EM4, Stimultor Pembuatan Kompos dari Limbah Organik

Sampah daun merupakan salah satu jenis sampah organik yang dihasilkan dari bahan hayati. Sampah daun dapat ditemukan di sekitar lingkungan, seperti lingkungan kampus Universitas Padjadjaran yang banyak ditumbuhi oleh pepohonan. Setiap harinya, pepohonan akan menggugurkan daunnya sehingga menghasilkan sampah daun yang cukup banyak. Penanganan yang telah dilakukan adalah dengan mengumpulkan sampah daun hingga menumpuk kemudian membakarnya, proses pembakaran inilah yang membuat kegiatan pengolahan limbahnya menjadi tidak ramah lingkungan. Melihat proses penanganan sampah organik yang masih kurang efektif, perlu dikembangkan pengelolaan sampah organik menjadi produk yang bermanfaat melalui proses pengomposan. Akan tetapi, sebagian besar masyarakat masih belum memanfaatkan sampah daun sebagai pupuk organik. Hal ini dikarenakan proses pengomposan sampah daun melalui agen dekomposer secara alami itu membutuhkan waktu yang lama. Namun, pengomposan dapat dipercepat dengan menambah bahan stimulator. Salah satu stimultor yang umum digunakan adalah bahan stimulus berisi mikrobia terpilih Effective Microorganism 4.

Limbah

Limbah merupakan bahan yang tidak diinginkan dari suatu aktivitas manusia atau proses alam yang tidak atau belum mempunyai nilai ekonomi dan berdampak negatif pada lingkungan (Djaja, 2008). Selain dedaunan, salah satunya adalah limbah organik domestik maupun non domestik dari kebun-kebun dalam lahan di sekitar Unpad. Pelepah pisang merupakan salah satu bahan organik yang cukup melimpah dan tidak terpakai sehingga berpotensi sebagai bahan baku kompos. Pendayagunaan limbah organik menjadi salah satu alternatif yang berguna untuk menanggulangi dampak negatif limbah, juga memberikan hasil sampingan yang bernilai ekonomis. Sebagai contoh, dalam kajian yang penulis baca, ada potensi efektifitas pembuatan kompos dari limbah organik daun atau sayur dikombinasikan dengan pelepah pisang yang dibantu dengan stimultor EM4.

Pelepah pisang yang juga bahan organik, mengandung unsur-unsur penting yang dibutuhkan tanaman seperti nitrogen (N), fosfor (P) dan kalium (K). Selain itu, media tanam yang ditambahkan kompos akan meningkatkan pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik (Purnomo dkk, 2017).

Kompos

Kompos merupakan hasil fermentasi atau hasil dekomposisi bahan-bahan organik seperti tanaman, hewan, atau limbah organik. Secara ilmiah, organik dapat diartikan sebagai partikel tanah yang bermuatan negarif sehingga dapat dikoagulasikan oleh kation dan partikel tanah untuk membentuk granula tanah. Kompos dapat dibuat dari bahan yang sangat mudah ditemukan di sekeliling lingkungan kita, bahkan kadang-kadang barang yang tidak terpakai seperi sampah rumah tangga, dedaunan jerami, alang-alang, rereumputan, sekam, batang jagung dan juga kotoran hewan.

Unsur hara yang terdapat dalam kompos tidak akan merusak tanah seperti pupuk industri (pupuk anorganik). Kompos bersifat slow release sehingga tidak berdampak buruk bagi tanaman walaupun jumlah yang digunakan cukup banyak. Walaupun biasanya kompos dalam jumlah banyak ini memiliki aroma khas yang mungkin tidak semua orang nyaman berada di sekitarnya.

Membuat kompos merupakan bentuk dari recycle, salah satu unsur 3R, sehingga dengan mengolah limbah organik menjadi kompos berarti ikut membantu mengurangi permasalahan yang disebabkan oleh sampah. Selain itu, kompos yang dihasilkan dapat dimanfaatkan langsung sebagai media tanam ataupun pupuk organik (Sutanto, 2002).

Kegiatan pengomposan limbah organik yang dikombinasikan dengan EM4 ini mengikuti sistem Open Window. Bahan sampah ditimbun pada petak pengomposan dengan ukuran sesuai kebutuhan. Tumpukan limbah ini kemudian disiram dengan bahan stimulator EM4. Selama pengomposan, dilakukan pengadukan timbunan secara berkala tiap seminggu sekali. Disamping itu juga dilakukan penyiraman air secukupnya bila limbah terlalu kering. Kompos yang telah matang mempunyai ciri berwarna gelap, bau seperti tanah, ukuran partikel sebesar serbuk gergaji, bila dikepal tidak menggumpal, suhu sama dengan suhu lingkungan.

Komposer

Perkembangan produk agen dekomposer melalui mikroorganisme lokal (MOL) yang sesuai untuk proses penguraian sampah organik akan memicu proses pengomposan menjadi lebih cepat. Salah satu MOL yang dikenal masyarakat adalah larutan Effective Mikroorganism 4 (EM4). Penggunaan mikroba terpilih EM4 dapat sebagai stimulus untuk mempercepat dekomposisi bahan organik dari 3 bulan menjadi 7 – 14 hari. EM4 merupakan campuran beberapa mikroba terpilih seperti Lactobacillus sp,  bakteri fotosintetik, Streptomyces dan ragi yang bekerja secara sinergis dalam proses dekomposisi.

Sayangnya, minat masyarakat dalam menggunakan dekomposer masih belum maksimal. Dekomposer yang ada dipasaran ini belum begitu populer diaplikasikan karena harganya yang masih kurang terjangkau. Terlebih, penggunaan dekomposer untuk proses pengomposan membutuhkan jumlah yang banyak.

C/N Ratio

Pengomposan merupakan proses mikrobiologis yang mengubah bahan organik menjadi substansi humus yang
berwarna gelap pekat, tidak berbau, rasio C/N rendah sehingga dapat meningkatkan ketersediaan nutrien tanaman. Umumnya pengomposan dianggap sempurna jika nilai rasio C/N sejumlah 20 : 1. Dalam beberapa hal rasio C/N dapat turun menjadi 15 : 1 atau dalam kasus yang ekstrim dapat serendah 10 : 1 sama dengan humus pada tanah (Hastuti, 2009)

Salah satu aspek terpenting yang perlu dipahami dalam pengomposan  adalah rasio organik karbon dengan nitrogen (C/N Rasio). Rasio C/N bahan organik adalah perbandingan antara banyaknya kandungan unsur karbon (C) terhadap banyaknya kandungan unsur nitrogen (N) yang ada pada suatu bahan organik. Mikroorganisme dalam tanah membutuhkan karbon dan nitrogen untuk aktivitas hidupnya. Jika rasio C/N tinggi, aktivitas biologi mikroorganisme akan berkurang, diperlukan beberapa siklus mikroorganisme untuk mendegradasi kompos sehingga diperlukan waktu yang lama untuk berproses dan menghasilkan mutu kompos yang lebih rendah. Jika rasio C/N terlalu rendah, kelebihan nitrogen yang tidak dipakai oleh mikroorganisme tidak dapat diasimilasi dan akan hilang melalui volatisasi sebagai amoniak atau terdenitrifikasi (Djuarnani, 2005).

Selain itu, kandungan C merupakan pembentuk jaringan pada tubuh tanaman. Kandungan C organik membentuk karbohidrat, lemak dan protein pada tanaman. C-Organik berperan penting pada tanaman, yaitu sebagai pembangun bahan organik, karena sebagian besar bahan kering tanaman terdiri dari bahan organik (Susanto, 2002). Kekurangan unsur karbon pada tanaman tidak dapat terlihat nyata secara fisiologis. Namun, tanaman biasanya terlihat kurang segar. Menurut Damayanti (2016), Kandungan C Organik akan lebih tinggi ketika peningkatan limbah organik, dikombinasikan dengan ekosistem yang sangat kompleks serta mengandung berbagai jenis mikroba (rumen). Ternyata memang terbukti bahwa kompos lebih cepat matang dengan stimulus dari EM4 yang merupakan campuran beberapa mikroba terpilih.

Nitrifikasi

Nitrifikasi merupakan proses pengubahan nitrogen ammonium (N-NH4) secara biologis menjadi nitrogen-nitrit (N-NO2) oleh bakteri nitrosomonas, kemudian nitrit diubah menjadi nitrat (NO3) oleh bakteri. Proses nitrifikasi akan berlangsung dalam lingkungan aerob yaitu dengan adanya oksigen. Proses nitrifikasi atau perubahan ammonium menjadi nitrat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu aerasi, suhu, kelembaban, pH, dan C/N Ratio. Proses nitrifikasi biasanya berlangsung pada pH 5,5 hingga pH 10, dan optimum pada pH 8,5 (Damanik dkk, 2011).

 

SUMBER REFERENSI

Damanik MMB, Hasibuan BE, Fauzi, Sarifuddin, Hanum H. 2011. Kesuburan Tanah dan Pemupukan, Medan :USU Press.

Damayanti, Verika. 2016. Pengaruh Penambahan Limbah Sayuran Terhadap Kandungan C Organik dan Nitogen Total Dalam Vermikomposting Limbah Rumen Dari Sapi Rumah Potong Hewan (RPH). Universitas Diponegoro. Tugas Akhir

Djaja, W. 2008. Langkah Jitu Membuat Kompos dari Kotoran Ternak dan Sampah. Jakarta: Agro Media Pustaka

Djuarnani, Nan. dkk. 2005. Cara Cepat Membuat Kompos. Agromedia Pustaka, Jakarta

Hastuti, Dwi E. 2009. Aplikasi Kompos Sampah Organik Berstimulator Em4 untuk Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Jagung (Zea Mays, L.) pada Lahan Kering. ANATOMI FISIOLOGI17(1), 55-61.

Purnomo, E. A., Sutrisno, E., & Sumiyati, S. 2017. Pengaruh variasi C/N rasio terhadap produksi kompos dan kandungan kalium (K), pospat (P) dari batang pisang dengan kombinasi kotoran sapi dalam sistem vermicomposting (Doctoral dissertation, Diponegoro University).

Susanto, R. 2002. Pertanian organik: Menuju Pertanian Alternatif dan Berkelanjutan. Kanisius. Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *