Pengolahan limbah organik

Dewasa ini, kita seringkali menemukan banyak sampah organik yang terbuang begitu saja secara sembarangan.  Hal ini menimbulkan banyaknya timbunan sampah di sekitar kita yang membuat lingkungan terlihat kotor dan tidak bersih.  Alangkah baiknya apabila sampah-sampah organik tersebut dimanfaatkan untuk menjadi pupuk kompos yang berguna untuk memberi nutrisi pada tanaman sehingga mengasilkan win-win solution, dimana lingkungan bersih dari sampah organik yang terbuang secara sembarang dan tanaman pun bisa tumbuh subur berkat pupuk organik tersebut.  Kompos adalah bahan organik yang sudah terurai dan terdaur ulang, sehingga dapat digunakan sebagai pupuk atau bahkan sebagai agen perbaikan tanah.  Dalam proses pengomposan, berbagai teknologi (komposter) dapat digunakan sesuai kebutuhan. Selain itu, pada proses ini dibutuhkan bakteri untuk membantu proses nitrifikasi, dan juga dibutuhkan C / N ratio yang sesuai agar mencapai efek yang maksimal.

  • Komposter

Dalam pengomposan, berbagai teknik dapat digunakan sesuai kebutuhan. Teknik sederhana yang dapat digunakan di rumah antara lain takakura, komposter pot, wadah cacing, dan ciopori. Takakura adalah teknologi pengomposan yang dikembangkan oleh Koji Takakura di Jepang. Teknologi ini sangat mudah diterapkan karena menggunakan bahan seperti keranjang bekas yang dilapisi karton di bagian dalam, kemudian sampah organik ditempatkan di antara bantal cangkang dan ditutup dengan kain hitam. Kemudian komposter pot.  eknik ini merupakan salah satu cara tradisional masyarakat Indonesia, dimana sampah ditumpuk di gerabah yang memiliki “breathability” yang lebih baik dari plastik. Ini memungkinkan sirkulasi udara yang lebih baik untuk mencapai efek pengomposan yang maksimal. Teknologi ketiga adalah worm bin, yang membutuhkan penggunaan cacing untuk mengurai sampah organik yang ditempatkan di wadah plastik. Terakhir adalah pupuk hayati yaitu teknologi pengomposan dan menggunakan pipa dengan diameter 10 cm. Pipa tersebut ditanam di atas tanah sedalam 100 cm. Pipa tersebut dapat menampung berbagai limbah organik (sisa makanan, daun mati, mati Sisa tanaman, dll.). Dalam pengomposan, pasti terdapat kelemahan.  Kelemahan atau masalah yang sering muncul adalah munculnya belatung. Hal tersebut dapat diatasi dengan menutup kompos dengan tanah dan menghindari bahan organik basah. Selain itu, bau juga jadi masalah. Hal tersebut mudah diatasi dengan membuka tutup tempat sampah kompos untuk memberikan oksigen ke tempat sampah kompos. (Ruslinda, 2014).

  • C/N Ratio

Dalam proses pengomposan, mikroorganisme membutuhkan nitrogen untuk menghancurkan bahan berkarbon tinggi. Keseimbangan atau perbandingan antara kedua elemen dalam campuran ini sangatlah penting. Jika kandungan karbon terlalu tinggi, mikroorganisme akan kekurangan nitrogen, yang akan memperlambat proses pengomposan. Jika kandungan nitrogen lebih tinggi dari yang dibutuhkan oleh mikroorganisme, kelebihan nitrogen tersebut akan terbuang ke udara dalam bentuk gas amonia, sehingga menimbulkan bau yang menyengat..  supaya kedua proses (pengomposan) bekerja dengan baik sambil menghindari hilangnya nitrogen yang berharga, campuran organik harus menyediakan mikroorganisme dan keseimbangan karbon dan nitrogen yang ideal. Rasio ideal campuran kompos yang dianggap dapat diterima adalah 30, atau tiga puluh unit karbon per unit nitrogen (Lumbanraja, 2014).

 

  • Proses Nitrifikasi

Pada dasarnya limbah cair dapat diolah secara fisik, kimiawi atau biologis. Pengolahan limbah fisik dan kimia biasanya membutuhkan biaya yang relatif tinggi, dan terkadang timbul masalah baru akibat hasil pengolahan tersebut. Perawatan biologis biasanya digunakan sebagai metode alternatif yang paling efektif dan murah karena hasilnya tidak memerlukan perawatan khusus. alah satu jenis teknologi pengolahan limbah biologis yang memanfaatkan kemampuan mikroorganisme yaitu biofilter tercelup. biofilter pencelupan adalah alat pengolahan limbah cair yang menggunakan mikroorganisme yang ditumbuhkan pada kultur yang menempel, dan cairan olahan tersebut terus menerus melewati media kultur. Sitem biofilter dapat berupa proses aerob, anaerobik atau kombinasi proses anaerob-aerobik. Untuk melakukan proses aerobik dibutukan oksigen terlarut di dalam reaktor air limbah sementara untuk melakukan proses anaerobik tidak diperlukan oksigen didalam reaktor air limbah. Untuk mengilangkan kandungan nitrogen yang terdapat dalam air limbah biasanya menggunakan proses gabungan aerobik dan anaerobik. Untuk menghilangkan nitrogen, proses nitrifikasi terjadi dalam kondisi aerobik, yaitu amonia diubah menjadi nitrat (NH4 + NO3-); dalam kondisi anaerobik (anoksik), terjadi proses denitrifikasi, yaitu nitrat yang terbentuk diubah menjadi nitrogen (NO3- N2) (Rahmawati, 2019).

 

DAFTAR PUSTAKA

Lumbanraja, Parlindungan. 2014. Prinsip Dasar Proses Pengomposan. Medan: Universitas Sumatera Utara.

Rahmawati, Merza. 2019. Pengolahan Nitrifikasi Limbah Amonia dan Denitrifikasi Limbah Fosfat dengan Biofilter Tercelup. Jurnal Teknologi Lingkungan. 20(2): 243-250.

Ruslinda, Y. 2014. Pengomposan Skala Rumah Tangga. Jurusan Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Andalas, Padang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *