Pengolahan Limbah Organik Desa

Pengolahan limbah organik memanfaatkan sampah organik, sampah organik didapatkan dari sampah yang berasal dari sisa-sisa makhluk hidup yang dapat terurai secara alami tanpa memerlukan pengeloaan lanjutan oleh manusia untuk dapat terurai sedangkan sampah anorganik merupakan sampah yang sudah tidak dipakai lagi dan sulit terurai dikarenakan tersusun dari komponen yang kompleks. Sampah anorganik hanya Sebagian kecil saja yang dapat diolah dan yang tidak dapat terolah tertimbun di tanah akan menyebabkan pencemaran tanah karena sampah anorganik tergolong zat yang sulit terurai dan sampah itu akan tertimbun dalam tanah dalam waktu lama sehingga dapat menyebabkan rusaknya lapisan tanah sehingga harus dikurangi penggunaannya.

Sampah organik merupakan sampah sisa yang masih bisa dimanfaatkan menjadi bahan yang berguna. Sampah ini bisa diuraikan menjadi bahan yang dapat digunakan kembali, Contoh pemanfaatan kembali limbah organik adalah pengolahan sampah menjadi kompos menggunakan komposter. Kompos adalah pupuk organik yang dihasilkan atau berasal dari hasil penguraian atau dekomposisi bahan bahan organik yang dihasilkan dari tanaman, hewan, sampah, yang memanfaatkan proses penguraian oleh mikroorganisme aktif, seperti bakteri dan jamur. Kompos umumnya terbuat dengan memanfaatkan sampah yang berasal dari kegiatan harian dan dari pengolahan dapur seperti sisa makanan dan sampah kebun, dedaunan, dan rumput, yang dapat dijadikan kompos. Kompos umumnya dimanfaatkan untuk pertanian, lansekap, dan sebagai bahan baku pupuk cair.

Pengubahan sampah menjadi pupuk kompos perlu dilakukan mengingat produksi sampah diarea desa semakin banyak sehingga mempercepat terjadinya penumpukan sampah dan menyebabkan polusi bagi lingkungan sekitar (Anwar, 2019). Metode yang paling umum digunakan adalah pengolahan dengan menggunakan komposter. Komposter merupakan alat yang terbuat dengan memanfaatkan drum plastik dengan menambahkan pipa didalamnya, pipa ini berfungsi sebagai saringan, output dan menambah corong udara di atas drum untuk sirkulasi udara, kemudian pada bawah drum atau bak tersebut dilubangi dan diberi saluran tambahan untuk pengambilan pupuk organik yang siap panen. Dalam mengulah limbah organik menjadi kompos memerlukan keseimbangan unsur hara total yang didapat dari rasio organik karbon dengan nitrogen (C/N Ratio). Dalam pembuatan kompos hal yang mempengaruhi percepatan pembentukannya adalah menggunakan EM4 (Effective Microorganism 4 untuk proses dekomposisi sampah dimana jumlah makanan mikroorganisme seimbang dengan jumlah mikroorganisme yang ada sehingga memiliki porsi makanan yang pas atau tidak kelebihan jumlah mikroorganisme dekomposer yang mengakibatkan dekomposisi sampah tidak maksimal. Volume penambahan EM4 merupakan faktor yang turut berpengaruh dalam proses dekomposisi sampah organik sehingga akan berpengaruh juga pada kecepatan penguraian bahan organik (Kurniawan, 2012).

Proses pengomposan dapat berlangsung menjadi dua metode diantaranya adalah secara aerobik (menggunakan oksigen) dan anaerobik (tidak menggunakan oksigen). Pengomposan anaerobic menimbulkan bau yang tidak sedap dan memakan waktu yang cukup lama, oleh karena itu proses pengomposan yang umum dilakukan adalah pengomposan aerobic. Pada proses pengomposan dengan metode aerobik akan segera berlangsung setelah bahan – bahan mentah dicampur. Singkatnya, pengomposan dapat berlangsung dua tahapan yaitu : tahap aktif dan juga tahap pematangan. Pada awal pengomposan oksigen dan senyawa yang mudah terdegradasi akan dimanfaatkan oleh mikroba mesofilik. Suhu pengomposan akan meningkat dengan cepat (di atas 500 – 700 C) (Fauziah, 2018).

C/N ratio bahan organik adalah perbandingan dari banyaknya kandungan unsur karbon (C) terhadap banyaknya kandungan unsur nitrogen (N) yang ada pada suatu bahan bahan organik (Djuarnani, 2005). Mikroorganisme sangat membutuhkan karbon dan nitrogen untuk aktivitas hidupnya, jika C/N ratio memiliki nilai tinggi, sehingga aktivitas biologi mikroorganisme akan berkurang dan diperlukan beberapa siklus mikroorganisme untuk mendegradasi kompos sehingga membutuhkan pengolahan dengan waktu yang lama namun menghasilkan mutu yang lebih rendah, jika C/N ratio terlalu rendah dan kelebihan nitrogen yang tidak dipakai oleh mikroorganisme tidak dapat diasimilasi dan akan hilang melalui volatisasi sebagai amoniak atau terdenitrifikasi. Variasi C/N ratio yang optimum dalam pengomposan memiliki besar 30:1.

Nitrifikasi adalah reaksi oksidasi yaitu proses pembentukan nitrit atau nitrat dari amonia (Dong et al., 2004). Proses ini dapat berlangsung secara biologis maupun kimiawi. Nitrifikasi secara biologis merupakan oksidasi ion ammonium menjadi ion nitrit atau ion nitrit menjadi ion nitrat. Nitrifikasi merupakam proses alami yang mengembalikan ke kondisi normal yang dilakukan oleh bakteri dengan cara mengoksidasi dan mengubahnya senyawa amoniak yang potensial beracun menjadi senyawa nitrat yang aman untuk lingkungan. Nitrifikasi terjadi pada pH rendah, yang umumnya porses ini dilakukan pada pH mendekati 8, sehingga pemberian kapur secara reguler dapat meningkatkan efektifitasnya. Konsetrasi oksigen terlarut rendah dapat menyebabkan rendahnya kecepatan proses nitrifikasi.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Choiroel. 2019. Pembuatan Pupuk Kompos Dengan Komposter Dalam Pemanfaatan Sampah di Desa Bringin Semarang. Program Magister Terapan: Poltekkes Kemenkes Semarang

Djuarnani, Nan. dkk. 2005. Cara Cepat Membuat Kompos. Agromedia Pustaka, Jakarta

Dong, L.F., Nedwell, D.B., Underwood, G.J.C., Thornton, D.C.O., Rusmana, I., 2002. Nitrous oxide formation in the colne estuary. England: the central role of nitrite. Applied Environmental Microbiology 68, 1240–1249.

Fauziah, Meli. 2018. Pengolahan Sampah Organik Sebagai Upaya Peningkatan Produksi Pertanian dan Perikanan di Desa Karyamukti Kecamatan Pataruman Kabupaten Banjat Provinsi Jawa Barat. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. UINSGD: Jawa Barat.

Kurniawan, D., Kumalaningsih, S., Mayang, N., 2012, Pengaruh Volume Penambahan Effective Micoorganism 4 (EM-4) 1% dan Lama Fermentasi Terhadap Kualitas Pupuk Bokashi dari Kotoran Kelinci dan Limbah Nangka, Jurnal Industria 2(1), 57-66

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *