dirawat dengan baik
  6. Pemerintah belum mengatur regulasi tentang kebijakan pemanenan air hujan dan belum termasuk dalam kebijakan pengelolaan sumber daya air.
  7. Faktor yang utama adalah curah hujan di wilayah tempat pemanenan air hujan.

sistem pemanenan air hujan memerlukan komponen-komponen yang harus disiapkan. Komponen-komponen tersebut terdiri dari area tangkapan air hujan (collection area) untuk mengumpulkan air hujan, saluran pipa yang mengalirkan aliran air hujan dari area tangkapan air hujan ke tanki penyimpanan, penyaring (filter) untuk menjaga kualitas air, tanki penyimpanan (storage tank) untuk menyimpan air hujan, dan pompa untuk menaikkan air (Sumber et al., 2011)

Menurut UNEP (2001), ada dua tipe sistem pemanenan air hujan. Pertama, sistem atap (roof system), yaitu sistem yang menggunakan atap rumah secara individual yang memungkinkan air terkumpul kurang signifikan, apabila dilakukan secara massal, air yang terkumpul akan melimpah. Kedua, sistem permukaan tanah (land surface catchment area) yaitu sistem yang menggunakan permukaan tanah. Metode ini sangat sederhana untuk mengumpulkan air hujan dibandingkan sistem atap, sistem ini lebih banyak mengumpulkan air hujan melalui dari daerah tangkapan yang lebih luas dan kualitas airnya rendah sehingga sistem ini cocok untuk bidang pertanian (1) , 2) , 3) 1), 2016).

Adapun langkah-langkah pembuatan sistem pemanenan air hujan. Pertama, menggali tanah sebagai sumur, kedalamannya tidak boleh melebihi muka air. Kedua, perkuat dinding sumur dengan beton, kemudian isi lubang sumur dengan koral, ijuk, batu pecahan, dan arang. Ketiga, tutuplah bagian atas sumur dengan plat beton. Keempat, hubungkan talang ke sumur menggunakan pipa. Kelima, buatlah saluran pembuangan dari sumur serapan untuk mengantisipasi kelebihan air. Terakhir, periksalah menjelang hujan (Lingkungan, 2018). Sistem pemanen air hujan ini perlu dibersihkan secara berkala, minimal satu tahun sekali, karena untuk menjaga kualitas air dan mencegah timbulnya bibit penyakit.

Pemanenan air hujan memiliki manfaat terhadap sumber daya air, di antaranya: air yang lebih bersih, suplai air yang bersih dan memadai, mengurangi penggunaan air untuk kegiatan sehari-hari dari sumber lainnya, dan perlindungan terhadap sumber air. Selain itu, di bidang lingkungan dan kehidupan, manfaat yang bisa didapat di antaranya: mengurangi limpasan air hujan keluar dari persil bangunan gedung, mencegah terjadinya penurunan permukaan tanah, udara yang lebih bersih, menurunkan temperatur daerah perkotaan, dan bagian dari solusi terhadap dampak perubahan iklim.

Indonesia sebagai negara yang memiliki curah hujan yang termasuk tinggi sebaiknya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Dengan pemanfaatan yang maksimal, air hujan bisa digunakan sebagai alternatif sumber air bersih untuk kebutuhan kehidupan. Pemanfaatan air hujan sebagai alternatif sumber air bersih memiliki manfaat terutama untuk wilayah yang mengalami kekurangan air bersih dan dapat digunakan untuk mengisi kembali air tanah(Sumber et al., 2011).

Referensi:

1) , 2) , 3) 1). (2016). Kajian Pemanenan Air Hujan sebagai Alternatif Pemenuhan  Air Baku di Kecamatan Bengkalis 3(2), 1–13.

Lingkungan, P. M. (2018). PERENCANAAN TEKNIS PEMANENAN AIR HUJAN TERINTEGRASI TECHNICAL PLANNING OF INTEGRATED RAINWATER HARVESTING WITH INFILTRATION WELLS hujan ( PAH ) . 6(1), 93–107.

Rofil. (2017). Potensi dan Multifungsi Rainwater Harvesting (Pemanenan Air Hujan) di Sekolah bagi Infrastruktur Perkotaan. Biology Education Conference, 14(1), 247–251.

Sumber, P., Air, D., & Perkotaan, D. I. (2011). Pemanenan air hujan sebagai alternatif pengelolaan sumber daya air di perkotaan. 34(1), 105–114.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *