Potensi Bisnis Hidroponik di Kawasan Perkotaan

Masalah utama di kawasan perkotaan saat ini adalah semakin sempitnya lahan pertanian yang disebabkan oleh tingginya pertumbuhan dan migrasi penduduk serta alih fungsi lahan. Lahan pertanian semakin sempit sedangkan permintaan bahan pangan semakin tinggi, hal ini dapat dijadikan potensi bisnis baru dalam bidang penyediaan bahan pangan. Saat ini, sedang digalakkan kegiatan pertanian di perkotaan atau disebut urban farming. Urban farming atau pertanian perkotaan merupakan sebuat strategi budidaya pertanian di perkotaan pada lahan sempit yang dimanfaatkan untuk menghasilkan bahan pangan sebagai upaya terpenuhinya ketersediaan pangan perkotaan dengan memperpendek proses distribusinya (Anggrayni et al. 2015). Selain itu, urban farming dinilai dapat memperbaiki kualitas udara dan menambah ruang hijau.  Beberapa jenis komoditas yang dapat dibudidayakan dengan sistem hidroponik diantaranya adalah sayuran daun seperti caisin, bayam, kangkung, dan seledri, juga sayuran buah seperti tomat dan cabai.

Salah satu jenis budidaya pertanian yang dapat diterapkan dalam urban farming adalah hidroponik. Tidak seperti bercocok tanam pada umumnya yang menggunakan tanah sebagai media tanamnya, pada sistem ini, air digunakan sebagai media tanam dengan tambahan nutrisi tertentu. Beberapa jenis komoditas yang dapat dibudidayakan dengan sistem hidroponik diantaranya adalah sayuran daun seperti caisin, bayam, kangkung, dan seledri, juga sayuran buah seperti tomat dan cabai. Pemberian nutrisi dapat diberikan dalam bentuk genangan maupun dalam keadaan mengalir. Sistem budidaya hidroponik dibagia menjadi dua, yaitu kultur larutan nutrisi misalnya nutrient film technique (NFT) dan rakit apung dan kultur media tanam seperti dutch bucket (Suhardiyanto 2010). Ketiga metode tersebut cukup mudah diaplikasikan pada lahan sempit di perkotaan.

  1. Nutrient film technique (NFT)

Sistem ini dinamakan NFT karena prinsipnya mensirkulasi aliran nutrisi seperti lapisan film. Pipa atau talang diposisikan miring 1-5 derajat agar air dapat terus mengalir. Pada NFT, tanaman mendapatkan oksigen, air, dan nutrisi secara bersamaan. Air dan nutrisi dialirkan dari wadah penampungan menggunakan pompa ke seluruh bagian akar selama 24 jam dan akan dikembalikan ke wadah penampungan. Instalasi alat secara horizontal dinilai lebih baik agar tanaman mendapatkan cahaya yang cukup untuk pertumbuhannya.

  1. Rakit apung

Sistem rakit apung pada dasarnya adalah menempatkan tanaman di atas styrofoam agar dapat mengapung di atas larutan nutrisi. Akar tanaman akan bersentuhan langsung dan menyerap nutrisi. Listrik yang dibutuhkan pada sistem ini adalah listrik untuk menghidupkan aerator yang berfungsi sebagai penambah oksigen. Penambahan larutan nutrisi secara berkala penting dilakukan agar tanaman tidak kekurangan nutrisi.

  1. Dutch bucket

Komoditas yang biasa dibudidayakan dengan metode ini adalah cabai, tomat, dan melon. Sistem ini menggunakan media substrat seperti kokopit dan arang sekam. Cara kerjanya, larutan nutrisi ditampung di wadah lalu dialirkan dengan pompa dan selang ke bucket tanaman dengan prinsip irigasi tetes. Setiap bucket akan diberi pipa penyalur sisa nutrisi yang akan kembali dialirkan ke wadah penampungan.

Kelebihan budidaya tanaman dengan hidroponik adalah produksi tanaman per satuan luas lebih banyak, dapat dilakukan di dalam maupun luar ruangan, pemberian nutrisi lebih efisien, tanaman lebih bersih, tidak ada pembersihan gulma, juga lebih mudah dalam pengendalian hama. Kekurangan sistem hidroponik adalah tingginya energi dan biaya listrik yang digunakan, karena jika fertigasi (pemberian air dan nutrisi dalam waktu bersamaan) berhenti, tanaman akan mati. Solusi yang telah dikembangkan adalah adanya teknologi autopot dari luar negeri. Teknologi ini memungkinan fertigasi tanpa listrik, namun kendala dari autopot ini adalah harga starter kit alatnya yang cukup mahal. Solusi lainnya adalah sistem smart watering yang dikembangkan oleh dosen FTIP UNPAD. Sistem ini memanfaatkan gaya gravitasi dan hukum Archimedes sehingga alat ini tidak menggunakan energi listrik dan harganya lebih murah.

Budidaya hidroponik dapat dilakukan di halaman, balkon, atau atap rumah sehingga metode ini cocok dan mudah diterapkan di perkotaan. Potensi pengembangan usaha hidroponik sayuran dapat diprediksi melalui peningkatan jumlah penduduk di perkotaan serta perubahan pola hidup. Saat ini tren pola hidup sehat semakin digalakkan, bahkan semakin banyak orang yang menerapkan plant base pada pola makannya. Pada tingkat kesejahteraan masyarakat tertentu, harga produk hidroponik yang tanpa pestisida lebih tinggi dari hasil pertanian konvensional tidak menjadi masalah sehingga pasar untuk sayuran hidroponik ini sudah terbentuk. Saat pasar sudah terbentuk, maka permintaan akan tercipta. Permintaan sayuran hidroponik menurut survey setiap tahun meningkat 10-20%, namun data statistik resminya belum ada (Savira dan Prihtanti 2019). Menurut Suhardi (2016), permintaan suatu produk dipengaruhi oleh harga produk, pendapatan keluarga, dan jumlah anggota keluarga. Tren konsumsi sayuran menunjukkan keterkaitan antara pendapatan dengan pola makan (BPS 2017). Orang yang tinggal di daerah perkotaan dengan tingkat ekonomi menengah ke atas akan mengonsumsi sayuran lebih banyak.

Pada sistem produksi agroindustri di bidang hidroponik, instalasi sistem hidroponik dengan beberapa sistem di atas dapat menghasilkan produk yang dapat dijual ke perorangan maupun ritel. Setiap periode panen, pengemasan, hingga penjualan, akan terus dilakukan evaluasi terhadap proses produksi maupun output yang dihasilkan. Evaluasi dapat dilakukan secara internal maupun dari pihak luar (distributor atau konsumen) sehingga akan terus dilakukan perbaikan.

Bisnis hidroponik adalah bisnis yang bisa mendatangkan keuntungan juga kerugian. Sebuah penelitian oleh Ismail et al. (2019) dilakukan selama 3 bulan di Usaha Hidroponik Matuari, Manado, Sulawesi Utara. Hasil produksi seledri dan caisin berturu-turut adalah 188,8 kg dan 472 kg dengan harga jual per kg adalah Rp. 50.000 dan Rp. 5.000. Hasilnya, penjualan seledri di Manado menghasilkan untung yang cukup besar karena kemungkinan besar seledri merupakan produk yang sulit didapatkan sehingga harga jualnya cukup tinggi dan caisin mengalami kerugian karena harganya yang rendah. Sedangkan analisis penjualan di Jakarta dengan biaya penyusutan yang sama hasilnya berbeda. Harga penjualan seledri dan caisin di Jakarta adalah Rp. 40.000 dan Rp. 13.000. Keuntungan besar justru didapatkan dari penjualan caisin karena produksinya yang mencapai 2.5 kali lipat produksi seledri. Hal ini menunjukkan bahwa lokasi menentukan harga komoditas. Harga penjualan di kota besar biasanya lebih besar daripada di daerah.

Tidak semua komoditas hidroponik dapat mendatangkan keuntungan, diperlukan keahlian dalam memprediksi komoditas yang akan menghasilkan keuntungan. Namun, mengalami kerugian dalam berbisnis adalah hal lumrah. Fase try and error pasti akan selalu ada. Hal yang paling penting adalah selalu belajar dan terus melakukan perbaikan agar bisnis hidroponik yang kita kembangkan dapat mendatangkan keuntungan.

Daftar Pustaka

Anggrayni, Andrias, Andriani. 2015. Ketahanan pangan dan coping strategy rumah tangga urban farming pertanian dan perikanan kota Surabaya. Jurnal Media Gizi Indonesia. 10(2) : 173-178.

Badan Pusat Statistik. 2017. Fokus Khusus: Tren Konsumsi dan Produksi Buah dan Sayur. Buletin Pemantauan Ketahanan Pangan Indonesia Vol. 8.

Ismail MR, Manginsela EP, Kapantow GHM. 2019. Analisis pendapatan usahatani hidroponik Matuari di Kelurahan Paniki Bawah Kota Manado. AGRIRUD. 1(2) : 153-161.

Savira RD, Prihtanti TM. 2019. Analisa permintaan sayuran hidroponik di PT. Hidroponik Agrofarm Bandungan. AGRILAN. Vol. 7 No. 2 Juni 2019.

Suhardi. 2016. Pengantar Eknomi Mikro. Yogyakarta (ID): Penerbit Gava Media.

Suhardiyanto H. 2010. Teknologi Hidroponik untuk Budidaya Tanaman. Bogor (ID): IPB Press.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *