Pengolahan Limbah Organik Pada Sampah Rumah Tangga Menjadi Kompos dengan Komposter Aerobik

Limbah merupakan kumpulan dari bahan-bahan yang terbuang akibat adanya aktivitas manusia ataupun dari alam itu sendiri yang pada dasarnya tidak mempunyai manfaat ekonomi dan memiliki dampak yang buruk bagi lingkungan disekitarnya. Salah satunya ialah limbah organik yang merupakan limbah hasil penguraian dari bahan-bahan organik yang dapat diolah kembali atau didaur ulang menjadi sesuatu hal yang lebih bermanfaat bahkan mempunyai nilai ekonomi. Limbah organik saat ini banyak ditemukan berasal dari sampah rumah tangga atau dari kegiatan sehari-hari, seperti sisa-sisa sayuran dan buah-buahan. Sampah rumah tangga ini merupakan satu dari sekian banyak bahan organik yang sangat berpotensi untuk didaur ulang kembali menjadi kompos atau pupuk. Kompos merupakan jenis pupuk yang dihasilkan melalui proses penguraian sisa-sisa makhluk hidup, seperti hewan maupun tumbuhan yang berfungsi sebagai penyedia unsur hara pada tanah sehingga dapat dipergunakan untuk memperbaiki sifat fisik, kimiawi, maupun biologis tanah (Sutanto, 2002).

Proses pengolahan sampah organik menjadi kompos merupakan salah satu bentuk penerapan dari prinsip 3R, yaitu Reduce (mengurangi pemakaian pada sampah), Reuse (menggunakan kembali sampah), dan Recyle (mendaur ulang kembali sampah). Pendayagunaan sampah marupakan salah satu pilihan alternatif yang sangat baik dan tepat guna mengurangi efek negatif terhadap limbah serta menjadikannya sebagai sumber untuk mendapatkan nilai ekonomi. Selain itu, kegiatan daur ulang sampah untuk dijadikan sebagai suatu sumberdaya memiliki keterkaitan yang cukup erat terhadap komposisi sampah di Indonesia. Menurut salah satu data dikatakan bahwa hampir sekitar 71% sampah di Indonesia merupakan sampah organik yang dapat dijadikan kompos atau pupuk.

Proses pendauran ulang limbah organik pada sampah rumah tangga menjadi kompos dapat dilakukan melalui metode komposter. Komposter merupakan suatu alat yang berguna dalam pembuatan kompos. Alat ini digunakan untuk membantu dekomposer atau bakteri pengurai limbah organik terutama pada sampah rumah tangga menjadi pupuk kompos dalam bentuk cair ataupun padat. Salah satu macam komposter yang banyak atau sering digunakan oleh masyarakat yaitu berasal dari tong plastik bekas yang sudah dibenamkan ke dalam tanah.

Sebagai contoh, salah satu komposter yang digunakan untuk pengolahan sampah organik rumah tangga menjadi kompos yaitu komposter aerobik yang dirancang oleh Badan Penelitian dan Pengembangan (BPPT) dengan menggunakan beberapa bahan, seperti: tong plastik ukuran 60 liter, net/jaring, styrofoam bekas, karpet, dan kompos. Sementara untuk proses pembuatan komposnya memakai sistem aerobik terkendali atau tidak tergenang oleh air. Adapun parameter yang ingin diketahui dari penelitian ini, yaitu menentukan keberadaan mikroba kontaminan berupa Escherichia Coli dan Salmonella sp serta tingkat kematangan kompos, seperti: rasio C/N, N-NH4/Ntotal, dan N-NO3/N-NH4 (Sahwan et al., 2011).

Kompos yang digunakan pada penelitian ini berjumlah 4 jenis. Adapun proses pembuatan kompos ini dilakukan dalam 3 tahapan, yaitu (Sahwan et al., 2011):

  1. Pada tahap ini sampah organik dipisahkan terlebih dahulu dengan sampah yang lain, lalu dipotong kecil-kecil menjadi ukuran 0,5-1 cm.
  2. Sampah organik yang sudah dipotong kecil-kecil kemudian dimasukkan ke dalam komposter yang sudah berisi kompos kurang lebih 3 kg yang berfungsi sebagai dekomposer sekaligus sebagai pembenah atau pemulihan pupuk, kemudian aduk sampah hingga merata dengan kompos dan berikan alas karpet serta ditutup rapat.
  3. Dihari berikutnya, ulangilah tahap ke-1 dan tahap ke-2 hingga komposter terisi penuh. Setelah penuh, lakukan pengadukan minimal setiap minggu sekali.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, diketahui bahwa kompos yang dihasilkan tidak mengandung mikroba (Escherichia Coli dan Salmonella sp) sehingga kompos ini terbilang cukup higienis atau bersih dan terbebas dari bakteri patogen. Tingkat kematangan kompos dalam hal ini rasio C/N menunjukkan hasil dibawah 20. Berikutnya hasil perbandingan antara nilai N-NH4 dengan N-total menunjukkan lebih kecil dari 10% N-total. Selain itu, nilai rasio antara N-NO3/N-NH4 yang didapatkan sebesar 1,1-2,2. Sementara kandungan C-organik pada kompos berkisar 8,61-12,25%. Kadar air yang terdapat pada keempat kompos ini sebesar 45,89-73,76%, sedangkan menurut para ahli dikatakan bahwa kadar air yang ideal untuk kompos yaitu berkisar 35-45%. Parameter lainnya yang diamati yaitu tingkat keasamaan (pH), dimana kompos dari hasil penelitian ini mempunyai pH sekitar 5,8-7,4. Berdasarkan dari hasil peneltian tersebut dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa kompos yang dihasilkan ini memiliki kualitas yang cukup baik karena terbebas dari kontaminan mikroba (patogen) dan memenuhi persyaratan untuk matangnya kompos (Sahwan et al., 2011).

Sedangkan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh tim BPP Kementerian PUPR, komposter ini mampu mengolah sampah dapur sekitar 45-53 % dari sampah rumah tangga. Proses dekomposisinya pun dilakukan dengan bantuan mikroorganisme dari sampah dan juga dari dalam tanah seperti cacing. Kapasitas yang dimiliki oleh tong plastik ini berkisar 60-120 liter atau mampu menampung sampah sebanyak 200 kg, dengan lama proses pengomposan berkisar 4-6 bulan setelah komposter terisi penuh. Hasil kompos yang diperoleh kurang lebih 30 %, dengan tingkat rasio C/N sekitar 16-20, kadar N sebesar 1,79, dan Ca sebesar 23,27 serta menghasilkan pupuk kompos berbentuk padat.

Salah satu parameter penting pada proses pengomposan terutama untuk menentukan kematangan pada kompos, yaitu nilai rasio C/N. Hal ini dikarenakan rasio C/N bahan organik merupakan perbandingan antara jumlah kandungan unsur karbon (C) terhadap unsur nitrogen (N) yang terdapat pada suatu bahan organik (Purnomo et al., 2017). Kedua unsur hara ini (karbon dan nitrogen) memiliki peran penting karena sangat diperlukan oleh mikroorganisme untuk menunjang aktivitas hidupnya. Karbon (C) diperlukan oleh mikroba sebagai sumber energi untuk proses dekomposisi bahan organik, sebaliknya nitrogen (N) diperlukan oleh mikroba sebagai sumber makanan guna membantu pembentukan sel-sel di dalam tubuhnya.

Menurut Golueke (1977) dalam Sahwan et al (2011), dikatakan bahwa proses pengomposan yang baik harus memenuhi beberapa syarat, seperti rasio C/N yang ada pada bahan bakunya tidak lebih dari 30. Kompos pun dinyatakan sudah matang bilamana rasio C/N nya mengalami penurunan yakni dibawah 20 atau lebih kecil dari 20. Salah satu literatur mengatakan bahwa nilai rasio C/N yang ideal dari proses pengomposan yaitu 15-20. Sedangkan hasil penelitian dari Sahwan et al (2004), menunjukkan hasil yang berbeda dimana nilai rasio C/N pada sampah organiknya diketahui mencapai 37,15. Hasil ini terbilang cukup tinggi karena, jika nilai rasio C/N terlalu tinggi dapat mengakibatkan terjadinya penurunan aktivitas pada mikroba dikarenakan mikroorganisme mengalami kekurangan unsur nitrogen sehingga menyebabkan waktu pengomposan menjadi lebih lambat dan mutu kompos yang dihasilkan pun akan lebih rendah. Begitupula sebaliknya, ketika nilai rasio C/N terlalu rendah yang disebabkan oleh kelebihan nitrogen ini, kemudian mengakibatkan nitrogen tidak mampu lagi digunakan oleh mikroorganisme sehingga tidak mampu untuk diasimilasi dan dapat dengan mudah menghilang melalui penguapan gas ammonia ke atmosfer (Badan Litbang Pertanian, 2011).

Amoniak ialah senyawa kimia (NH3) yang dihasilkan dari nitrogen organik untuk selanjutnya diuraikan oleh organisme heterotrop, yaitu organisme yang memerlukan nutrisi dalam bentuk senyawa organik dan untuk mendapatkan energinya dilakukan dengan cara mengoksidasikan senyawa organik tersebut. Nitrogen organik ini berasal dari beberapa sumber, seperti limbah domestik berupa sampah rumah tangga, limbah industri, kotoran manusia dan hewan, dan limbah dari campuran air yang ada di alam yang telah terkontaminasi oleh sisa-sisa tumbuhan (Marsidi & Herlambang, 2002). Keberadaan amoniak dalam perairan dengan jumlah yang banyak cukup membahayakan organisme yang ada diperairan terutama ikan karena dapat mengurangi kandungan oksigen yang ada dalam air. Oleh karena itu, untuk mengurai kandungan nitrogen dalam perairan terutama pada air limbah, senyawa amoniak ini akan diubah melalui proses nitrifikasi.

Nitrifikasi merupakan sebuah proses perubahan senyawa dari yang semula amoniak berubah menjadi nitrit dan diubah kembali menjadi nitrat dengan cara dioksidasi menggunakan bakteri. Menurut Gardy & Lim (1980) dalam Marsidi & Herlambang (2002), proses nitrifikasi diartikan sebagai proses konversi dari senyawa nitrogen ammonium (N-NH4) menjadi senyawa nitrit (NO2) yang kemudian diubah kembali menjadi senyawa nitrat (NO3) dengan menggunakan bakteri autotropik dan heterotrofik. Kedua bakteri ini memiliki perbedaan dari bahan yang digunakan. Pada bakteri autotropik, untuk mensuplai ketersediaan karbon dan nitrogen menggunakan bahan-bahan anorganik dengan sendirinya. Bahkan bakteri ini pun memanfaatkan energi yang dihasilkan dari proses nitrifikasi untuk membentuk sel sintesa yang baru. Sedangkan bakteri heterotropik kebalikannya, yakni bakteri yang memerlukan bahan-bahan organik untuk membentuk protoplasma yang tersusun dari sitoplasma (plasma sel) dan nukleus (inti sel) (Marsidi & Herlambang, 2002).

Daftar Pustaka

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2011. Pupuk Organik Dari Limbah Organik Sampah Rumah Tangga. Agroinovasi, Edisi 3-9 Agustus 2011. No.3417.
Marsidi, R & Herlambang, A. 2002. Proses Nitrifikasi Dengan sistem Biofilter Untuk Pengolahan Air Limbah Yang Mengandung Amoniak Konsentrasi Tinggi. Jurnal Teknologi Lingkungan, 3(3): 195-204.
Purnomo, E. D., Sutrisno, E., & Sumiyati, S. 2017. Pengaruh Variasi C/N Rasio Terhadap Produksi Kompos Dan Kandungan Kalium (K), Pospat (P) Dari Batang Pisang Dengan Kombinasi Kotoran Sapi Dalam Sistem Vermicomposting. Jurnal Teknik Lingkungan, 6(2): 1-15.
Sahwan, F.L., R. Irawati., & F. Suryanto. 2004. Efektivitas Pengkomposan Sampah Kota dengan Menggunakan “Komposter” Skala Rumah Tangga. Jurnal Teknologi Lingkungan, Pusat Teknologi Lingkungan-BPPT, 5(2): 134-139.
Sahwan, F.L., S. Wahyono., & F. Suryanto. 2011. Kualitas Kompos Sampah Rumah Tangga Yang Dibuat Dengan Menggunakan “Komposter” Aerobik. Jurnal Teknologi Lingkungan, Pusat Teknologi Lingkungan-BPPT, 12(3): 233-240.
Sutanto, R. 2002. Pertanian Organik: Menuju Pertanian Alternatif dan Berkelanjutan. Yogyakarta: Kanisius.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *