Pengolahan Sampah Organik dengan Bak Sampah Komposter

Sampah Sudah menjadi masalah umum yang dialami masyarakat. Setiap individu memproduksi sampah setiap hari. Sampah organik merupakan limbah yang berasal dari sisa mahkluk hidup seperti manusia, hewan, tumbuhan yang mudah mengalami pelapukan atau pembusukan. Sampah tersebut dapat berupa sisa makanan, sayuran, daun-daun kering, dan sebagainya. Masyarakat masih menganggap sampah sebagai barang yang tidak memiliki nilai sehingga harus segera dibuang. Hal tersebut menyebabkan sampah hanya berpindah tempat dan menumpuk pada suatu tempat.

Sampah organik yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan dampak pada masalah kesehatan seperti timbulnya penyakit diare, typus, kolera demam berdarah dan penyakit lainnya. Pembuangan sampah di tempat yang tidak semestinya juga dapat menimbulkan persoalan sosial, kerusakan alam, dan bahkan dapat berdampak pada masalah ekonomi. Berdasarkan hal tersebut, dibutuhkan solusi berupa pengolahan sampah organik menjadi kompos dan pupuk cair yang bisa digunakan untuk bercocok tanam dan optimalisasi mesin pencacah agar bisa digunakan untuk meningkatkan produksi. Kompos merupakan pupuk alami dari bahan-bahan hijau-hijauan dan bahan-bahan organik lainnya yang ditambahkan untuk mempercepat proses pembusukan. Proses pembuatan kompos perlu memerhatikan komposter, rasio C/N, dan proses nitrifikasi.

Bak Sampah Komposter

Bak sampah merupakan tempat menampungnya sampah-sampah masyarakat yang diletakkan di titik-titik strategis. Bak sampah ini menampung sampah organik dan anorganik secara terpisah. Bak sampah organik dibuat menjadi komposter untuk dapat mengolah sampah tersebut menjadi kompos. Komposter adalah wadah untuk mengolah kompos. Pembuatan kompos dapat dipercepat dengan ditambahkan bioaktivator ke bak sampah tersebut. Bioaktivator yang digunakan adalah Effective Microorganisms 4 (EM4) yang merupakan kultur campuran dalam medium cair berwarna coklat kekuningan, berbau asam, dan terdiri dari mikroorganisme yang dapat menguntungkan bagi kesuburan tanah. Terdapat jenis mikroorganisme dalam EM 4, yaitu Lactobacillus sp., Khamir, Actinomycetes, Streptomyces. EM 4 juga dapat merangsang perkembangan mikroorganisme yang menguntungkan dan bermanfaat bagi kesuburan tanah dan tanaman, contohnya bakteri pengikat nitrogen, pelarut fosfat, dan mikroorganisme yang memiliki sifat untuk menangkal penyakit tanaman. EM 4 dapat mempercepat proses dekomposisi pada sampah organik sehingga EM 4 digunakan untukĀ  pengomposan (Sugihmoro, 1994).

Ratio C/N

Rasio C/N bahan organik adalah perbandingan antara banyaknya kandungan unsur karbon (C) terhadap banyaknya kandungan unsur nitrogen (N) yang ada pada suatu bahan organik. Nilai rasio C/N dapat dipengaruhi faktor jenis bahan yang akan digunakan untuk kompos (Jannah, 2003). Mikroorganisme membutuhkan karbon dan nitrogen untuk dapat melakukan aktivitas hidupnya. Jika rasio C/N tinggi, maka aktivitas biologi mikroorganisme juga berkurang, diperlukan beberapa siklus mikroorganisme untuk melakukan mendegradasi kompos sehingga diperlukan waktu yang lama untuk proses kompos dan akan menghasilkan mutu yang rendah. Rasio C/N rendah, kelebihan nitrogen akan terdenitrifikasi atau hilang melalui proses volatisasi sebagai amoniak (Djuarnani, 2005). Berdasarkan ketentuan dari SNI 19-7030-2004, rasion C/N yang sesuai ketentuan adalah sekitar 10-20%.

Proses Nitrifikasi dan Denitrifikasi

Proses nitrifikasi menghasilkan senyawa nitrat dan nitrit, dimana kedua senyawa tersebut masih merupakan zat polutan, sehingga masih diperlukan proses untuk menghilangkan kedua senyawa tesebut. Oleh karena itu, proses nitrifikasi dilanjutkan dengan proses denitrifikasi, yaitu merupakan proses yang merubah unsur nitrit dan nitrat menjadi gas nitrogen (N2) sebagai produk akhir dari proses pengolahan sampah organik yang mengandung amoniak secara keseluruhan. Gas nitrogen akan terbuang ke udara, sehingga tidak ada lagi unsur zat nitrogen yang mencemari air yang keluar dari proses pengolahan sampah organik cair yang berupa amoniak. Gas nitrogen merupakan senyawa yang stabil.

Kesimpulan yang didapatkan pada pengolahan sampah dengan bak sampah organik ini adalah:

  1. Proses pembuatan kompos perlu memerhatikan komposter, rasio C/N, dan proses nitrifikasi.
  2. Bak sampah organik dibuat menjadi komposter untuk dapat mengolah sampah tersebut menjadi kompos.
  3. EM 4 dapat mempercepat proses dekomposisi pada sampah organik.
  4. Rasio C/N mempengaruhi lama waktu yang dibutuhkan untuk proses kompos, dan mempengaruhi mutu kompos yang dihasilkan.
  5. Dibutuhkan proses nitrifikasi dan denitrifikasi pada sampah organik cair untuk membuang unsur zat nitrogen yang mencemari air.

Daftar Pustaka

  • Djuarnani, Nan. dkk. 2005. Cara Cepat Membuat Kompos. Agromedia Pustaka, Jakarta.
  • Jannah, Miftahul. (2003). Evaluasi Kualitas Kompos dari Berbagai Kota sebagai Dasar dalam Pembuatan SOP (Standar Operating Procedure) Pengomposan.Fakultas Teknik Pertanian Institut Pertanian Bogor. Bogor.
  • Sugihmoro. (1994). Penggunaan Effective Microorganism 4 dan Bahan Organik pada Tanaman Jahe Jenis Badak. Skripsi. Bogor : Institut Pertanian Bogor.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *