Pengolahan Limbah Organik Sisa Dapur Rumah Tangga

Pengolahan limbah merupakan hal penting bagi kehidupan. Limbah jika tidak diolah akan menjadi suatu masalah yang dapat merugikan manusia itu sendiri. Secara umum, Limbah dari sifatnya dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu limbah organik dan limbah anorganik. Limbah yang dapat diurai secara alami oleh tanah dan dapat membusuk disebut dengan limbah organik, sehingga limbah jenis ini jika diolah dengan benar dapat dijadikan kompos untuk pertanian. Limbah anorganik merupakan limbah yang terurai dengan rentang waktu yang sangat lama sehingga hampir dapat dikatakan bahwa tidak dapat diurai karena waktunya tersebut yang lama dan limbah anorganik ini tidak dapat membusuk selayaknya limbah organik. Limbah organik dapat dijadikan kompos karena limbah organik ini dapat membusuk dan juga berasal dari makhluk hidup baik itu tanaman, hewan maupun manusia. Pembuatan kompos dilakukan dengan mengolah limbah organik tersebut sehingga dapat dimanfaatkan kembali. Bahan dasar pembuatan kompos untuk skala rumah tangga dapat menggunakan bahan dasar seperti sisa buah-buahan maupun sisa sayuran sehingga tidak ada yang terbuang dengan percuma. Kegiatan pendaurulangan kembali bahan sisa tersebut sehingga dijadikan kompos dinamakan Recycle.

Komposter diperlukan dalam pembuatan suatu kompos. Komposter merupakan suatu penentu dari proses pengomposan itu sendiri termasuk kedalamnya kualitas kompos yang dihasilkan (Mudiatun,2008 dalam Nugraha,2017). Komposter ini didesain sedemikian rupa sehingga sirkulasi udara untuk mikroorganisme dapat tersalurkan dengan baik dan juga proses dekomposisi bejalan dengan baik. Pengelolaan sampah organik sehingga dapat dijadikan kompos yang terbaik adalah dimulai dengan pengelolaan sampah organik di rumah. Pembuatan Kompos di rumah dengan menggunakan limbah organik sisa dapur dapat menggunakan bahan yang cukup sederhana dalam pelaksanaannya (Ramdhaniati,2017). Pembuatan kompos dirumah ini agar proses pengkomposan lebih cepat dapat ditambahkan  Effective Microorganism 4 (EM4) karena dalam EM4 ini terdapat kandungan yang dapat memfermentasi limbah organik sisa dapur tersebut dan memicu perkembangan mikroorganime yang dapat menguntungkan untuk tanaman terutama untuk kesuburan tanahnya, contohnya pelarut fosfat , bakteri pengikat nitrogen, dan mikroorganisme yang bersifat berlawanan terhadap penyakit tanaman. EM4 juga digunakan pada pengkomposan karena kadungan dalam EM4 ini membantu meningkatkan kecepatan proses dekomposisi sampah organik. Komposter sederhana ini dengan menambahkan EM4 tersebut memiliki kualitas yang cukup baik (sahwan dkk, 2004 dalam Ramdhaniati,2017). Kompos akan memiliki struktur yang lebih hancur jika dilakukan pembalikan terhadap kompos teresebut dibandingkan tanpa pengadukan (Ramdhaniati,2017). Dalam Pembuatan kompoter Menurut Ramdhaniati,2017 terdapat bahan membuat komposter, langkah pembuatan komposter serta cara pembutan komposnya.

Pembuatan Komposter memerlukan bahan diantaranya:

  1. Dudukan plastik sebagai penyangga lempengan plastic
  2. Ember 25 liter bekas cat beserta tutupnya
  3. Lempengan Plastik sebagai saringan
  4. Slang plastic kecil atau kran palstik

Berikut adalah langkah dalam pembuatan komposter :

  1. Masukan dudukan plastik kedalam ember;
  2. Ember dilubangi pada bagian bawah dengan ukuran 1-2 cm dari dasar ember untuk dipasang slang plastik kecil atau kran plastik sebagai lubang keluarnya cairan yang dihasilkan dari prosers pengomposan;
  3. Lempengan plastik dilubangi menggunakan solder ataupun paku yang dipanaskan nantinya dijadikan sebagai saringan dan dimasukan kedalam ember;
  4. Slang plastik atau kran plastik dipasang pada lubang yang telah dibuat; dan
  5. Komposter siap diisi.

Cara membuat kompos menggunakan komposter diantaranya adalah :

  1. Memisahkan sampah organik dan juga non organik
  2. Memotong sampah orhganik menjadi potongan kecil sekitar 1-2 cm
  3. Memasukan kedalam komposter sampah organik yang telah dipotong kecil tersebut
  4. Sampah dapat ditambahkan sampai komposter penuh
  5. Melakukan penyemprotan bioaktivator(dapat menggunakan EM4) terhadap sampah organik hingga merata.
  6. Komposter ditutup rapat
  7. Mengulangi penyemprotan ketika memasukan sampah dan komposter ditutup rapat kembali
  8. Diamkan hingga +14 Hari sehingga proses pengomposan dapat berjalan

Pengelolaan limbah organik rumah tangga ini untuk dijadikan kompos hal yang perlu diperhatikan adalah perbandingan nilai C dan nilai N atau yang sering disebut dengan C/N rasio. Pengomposan ini memiliki prinsip yaitu untuk menurunkan nilai Rasio C/N bahan Organik hingga sesuai dengan nilai rasio C/N tanah (<20). Jika nilai dari rasio C/N  bahan organik semakin tinggi maka proses pengomposan akan semakin lama juga (Setyorini,2006). Limbah organik sisa rumah tangga ini menurut FAO,1987 dalam setyorini,2006 menunjukan nilai nitrogen per berat kering sebesar sebesar 2-3% dan C/N rasionya sebesar 10-16. Menurut balittanah, indikator kematangan dari suatu kompos salah satunya adalah dengan melihat parameter dari C/N rasio. Jika indikatornya menunjukan sekitar 20 maka dinyatakan sudah matang. Kompos yang memiliki kandungan Nilai C/N yang tinggi  yaitu lebih besar dari 30 akan menyebabkan proses dekomposisi yang lambat serta pertumbhuan tanaman akan terhambat yang disebabkan oleh kekurangan nitrogen. Proses dekomposisi yang lambat tersebut dapat ditanggulangi dengan pemberian EM4 sebagai bioaktivator terhadap limbah organik tersebut. Jika nilainya C/N <15 menyebabkan nitrat N yang dapat mengurangi mutu tanaman hasil pertanian atau perkolasi kedalam suplai air.

Pada proses pengomposan yang dilakukan akan terjadi pengeluaran karbondioksida ke udara serta nitrogen dalam bentuk NH3 (jika Kompos terlalu kering) ataupun  N2O (Jika Proses nitrifikasi dan denitrifikasi terjadi pada kompos) (Fukumoto et al., 2003). Proses Nitrifikasi merupakan suatu proses perubahan zat amoniak menjadi nitrit dan nitrat, sementara proses penghilangan senyawa nitrit menjadi gas nitrogen merupakan proses dari denitrifikasi. Proses nitrifikasi ini dilakukan dengan cara mengoksidasi senyawa amnonia oleh bakteri sehingga dijadikan nitrit dan nitrat (Marsidi,2002). Proses Nitrifikasi terjadi dalam kondisi aerobik. Proses nitrifikasi agar reaksinya berjalan dengan baik diperlukan tambahan udara dari luar. Jenis bakteri yang bekerja pada proses nitrifikasi adalah bakteri autotroph dimana dalam aktifitas dan pertumbuhannya diperlukan karbon anorganik oleh karenanya tambahan karbon dari luar sangat diperlukan. Proses Nitrifikasi dapat diartikan sebagai perubahan dari nitrogen ammonium (N-NH4) menjadi nitrit (NNO2) yang selanjutnya menjadi nitrat (N-NO3) proses nitrifikasi itu tersebut dikerjakan oleh suatu bakteri yaitu heterotropik dan autotropik (Grady dan lim,1980 dalam Marsidi,2002). Penambahan kompos pada tanah akan meningkatkan proses nitrifikasi itu sendiri karena disebabkan oleh bahan organik sebagai sumber karbon yang ada pada kompos tersebut.

Daftar Pustaka

Fukumoto, Y. Osada, T, Hanajima, D. dan Haga, K. 2003. Patterns and quantities of NH3, N2O and CH4 emissions during swine manure composting without forced aeration––effect of compost pile scale. Bioresource Technology 89 : 109–114

Marsidi, Ruliasih dan Arie Herlambang.2002. Proses Nitrifikasi Dengan Sistem Biofilter Untuk Pengolahan Air Limbah Yang Mengandung Amoniak Konsentrasi Tinggi. Jurnal Teknologi Lingkungan, Vol.3, No. 3, September 2002: 195-204

Nugraha, Noviyanti dkk.2017. Rancang Bangun Komposter Rumah Tangga Komunal Sebagai Solusi Pengolahan Sampah Mandiri Kelurahan Pasirjati Bandung. CR Journal Vol.03 No.02 Desember 2017

Ramdhaniati, Susi.2017. Komposter Mini Membuat Kompos Dari Limbah Dapur. Terdapat pada: http://jabar.litbang.pertanian.go.id/index.php/info-teknologi/595-komposter-mini

Setyorini,Diah Dkk. 2006. Kompos. Balittanah litbang pertanian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *