Pengunaan Model Hidrologi Untuk Pengelolaan DAS

Hidrologi adalah cabang ilmu geografi yang mempelajari mempelajari pergerakan, distrubusi dan kualitas air di bumi, termasuk siklus hidrologi dan sumber daya air (SDA). Dengan mempelejari Hidrologi kita bisa menggunakan Modelnya untuk Efektifitas dari pengelolaan DAS yang harus memperhatikan respon hidrologi pada setiap pelaksanaannya.Pengelolaan DAS itu sendiri sebaiknya menggunakan model hidrologi,yang diaman model itu menggunakan SWAT(Soil and Water Assesment Tool),yang dimana SWAT adalah salah satu model hidrologi yang terhubung oleh SIG(Sistem Informasi Geografis) dan DSS (Decision Support System). Sebelum itu kita harus mengerti tentang Pengetian dari DAS itu sendiri. DAS adalah singkatan dari Daerah Aliran Sungai, yang dimana dalam pendekatan Hidrologis merupakan wilayah yang dibatasi punggung bukit (pemisahan topografi) dimana air hujan yang jatuh pada daerah tersebut untuk ditampung dan selebihnya dialirkan dari sungai kecil ke sungai utama. DAs itu sendiri memiliki tiga fungsi, yaitu. mengumpulkan curah hujan,menyimpan air hujan untuk simpanan DAS dan mengalirkan air untuk limapasanya. Ketinga fungsi tersebut saling berinstraksi dalam suatu sistem DAS mulai dari penyimpanan massa air hingga hubungan masuk dan keluaran limpasa DAS itu sendiri.

SWAT (Soil and Water AssessmentTool) adalah model yang terhubung oleh SIG (Sistem Informasi Geografis) dan DSS (Decision Support System). Model SWAT dilakukan pada interval waktu harian dan dirancang untuk memprediksi dampak jangka panjang dari praktek pengelolaan lahan terhadap sumber daya air, sedimen dan hasil kimia pada DAS besar dan komplek dengan berbagai skenario macam-macam tanah, penggunaan lahan dan pengelolaan berbeda. SWAT itu sendiri memungkinkan sejumlah prosesĀ  yang berbeda untuk dilakukan pada suatu DAS.

Penggunaan model SWAT dapat mengidentifikasi, menilai, mengevaluasi tingkat permasalahan dalam suatu DAS dan sebagai alat untuk memilih tindakan pengelolaan dalam mengendalikan permasalahan tersebut. Dengan penggunaan model SWAT itu sendiri, dapat dikembangkan berberapa skenario untuk menentukan kondisi perencanaan pengelolaan DAS terbaik. Dalam hal itu penggunaan Model SWAT kita bisa tahu kegunaan metodenya dan efesiensi pengelolaan DAS, agar DAS tersebut terhindar dari berbagai masalahnya. Salah satunya ialah masalah Banjir dan Kekeringan. Untuk Penerapanya bisa dilakukan di DAS yang berada di cisadane. Oleh karena itu, Bagaimana cara menggunakanya? dan apa saja yang harus dilakukan?. Berikut ini akan dijabarkan.

yang akan diambil dalam slah satu penilitian ini adalah DAS di daerah Cisadane yang dimana dari data Pengelolaan DAS Cisadane, di DAS Cisadane dengan Luas 1.372,3 km2. DAS Cisadane sendiri terletak di Provinsi Jawa Barat.

Bahan yang dibutuhkan dalam peneletian ada 2 yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data-data yang mencakup karakteristik penggunaan lahan dan tanah, sedangkan data sekunder yaitu peta aliran sungainya dan peta Digital Elevation Model. Alat yang digunakan untuk pengelolaanya adalah komputer yang dimana sudah ada software-software seperti Mapwindow,Aplikasi SWAT,dan lain-lain.

Penelitian ini menggunakan model hidrologi SWAT (Soil and Water Assessment Tool). Kegiatan penelitian terdiri
dari berberapa tahapan, yaitu: Tahap Pengeumpulan Data,Tahapan Penggunaan Model SWAT untuk Pengelolaan DAS,Analisis Fase Pengelolaan DAS dengan Menggunakan Output Model SWAT.

Setelah Kedua tahap tersebut dilakukan analisis data yang dimana analisis ini lebih ditujukan pada pengunaan model SWAT yaitu output model disesuaikan tujuan penelitian.Kalibrasi model bertujuan agar luaran model yang digunakan hasilnya mendekati luaran DAS prototip yang diuji. Yang dikalibrasi ialah debit air, dengan itu kita bisa membandingkan antara hasil prediksi dan hasil observasi itu sendiri . Setelah itu kita dapat mengumpulkan data-data untuk merancang agar kita bisa mulai mencegah banjir dan kekeringan di DAS Cisadane tersebut.

Menurut data yang didapatkan mulai dari topografi dan sifat hidrologi DAS yang ada di cisadane. DAS cisadane sendiri memiliki potensi yang lumayan tinggi akan adanya masalah yang akan muncul, mulai dari potensi akan banjir serta potensi kekeringan. Oleh karena itu,penerapan rencana pengelolaan DAS yang diporeleh oleh data, menunjukkan hasil yang jauh lebih baik dibandingkan hasil penilaian kinerja tanpa penerapan rencana pengelolaan.

Dengan Demikian agar perencenaan pengelolaan DAS Cisadane dapat berkerja. Pengelolaan ini mungkin perlu kerja sama antar instasi-instasi yang berwenang, sehingga perlu untuk memiliki kelembagaan DAS. Secara umum hasil evaluasi penerapan rencana pengelolaan DAS berdasarkan penerapan skenario untuk kriteriatata air menunjukkan hasil baik, tetapi untuk kriteria penggunaan lahan masih masuk kriteria buruk. Oleh karena itu Pengelolaan DAS tersebut perlu pengendalian dan pencegahan masalah-masalah yang akan muncul nantinya,seperti erosi

Kesimpulanya pada data yang kita ambil adalah:

  1. Penilaian kinerja DAS yang kita peroleh,sesuai ketentuan yang berlaku DAS Cisadane menunjukan kinerja dan kriteria yang baik dari sub-sub DAS yang kita peroleh mulai dari DAS Ciampea,Cihideung,dan Cinangeng.
  2. Dari Evaluasi Perencanaan Pengelolaan DAS itu sendiri,penerapan unutk skenario gabungan rencananya memiliki kriteria tata air yang baik sedangkan untuk penggunanaan lahanya masih dibilang ke kriteria buruk. Oleh sebab itu perencanaan pengelolaan DASnya perlu diperbaiki dalam pengendalian masalah-masalah yang akan muncul seperti erosi,banjir,dan kekeringan.

Model hidrologi SWAT dapat digunakan sebagai salah satu alat dalam perencanaan pengelolaan DAS. Penggunaan model hidrologi SWAT itu sendiri dalam perencanaannya, Pengolahan DAS dapat mengidentifikasi, menilai dan mengevaluasi tingkat permasalahan DAS dan dapat digunakan sebagai alat untuk memilih tindakan-tindakan pengelolaan dalam mengendalikan permasalahan yang akan muncul nantinya. Oleh karena itu dengan penggunaan model hidrologi SWAT dapat dikembangkan untuk dilakukan secara sistematis untuk menentukan kondisi perencanaan pengelohan DAS yang terbaik dan aman.

 

DAFTAR PUSTAKA

Arnold, J. G., & Kiniry, J. W. (2005).Soil and Water Assessment Tool Theoretical Documentation (version 2005). Agricultur Research Service US. Texas. Retrieved Oktober 31, 2008, from http://www .http.brc.tamus.edu/swat/document.html.

Harto, S. (2000). Hidrologi teori masalah penyelesaian. Yogyakarta: Nafiri Offset.

Pawitan, H. (2004). Aplikasi model erosi dalam perspektif pengelolaan daerah aliran sungai. Prosiding Seminar Degradasi Lahan dan Hutan. Masyarakat Konservasi Tanah dan Air Indonesia. Universitas Gadjah Mada dan Departemen Kehutanan.

Wibowo, S. (2004). Masalah degradasilahan dan upaya rehabilitasi hutan dan lahan. Prosiding Seminar Degradasi Lahan dan Hutan. Masyarakat Konservasi Tanah dan Air Indonesia. Universitas Gadjah Mada
dan Departemen Kehutanan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *