Pengolahan Limbah Organik Dengan Berbagai Metode

kompos adalah bahan-bahan organik yang sudah mengalami proses pelapukan karena terjadi interaksi antara mikroorganisme atau bakteri pembusuk yang bekerja di dalam bahan organik tersebut didalam kondisi lingkungan yang memiliki suhu cukup tinggi, lembab , dan aerobik atau anaerobik. Bahan organik yang dimaksud adalah rumput, jerami, sisa ranting dan dahan, kotoran hewan, bunga yang rontok, serta bahan organik lainnya. Pelapukan yang terjadi pada bahan organik diakibatkan oleh mikroorganisme yang tumbuh subur pada lingkungan basah dan juga lembab. Kompos dapat menyediakan unsur hara mikro bagi tanaman. Kompos ini juga dapat menggemburkan tanah yang tandus, meningkatkan porositas, aerasi, dan komposisi mikroorganisme di dalam tanah. Guna dari kompos ini adalah untuk meningkatkan daya ikat tanah terhadap air sehingga dapat menyimpan air tanah yang sangat banyak dan juga akan membuat tanah tersebut menyimpan tanah dengan jangka waktu yang lama sehingga membuat tanaman tersebut dapat tahan tidak disiram selama beberapa waktu. Air didalam tanah yang akan diikat oleh tanah dikarenakan kompos akan mengakibatkan tanah yang subur. Kompos ini juga bermanfaat untuk menumbuhkan akar dengan optimal karena akar bisa dibilang sangat sehat.

Proses pelapukan ini dapat terjadi secara alamiah atau terjadi dengan sendirinya tetapi proses pelapukan secara alami ini berlangsung dalam jangka waktu yang sangat panjang atau bisa dibilang sangat lama yaitu bisa mencapai puluhan tahun. Dengan bantuan manusia maka proses pelapukan yang terjadi akan menjadi lebih singkat dari pada biasanya. Biasanya apabila proses pengomposan dilakukan dengan benar, proses hanya berlangsung selama 1—3 bulan dan tidak sampai bertahun-tahun tetapi proses tersebut masih bisa dibilang sangat lama. Oleh karena itu maka manusia menciptakan cara-cara membuat kompos dengan cara menggunakan komposter, menggunakan perbandingan C/N rasio dan juga ada proses nitrifikasi dan denitrifikasi yang dimana proses pembuatan kompos tersebut dapat dilakukan dengan cepat.

2. Komposter

Alat sederhana yang efektif dan efisien adalah dengan menggunakan komposter. alat ini bisa dibilang sederhana karena dapat dengan mudah dibuat dan bahan-bahan yang dibutuhkan tidak sulit dicari bahkan dengan harga yang sangat terjangkau. Cara pembuatan komposter adalah dengan terbuat dari drum plastik dengan menambahkan pipa pralon yang berfungsi sebagai saringan, lalu menambahkan corong udara di atas drum untuk sirkulasi udaranya lalu pada bagian bawah drum tersebut akan dilubangi untuk pengambilan pupuk organik (Aklis, 2020). Sampah organik dapat diubah menjadi bahan bakar padat dan bahan bakar atau sampah diubah menjadi pupuk dengan komposter. Metode yang digunakan komposter dalam pembuatan pupuk kompos adalah metode yang natural karena bakteri dalam tanah dapat mengubah sampah organik menjadi pupuk kompos. Sampah dapat menghasilkan gas metan yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan juga dapat menyebabkan kerusakan lingkungan. Komposter juga merupakan salah satu hal sebagai upaya menjaga lingkungan melalui pengelolaan sampah yang baik (Yohana dkk, 2020). Tujuan dari pembuatan komposter ini adalah untuk proses penguraian oleh bakteri atau biasa disebut dekampaser, mempercepat proses penguraian bahan organik menjadi pupuk kompos dalam bentuk cair dan juga padat, dan yang terakhir adalah mengemat pengeluaran penyuburan tanah dan juga tanaman. Selain tujuan tersebut ada juga manfaat dari komposter ini yaitu komposter ini dapat menggemburkan dan juga menyuburkan tanah karena menghasilkan pupuk kompos yang sangat baik dan berguna untuk tanah dan juga tanaman.

3. C/N Ratio

Rasio C/N adalah perbandingan kandungan unsur karbon (C) dengan kandungan unsur nitrogen (N) yang ada pada suatu bahan organik. Mikroorganisme membutuhkan karbon (C) dan nitrogen (N) untuk aktivitas hidupnya. Dalam proses pengomposan diperlukan udara yang cukup ke semua bagian tumpukan baik bagian atas tengah maupun dasar atau bawah tumpukan untuk memasok oksigen oleh mikroorganisme dan juga nantinya mikroorganisme tersebut akan mengeluarkan karbondioksida. Saat rasio C/N tinggi maka aktivitas biologi mikroorganisme akan berkurang, dan juga membutuhkan beberapa siklus mikroorganisme untuk mendegradasi kompos sehingga mengakibatkan waktu yang lama untuk Vermikomposting yang berarti bahwa bahan organik belum terdekomposisi dengan sempurna. Nilai C/N kompos yang semakin rendah menunjukan bahwa bahan organik tersebut sudah mulai terdekomposisi dan juga bahan organik tersebut sudah hampir menjadi kompos dengan baik. Rasio C/N yang terlalu rendah mengakibatkan kelebihan nitrogen yang tidak dipakai oleh mikroorganisme tersebut tidak dapat diasimilasi dan akan hilang melalui volatisasi sebagai amoniak atau terdenitrifikasi. oleh karena itu rasio C/N dari suatu bahan organik tidak boleh sampai terlalu rendah ataupun terlalu tinggi (Djuarnani, 2005). Bahan oraganik yang biasa dapat diserap oleh tanaman adalah bahan denga  rasio C/N  mendekati dengan rasio tanah yaitu sekitar 12-15 dan juga memiliki suhu yang berada berkisar pada suhu lingkungannya tersebut. Rasio C/N yang semakin rendah akan mempercepat proses pengomposan. Rasio C/N yang optimum adalah pada variasi 30:1 dalam proses pengomposan. Hasil yang diperoleh dari variasi tersebut adalah kadar C organik sebesar 20,31, kadar N total sebesar 1,63 %, kadar P total sebesar 0,21 %, kadar K total sebesar 2,49, rasio C/N sebesar 12,47, pH sebesar 7,1 dan suhu 27,5 OC, serta menghasilkan power density sebesar 48,02 mW/m2 , Couloumbic efficiency sebesar 0,19 % (Lucitawati, 2018).

4. Proses Nitrifikasi dan Denitrifikasi

Nitrifikasi adalah proses perubahan nitrogen ammonium (N-NH4) menjadi nitrogen-nitrit (N-NO2) oleh bakteri nitrosomonas kemudian nitrit tersebut diubah menjadi nitrat oleh bakteri nitrobakter (Widayat dkk, 2010). Nitrifikasi ini sangat penting untuk kelanjutan ekosistem dan juga untuk proses penguraian bahan organik. selain itu proses nitrifikasi ini juga merupakan proses penting bagi tanaman. Tanaman akan mengambil atau mendapatkan nitrogen sebagai nitrat yang nantinya akan diakses dan diolah dalam tanaman. oleh sebab itu nitrifikasi juga penting untuk tanaman dan juga pertanian. Tingkat dari proses nitrifikasi ini sangat bergantung pada faktor-faktor lingkungan. Faktor-faktor yang mempengaruhinya adalah substrat, konsentrasi oksigen, suhu, pH dan juga zat-zat yang dapat menghambat proses dari nitrifikasi tersebut. Bakteri-bakteri yang akan melakukan proses nitrifikasi ini bisa dibilang sangat sensitif terhadap temperatur. hal itu dapat dikatakan karena apabila suhu terlalu tinggi ataupun terlalu rendah maka bakteri-bakteri tersebut akan menjadi lambat dalam melakukan proses nitrifikasi atau bahkan bisa berhenti. Nitrifikasi ini dapat berlangsung pada suhu 0-20° C karena pada suhu tersebut bakteri nitrifikasi akan mengalami pertumbuhan yang maksimum sehingga mempengaruhi kecepatan dari proses nitrifikasi tersebut. Proses nitrifikasi berlangsung pada pH 5,5 hingga pH 10, dan nilai pH yang optimum biasanya berada pada pH 8,5. Proses nitrifikasi berlangsung dalam lingkungan aerob yaitu pada suatu keaadaan yang ada oksigen (Damanik dkk, 2011).

Selain nitrifikasi ada juga proses yang hampir sama dengan nitrifikasi tersebut yaitu denitrifikasi. nitrifikasi dan denitrifikasi adalah dua proses utama dari siklus nitrogen dan keduanya didorong oleh bakteri. Selain persamaan dari kedua proses tersebut, terdapat juga perbedaan antara nitrifikasi dan denitrifikasi. Proses nitrifikasi adalah proses pengubahan nitrogen menjadi nitrit oleh bakteri nitrosomonas lalu akan diubah menjadi nitrat oleh bakteri nitrobakter. lalu apabila proses denitrifikasi adalah Nitrat tanah yang telah dikonsumsi oleh tanaman dan organisme lain lalu nitrat dalam tanah digunakan sebagai sumber energi oleh bakteri denitrifikasi dalam kondisi anaerob. Selama proses itu, nitrat diubah kembali menjadi N2 atmosfer dengan reduksi.

Daftar Pustaka

Aklis, Nur, 2020. Penanganan Sampah Organik Dengan Bak Sampah Komposter Di Dusun Susukan Kelurahan Susukan Kecamatan Susukan Kabupaten Semarang. Prodi Teknik Mesin, Fakultas Teknik. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Damanik MMB, Hasibuan BE, Fauzi, Sarifuddin, Hanum H. Kesuburan Tanah dan Pemupukan, Medan :USU Press , 2011.

Djuarnani, Nan. dkk. 2005. Cara Cepat Membuat Kompos. Agromedia Pustaka, Jakarta.

Lucitawati, Erika., A.R., G.S. 2018. Penentuan Variasi Rasio C/N Optimum Sampah Campuran (Dedaunan Dan Sisa Makanan) Terhadap Kinerja Compost Solid Phase Microbial Fuel Cells (CSMFC). Jurnal Presipitasi. Vol. 15. No. 2.

Yohana, Eflita., dkk. 2020. Pengadaan Komposter Sebagai Upaya Pengelolaan Sampah Di Kelurahan Gedawang Semarang, Jawa Tengah. Jurnal Pasopati. Vol. 2. No. 2.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *