Pengolahan Sampah Organik Menjadi Kompos

Dewasa ini, banyak orang berpikiran bahwa membuang sampah organik ke tempat sampah merupakan hal yang baik karena sampah akan terurai dengan sendirinya sehingga tidak membahayakan bumi, nyatanya hal ini justru menimbulkan dampak negatif yang akan merusak lingkungan. Sampah-sampah organik yang berakhir di TPA  nantinya hanya akan bertumpukan dengan sampah-sampah lainnya, kemudian sampah tersebut akan terurai tanpa oksigen (anaerob). Proses penguraian anaerob tersebut akan menghasilkan gas metana yang berbahaya untuk bumi, dimana gas metana ini dapat menimbulkan efek rumah kaca dan pemanasan global. Menurut riset dari Princenton University, gas metana memiliki bahaya 30 kali lipat dibandingkan dengan karbon dioksida. Mengompos sampah-sampah organik menjadi pupuk merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengolah sampah organik agar tidak berakhir di TPA, dengan mengompos kita dapat membantu mencegah dan mengurangi pembuangan sampah ke TPA yang berpotensi menghasilkan gas metana. Selain itu, mengompos juga dapat memberikan efek positif untuk lingkungan serta memberikan nutrisi bagi tanah.

Kompos merupakan pupuk organik yang berasal dari proses pelapukan bahan-bahan organik, pelapukan tersebut terjadi karena adanya interaksi antara mikroorganisme yang bekerja di dalam bahan organik tersebut. Pada dasarnya, proses pelapukan dapat terjadi secara alami, namun proses ini berlangsung dengan sangat lama hingga bertahun-tahun. Untuk mempersingkat proses tersebut, diperlukan adanya bantuan manusia melalui proses pengomposan. Apabila proses pengomposan berlangsung dengan baik dan benar maka proses pelapukan dapat berlangsung selama 1-3 bulan saja. Proses penguraian sampah organik dapat dilakukan dengan mengoyak-ngoyakkan sampah terlebih dahulu, cacing dan jamur selanjutkan akan menghancurkan sampah tersebut lebih lanjut. Bakteri aerobik menguraikan sampah organik dengan mengubah input menjadi panas, proses ini terjadi secara kimia, karbon dioksida dan amonium. Amonium ini selanjutnya akan dikonversi bakteri menjadi makanan tanaman berupa nitrit dan nitrat melalui suatu proses yang dikenal dengan istilah nitrifikasi. Proses nitrifiasi merupakan proses perubahan senyawa amonia menjadi senyawa nitrit, nitrit yang terbentuk dari perubahan amonia tersebut kemudian dioksidasi menjadi nitrat. Proses ini berlangsung secara aerobik, diperlukan pula tambahan udara dari luar agar reaksi dapat berjalan dengan maksimal. Bakteri yang bekerja pada proses nitrifikasi ini merupakan bakteri yang berjenis autotrop, bakteri ini memerlukan karbon anorganik untuk aktifitasnya serta pertumbuhannya, untuk itu diperlukan tambahan karbon anorganik dari luar.

Pada dasarnya, proses pengomposan ini dilakukan dengan cara menimbun sampah organik di dalam komposter dengan menambahkan air untuk melembabkan. Komposter adalah wadah yang digunakan untuk membantu kerja bakteri pengurai bahan organik pada proses pengomposan. Ada beberapa jenis komposter, antara lain adalah:

  1. Takakura

Takakura dapat berupa keranjang,  bisa menggunakan keranjang cucian bekas yang berlubang-lubang, kemudian keranjang tersebut dilapisi oleh kardus bekas. Bahan komposternya disusun seperti berikut, bantal sekam diletakkan di paling atas dan paling bawah, kemudian kompos yang telah berhasil terbentuk terletak dibawah, diatasnya ada sampah organik dan juga lapisan kardus, wadah ditutup dengan kain hitam berpori.

  1. Gerabah atau Komposter Pot

Komposter jenis ini dapat dibuat dengan cara membuat lubang di tanah untuk mengubur sampah. Komposter jenis ini biasanya menggunakan gerabah, karena gerabah memberikan sirkulasi udara yang lebih baik daripada penggunaan plastik.

  1. Komposer Drum atau Kontainer

Komposter jenis ini dapat dibuat dengan menggunakan drum plastik atau metal bekas. Drum tersebut dilubangi bagian bawahnya agar mendapatkan sirkulasi udara (aerob). Jenis komposter ini  cocok untuk digunakan di lahan sempit atauh bahkan indoor di dalam apartement.

  1. Worm Bin

Komposter jenis ini memanfaatkan cacing sebagai media pengurai. Komposter ini dapat dibuat dengan menggunakan kotak plastik beserta tutupnya. Cacing diletakkan pula di dalam komposter, dibutuhkan cacing di dalam komposter ini sebagai pengurai.

Agar proses pengomposan tercapai keefektivitasannya pada tingkat tertinggi, maka diperlukan hal-hal sebagai berikut, yaitu: ketersediaan bahan dengan rasio C:N yang sesuai, kelembaban yang cukup, serta oksigen yang cukup. Seluruh bahan organik mengandung karbon dan juga unsur lain seperti nitrogen, kandungan-kandungan tersebut memiliki jumlah kadar yang bervariasi. Dalam proses pengomposan, mikroorganisme emerlukan nitrogen dalam proses penghancuran bahan yang mengandung karbon tinggi. keseimbangan atau rasio antara kedua elemen ini dalam campuran merupakan hal yang sangat penting. Semakin jauh perbandingan antara karbon dan nitrogen pada campuran bahan maka akan semakin banyak pengaruh negatif yang terjadi pada proses pengomposan tersebut. Jika kadar karbon tinggi dan nitrogen rendah (C:N terlalu tinggi) maka proses pengomposan akan berlangsung sangat lambat, karena mikroorganisme akan kekurangan sesuatu yang ia butuhkan untuk menghancurkan sumber karbon. Jika nitrogen tinggi dan karbon rendah (C:N terlalu rendah) maka nitrogen akan dengan mudah hilang melalui penguapan gas amoniak ke atmosfer, karena nitrogen yang dibutuhkan oleh mikroba untuk menghancurkan kadar karbon sangat berlebihan dari yang dibutuhkan. Karena hal tersebut, jika bahan mengandung kadar nitrogen yang tinggi, seperti bahan rumputrumputan, perlu perhatian lebih serius dalam penanganannya dengan menciptakan aerasi yang cukup melalui cara pembalikan yang cukup dan mencampur bahan tersebut dengan bahan sampah lainnya yang mengandung kadar karbon tinggi.Kelembaban sangat penting bagi kehidupan organisme. Ketika kelembaban suatu campuran pengomposan yang sedang berlangsung mencapai kelembaban antara 35 dan 40%, laju penghancuran akan semakin lambat karena mikrobia kesulitan dalam menjalankan aktivitas metabolismenya, dan pada kondisi kelembaban kurang dari 30% mereka akan berhenti. Pada sisi lain, terlalu banyak kadar air akan memungkinkan memicu munculnya kondisi anaerob karena air mengisi seluruh ruang pada campuran. Pada kondisi ini maka dekomposisi yang terjadi akan berbeda dan akan menghasilkan bau yang tidak sedap.

Berikut ini merupakan contoh langkah-langkah untuk membuat kompos, yaitu sebagai berikut:Siapkan bahan baku: sampah coklat, sampah hijau (sampah organik), tanah, air cucian beras, bisa juga ditambahkan EM4 yang merupakan bioaktivator untuk mempercepat proses penguraian, siapkan alat: sesuaikan dengan tipe komposter yang kita pilih

  • Lubangi wadah, lalu isi wadah dengan campuran sampah organikdenngan sampah coklat dengan perbandingan 1:1. Ada baiknya sampah organik di cincang terlebih dahulu agar mempermudah proses penguraian. Campurkan campuran tersebut dengan tanah biasa dengan perbandingan 1:1. Tanah akan membantu proses pengomposan karena mengandung mikroba.
  • Masukkan seluruh campuran tersebut ke dalam wadah komposter. Kotoran ternak seperti kotoran ayam atau sapi juga dapat dicampurkan ke dalam campuran dan dimasukkan ke komposter. Siramkan air cucian beras hingga terlihat agak lembab. Tutup wadah komposter dengan rapat sementara proses penguraian terjadi
  • Aduk komposter setiap satu minggu. Pada minggu pertama dan kedua biasanya suhu sampah akan naik menjadi sekitar 40 C karena pada tahap ini mikroba mulai bekerja menguraikan sampah.
  • Saat warna menjadi kehitaman dan tidak ada bau sampah sekitar 4-6 minggu, maka kompos bisa dikatakan sudah jadi dan berhasil. Bagian yang kasar dapat dipisahkan dengan menggunakan ayakan, lalu ambil bagian yang halus.

Penggunaan kompos sangat baik untuk kesuburan tanah dan tanaman, penggunaan kompos pada tanah dapat mengemburkan tanah yang tandus, meningkatkan porositas, aerasi, dan komposisi mikroorganisme di dalam tanah. kompos berguna juga untuk meningkatkan daya ikat tanah terhadap air sehingga tanah dapat menyimpan air lebih lama. ketersediaan air dalam tanah dapat mencegah lapisan kering pada tanah. Selain itu, penggunaan kompos berguna untuk menjaga kesehatan akar tanah serta membuat akar tanah menjadi lebih mudah tumbuh. Kandungan hara pada kompos memang terbilang lebih sedikit dibandingkan pupuk anorganik. Oleh karena itu, penggunaannya harus dilakukan dengan volume yang sangat banyak untuk memenuhi kebutuhan hara tanaman. Namun, dilihat dari keuntungan yang bisa diberikan kompos untuk tanah dan tanaman, rasanya tidak rugi harus menggunakannya meskipun harus dalam volume yang besar. Keuntungan yang diberikan kompos tidak hanya untuk saat ini, tetapi untuk jangka panjang .

Daftar Pustaka

Ardhiati, Chandra. 2017. Pengaruh Aerasi Terhadap Karakteristik Lindi Hasil Pengolahan Sampah Sayuran dengan Metode Biodrying (Studi Kasus : Sawi Putih). www.ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/tlingkungan

Astagunawan, Made. 2018. Mengolah Sampah Organik Menjadi Kompos Skala Rumah Tangga. www.bali.litbang.pertanian.go.id (diakses pada 15 Oktober 2020)

Lucitawati. 2012. Penentuan Variasi C/N Optimum Sampah Campuran. www.ejournal.undip.ac.id. (diakses pada 15 Oktober 2020)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *