Peran Urban Farming dalam Ketahanan Pangan Indonesia

Indonesia memiliki luas total sebanyak 5.193.250 km2 dengan jumlah pulau sebanyak 17.508 pulau. Hal tersebut seiring dengan banyaknya jumlah penduduk Indonesia, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2015 tercatat penduduk Indonesia sebanyak 238.518.000 jiwa, bahkan BPS telah memproyeksikan peningkatan penduduk Indonesia pada tahun 2020 berjumlah 271.066.00 jiwa. Pada tahun 2010 hingga 2019 rata-rata pertumbuhan penduduk di indonesia sebesar 1.31. Hal tersebut menyebabkan Indonesia berada di urutan ke-4 sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak.

Banyaknya jumlah penduduk yang tinggal di Indonesia menimbulkan menyebabkan Indonesia tidak lepas dari ketersediaan pangan. Komoditas pangan merupakan kebutuhan pokok masyarakat yang ketersediaannya harus diperhatikan dengan baik oleh pemerintah. Maka dari itu, pemerintah terus berupaya untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang siap akan ketahanan pangan. Hal tersebut mendorong pemerintah untuk mewujudkan Indonesia menjadi negara tahan pangan. Salah satu aksi pemerintah dalam upaya mewujudkan Indonesia sebagai negara yang tahan pangan adalah dengan mendukung FAO dalam mewujudkan ketahanan pangan di Asia Tenggara. Selain itu, pada tahun 2017 Kepala badan Ketahanan Pangan mengadakan pertemuan dengan Mr. Mark Smulder yang merupakan representatif FAO untuk Indonesia. Hal tersebut menjadi bukti bahwa pemerintah serius mewujudkan ketahanan pangan di Indonesia. Namun, bukan hanya pemerintah saja yang harus berperan aktif dalam mewujudkan hal tersebut, kita sebagai rakyat Indonesia juga harus peduli terhadap pangan ketahanan pangan Indonesia.

Menurut UU No.18/2012 tentang pangan, menyebutkan bahwa ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan. Selain tentang ketahanan dalan UU pangan juga dibahas tentang kedaulatan pangan, keamanan pangan, kemandirian pangan.  Menurut Food and Agriculture Organization (FAO) 1992 ketahanan pangan adalah situasi pada saat semua orang dalam segala waktu memiliki kecukupan jumlah atas pangan yang sama dan bergizi demi kehidupan yang sehat dan aktif. Selain itu, menurut Food and Agriculture Organization (FAO) ketahanan pangan juga berperan aktif dalam menurunkan tingkat kelaparan dan kekurangan gizi. Dengan begitu, ketahanan pangan adalah kondisi atau situasi dimana semua orang terpenuhi atau mendapatkan pangan yang layak dan bergizi agar dapat hidup sehat dan produktif.

Salah satu mewujudkan Indonesia sebagai negara yang tahan pangan adalah salah satunya dengan menggalakan urban farming. Namun, sayangnya urban farming di Indonesia bukan sebuah kebutuhan tetapi masih sekedar tren gaya hidup yang nantinya akan hilang. Tetapi urban farming lebih dari sekedar tren, urban farming memiliki banyak manfaat yang akan dirasakan jika kita melakukannya dengan sungguh-sungguh dan dapat menjadi solusi dari berbagai macam masalah. Jika kita lihat kembali keadaan Indonesia saat ini lahan pertanian semakin sempit, dikarenakan banyak lahan pertanian yang dialih fungsikan menjadi gedung-gedung, hal tersebut dapat berakibat fatal terhadap ketahanan pangan Indonesia. Pada masa pandemi ini masyarakat dipaksa untuk tetap berada di rumah. Secara tidak langsung kita memiliki lebih banyak waktu luang untuk berkumpul dengan keluarga ataupun mencoba hal baru. Sebagian besar orang-orang mencoba melakukan urban farming, hal ini diharapkan bukan hanya menjadi tren semata karena diberlakukannya Work From Home namun juga dapat menjadi langkah awal memperkenalkan urban farming lebih dalam ke masyarakat Indonesia.

Urban farming memiliki banyak sekali keuntungan, dengan adanya urban farming kita tidak membutuhkan lahan yang luas untuk menanam bahan pangan bahkan media tanamnya pun tidak selalu berupa tanah. Urban farming pertama kali digalakan di Amerika dengan tujuan sebagai solusi dari buruknya ekonomi pada saat perang dunia terutama karena tingginya harga sayuran pada saat perang dunia. Hal tersebut menjadi bukti bahwa urban farming dapat membantu menstabilkan ekonomi negara. Di beberapa kota urban farming juga memiliki peran sebagai pendukung aspek estetika. Urban farming juga menjadi salah satu alternatif yang diterapkan pada saat terjadi krisis ekonomi yang menyebabkan keamanan pangan dan ketahanan pangan terancam. Selain itu, urban farming berperan aktif dalam menghasilkan produksi pangan dunia yaitu sekitar 15 hingga 20%.

Ada beberapa sub sistem dari urban farming, diantaranya :

  1. Vertikultur, teknik jenis ini dilakukan dengan teknik penanaman vertikal. Teknik ini sangat cocok dilakukan di tempat yang memilki lahan tidak terlalu besar. Komoditas yang cocok untuk ditanam dengan teknik vertikultur antar lain: bayam, kangkung, sawi, selada, seledri, dan beberapa sayuran lainnya.
  2. Hidroponik, teknik ini menggunakan air sebagai media tanamnya. Hidroponik dibagi lagi menjadi 3 macam, diantaranya : 1. Kultur air, merupakan penumbuhan tanaman dengan cara penambahan larutan hara pada bagian dasar sehingga akar dapat menyerap larutan hara yang kaya akan nutrisi. 2. Hidroponik kultur agregat, pada teknik ini menggunakan media tanam kerikil, pasir, arang sekam, dan lain sebagainya. Pemberian nutrisinya dilakukan dengan cara mengaliri larutan nutrisi yang telah tersedia di tangki besar. 3. Nutrient Film Technique (NFT) adalah sebuah teknik dimana tanaman ditanam di selokan panjang yang dialiri oleh air yang mengandung hara. Nantinya di sekitar akar akan terbentuk film atau lapisan tipis yang berfungsi sebagai makanan untuk tumbuhan tersebut. Beberapa hal yang harus menjadi perhatian jika kita ingin menanam dengan teknik hidroponik adalah unsur hara, media tanam, oksigen, dan air. Ph yang baik bagi tanaman adalah 6,5 sedangkan pupuknya adalah AB mix solution.
  3. Aquaponik dan Vertiminaponik adalah kombinasi sistem produksi pangan dengan budidaya hewan air. Media tanam yang digunakan dalam teknik ini adalah campuran antara batu zeolit dengan ukuran 20 mesh dengan bahan organik dan tanah mineral dengan perbandinga 3:1.
  4. Wall gardening teknik ini juga termasuk ke dalam teknik budidaya vertikal dengan memanfaatkan tembok atau dinding untuk menyimpan tanaman. Teknik ini juga dapat kerap kali digunakan dengan tujuan memperindah tampilan tempat.

Urban farming merupakan implementasi dari pemanfaatan lahan kecil dan memanfaatkan waktu untuk melakukan aktivitas yang berguna. Dari keuntungan urban farming tersebut, diharapkan Indonesia dapat menjalankan urban farming dengan serius, bukan hanya tren semata yang dapat dilakukan namun juga kegiatan yang dapat membantu perekonomian Indonesia dan mewujudkan ketahanan pangan Indonesia.

Daftar pustaka

Nurhemi., Soekro, S, R, I., Suryani, G. (2014). PEMETAAN KETAHANAN PANGAN DI INDONESIA: PENDEKATAN TFP DAN INDEKS KETAHANAN PANGAN.

Belinda., N., &Rahmawati., D. (2017). Pengembangan Urban Farming Berdasarkan Preferensi Masyarakat Kecamatan Semampir Kota Surabaya. Volume 6. Nomor 2.

Mayasari., K. (2016). Konsep Urban Farming sebagai Solusi Kota Hijau. Retrieve November 12, 2020, from http://jakarta.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/publikasi/artikel/639-konsep-urban-farming-sebagai-solusi-kota-hijau.

Fauzi., A., R., Ichniarsyah., A., N., &Agustin., H. (2016). PERTANIAN PERKOTAAN : URGENSI, PERANAN, DAN PRAKTIK TERBAIK. Volume 10. Nomor 01.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *